Posted by: gunawanbayu | December 4, 2009

Natal Tanpa Cemara; So What Gitu Loh

Natal tanpa Cemara mungkinkah? Kalau gagasan ini dilontarkan secara terbuka apalagi menjelang Natal saya yakin aka nada beberapa tanggapan dan pastinya diantara taggapan-tanggapan tersebut ada yang positif dan yang negative dengan alasannya sendiri-sendiri. Memang, gagasan dan ide ini sepertinya dilontarkan tanpa dipikirkan lebih dulu secara mendalam “untung ruginya”. Seandainya Saudara sekarang berada di tempat di mana saya berada dan menanyakan pertanyaan ini kepada saya, jawaban saya pasti:”Bisa, kenapa tidak! Natal tanpa cemara, so what gitu loh…
Dalam sebuah buku kepemimpinan, saya menemukan satu kalimat pendek yang mengatakan “selalu ada alasan dibalik sebuah tindakan. Sama seperti yang dikatakan oleh kalimat itu, sayapun memiliki beberapa alasan yang melatarbelakangi sikap dan pernyataan saya itu. Secara umum, saya menggolongkan alasan yang melatarbelakangi sikap saya menjadi dua yaitu alasan yang bersifat pribadi dan alasan yang sifatnya ekologis. Alasan kedua inilah yang menjadi focus dalam tulisan ini.
Secara pribadi, mungkin berbeda dengan kebanyakan orang Kristen, saya tidak merasa terganggu dengan tidak adanya (baca: tidak dipasangnya) pohon Natal terutama pohon Cemara hidup. Alasannya sederhana saja, tanpa adanya pohon cemara ibadah Natal tetap bisa khusuk dilakukan. Mudahnya, Cemara bukanlah sosok sentral yang harus terus kita pandang dan kepadanya kita mengarahkan pandangan hati dan kehidupan kita. Betul? Kehadiran pohon Cemara justru bisa menganggu kekhusukan ibadah kalau kehadirannya di gereja kita timbul dari gontok dan tegang urat pengurus gereja dalam rapat panitia natal. Cemara justru menganggu ketika semakin banyak ruang tersita untuk meletakkannya di tempat yang “layak” dan “memakan” hak jemaat untuk bisa beribadah dengan tenang karena harus longak-longok untuk bisa memusatkan pandangannya ke mimbar tempat hamba Tuhanmemberitakan pesan Natal. Alasan ini memang sangat subyektif, tetapi paling tidak mewakili apa yang saya pikirkan tentang pohon cemara dan arti kehadirannya dalam setiap perayaan Natal.
Secara ekologis, sebaiknya kita pikirkan dalam-dalam, kehadiran pohon Cemara hidup dalam setiap peringatan Natal justru merupakan ironi. Ironi? Ya ironi yang menurut saya sangat ironis. Pohon Cemara dihadirkan dalam setiap perayaan natal di hampir semua gereja di muka bumi selama kurang lebih dua ribu tahun untuk melambangkan kehidupan justru berbuah petaka. Petaka bagi siapa? Bagi pohon cemara itu sendiri, lingkungan/habitatnya, dan semua yang ada di lingkungan itu. “Kok bisa, jangan mengada-ada ah…”
Bisa dan tidak mengada-ada. Logikanya sederhana. Pada setiap perayaan Natal setiap tahunnya dibutuhkan ratusan pohon Cemara hidup dalam berbagai variasi umur dan ketinggian. Dari mana pohon-pohon ini didapat? Memang tidak semua Cemara dihasilkan dari pembalakan liar setiap tahunnya tetapi juga tidak semua cemara yang dijual pada bulan Desember setiap tahunnya diperoleh dari hasil budidaya. Sebuah data “tua” tahun 2003 tentang bisnis cemara menjelang natal yang dimuat di harian KOMPAS menggambarkan bahwa cemara-cemara yang dibutuhkan untuk merayakan Natal tingginya berkisar antara 1.5 s/d 5 meter. Untuk menanam yang tingginya 1.5 meter diperlukan waktu 3 tahun. Kalau untuk menanam yang 1.5 meter saja diperlukan waktu sepanjang itu, berarti untuk yang 5 meter kuranglebih 9 tahunan. MAsih menurut harian yang sama, pada tahun sebelumnya setiap hari seorang pedagang bisa menjual 5-10 pohon dengan kisaran harga antara Rp 200.000 s/d 2 juta/pohon. Masalahnya di sini bukan kisaran harganya tetapi lama penanaman, manfaat yang diperoleh selama Cemara-cemara itu tumbuh, dan potensi kerugian secara makro yang dialami oleh lingkungan bersamaan dengan ditebangnya poho-pohon itu untuk memeriahkan perayaan Natal.
Ketika Cemara-cemara itu ditanam, pastilah peranannya sangat besar bagi alam/habitatnya secara mikro dan makro. Selama masa pertumbuhan pohon Cemara yang berkisar antara 3 s/d 9 tahun untuk mencapai ketinggian 1.5 s/d 5 meter sehingga memiliki nilai ekonomis, Cemara sanggup berkontribusi untuk ikut andil menghasilkan udara bersih, mengurangi panas dan menyimpan air di bawah tanah melalui akar-akarnya. Ini adalah potensi ekologis yang tidak bisa dibeli dengan uang dan materi. Tidakkah semuanya itu sangat berarti bagi lingkungan secara mikro maupun makro. Bagi penghuni habitat lainnya seperti burung-burung, serangga, juga bagi manusia tentunya puluhan jajaran Cemara sangat mendukung kelangsungan hidup mereka termasuk kita. Burung-burung bisa bersarang dan mencari makan di pohon-pohon itu. Kita, bisa menghirup udara segar dan meikmati jernihnya air yang keluar dari tanah yang dikumpulkan oleh jajaran Cemara. Hal paling sederhana yang bisa kita peroleh dari cemara adalah kita akan dibantu untuk “menghayal” dalam buaian desau pucuk-pucuk dan keharumannya. Ya, apaling tidak seperti Ebiet G. Ade yang terinspirasi sehingga lahirlah sebait lirik:”Pucuk-pucuk pinus…” Kalau saja kita mau “berhitung” dengan memakai nurani dan mengesampingkan ego dan selfesteem kita yang seringkali kebablasan pastilah kita bisa melakukan tindakan yang benar untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam.

