Sometimes, and often, it hard, even so hard to tell the truth. even we already know that telling the truth is a must. in fact, and factually, almost too hard to tell the truth since we are afraid of loosing. loosing friend(s), loosing popularity, loosing job that make us have chance to make money. afraid, always afraid of loosing something we love and “shoulder” to which we rely. instead of telling the truth (because of our fear and interest), it easy even so easy for us telling the lie (white lie?)

Me, Adam Malik and Shaun the Wedus is a real story of that kind. my position in the story is enmity target. Adam Malik, I finally know, he is a kind of an opportunist. and, Shaun the Wedus is a kind of person that always trying to be a good man. there is always a chance for us for being another. there is always a chance we have nno other choice but performing very tragic “drama”. there always a chance, in some cases, to be a traitor. is that bad?

not always so easy for us giving right answer for this question. our interest(s) make us, sometimes, prefer being another than ourselves.keeping situation and work atmosphere (seems) nice and harmonious is one factor that can make us not being ourselves. maybe, we already know that something is ethically wrong, but for that reason we are performing tragic drama by practically considered the wrong thing(s) right (how long we can pretending?).

we, humankind, having capacity for telling the truth. our conscience always lead to tell the truth. truth which can be identified with black or white. no grey. but, sometimes, our fear of loosing something suppress deeply our conscience and in some cases, we got no conscience anymore. it is so situational. question that may be rise is “Is by telling lie and being another we can save our “world”?. “Can lie(s) save the world?”

the figures in this story-me, Adam Malik and Shaun the Wedus, as human, ordinary human, like other person, have capacity to tell the truth. but, in the other side, we, also have tendency to tell lie(s) and being another for the sake of saving our “world”. I don’t mean that we hafta tell lies to save the world. all I want is telling that sometimes we are facing difficult situation. at one side we hafta tell the truth as commanded by our conscience. but, at the other side, hafta compromise for the “better” of other(s). I am not telling that we must have “grey area”. no. always positioning ourselves is not way out and wise way for solving problems. always positioning ourselves in grey area is gradually killing our conscience. the simple, truth hafta be told with its any cost. but, it takes time to be wise person. what about you? are you Adam Malik, Shaun the Wedus or me? cheer…

KALAU MAU DIPERHATIKAN BOS, TUNJUKKAN PRESTASI KERJAMU

Topik terakhir dari 3 tema dalam pembicaraan di dunia tanpa sinyal adalah DIJILAT VS MENJILATI. Topik ini berkaitan dengan topik sebelumnya, MAIN DI DALAM VS MAIN DI LUAR yang berkaiatan dengan “kehormatan dan harga diri” pelakunya. Ada baiknya, sebelum membaca lebih lanjut tulisan ini, teman-teman sempatkan membaca tulisan sebelumnya secara utuh dan runtut untuk mendapatkan gambaran latar belakang peristiwa secara utuh.
Perilaku menjilat ada di semua tempat. Perilaku semacam ini bisa berkembang karena kondisi dan lingkungan kerja yang tidak sehat yang kulturnya adalah bos (bukan pemimpin) adalah the one and only yang dianggap sebagai yang menentukan hitam-putihnya nasib bawahannya. Atau, si bos yang memang memerankan dirinya seperti itu. Dalam kultur semacam ini, manajemen dan aturan main manajerial untuk menilai kinerja bawahan tidak ada. Atau, kalaupun ada, seringkali standar baku mutu kinerja bisa dikalahkan oleh perasaan si bos. Kalau aku senang secara otomatis apapun yang ada di dirimu baik. Tetapi sebaliknya.
Celah inilah yang membuka peluang untuk terjadinya kompetisi yang tidak sehat. Bukan lagi kinerja yang diutamakan. Bukan pencapaian dan prestasi kerja serta dampaknya bagi lembaga dan orang-orang yang ada di dalamnya yang diutamakan melainkan kemampuan untuk “berbisik” dan “membisikkan” sesuatu ke telinga si bos (sekali lagi, dia bukan pemimpin). Muncullah budaya menjilat dalam diri oknum karyawan dan senang dijilati di pihak bos.
Dalam kehidupan budaya seperti ini pusat dan sekaligus tujuan karyawan adalah mendapatkan perhatian dan “madu” majikan. Kinerja, prestasi atau pemberdayaan diri untuk bersama-sama menjadi lebih baik dan lebih sejahtera (hampir) tidak ada. Yang ada hanya keinginan untuk mencari dan mendapatkan perhatian juragan dengan berbagai cara. Sikut- menyikut dan iri dengki menjadi bagian dalam kehidupan keseharian di tempat kerja. Orang-orang “lurus” dan benar akan merasa muak bahkan kadang-kadang frustasi. Dia merasa kerja kerasnya sia-sai karena tidak ada reward yang diberikan oleh sang majikan. Berbeda dengan “tetangga”nya.
Ada dua kemungkinan bagi orang “lurus” dalam menghadapi situasi dan kondisi seperti ini. Pertama, kinerjanya tidak menjadi lebih baik atau stagnan karena merasa apa yang dilakukannya tidak ada gunanya. Yang kedua, dan yang paling berbahaya adalah mulai pelan tetapi pasti masuk ke dalam lingkaran setan kemunafikan budaya menjilat yang berupaya untuk menyenangkan majikan dengan menjilatinya. Menjadi orang yang sendika dawuh.
Lingkungan kerajaan yang dipenuhi budaya jilat menjilat seperti ini menjadikan lingkungan kerja tidak kondusif. Bahkan jauh dari itu. Menyedihkannya lagi, orang menjadi kurang peka dengan dan terhadap kebutuhan orang lain. Hal ini timbul karena yang dikejar adalah perhatian majikan dan “rajanya”. Reward atas dasar prestasi kerja adalah sebuah impin yang maha jauh dan mahatinggi yang hampir mustahil dicapai. Jauh panggang dari api. Hal berbahaya lainnya adalah hilangnya kepekaan terhadap kebutuhan akan rasa keadilan orang lain. Memang, adil dan keadilan tidak bisa selalu diidentikkan dengan sama rata dan sama rasa.
Ilustrasinya seperti ini. Ibaratnya sebuah rangkaian kereta api, ada badan/gerbong, ada lokomotif, ada kipas angin (kita ngomong kereta ekonomi aja), dan ada roda. Mana diantara mereka yang paling penting, setengah penting dan tidak penting sama sekali? Menurut saya, semuanya penting sesuai dengan perannya masing-masing. Tak mungkin disebut rangkaian kereta kalau tak ada gerbong. Tak nyaman rasanya kalau tak ada kipas angin. Tak mungkin juga disebut kereta api kalau tak memiliki roda yang membuatnya menggelinding. Aneh rasanya kalau sebuah rangkaian kereta tak berlokomotif. Semua penting. Semua melakukan tugas dan fungsinya. Tapi sayangnya, ketika membagi hasil kerja, hanya kipas angin saja yang mendapat bagian berlebihan. Sementara roda, yang menopang dan membuat gerbong bisa ditarik dan melaju kencang hanya menjadi penonton menyaksikan kemewahan kipas angin. Inikah keadilan? Ini yang tidak (mau) dirasakan oleh orang-orang yang terbiasa menjilat karena adanya kultur.
Menjilat dan menjilati bos juga dilakukan, sebenarnya, karena ketakutan. Takut tidak kebagian dan takut tersaingi. Rivalitas tak sehat yang muncul. Tidak ingin dan tidak mau orang lain mendapatkan kebahagiaan yang sama seperti yang pernah dirasakan dan dinikmati. Selain takut tidak kebagian, menjilat juga dilakukan karena takut kehilangan karena ketidakmampuan. Karena tidak mampu melakukan tugas dan pekerjaan sesuai standar, orang menjadi takut kehilangan “pegangan” apalagi kalau di dekatnya ada orang (baru apalagi) yang dirasa lebih mampu orang menjadi mulai kehilangan “keseimbangan”. Cara mengamankan diri adalah dengan cara berlindung di “ketiak” majikan. Cara mendapatkan perlindungan? Pertama, menarik perhatian majikan dengan berbagai cara (tetapi bukan kinerja) dan selanjutnya menjadi orang yang sendika dawuh.
Mendapatkan perhatian, menurut teori kebutuhan Maslow, merupakan kebutuhan SEMUA manusia. Akan tetapi, cara mendapatkannya yang tidak sama. Dalam dunia kerja yang proses manajerialnya sudah dewasa dan matang, walaupun tetap ada peluang untuk menjadi penjilat, reward diberikan berdasarkan prestasi kerja. “Reward yang lain” urusannya tentu lain juga. Seandainyapun dunia kerja kita adalah dunia yang sangat “kekeluargaan”, tidak serta merta membuat kita menjadi seorang penjilat yang suka menjilati majikan kalau kita memiliki pemahaman bahwa nilai diri kita jauh lebih penting dari “reward” yang diberikan majikan ketika kita bisa menyenangkannya dengan cara menjilatinya. Yang kedua adalah, mau peduli kepada orang lain yang ada di lingkungan kerja. Pemikiran yang mendasari harusnya adalah “kalau aku bisa seperti ini, pasti ada orang lain yang berkontribusi membuat aku seperti ini”. Kalaupun aku saat ini adalah orang besar, pastilah aku berdiri dan bertumpu di atas bahu para raksasa yang menopangku. Pemikirannya selayaknya diarahkan ke “apa yang bisa kulakukan supaya bahu-bahu raksasa (yang sebenarnya adalah sangat banyak orang “kecil”) bisa merasakan yang kurasakan. Orang sulit atau bahkan tidak mau mengingat hal ini ketika merasa diri sudah mapan dan sukses. “Raksasa-raksasa” itu tetap diperlakukan tak lebih sebagai “gurem” dan tak lebih dari sekedar alat produksi dan bukan aset.
Yang ketiga adalah, mau menyadari bahwa segala sesuatu ada masanya. Menyadari bahwa dunia ini berputar dengan sangat cepat dan tidak ada yang mutlak di dalamnya. Tidak ada yang kekal dan abadi. Selain itu, rasa malu bisa menghidarkan orang dari menjadi penjilat. Malu dengan dirinya sendiri paling tidak. Berani merasa malu ketika hasil dan pencapaian yang dibangga-banggakan tak lebih dari sekedar sebuah kepalsuan. Berkaca dengan menggunakan cermin bersih untuk mengetahui kondisi kita sebenarnya.
Aah, ini hanya opini dari dunia tanpa sinyal yang terinspirasi oleh pernyataan di atas. Ini sifatnya hanya opini pribadi yang bisa diterima atau bahkan sebaliknya oleh orang lain. Disadari sepenuhnya bahwa akan dan selalu ada opini-opini yang jauh lebih baik dari opini ini. Oleh karena itu, opini teman-teman sekalian sangat diharapkan supaya kita bisa sama-sama belajar menjadi lebih baik. Kalau dengan kinerja dan prestasi kerja perhatian majikan dapat kita dapat, kenapa harus menjilat??