Shalom Tak Merampas Shalom
Kita tentunya percaya kalau Natal adalah momen shalom. Pengertiannya, Yesus datang ke dalam dunia ini untuk menjangkau kita yang terancam kehilangan shalom secara kekal karena dosa-dosa kita. Benar? Tetapi percayakah Saudara akan adanya satu hukum kekal bahwa shalom tak merampas shalom? Untuk mudahnya, kalau Yesus lahir/dating ke dalam dunia pastilah Dia dating membawa shalom dan menciptakan shalom dan tidak sekali-kali merampas shalom-shalom lain (yang benar) yang sudah ada. Yesus dating membawa shalom untuk manusia-manusia berdosa seperti saya dan Saudara supaya kita juga menyalurkan shalom yang kita peroleh kepada semua yang ada di sekeliling kita.
Dalam kasus shalom merampas shalom bukan Yesus yang salah tetapi kita karena ajaran Yesus dan Alkitab sangat jelas-shalom untuk semesta alam. Dalam kasus shalom merampas shalom kita, manusia yang telah mendapatkan shalom dari sang Raja Shalom justru merampas shalom pihak lain (baca: alam/lingkungan). Dengan mengatasnamakan kemeriahan, kekhusukan dan ke-afdolan perayaan Natal kita justru menjadikan dunia dan lingkungan di sekeliling kita hanya sebagai obyek yang shalomnya bisa kita rampas. Berapa banyak shalom (burung, serangga, dan kehidupan hayati lainnya) yang sudah mereka miliki bertahun-tahun kita renggut dengan paksa hanya untuk kemeriahan sesaat pesta kelahiran sang Raja Shalom sementara sang Raja tidak pernah mengajakan apalgi memerintahkannya. Berapa banyak potensi kerusakan ekologi yang menanti dibalik penebangan-penebangan ini.
Hukum shalom tak merampas shalom tidak dimaksudkan untuk merampas shalom orang-orang yang memang berhak mendapatkan penghasilan karena sudah berjerih lelah menanam dan merawat Cemara-cemara selama bertahun-tahun. Mereka tetap berhak mendapatkan shalomnya. Masalahnya di sini adalah ketika mereka, terdorong untuk mendapatkan keuntungan dan atas stimulasi kita (baca: gereja/orang Kristen) melalukan penebangan-penebangan tak terkendali sehingga menganggu kehidupan makhluk hidup lainnya untuk waktu yang lama. Intinya adalah sejauh mana pihak-pihak yang berkepentingan dengan hal ini –pedagang cemara dan orang-orang Kristen saling memberikan stimulasi untuk melakukan hal terbaik dengan memperhatikan keseimbangan ekologi. Tidak mudah memang, apalagi ketika berhadapan dengan kapitalisme yang telah merasuki pikiran banyak manusia masa kini.

Natal yang Benar-Benar Membawa Shalom
Kunci menciptakan Natal yang benar-benar membawa shalom bagi semesta terutama dalam kaitannya dengan kelestarian ekologi berada di tangan kita. Kita sendiri yang mampu menciptakannya. Kuncinya tidak lagi berada di tangan Yesus. Dia sudah memberikan teladan tertinggi tentang bagaimana berdamai dengan semesta dan manusia sehingga shalom yang nyata benar-benar terwujud.
Kita-orang Kristen dan gereja sebagai institusi yang memang “ditakdirkan” untuk menghadirkan shalom bagi sesame dalam pengertian bukan hanya terbatas pada manusia tetapi dalam kontek makro seluruh ciptaan harus benar-benar menerima, mengerti dan melakukan mandate ini. Terlau naïf dan cenderung mengada-ada kalau kita yang telah ditakdirkan seperti itu (baca:the agent of shalom) dengan begitu mudah, karena mempunyai cukup dana dan alasan keafdolan , merangsang pihak lain untuk melakukan hal-hal yang merugikan kelestarian alam dan yang pada gilirannya akan menganggu manusia juga sebagai penghuni bersama kosmos.
Mandat sebagai the agent of shalom dalam kaitannya dengan kelestarian alam terutama dengan kelestarian hayati-cemara bisa kita wujudkan dengan tidak selalu membeli pohon-pohon cemara hidup untuk merayakan Natal setiap tahunnya. Jauh lebih baik kalau kita setelah perayaan Natal usai menanam kembali pohon Cemara tersebut untuk perayaan tahun yang akan datang. Dengan menanam kembali bukan hanya kita yang memperoleh manfataat tetapi penghuni habitat/lingkungan juga memperolehnya. Seandainya kita tidak mempunyai cukup lahan, kita harus mulai mulai belajar untuk memakai pohon natal tiruan yang hanya sekali dibeli untuk peringatan beberapa tahun. Dengan cara seperti ini paling tidak bisa mengurangi banyaknya polutan akibat sampah plastic yang tidak bisa didaur ulang oleh alam. Sisi terpenting dari agent of shalom adalah dimilikinya pemahaman manusia sebagai pengelola (manager) alam bukan pemilik apalagi penguasa atasnya seperti yang diamanatkan dalam Kejadian 2:15. Tanpa memahamio mandate yang diberikan kepadanya, manusia sangat berpotensi sebagai agent of destruction yang tidak hanya memperlakukan alam sebagai obyek yang bisa diperlakukan sekehendak hatinya dan didominasi. Bukti yang ada adalah selamanya manusia tidak bisa mendominasi alam.
Konsumerisme dan Kapitalisme di Balik Perayaan Natal
Natal, seperti hari-hari raya lainnya saat ini sudah menjadi public domain (milik umum) dalam pengertian semua orang turut “merayakan”. Hal ini dibuktikan dengan dipajangnya ornament-ornamen bernuansa Natal di tempat-tempat umum (Mall, perkantoran, Bandara, dsb). Sebagai public domain Natal dalam arti holiday bukan ibadahnya rentan dan rawan diserang oleh kapitalisme dan menyusup sebagai bahaya laten konsumerisme.
Kapitalisme dan konsumerisme memanipulasi hari libur natal untuk menggeruk keuntungan yang dirancang dengan sedemikian rupa oleh sekelompok orang untuk memperkaya diri. Cemara pun tak lepas dari eksploitasi mereka. Semangat kapitalisme merasuk ke dalam gereja dengan mengangung-agungkan perayaan gegap gempita untuk memperingati kelahiran Yesus. Natal tanpa cemara hidup bukan Natal dan kurang “wangi”. Natal tanpa cemara tak mampu menghadirkan kehidupan yang adalah inti dari Natal (baca: kelahiran Yesus). Diakui atau tidak, kuku konsumerisme telah menancap dalam dan kuat dalam kehidupan gereja khususnya pada bulan Desember. Konsumerisme hanya menjadikan Natal dan khususnya cemara hanya sebagai obyek dan alat untuk mendapatkan keuntungan. Eksistensi konsumerisme dan kapitalisme yang memanipulasi perayaan Natal dan cemara harus kita waspadai.