BELAJAR KAYA DARI SI MISKIN

Posted: April 11, 2011 in Kritik sosial

Majalah bulanan Intisari edisi April 2011 di kolom MANCANEGARA hal 83 memuat sebuah cerita pendek tentang seorang gelandangan yang mengembalikan amplop berisi uang yang, jika dirupiahkan, isinya sebanyak sekitar Rp 13 Juta karena dia merasa amplop itu, bagaimana pun, adalah tetap milik seseorang dan yang pasti, dalam keyakinannya, sang gelandangan itu mengatakan bahwa pemilik amplop itu pasti sangat membutuhkan isi amplop tersebut.
Kavanaugh, seorang gelandangan yang “mangkal” di jalanan West Chester, Pennsylvania, AS pada akhir Februari 2011 menemukan sebuah amplop yang akhirnya diketahui adalah milik Robert Stauffer, seorang pengacara di Pottstown. Kavanaugh merapikan amplop yang ditemukannya dan menyerahkan amplop itu berikut isinya kepada polisi secara utuh. Sang polisi terheran bagaimana mungkin seorang gelandangan seperti Kavanaugh mau mengembalikan uang sebanyak itu yang ditemukannya terbungkus dalam sebuah amplop yang tercecer di jalanan. Aneh?
Mungkin, sepintas memandang sang gelandangan sebagai “orang aneh”. Karena dia mengembalikan, walaupun tidak secara langsung, kepada pemiliknya tetapi melalui seorang polisi, apa yang oleh kebanyakan orang bisa dianggap sebagai windfall atau “durian runtuh” bin rejeki nomplok yang turun dari langit. Inilah nilai lebih dari seorang Kavanaugh sang gelandangan miskin tetapi dalam kemiskinannya itu dia sebanarnya adalah seorang yang “sangat kaya”. Kavanaugh memiliki nilai-nilai besar walaupun dia adalah seorang kecil yang bahkan oleh banyak orang dianggap tidak pernah ada dan bukan bagian dari masyarakat. Nilai kejujuran dan ketidaktamakan.
Memang, hal dan nilai-nilai seperti ini bukan hanya ada “di luar” sana. Di negara maju dan besar saja. Di negeri ini pun ada banyak orang yang memiliki nilai-nilai luhur dan besar yang membuatnya menjadi orang besar walaupun dia adalah orang kecil di mata banyak orang. Ada sangat banyak nilai-nilai luhur di negeri ini tentang kejujuran, harga diri, martabat, dan kemuliaan. Sangat banyak! Masalahnya adalah, nilai-nilai semacam itu biasanya tidak bisa muncul karena berbagai hal. Dan parahnya, tidak dimunculkan atau dihalangi untuk muncul karena berbagai sebab. Komunalitas misalnya. Orang cenderung menganut nilai-nilai komunal. Yang banyak dikatakan orang, itulah yang (dianggap) benar.
Mungkin, sudah saatnya kita mau belajar dari orang-orang yang kita anggap kecil. Bahkan yang seringkali kita anggap tidak ada dan tidak pantas ada hanya karena keberadaannya secara ekonomi. Kavanaugh yang kecil ini ternyata bisa menjadi seorang yang besar karena dia memiliki nilai-nilai dan kepercayaan uniknya sendiri. Bisa, saja, kalau dia adalah saeorang yang tidak jujur, dia akan menganggap segepok uang yang jatuh di jalanan adalah “hadiah” dari Tuhan. Atau, kalau mau dibungkus secara rohani, uang itu adalah “jawaban” atas doa kita karena kita memiliki kebutuhan yang sudah lama kita doakan. But, money does not grow on the street.
Tidak tamak adalah nilai unik lain yang dimiliki oleh seorang gelandangan. Ada kalanya, orang-orang yang merasa dan mengaku diri sebagai orang besar, hanya karena memiliki posisi di tempat kerja, prsetise di mata masyarakat, kekayaan dsb berubah menjadi yang lebih rendah dari gelandangan yang hidup mengembara di jalanan. Ukuran yang paling mudah adalah, sejauh mana kita nmau berbagi dengan orang lain ketika mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan adalah parameter yang paling mudah dilihat dan diaplikasikan untuk mengetahui apakah kita benar-benar orang besar dengan hati besar. Atau sebaliknya, orang besar dengan hati dan jiwa kerdil. Sikap terhadap orang lain yang mendapatkan kebahagiaan yang dulu pernah kita dapat tetapi sekarang orang lain yang mendapatkannya, apakah ketika orang lain merasakan dan mendapatkan kebahagiaan yang dulu pernah kita dapat dan rasakan kita menjadi marah atau jealous karenanya. Atau parahnya, kita berusaha dengan segala cara untuk menghalangi supaya kebahagiaan itu tidak bisa dirasakan oleh orang lain, saat itulah kita terbukti menjadi seorang besar dengan jiwa dan hati kerdil.
Kavanaugh, sekali lagi, hanya sebuah contoh dari betapa seorang miskin papa yang dimata umum dipandang hina ternyata bisa menjadi seorang besar dengan hati besar dalam keterbatasan dan kekecilannya. Bukankah ini seharusnya menjadi kaca cermin atau bahkan pukulan telak bagi kita yang selalu mengidentikkan orang miskin dan kemiskinan dengan ketidakjujuran. Kemapanan materi dan kedudukan sebagai penanda bahwa seseorang adalah orang yang berhasil dan selalu layak untuk dijadikan acuan dan rujukan dalam berperilaku (?). Tak selamanya, paling tidak menurut saya, si miskin dan papa selalu tak memiliki nilai-nilai untuk menjadi seorang besar dengan hati besar. Tak egois dan mengakui serta menyadari hak orang lain adalah salah satu nilai besar yang bisa dimiliki oleh semua orang. Dan, pada dasarnya, semua orang memilikinya. Hanya saja, seringkali nilai-nilai semacam itu hilang atau dengan sengaja dihilangkan hanya karena kepentingan sesaat yang, dalam pikiran sebagian orang, adalah kepentingan futuristis (tapi sebenarnya salah).
Tak perlu jadi gelandangan memang untuk memiliki nilai-nilai yang seharusnya dimiliki oleh orang besar yang berhati besar. Akan tetapi, kalau orang kecil saja bisa memilikinya, bukankah seharusnya kita (yang sering kali menganggap diri) orang besar bisa memilikinya juga. Bahkan dalam tingkat dan derajat yang jauh lebih besar. Tak ada salahnya belajar dari yang kecil. Karena yang kecil itu selalu memiliki nilai-nilai besar. Tak selamanya salah ketika kita belajar melihat dan memandang ke bawah karena di bawah sana ada banyak hal yang perlu kita ketahui. Kalau tak ada yang bawah, dengan apa kita bisa mengatakan ada yang atas. Keterbukaan hati sangat diperlukan untuk bisa belajar dari yang kecil guna menjadi yang besar. Masihkah kita memiliki nilai-nilai “kecil” kita seperti Kavanaugh? Mari merenung.