Kesimpulan
Kita-orang Kristen dan gereja yang telah “ditakdirkan” sebagai agent of shalom karena telah menerima sahalom dari Kristus sendiri dan sebagai pengelola alam dituntut untuk mampu menghadirkan shalom di tempat-tempat yang di dalamnya shalom belum terwujud. Ini bukan tugas mudah. Dalam kaitannya dengan shalom ekologis, kita-gereja sebagai institusi dan pribadi hendaklah tidak mudah diperdaya oleh bujuk rayu konsumerisme dan kapitalisme yang dengan memperalat perayaan Natal demi mendapatkan keuntungan sehingga mendorong, secara tidak disadari, pihak lain untuk merusak alam.
Hukum kekal shalom adalah shalom dihadirkan untuk seluruh ciptaan dan tidak pernah merampas shalom yang dimiliki oleh siapapun. Shalom yang dibawa Kristus ke dalam dunia adalah shalom yang berpihak kepada semua (baca: lingkungan hidup) walaupun mereka bukan bagian dari penebusan Kristus. Pun begitu, shalom dan penebusan Kristus yang telah kita terima harus kita teruskan kepada alam dan lingkungan di sekitar kita karena tanpa berdamai dengan mereka kita pun tidak akan pernah bisa merasakan shalom sebagai sesame ciptaan. Tidak mudah memang untuk mewjudkan hal ini, tetapi kita harus mulai merenungkan, memahami dan melakukan sebuah tindakan nyata untuk melestarikan alam ini. Kalau Yesus saja peduli kenapa kita harus tidak peduli dengan alam ini.
Inti dari tulisan ini bukan mengajak Anda untuk menghapuskan dan menyingkirkan jauh-jauh cemara dari setiap perayaan Natal melainkan sebuah ajakan untuk merenungkan bagaimana kita tetap bisa menjaga kelestarian alam dari momen Natal yang pada hakikatnya membawa shalom bagi seluruh ciptaan.

Posted by: gunawanbayu | November 24, 2009

KIAMAT TIDAK TIDAK ADA

Kiamat ternyata merupakan komoditas yang sangat laku jual dan bisa dipasarkan menembus batas-batas agama, suku, geografi dan latar belakang. Kiamat yang dalam kitab suci merupakan isu eskatologis diubah menjadi sebuah tontonan menarik yang mampu meluluhlantakkan batas dan sekat-sekat agama, golongan, suku dan geografi. Kiamat yang dulunya ditakuti (?) diubah (atau diputarbalikkan ?) menjadi sebuah sajian segar dalam filem bergenre thriller bertajuk 2012 yang dalam 3 hari tayang bisa menghasilkan 2,1 Triliun.
Kiamat tidak tidak ada. Paling tidak seperti itu pesan yang ingin disampaikan dalam 2012. Sebenarnya, filem dan tontonan yang temanya seperti ini sudah banyak sebelumnya. Hanya bedanya, 2012 yang menjadikan kalender suku Maya di Meksiko sebagai dasar dan acuan untuk membuat tontotan segar, yang sebenarnya jauh dari mencerahkan pikiran umat (dalam arti umat seluruh agama, berani mengatakan bahwa kiamat akan terjadi pada 21 Desember 2012. Berani!
2012 mengundang berbagai reaksi di masyarakat. Seorang kiai di kabupaten Malang mengirimkan surat kepada MUI Jawa Timur untuk meminta MUI pusat mengeluarkan fatwa mengenai filem ini demi menjaga keimanan umat. Sebuah tindakan yang patut dihormati dan dihargai walaupun tidak dengan serta merta harus diaminkan.
Kalau Anda ditanya,”Kiamat ada atau tidak? Jawaban apa yang akan Anda berikan. Kalau saya,”Kiamat tidaktidak ada. kalau pertanyaan itu dikembangkan lebih jauh lagi,”Kapan kiamat akan terjadi?” jawaban Andapun pasti sangat beragam. Jawaban saya,”Mboten pirso!” sebagai sebuah isu eskatologis, kiamat memang tidak tidak ada. waktunya tidak ada seorang pun yang tahu. Kitab suci pun mengatakan seperti itu. waktunya tidak dijelaskan. Hanya tanda-tanda pra terjadinya dan apa yang terjadi yang digambarkan.
Lalu kalau kita kaitkan dengan film 2012, mana yang lebih kita percaya, kitab suci ataukah bualan Holywood yang “mengutak-atik” penanggalan suku Maya untuk mengeruk keuntungan mahabesar. Sebenarnya, Holywood tidak bisa dipersalahkan dalam hal ini. Yang ada di benak mereka hanya bagaimana membuat sesuatu yang bernilai jual tinggi (baca: mendatangkan keuntungan mahabesar) tanpa perlu promosi berdarah-darah karena promosinya sudah dilakukan oleh sebagian ilmuwan yang memberikan berbagai analisa mengenai kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi seiring berakhirnya penanggalan suku Maya pada 2012. Keadaan sudah dikondisikan dan terkondisi. Holywood dengan bualannya masuk ke kondisi yang sudah “panas”. Maka, jadi deh.
Lalu seharusnya bagaimana sikap kita? nonton atau tidak? Tidak ada yang bisa melarang Anda untuk nonton filem ini selama uang yang Anda gunakan untuk membeli tiket adalah uang Anda sendiri. Runtuhkah iman kita setelah melihat tayangan ini? Tidak juga! Kalau kita sudah berpegang pada kitab suci, filem-filem seperti ini hanya akan menjadi tontotan dan hiburan se-thrilling apapun dia.
Ketika kita berpegang pada kitab suci, justru kita akan mengetahui kalau yang dilakukan Holywood sebenarnya adalah, tidak lebih dari, menjual sensasi. Mari baca dan kaji lagi kitab suci kita masing-masing. Adakah orang yang bisa menyelamatkan diri dari hari itu dengan menggunakan cara-cara duniawi ini? Tidak bukan? Ini adalah salah satu parameter bahwa sebenarnya Holywood, dalam pikiran materiasliemenya sedang menjual ketidaktahuan mereka. Tidak arif kalau kita buru-buru menunjukkan jari dengan mengatakan bahwa AS dan YAHUDI sedang bermain untuk menggoyang akidah umat. Terlalu dini untuk mengatakan seperti itu.
Karena kiamat memang tidak tidak ada, ini pendapat saya, apakah tidak lebih baik kalau mulai sekarang kita berusaha memperbaiki diri dan keimanan kita. seandainya kiamat terjadi hari ini, apakah kita sudah siap menyambutnya? Yang jelas, tidak akan ada seorang manusiapun yang bisa lolos dengan cara bersembunyi di manapun, dengan cara bagaimanapun. Kiamat tetap merupakan sebuah misteri dan isu eskatologis yang tidak disingkapkan sepenuhnya oleh Tuhan. Semuanya adalah rahasia sang Khalik.
Sebelum memutuskan untuk menonton untuk memuaskan keingintahuan kita, yang perlu dipikirkan adalah apakah memang diperlukan antri berjam-jam hanya untuk menunggu mendapatkan satu dua lembar tiket. Apakah hasrat kita terpuaskan setelah berjuang antri berlama-lama hanya untuk duduk di bioskop selama 157 menit. Tentunya ada pertimbangan-pertimbangan lain selain manfaatnya untuk iman kita yang perlu dipikirkan sebelum menonton. Yang jelas, tidak dilarang nonton selama kita bayar dan uang yang kita pakai untuk beli tiket keluar dari kocek sendiri. Wikimu tidak mengadakan program nonton bareng? Kalau menurut Anda, kiamat ada atau tidak? Saya tidak tanya waktunya. Silahkan berkomentar.