“Mama kok umbah-umbah (Mama kok masih cuci-cuci)…?” Menggelikan memang. Tapi, inilah yang saya dengar dari seorang ibu dalam kumpulan ibu-ibu yang sedang menunggu anaknya sekolah. Sayapun sedang menunggu anak saya yang kecil pulang sekolah. Satu kali seminggu, saya bisa melakukan hal membahagiakan ini karena saya shift siang. Kebahagiaan yang tak tergantikan oleh apapun.

Memang tak ada yang serius dari ungkapan diatas, tapi paling tidak membuat saya berpikir ulang, apakah sebuah sebuatan seperti mama memang nilai dan kehormatannya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan si mbok, biyung, umi, bunda, mimi dsb yang kedengarannya bernuansa “lokal” (tapi ingat umi asalnya dari Arab, kalau mimi…?). Benarkah mama selalu dan identik dan boleh diidentikkan dengan yag serba canggih dan serba wah sehingga mama tak boleh dan tak berhak umabh-umbah dan korah-korah (bahasa Jawa untuk cuci baju dan cuci piring). Bolehkah dengan sekenanya kita mengidentikkan ibu, umi, si mbok, bunda dan biyung dengan kerja kasar dan pekerjaan-pekerjaan yang tak terhormat (adakah pekerjaan yang tak terhormat, dalam konteks yang positif, kalau kita melihat tujuannya?). Apakah selamanya mama harus diposisikan sebagai yang hanya duduk manis, main perintah dan tunjuk sana-sini, arisan ke mana-mana karena papa jarang di rumah, apalagi ketika papa pulang tak bawa uang?

Kalau kita belajar bahasa, kita akan menjumpai pergeseran makna dan rasa. Yang dulunya dirasa nilainya biasa-biasa saja sekarang menjadi “tak biasa”. Contoh mudahnya adalah kata babu atau jongos. Dulu pada zaman kolonial, sebuatan ini dipakai untuk menyebut pembantu rumah tangga. Dan pada saat itu fine-fine aja. Coba lakukan sekarang. Dulu, ketika masih muda, saya pernah sangat tersinggung ketika seorang teman dari etnis lain menyebut pembantunya sebagai genduk. Kemarahan itu timbul ketika mengetahui bahwa yang disebut dengan sebutan seperti itu adalah orang yang usianya seusia ibu saya dan dia memang seorang ibu. Marah. Bagaimana mungkin seorang tua disebut sebagai genduk. Apalagi ketika penyebutan seperti itu disertai dengan sikap dan polah tak sopan dan merendahkan. Kutegurlah dia.
Bagi saya, apapun sebutannya, apakah ibu, umi, mama, si mbok, biyung itu hanyalah sebutan dan bentuk sapaan untuk menyatakan kasih dan cinta antar anggota keluarga. Yang salah adalah, ketika kita memanggil istri atau suami orang lain dengan sebutan mama. Itu adalah kavling yang salah bin tidak benar. Mama, umi, bunda adalah sebuah bentuk sapaan yang tak selalu dan selamanya menghilangkan hak istimewa untuk umbah-umbah dan korah-korah. Bukankah jauh lebih baik jika seorang mama masih mau dan mampu umbah-umbah dan korah-korah daripada mama harus pergi ke laundry tapi uang belanja tak sampai tengah bulan karena sebagian besar tersedot untuk mambayari jasa binatu. Bukankah umbah-umbah dan korah-korah bukan sesuatu yang memalukan? Tahukah kita bahwa keduanya bisa dijadikan sarana komunikasi keluarga. Juga, dengan umbah-umbah mama bisa dapat penghasilan tambahan (buka jasa laundry maksudnya).
Memikirkan ungkapan seorang ibu di tengah kerumunan ibu-ibu itu, saya jadi teringat akan sebutan Ratu. Masih untung mama hanya dikatakan tak layak umbah-umbah, lha … kalau Ratu… ratunya lebah maksudnya, apa pekerjaannya? Berbahagialah mama yang masih mau umbah-umbah demi kasihnya kepada keluarga. Berbahagialah anak-anak dan papa kalau mama masih mau umbah-umbah dan korah-korah sehingga uang belanja bisa cukup sampai awal bulan berikutnya. Akan tetapi, bantulah mama supaya tak kehabisan waktu dan tenaga hanya untuk umbah-umbah dan korah-korah. Karena apapun namanya, mama bukan pembantu. Dia adalah ibu. Pembantu pun bukan babu yang bisa kita hisap dan kita pekerjakan tanpa perasaan manusiawi. Bagaimana mama, apakah kau masih berbahagia ketika harus umbah-umbah dan korah-korah? Semoga bermanfaat.

KECIL TAPI TAK KERDIL

Posted: April 2, 2011 in psikologi anak

Kecil dan kerdil adalah kata yang arti dan maknanya sebenarnya berbeda. Akan tetapi, secara praktis, karena alasan adanya beberapa kesamaan karakteristik, orang cenderung menganggap keduanya sama. Ilustrasi yang sebenarnya adalah kisah nyata berikut ini mungkin bisa membantu untuk mengetahui perbadaan di antara keduanya.

Ada sepasang sahabat. Yang satu katakanlah namanya Dariono. Satunya lagi Dewa Bradjamusti. Dari namanya saja, kita bisa menebak kalau keduanya berasal dari latar belakang yang sangat berbeda. Mereka tinggal di sebuah rumah kos sederhana. Bukan hanya itu, selama bertahun-tahun mereka tidur di satu tempat tidur yang sama. Bertahun-tahun.

Perbedaan nasib membuat “takdir” keduanya berbeda. Dewa yang dulu pernah bekerja satu tempat dengan Dariono karena kecerdasan dan kepintarannya bisa mendapatkan tempat kerja dan posisi terhormat di kantornya. Sangat terhormat dan berada di ring satu (istilah petugas keamanan). Banyak fasilitas didapatkan. Banyak kesenangan diperoleh dari sang majikan. Dunia dewa saat ini adalah dunia orang-orang besar dengan segala kemewahan, kebesaran, keagungan, gemerlap serta kejayaannya sendiri. Tak ada cacat cela di dalamnya. Semua sempurna. Semua manis. Semua bermartabat tinggi. Beretika amat sangat tinggi sehingga tak ada yang bisa menandingi. Semua adalah orang-orang pintar berotak cemerlang. Sempurna, sempurna dan sempurna. Dari yang pegawai kecil dan rendahan bersyukur orang yang dulu pernah susah payah kerja bersamanya kini bisa menjadi orang besar dan diperhitungkan. Punya banyak anak buah dan apapun bisa diaturnya dengan hanya tinggal bilang. Kebanggan Dariono tulus adanya. Tak ada rasa cemburu sedikitpun karena keberhasilan Dewa.