Posted by: gunawanbayu | October 30, 2009

“Penyesat” Baru itu

Jejak (tudingan) penistaan agama akan semakin panjang. Setelah yang baru lalu di Manado beredar rekaman dikembangkan dan diajarkannya ajaran yang diduga sesat oleh seorang oknum pendeta yang melakukan ritus pemukulan dan ibadah telanjang (menurut saksi korban) entah untuk tujuan apa dan dasarnya pun apa, beberapa hari ini, kita disuguhi lagi kopi pahit iman bertajuk penyesatan yang terjadi di Mojokerto yang diajarkan melalui sebuah “lembaga” Santri Loka.
Kalau kita mundur kembali, setidaknya ada beberapa kasus yang bisa kita jadikan rujukan misalnya sekte pondok nabi dengan keyakinan hari kiamatnya. Setelah itu sekte Kerajaan Tuhan yang diasuh oleh Lia Eden dengan keyakinannya tentang Imam Mahdi dan Jibril, Ahmadiah yang sudah lama dipersoalkan eksistensinya, dsb..dsb. Masih panjang dan sangat panjang jejak keberadaan ajaran-ajaran dan sempalan-sempalan yang meresahkan ini.
Jejak panjang tengara “penyesatan” dengan Santri Loka sebagai “lembaga” pemain baru akan semakin panjang, lebih panjang dan teramat panjang pada masa-masa yang akan datang. Apakah ini sebuah tanda bahwa manusia mulai bingung dan tidak bisa mengenali siapa Tuhan yang sesungguhnya. Atau, apakah jalan-jalan penyesatan itu merupakan sebuah bentuk perlawanan terhadap dominasi agama mainstream? Dan, apakah cercah-cercah “penyesatan” ini adalah bentuk dari keputusasaan manusia dalam mencari, dan menanti untuk bertemu serta berhubungan dengan Sang Khalik pencipta dan penopang semesta raya ini? Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab, bukan dengan satu kata menyakitkan “kafir”. Kafir dan kafirisasi never and never enough.
Apa yang diyakini dan dikembangkan selanjutnya diajarkan oleh pengasuh Santri Loka memang perlu dicermati dan dicarikan solusi dengan cara dialogis egalitarian. Memang, ketika sang pengasuh dan yang mengajarkan keyakinannya tentang Islam “baru” (istilah baru saya tambahkan hanya untuk membedakannya dari Islam mainstream), dalam tele dialog di Metro TV pada 29 Oktober 2009, yang salah satu panelisnya adalah anggota MUI, dengan berapi-api dan lantang dia mengatakan bahwa ajaran yang diyakininya tidak salah dan tetap Islam. Salahkah dia? Tidak! Mempertahankan keyakinan adalah hak pribadi dan asasi setiap orang.
Namun, dalam keberanian berapi-apinya untuk mempertahankan keyakinan dan ajaran yang diajarkannya, adanya latar belakang “tidak baik” yang dijadikan dasar untuk menafsirkan ajaran Islam mainstream. Tidak puas kepada, saya menyebutnya, keadaan yang ada. tidak puas kepada agama mainstream. Hal-hal negatif seperti ini kemudian dikembangkan untuk menafsirkan sebuah ajaran dan dijadikan sebagai dasar pembenaran untuk mengembangkan sebuah ajaran baru sempalan sebagai sebuah alternatif. Ini jelas tidak benar dan menyimpang. Latar belakang inilah yang membuat pengasuh Santri Loka melakukan apa yang dalam bahasa hermeneutika disebut eisegese. Memasukkan makna baru (lebih tepatnya pemerkosaan makna utk kepentingan tertentu) ke dalam teks yang ditafsirkan. Bukan membiarkan teks berbicara dari dirinya sendiri.
Poin selanjutnya yang dipaparkan adalah timbangan benar tidaknya agama adalah Pancasila. Pada titik ini kita harus ekstra hati-hati bersikap dan menyikapi. Pertanyaan yang harus dijawab adalah mana yang lebih tinggi otoritasnya, Kitab Suci atau ideologi—Pancasila dalam menimbang kebenaran sebuah ajaran agama BUKAN pengamalan nilai-nilainya dalam kehidupan praktis sehari-hari. Mungkin hal ini yang tidak atau kurang dipahami betul oleh pengasuh Santri Loka.
Kebenaran sebuah ajaran (baca: agama) tentunya ditimbang dan diukur dari seberapa dekat dia menjalankan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci dan seberapa jauh dia menyimpang dari apa yang tersurat dan tersirat di dalamnya. Otoritas Kitab Suci adalah standar mutlak untuk menimbang benar-tidaknya sebuah ajaran. Nilai-nilai ideologi seperti Pancasila tentunya bisa dan boleh dipakai sebagai salah satu barometer/ukuran baik tidaknya, tepat tidaknya nilai-nilai luhur ajaran sebuah agama diaplikasikan dalam konteks lokal tanpa mengorbankan nilai-nilai dan kebenaran luhur ajaran agama. Sebenarnya, keduanya tidak akan saling-silang dan overlapping kalau dipahami betul porsinya masing-masing secara proporsional.
Dalam kasus-kasus sempalan dan ajaran-ajaran “sesat” semacam ini, di ranah agama apapun, yang sering mengemuka adalah masalah tafsir. Selain tafsir, juga masalah ketidkpuasan terhadap agama mainstream yang dirasa tidak mampu menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan seperti ketidakadilan, kemiskinan, ketimpangan sosial, dsb. Hal inilah yang kemudian menjadi katalis untuk menggabungkan nilai-nilai baik dari semua agama semacam yang dilakukan oleh Lia Eden dan Kerajaan Tuhannya.
Pertanyaannya berikutnya adalah, cukupkah cap dan label “sesat” dan “penyesat” diberikan dan dialamatkan kepada seseorang atau sekelompok orang yang mempunyai keyakinan berbeda dengan mainstream? Seaadainya jawabannya adalah “YA”, pertanyaan baliknya adalah, apakah penganut agama mainstream juga bebas dari kesesatan dan penyesatan. Lalu, label “sesat” dari pihak mana yang bisa sah dipakai untuk umum dan apakah cap yang diberikan oleh mainstream terbukti valid? Apa dasar yang membuatnya menjadi valid?
Solusi yang juga sering diberikan adalah mengharuskan pengembang ajaran baru untuk tidak memakai nama mainstream. Ajaran baru harus mempunyai namanya sendiri yang bebas dari nama mainstream. Pertanyaannya lagi, apakah nama baru menjamin sempalan dan sekte-sekte sesat tidak “diutak-atik” karena walaupun namanya baru, tetap saja ada bagian-bagian bahkan mayoritas ajaran mainstream yang diajarkan dengan berbagai variasi dan versi sang pengembang ajaran? Mampu dan maukah mainstream, dalam arti semua agama besar dan mayoritas, mengendalikan umatnya untuk tidak “usil” dan “jahil” kepada sebuah sempalan dan sekte “baru”
Diperlukan kearifan untuk menyelesaikan masalah seperti ini. Tidak gampang dan perlu kerja keras. Bagaimanapun juga, ajaran dan sempalan “sesat” akan selalu ada. masalahnya adalah bagaimana kita menjaga “gawang” kita supaya tidak kebobolan. Berkaca dan mengaca kepada apa yang telah kita lakukan dalam mengaplikasikan apa yang kita yakini tentunya bisa menolong

Posted by: gunawanbayu | October 28, 2009

Avanza Bodong Itu..