Lain Dewa, beda Dari. Dariono tetap menjadi seorang pegawai rendahan—seorang tukang sapu di sebuah sekolah kecil. Jauh dari kemewahan apalagi taburan pujian dan kemuliaan. Meskipun hanya menjadi seorang tukang sapu kecil di sebuah sekolah kecil, Dari bersyukur atas apa yang diterima dan dialaminya saat ini.

Bertahun-tahun si Dari bekerja, tetapi dia tidak pernah bisa naik pangkat. Karena memang tak pernah ada jenjang karir untuk tukang sapu. Setia. Dariono kecil yang buta huruf, lugu dan polos tak pernah menyesali kondisinya. Sebaliknya, dia bisa bersyukur atas apa yang diterimanya walaupun orang selalu mengidentikkan diri dan profesinya sebagai sesuatu yang amat sangat rendah, tidak berkelas dan identik dengan kebodohan, ketidakberetikaan dan hal-hal miring lainnya. Jauh berbeda dari yang dimiliki Dewa, teman satu kos dan setempat tidurnya.

Bekerja di lingkungan sekolah, walaupun kecil, Dari terbiasa menyaksikan orang bisa dan boleh berpendapat. Mengutarakan apa yang ada di hatinya dengan bebas. Bahkan ketika pendapat itu berbeda dengan orang lain atau pengajar sekalipun. Bisa bebas. Bisa spontan berpendapat. Tak ada protokoler rumit dan konvensi dimana Dari harus berlaku menyimpang hanya demi mengamankan posisinya atau menyenangkan orang lain. Tetap sederhana, lugu dan polos. Orang lain cenderung menganggapnya bodoh.

Dewa, sebagai salah satu orang besar yang berpikiran cemerlang memiliki kultur yang sangat berbeda. Ada banyak protokoler. Ada banyak kepentingan yang harus dijaga. Ada tuntutan moral tinggi yang harus dilakukan sebagai seorang besar yang ada di lingkungan orang-orang besar. Ada kebutuhan untuk menjaga wibawa di mata anak buahnya. Protokoler panjang dan berliku serta budaya dan penilaian komunal yang dijalankan rutin sehari-hari selama bertahun-tahun membentuk Dewa menjadi orang yang menilai orang lain dengan bahasa logika komunal dan tak bisa tulus karena berbagai kepentingan besar orang-orang mulia. Celakanya, penilaian komunal protokoler seperti inilah yang dipakai untuk mengukur orang lain ketika dia berada di luar lingkungan terhormat dan mulianya yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang. Dariono, teman se-kos dan setempat tidurnya pun dinilai dan diukur dengan cara pandang dan penilaian komunal di tempat kerjanya. Kacang lupa kulitnya.

Akhirnya, terjadi sebuah benturan antara keduanya. Benturan nilai-nilai hidup yang diyakini antara keduanya. Suatu ketika, Dari si pegawai rendahan memeringatkan temannya akan adanya “ancaman bahaya” yang mendekati si Dewa. Satu hal lain yang diperingatkan adalah kemungkinan Dewa menyakiti orang lain melalui pola-pola hubungan yang kurang pada tempatnya dengan rekan kerjanya. Tak mempan. Nasihat dari hanya menjadi seperti angin lalu. Dari tak kuasa dan tak mampu berargumen. Dari kalah karena memang pada dasarnya bukan pekerjaannya beragumen dan berasalan demi berbagai kepentingan. Dewa “berhasil” memberikan argumen yang baginya logis, masuk akal dan tak menganggu orang lain. Mengalah. Dari memilih mengalah untuk menjaga utuhnya persahabatan walaupun jauh di dalam hatinya dia merasakan perbedaan maha luar biasa pada diri temannya ketika sama-sama bekerja dengannya sebagai tukang sapu di sekolah dengan temannya saat ini. Tak ingin menyakiti Dewa yang sudah larut dalam keberhasilan, kebesaran dan kehebatannya, Dari memilih mengalah. Ya sudahlah.

Suatu kali Dewa sang brilian yang dibanggakan banyak orang mengajak (dengan paksa) Dari si pegawai rendahan yang tak beretika, bodoh dan tak bisa menguasai diri ke kantornya untuk suatu keperluan. Demi menjaga persahabatan, walaupun sangat tak nyaman, Dari terpaksa ikut pergi untuk menyenangkan hati dan menjaga martabat Dewa di depan banyak orang di kantornya. Celakanya, ada satu titik ketika dengan polos dan lugu, karena terbiasa melihat dan hidup di lingkungan dimana orang bisa dan boleh berpendapat dengan bebas dengan beragam ekspresi sejauh dalam batas kewajaran, Dari menanggapi pendapat yang dilontarkan oleh tamu terhormat yang diundang oleh bos Dewa. Dari berkomentar secara spontan karena yang dibicarakan memang ada kaitan dengan dirinya. Lupa, Dari lupa bahwa dia tidak berada di lingkungannya sehari-hari. Dia saat ini sedang berada di lingkugan orang-orang hebat yang dipenuhi dengan protokoler dan tata susila tinggi. Akibatnya, cap negatif diberikan sepeninggal Dari tempat itu. Dewa merasa malu atas sikap temannya yang mengusik dan menurunkan martabatnya sebagai orang penting.