Heboh undian berhadiah Avanza bodong dengan mendompleng produk makanan kecil (snack) Tango terus berlanjut. Bahkan, penyebarannya pun semakin luas. Hal ini bisa dilihat dari terus masuknya komentar dan laporan di halaman komentar baik di kolom warta wikimu dan blog pribadi.
Hampir seragam. Hampir semua komentar yang diposting berisi, lebih banyak, sumpah serapah dan makian sebagai luapan dan ungkapan amarah karena nyaris tergelincir dan menjadi korban penipuan. Ada satu atau dua komentar bernada ungkapan syukur karena tidak jadi tertipu setelah googling untuk memastikan kebenaran kabar dari dua potong kertas pemberitahuan sebagai pemenang. Namun ironisnya, ada satu atau dua komentar yang menjeneralisasi bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa penipu. Salah besar.
Dari sekian banyak “teriakan”, arah teriakan yang sangat lantang ditujukan kepada produsen dalam hal ini PT ORANGTUA dan pihak berwenang, khususnya kepolisian. Dua instansi ini dirasa tidak ambil tindakan alias diam saja atau gak mau tahu. Padahal, dari pihak Tango sendiri sudah mengeluarkan pernyataan resmi mengenai hal itu. Salah satu pernyataan pihak TANGO bisa dibaca di sini tetapi memang harus pelan-pelan scrollnya. Sedangkan dari pihak kepolisian memang belum terdengar gaung tindakannya. Inipun kita tidak sepenuhnya bisa menyalahkan. Terlalu banyak masalah yang harus ditangani dengan bujet yang minim. Atau, kalaupun tidak seperti itu, masalahnya adalah kurang fokus karena penyebaran kupon-kupon undian yang sejatinya bodong itu sudah sangat meluas. Mungkin, sekali lagi mungkin, bingung harus mulai dari mana melakukan penyidikan. Semoga tidak seperti itu kenyataannya!
Dari kasus ini, pertanyaan yang harus dijawab adalah bagaimana oknum-oknum tidak beratanggungjawab ini memasukkan ratusan bahkan puluhan kupon bodong ke dalam kemasan TANGO dan mengepaknya kembali dengan rapi. Adakah sebuah sindikat jahat di baliknya? Yang jelas, sindikat jahat itu pasti ada. dari tujuannya kita tahu bahwa mereka adalah orang-orang jahat atau bahkan oarng “kreatif” dan oportunis yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dengan berusaha menjerat orang-orang yang sudah lama haus dan mendambakan “durian runtuh”.
Yang jauh lebih penting adalah, sudah sejauh mana masyarakat kita “sakit” sehingga secara tidak sadar terbentuk mind set OKB (orang kaya baru). Bukankah budaya semacam ini jauh lebih berbahaya baik untuk masa kini dan masa yang akan datang. Sayangnya, suara dan teriakan mereka yag tertipu tidak sekeras yang menyumpah-nyumpah. So, kita tidak punya data untuk, paling tidak, mengeluarkan kesimpulan awal sekalipun tentang hal ini. Semoga tidak banyak yang tertipu.
Kembali ke mentalitas. Apakah sudah sedemikian parahnya mentalitas bangsa ini sehingga “orang-orang kreatif” menjadikannya sebagai lahan bisnis baru yang digarap dengan sungguh-sungguh. Kalau kita memakai hukum ekonomi supply and demand, dapat dengan mudah ditarik kesimpulan bahwa memang ada kondisi sakit kronis dan terminal. Itu kan kalau kita ambil gampangnya. Akan tetapi, yang jelas tidak semudah itu, bukan? Tipu-tipu model semacam ini juga bisa dilakukan oleh para petualang dan oportunis sejati yang sebenarnya justru menunjukkan kebodohannya sendiri. But, sebodoh-bodohnya mereka, tetap ada yang lebih bodoh—yang tertipu. Sekali lagi, di mana letak masalahnya sehingga penipuan mendompleng TANGO, salah satunya, masih marak. Adakah hal seperti ini adalah lapangan kerja baru dengan potensi penghasilan maha besar tanpa kerja keras? Walahualam. Only heaven knows.
Akhirnya, semua berpulang kepada kita. mudah tidaknya kita menjadi korban penipuan memang sepenuhnya tergantung pertama-tama kepada sikap kita dalam menyikapi harta dan “durian runtuh”. Mungkin, salah satu yang bisa kita aplikasikan untuk memperkecil jatuhnya korban adalah, yang dikatakan orang bijak, “Tak ada hasil tanpa kerja, tak ada upah tanpa usaha, dan tak ada kemuliaan tanpa kerja keras. Semua perlu kerja keras. Bahkan, bisnis online marketing pun yang katanya bebas dari kerja keras, tetap perlu kerja keras.
Kadang mimpi dan bermimpi memang bisa menjadi pendorong dan motivasi untuk mencapai sesuatu yang kita idamkan. Kan tetapi, mimpi yang bertanggungjawab adalah mimpi untuk sesaat dan banyak waktu lainnya diluangkan untuk melakukan kerja keras dengan konsisten. Undian boleh ada. pemenangnya pun pasti ada. tetapi, ketika kita mempertaruhkan mimpi kita diatas dan dengan undian, mimpi itu tak lebih dari sekedar impian kosong tak bertanggungjawab. Semoga tak jatuh lagi korban undian bodong.