Cap negatif ini disimpan Dewa dan baru dimunculkan ketika terjadi gesekan dengan Dari. Gesekan terjadi karena Dari menemukan hal tak pantas dilakukan Dewa di muka umum tetapi tak diakuinya di tempat kos. Hal menyimpang yang ditutup-tutupi untuk sebuah kepentingan dan demi melindungi seseorang dan orang itu adalah orang besar di atas Dewa. Si Dari yang polos dan lugu menjadi sangat kaget karena Dewa menilainya sebagai orang yang tak tahu etika dan tak bisa mengendalikan diri hanya karena semua orang di lingkungann Dewa mengatakan seperti itu ketika Dari hadir dan berkomentar pada satu sesi. Tak ada jaminan memang ketika kita bergaul dan bersama bertahun-tahun dengan seseorang kita bisa sepenuhnya memahami orang itu.

Dari semakin menyadari bahwa Dewa yang sekarang bukan Dewa yang dulu. Dewa yang bisa melihat segala sesuatuya dengan obyektif dan terbuka untuk kritik. Dewa berubah menjadi sosok aristokrat. Menjadi orang yang beretika sangat tinggi tapi tumpul nurani. Dewa menjadi orang yang menilai sahabatnya hanya atas dasar kata banyak orang. Dia berubah menjadi orang yang egosentris. Ketika dia merasa apa yang dilakukan dan dirinya baik-baik saja, maka dia akan tetap melakukan sesuatu walaupun itu menyimpang dan berpotensi menganggu orang lain. Nilai hidupnya bergeser dari “kita” menjadi “aku”. Tata susila yang dianutnya pun menjadi bergeser dari “layak, boleh dan pantas” menjadi “kalau tuan senang”.

Daya defensif dengan segala dalih dan pembenaran Dewa pun meningkat tajam. Dia bisa dan berani memberikan argumen-argumen logis (sayangnya hanya berhenti di situ) untuk sesuatu yang disampaikan Dari sang tukang sapu kecil, miskin dan dekil. Defensif. Bahkan, Dewa berani dan bisa menuntut orang lain untuk jujur sementara dirinya sendiri lain di bibir beda di hati. Dari yang harus mengerti dan memahami dirinya yang adalah orang besar yang bermartabat dan beretika serta bertata susila tinggi. Banyak ungkapan-ungkapan retoris dilontarkan untuk membuat Dari yang dianggapnya bodoh, tak ber-etika dan tak bisa mengendalikan diri bisa dan mau memahami dirinya sementara dia sendiri merasa tak punya kewajiban untuk memahami sahabat kecilnya.

Dari ilustrasi kisah nyata ini, menurut Anda, manakah yang layak disebut sebagai orang kerdil. Apakah si Dari yang seorang tukang sapu rendahan yang hanya bisa hidup lugu, polos, jujur serta apa adanya tetapi bernilai hidup kejujuran adalah mengatakan kebenaran dan apa yang ada di hati terbuka? Atau, orang kerdil itu adalah si Dewa yang mantan orang kecil tetapi dengan segala kepintarannya bisa duduk dan masuk di lingkaran dalam ring 1 dengan segala protokoler, tata susila, etika tinggi serta budaya komunalnya yang membuatnya menjadi sosok yang sangat logis dan egosentris serta “kompromi” demi menyenangkan pembesar di atasnya dan tak hirau perasaan orang lain? Apakah memang selamanya orang kecil selalu berhati dan berjiwa kerdil karena tampil sebagaimana adanya dirinya? Atau, apakah untuk menjadi seorang besar kita harus berjiwa kerdil yang hanya mengandalkan logika dan mengesampingkan hati nurani dan nilai kejujuran?

Ledakan bom di markas Jaringan Islam Liberal, yang sejatinya dikirim untuk Ulil Abshar Abdalla, pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL), tetapi meledak ketika “ditangani” oleh polisi yang mengakibatkan tiga personil baju coklat terluka, bahkan salah satunya harus kehilangan “sebagian” tangannya menyisakan pertanyaan,”Masih adakah ruang bagi perbedaan?” Perbedaan pandangan dan keyakinan dalam memahami agama, iman dan keimanan.
Agama, iman dan keimanan pada hakikatnya, harus diakui, sebagai hak mendasar setiap individu. Pada hakikatnya, semua orang berhak memiliki dan menganut paham dan pandangannya sendiri dalam menafsirkan agama dan iman. Semua bebas. Memang, tak bisa dipungkiri bahwa dalam “menafsirkan” dan “menghayati” sebuah ajaran iman, oarang tidak bisa lepas dari pedoman dan panduan—kitab suci.
Proses “menafsirkan” sebuah ajaran bukanlah proses yang bebas konflik maupun potensi konflik. Konflik itu bisa terjadi melawan diri sendiri bahkan melawan orang dan pihak lain. Ketika seseorang tidak memiliki cukup pengetahuan (?) untuk menafsirkan sebuah ajaran, dia bisa berputar-putar dalam pusaran yang bisa membuatnya semakin bingung. Parahnya, dalam kebingungan semacam ini, orang bisa memunculkan sebuah ajaran atau pemahaman baru mengenai dan dari sebuah ajaran. Potensi konflik juga sangat besar meletup menjadi konflik nyata secara fisik ketika di dalamnya ada kepentingan-kepentingan yang diusung. Kepentingan untuk menjadi yang superior di tataran sempit atau bahkan hegemoni dan dominasi terhadap kelompok lain dengan memperalat konteks mainstream sebagai single majority.
Harus diakui bahwa proses pemaknaan terhadap ajaran iman tidak bisa dilepaskan dari pengalaman walaupun harus disadari pula bahwa tidak sepenuhnya kalau kita menimbang ajaran iman berdasarkan pengalaman empiris. Ini adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa disangkali begitu saja. Orang bisa merasa Tuhan dekat ketika merasakan kebaikan langsung dari Tuhan. Tetapi sebaliknya. Pemaknaan seperti ini ada dalam semua penganut agama ataupun kepercayaan. Akan tetapi, tak selamanya dan semua umat melakukannya.
Bom Utan Kayu paling tidak, diantara sekian banyak kekerasan dengan mengatasnamakan (baca: memperalat) agama yang tidak hanya terjadi di negeri ini dan dilakukan oleh kelompok dari agama tertentu, adalah cerminan dari masih adanya ketidakarifan dalam menyikapi perbedaan. Tak bijak kalau peristiwa Utan Kayu kita jadikan sebagai dasar untuk menunjuk agama tertentu sebagai agama yang anti perbedaan dan anti toleransi. Bukan agamanya yang tidak dan anti toleransi. Bukan. Sang pelakunya. Semua agama selalu mengajarkan umatnya untuk menjadi rahmat bagi alam semesta dalam arti yang sesungguhnya yang di dalamnya juga mengakui adanya perbedaan dan toleran terhadap orang yang berpikiran dan berpandangan berbeda bahkan ketika orang atau sekelompok orang itu laksana sebuah kerikil kecil di dunia bebatuan.
Banyak sikap dan opini dinyatakan menyikapi peristiwa ini, mulai dari mengutuk dan bahkan menyalahkan pihak-pihak tertentu. Masalahnya adalah, cukupkah hanya dengan mengutuk dan menyalahkan pihak lain atas terjadinya peristiwa ini? Cukupkah kutukan, makian dan cercaan bisa menyelesaikan dan menjamin masalah ini tidak akan terulang kemudian hari? Atau, apakah kita memang sudah menjadi orang yang hanya bisa mengutuk dan menyalahkan orang atau pihak lain atas apa yang telah terjadi? Tak pernah cukup dan mencukupi hanya dengan menebar kutuk dan caci maki. Tidak!
Mungkin, akan lebih baik kalau kita tidak hanya bisa mengutuk dan menyalahkan tetapi bersimpati dan berempati sembari melakukan tindakan nyata—membina kerukunan dan toleransi bahkan menyikapi dengan arif perbedaan yang ada tanpa menggunakan kekuatan senjata. Memang, disadari sepenuhnya, tidak ada jaminan ketika kita melakukan tindakan nyata dalam bentuk simpati, empati dan toleransi, peristiwa semacam ini tidak akan terjadi lagi. Tidak ada jaminan! Paling tidak, dengan tidak mengutuk dan menyalahkan akan membantu menjaga suasana tetap bisa kondusif. Sekali lagi, tak ada jaminan bahwa peristiwa semacam ini tidak akan terjadi lagi dengan sasaran, alasan, pelaku, dan tempat yang berbeda.
Masih adakah ruang bagi perbedaan dalam hal yang sangat hakiki dan mendasar yang bisa mengakomodasi perbedaan yang ada dengan tanpa mengintimidasi dan membinasakan. Atau, apakah sudah sedemikian jauhnya kita melenceng dari jalan Tuhan ketika kita memaknai ajaran Tuhan sehingga membuat kita, dalam keangkuhan kita berani mengatakan bahwa orang atau pihak lain yang berbeda dengan kita memang harus dilenyapkan. Siapakah sebenarnya yang berhak menentukan bahwa kita adalah yang paling benar dan paling “lurus” sehingga yang tidak sepaham dengan kita adalah yang bengkok, menyimpang dan layak dilaknat?