Posted by: gunawanbayu | October 20, 2009

Slip of the Tongue Mr. TK

Satu hal menarik dalam acara sidang paripurna MPR dengan agenda tunggal pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih hasil Pemilu 2009 adalah “slip of the tongue” Mr. TK (Taufik Kiemas). Selip atau tergelincir lidah ini jauh lebih “menarik” dibandingkan dengan ketidakhadiran mantan Presiden Megawati Soekarno Putri yang memang sudah (entah) ditradisikan(nya) setelah beliau tidak mlagi menjadi orang nomor satu di negeri ini. Apalgi setelah SBY, sang mantan anak buah menggantikannya menduduki kursi RI-1 pada 2004-2009 dan mengalahkannya dengan telak pada Pemilu 2009. Banyak versi memang tentang sikap Ibu ini. But, yang ganjil adalah kenapa Ibu tidak pernah datang dalam acara kenegaraan semacam ini dan 17 Agustus. Ibu, apakah Ibu tidak diundang sehingga memilih stay dan mengamati jalannya acara dari rumah saja?

Kembali ke Mr. TK. Entah karena gugup, entah kurang persiapan, atau karena sebab yang lain, pagi ini, Mr. TK yang politisi kawakan dan sudah lama “ngendon” di Senayan bolak-balik harus meminta maaf karena salah baca atau lupa membaca urutan teks. However, mungkin ini adalah kali pertama dalam sejarahpolitik modern Indonesia, ketua MPR tampak tidak menguasai materi dan menguasai medan sehingga mantan Presiden Habibie pun tertawa ngakak. Ngakak inipun tertangkap kamera dan disiarkan live.

Slip of the tongue, bisa dikatakan seperti itu, kalau terjadi hanya sekali atau dua kali. Tetapi ini, lebih dari itu. apakah ini indikasi kurang siap, kurang menguasai medan atau “demam panggung Mr. TK? Emang, tidak ada satupun substansi yang berubah dari isi acara dan jalannya acarapun tidak terganggu. Hanya “aneh” saja. Terlalu dini juga kalau kita menerjamahkan slip, slip, slip of the tongue Pak TK ini sebagai reaksi sontak karena menerima kedudukan yang saat ini diembannya. Tak pantas pula kalau keseleo lidah ini dihubung-hubungkan dengan sidrom kaget mantan oposan menjadi bagian dari pemerintahan walaupun ybs tidak duduk di bangku kabinet.

Memang, tak bisa dimungkiri bahwa duduknya Pak Tk ini adalah salah satu/sebagian adalah hasil samping dari koalisi panjang dan melelahkan dengan incumbent. Yang jelas, barisan koalisi dan bargaining-bargaining politik antar partai, paling tidak, sudah kelihatan hasilnya. Hasil selanjutnya akan lebih jelas dalam susunan kabinet Indonesia Bersatu jilid 2 yang akan segera diumumkan.

Apapun yang terjadi hari ini dengan Mr. TK dan slip of the tonguenya tidak menghilangkan apresisasi saya secara pribadi kepada beliau dan partai yang sudah dibesarkan bersama Ibu Mega. Pak TK adalah politisi senior dan kenyang makan asam garam (nano-nano kali ya rasanya?) kehidupan dunia politik. Bukan bermaksud merendahkan, menghina atau hal-hal negatif lainnya, tulisan ini saya buat sebagai intermeso reflektif ringan. Ternyata, politisi senior pun bisa slip of the tongue. Singkatnya, politisi, sesenior apapun tetap manusia. Semoga Pak TK tidak kepleset-pleset nanti ketika harus mengritisi pemerintah. Selamat bertugas Pak TK. Kami menunggu gebrakan dan kekritisan Anda untuk mengusung aspirasi rakyat.

Older Posts »

Categories