“Jangan pilih yang itu. Itu tidak cocok buat kamu,” kami berkata kepada anak perempuan kami ketika mengantarkan dia membeli sepatu pada tahun ajaran baru. “Yang ini saja. Aku suka yang ini. Teman-temanku semua (?) pakai model seperti ini,”katanya menimpali saran kami. Ketika kami menunjukkan sepatu lain yang kualitasnya lebih bagus dan sesuai untuk dia serta harganya lebih mahal (kami tahu tipe apa anak kami dan ketahan sepatu yang selama ini dipakainya), dia tetap menolak. Keukeh. Akhirnya, mau tidak mau dan suka tidak suka, dengan sangat terpaksa, karena bisa memperkirakan umur sepatu semacam itu di kaki si kinestetik smart, kami memberikan uang dan memintanya membayar sendiri di kasir. Terpaksa.
Benar, tak sampai 3 bulan, sepatu itu rusak bagian “gesper”nya (sebenarnya kurang tepat kalau disebut gesper karena yang ada bukan pengait dari logam tetapi semacam kain dua sisi yang berperekat atau bahasa gampangnya kretekan. Fatal. Meskipun kondisi sol dan bagian lainnya masih bagus, tetap saja, karena pengaitnya yang rusak, sepatu itu menjadi tidak nyaman ketika dipakai. Kasihan.
Kubawa sepatu itu ke tukang sepatu di “desa” seberang. Kami minta bagian yang rusak itu diganti dengan yang baru. Diganti. Tapi, ya sama saja, umurnya tidak lebih dari 1 minggu. Rusak lagi. Tak nyaman lagi dipakai. Tak tega ketika melihat dia turun dari motor dan berjalan menuju gerbang sekolahnya dengan langkah kaki yang tak mantap seperti menahan sepatunya supaya tak terlepas. Aku tahu, bahwa dia merasa sangat tidak nyaman dengan hal itu. Aku tahu, tahu benar tentang hal itu. Kegelisahannya pun kutahu. Lagi, sekali lagi, iba melihatnya.
“ini saatnya memberi gadis kecilku pelajaran dengan menunjukkan fakta”, batinku berkata. Sepulang dia sekolah, segera kutanyakan kenapa dia tidak nyaman berjalan. Tak ada kata yang terucap. Aku tahu “ketakutannya” karena aku bapaknya dan yang membesarkannya. Segera kutunjukkan bahwa pilihannya (sepatu baru itu) baik tetapi tidak benar. Dia bisa menerima apa yang aku katakan tentang pilihannya. Aku hanya berpikir, orang dengan tipikal semacam ini harus diberi “kesempatan” untuk belajar dari pengalaman. Walaupun, kalau kita memakai logika dan hitung-hitungan matematika, tentunya rugi kalau membeli sepatu dengan harga yang tidak beda jauh dengan sepatu yang harganya sedikit lebih mahal tetapi dari sisi kualitas lebih baik dan sebenarnya cocok untuk kondisinya. Inilah yang oleh banyak orang dikatakan sebagai konsekuensi dari sebuah pilihan. Dia memilih sepatunya sendiri sesuai dengan keinginan hatinya. Salahkah? Tidak sama sekali. Tetap ada konsekuensi dari sebuah pilihan.
Akhirnya, aku mendapatkan momen yang tepat untuk mengajarkan sebuah nilai kepada gadis kecilku yang kinestetik smart itu. “Papa belikan kamu sepatu baru. Tapi kali ini papa yang memilih! Bagaimana?” Deal. Gadis kecil yang kinestetik smart itu setuju dengan kondisi yang aku ajukan. Kami mengatur waktu untuk membawa dia ke toko sepatu. Akhirnya, sepasang sepatu terbeli, tentunya sesuai dengan kondisi yang telah disepakati bersama.
Dari kasus sepatu baru ini ada beberapa hal yang saya pribadi bisa pelajari, terutama dalam kaitannya dengan menjadi diri sendiri dan menyikapi lingkungan di sekitar kita. Ketika kita harus memilih, memilih apapun juga, tentunya ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dan diperhitungkan. Ketika kita menentukan pilihan hanya karena semua orang melakukannya atau karena trend yang ada adalah seperti itu, kadang dan seringkali kita kehilangan satu sisi dari diri kita. Ketika kita menyikapi sesuatu hanya karena mengikuti “keinginan pasar” kita seringkali menjadi “salah jalan”. Mungkin, ketika mempertimbangkan untuk bertindak atas dasar “keinginan pasar”, kita sebenarnya hanya takut tidak diterima oleh “pasar”. Hanya itu. Hanya takut dianggap tidak solider, tidak CS, tidak loyal atau tidak-tidak lainnya yang orientasinya sangat sempit. Lalu apakah “keinginan pasar” tidak harus dipertimbangkan? HARUS. But, tentunya keinginan pasar tidak seharusnya membuat kita dengan sengaja membuang atau melupakan jati diri kita yang sebenarnya. “Keinginan pasar” sifatnya hanya temporer dan berubah dengan sangat cepat. “Keinginan pasar”, apalagi kalau orientasinya bukan profesionalisme tetapi individualisme dan perasaan tidak akan membuat kita menjadi manusia yang dewasa dalam arti sesungguhnya.
Mengetahui dan mencari tahu siapa sebenarnya diri kita dan apa yang kita butuhkan serta dapat kita berikan kepada lingkungan dan tempat kerja adalah hal lain yang bisa dipelajari. Pertanyaan yang bisa kita pakai untuk mengidentifikasi kebutuhan semacam itu salah satunya seperti ini,”Siapa aku sebenarnya di lingkungan ini? Betulkah aku memang membutuhkan (bukan hanya menginginkan) hal-hal seperti itu? Apa kontribusi yang harus dan bisa kuberikan untuk lingkungan ini? Apakah ukuran yang dipakai oleh komunitas di sini baik ataukah benar untuk menilai sesuatu? Pertanyaan lain yang bisa dipakai untuk membuat kita tetap bisa adaptif (bukan menjadi bunglon) adalah,”Siapa yang bisa dan layak diajak bertukar pendapat dan berdebat untuk mencari solusi atas masalah yang ada dan meningkatkan produktivitas kerja?”
Hal ketiga adalah menanamkan nilai-nilai yang benar melalui pendekatan yang tegas. Ketika mengatakan,”Papa belikan kamu sepatu baru. Tetapi kali ini papa yang memilih” sebenarnya saya sedang menanamkan sebuah nilai mengenai seringkali kita kurang menyadari adanya peluang untuk melakukan kesalahan. Ketika diingatkan pada fase-fase awal, kita cenderung menolak dengan berbagai dalih. Ada saja. Kita terpaksa harus menunggu orang-orang seperti itu “kejeduk” dulu baru kita bisa memasukkan dan menanamkan nilai-nilai lain selain nilai yang diyakininya benar. Buth pengorbanan, kesabaran, bahkan mungkin sedikit “luka”. Menunggu dan menentukan strategi adalah cara win-win untuk memenangkan “pertarungan” dengan orang-orang bertipe seperti ini. Belajar dari pengalaman, yang diperlukan.
Hal terakhir adalah, mengambil sebuah tindakan yang mungkin oleh banyak dianggap tidak populer dan otoriter. Dalam konteks-konteks tertentu, tindakan yang dikonotasikan semacam itu perlu diambil dan dilakukan. Apalagi ketika kita melihat dan mengetahui adanya potensi kerusakan yang lebih parah baik terhadap individu maupun lingkungan kerjanya. Tapi, memang seharusnya dan selayaknya, mengambil tindakan tidak harus menunggu datangnya musibah. Namun di sini konteksnya lain.
Ya, apapun namanya, ini hanya sebuah perenungan yang amat sangat sederhana dan jauh dari sempurna. Tentunya, kita memiliki nilai-nilai kita sendiri. Akan tetapi, nilai-nilai yang kita yakini dan kita anut selama ini kadang-kadang ada potensi salahnya juga. Saya pun menyadari hal itu sepenuhnya. Oleh sebab itu, akan jauh lebih indah kalau kita bisa saling bertukar nilai-nilai dan pandangan-pandangan kita yang konstruktif. Tak ada gading yang tak retak (kalau gajahnya memang masih hidup dan boleh diambil gadingnya), tak ada jalan yang tak berlubang dan berliku (tanyakan kepada DPU kenapa hal ini terjadi), tak pernah ada yang kaya seorang diri (karena monopoli bertentangan dengan undang-undang antimonopoli), dan tak ada superman (di Indonesia belum ada laki-laki yang cukup gila dengan berjalan-jalan di tempat umum sambil mengenakan CD di luar celananya), akan sangat bermanfaat kalau kita mau saling berbagi. Kita masing-masing memiliki “sepatu”. Mungkin tak perlu memberikan sepatu Anda kepada saya (takutnya kalau sepatu itu emang hanya satu-satunya), cukup ceritakan seperti apa (bentuk, ukuran dan baunya) “sepatumu” padaku supaya kutahu “rasa sepatumu”. Syukur-syukur, suatu hari kau merelakan “sepatumu” kupinjam sesaat (pasti ku kembalikan. Jangan takut!) supaya ku bisa belajar bagaimana rasanya ketika kau memakainya. Pinjam sepatunya dong. BOLEH?