Mudik sudah menjadi terminologi umum dan public domain. Tidak ada yang tidak mengetahui arti dan maknanya. Suku apapun dia, pasti mengetahuinya. Walaupun mudik dilakukan, umumnya, pada minggu ketiga dan keempat bulan Ramadhan, mudik, saya menyebutnya sebagai event budaya bukan sebagai event keagamaan. Mudik bukan dan tidak lagi menjadi sebuah fenomena melainkan realita dan bahkan kalender tahunan.
Mudik menjelang hari raya Idul Fitri, sekali lagi, menurut saya adalah lebih bernuansa event kultural walaupun motor penggeraknya adalah satu atau sebuah event keagamaan—Idul Fitri. Selama ini belum ada (atau sudah ada di beberapa negara) gerakan massa dalam jumlah yang sangat besar dalam waktu yang hampir serentak dan bersamaan. Gerakan massa tanpa teridentifikasi lagi agama, latar belakang budaya atau kulturnya. Semua tumplek blek (istilah Jawa) menjadi satu dan membentuk barisan panjang mengular menuju ke “desa-desa” di mana handai taulan dan orangtua dan yang dituakan berada.
Gerakan massa dalam jumlah yang fantastis dan fenomenal dalam waktu yang bersamaan pada satu sisi merupakan fenomena positif namun di sisi yang lain selalu menyisakan masalah. Dikatakan sebagai fenomena positif karena ketika orang dengan berbagai latar belakang yang berbeda-beda bisa dan mau untuk sementara menghilangkan sekat-sekat suku, kelompok, agama dan golongan serta kepentingan demi melakukan sebuah perjalanan bersama. Jarang sekali kita jumpai terjadi perdebatan atau percekcokan yang dilatarbelakangi oleh masalah rasial. Hampir tidak ada. semuanya damai dan tenang. Bahkan tidak jarang orang-orang yang berbeda-beda latarbelakangnya “menjadi saudara seperjalanan” untuk sementara. Rasa dan meresa sebagai sesama manusia dan umat Allah juga semakin kental dan menonjol dalam event mudik seperti ini.
Pun begitu, di sela-sela yang positif, tentu ada yang negatif. Celakanya, yang negatif itu sudah menjadi rahasia umum dan terus terulang dan berulang setiap tahun. Masalah ketersediaan armada pengangkut, tingginya harga tiket, proyek-proyek maintenance jalan yang dilakukan secara dadakan terus dan terus berulang dan terulang. Masalah-masalah seperti ini selalu saja terjadi yang pada akhirnya justru membuat perjalanan mudik menjadi tidak asyik dan nyaman. Hanya tekad untuk bersilaturahmi dengan sanak kerabat di kampung yang membuat orang terpaksa mau dan rela berdesakan di dalam gerbong kereta, membayar tiket tanpa tempat duduk. Yang penting sampai, yang penting terangkut. Keberanian (kenekatan?) seperti ini pada satu sisi merupakan kekuatan namun di sisi yang lain justru membuat segala sesuatunya justru tidak akan bertambah baik.
Apapun nama dan lika-likunya, mudik adalah perhelatan maha akbar yang harus diakui sebagai sebuah relaita positif. Ada kesatuan hati di dalamnya. Ada kesamaan rasa yang turut larut di dalamnya. Ada luapan kegembiraan dan senyum ceria bersama. Ada hal-hal positif lainnya yang menyertai dan mengiringinya walaupun tidak kurang hal-hal negatif yang menumpang di dalamnya. Bagaimanapun juga, mudik adalah karunia yang harus kita syukuri. Namun masalahnya, bagaimana mengelola event ini sebagai sebuah event yang membuat orang-orang di dalamnya menjadi manusia dalam arti yang sesungguhnya. Ada kenyamanan dan keasyikan tersendiri selama melakukannya. Mereka bukan hanya dijadikan sebagai komoditas yang darinya segelintir orang mengeruk keuntungan dengan gelap mata. Kapan pula mereka dijadikan manusia dengan menyiapkan armada yang layak dan laik jalan, tiket yang terjangkau dengan mengontrol harga pasar, jalan dan jembatan yang tidak diperbaiki secara dadakan yang nantinya, beberapa waktu setelah mudik berlalu, semuanya akan rusak kembali karena mutu pengerjaan yang kurang baik.
Ah, hanya berandai-andai, kapan mudik bisa menjadi asyik dan nyaman. Kalaupun ini adalah angan-angan ideal belaka, paling tidak sudah ada keinginan untuk mencapainya di masa yang akan datang. Selamat Idul Fitri Saudaraku. Selamat Jalan, Selamat Sampai di tujuan. Sampai jumpa kembali nanti di dunia nyata setelah euforia ini. Semoga persaudaraan kita bukan dan tidak hanya sebatas mudik. Sekali lagi selamat Idul Fitri.
Mudik Asyik dan Nyaman: Jauh Panggang dari Api?
QUO VADIS PILPRES
Indonesia TAnah Cairku: War? Yes…But
Indonesia Tanah Cairku…:Jangan Buru-Buru
“Indonesia tanah Cairku, tanah tumpah muntahku….”
Kutipan di atas adalah kutipan lirik lagu Indonesia Raya, lagu kebangsaan kita, yang diplesetkan dan mengarah kepada penghinaan terhadap sebuah bangsa (contempt of the nation). Bukan hanya itu, masih ada beberapa kata dan frase menyakitkan seperti negeri miskin, Indon, dsb yang secara emosi berusaha mengacak-acak dan menginjak-injak harga diri kita sebagai sebuah bangsa. Plesetan yang mengarah kepada pelecehan ini untuk sementara ini, tuduhannya diarahkan kepada oknum dari negara tetangga—Malaysia sebagai pelakunya. Entah apa dasarnya? Apakah hanya karena vocabulary yang dipakai memang bernada Melayu tetapi bukan dangdut. Dan, beberapa fakta yang dikemukakan untuk memlesetkan lagu itu adalah fakta yang ada di negeri Jiran—TKI dan nasibnya yang terkatung-katung tidak jelas.
Wajar kalau banyak orang protes dan kesal atas pa yang terjadi. Saya pun protes keras!yang jelas, pelecehan dan penistaan semacam ini tidak boleh dibiarkan—siapapun dan dari kelompok manapun pelakunya. Tindak tegas! Pun begitu, dalam kepanasan hati kita, kepala harus tetap dingin. Harus diusut tuntas, dan itu perlu waktu, siapa pelaku yang sebenarnya mengingat dunia maya—internet yang dijadikan media untuk menyebarkan pelecehan ini adalah dunia mahaluas tanpa batas yang bisa dimasuki oleh semua orang dengan membawa kepentingannya sendiri-sendiri. Ada yang berdagang, ada yang membual, juga ada yang telanjang. Sungguh dunia maya maha luas dan (hampir) tanpa batas. Kita harus ekstra hati-hati.
Salah satu protes yang ditayangkan oleh Metro TV kemarin petang 27 Agustus 2009 adalah dari anggota dewan Permadi. Walaupun sangat keras, beberapa poin dari yang disampaikannya benar, menurut saya. Pemerintah kurang keberanian untuk menghadapi Malaysia. Dengan menyebutkan nama negeri tetangga itu bukan berarti saya secara definitif mengatakan bahwa pelaku pemlesetan lagu kebangsaan kita adalah negeri tetangga itu. Bukan! Yang ingin saya katakan adalah, mengacu kepada beberapa kasus besar seperti penyikasaan TKI dan kasus Ambalat, pemerintah terlalu lunak menghadapi tetangga sebelah rumah kita. intinya, dalam banyak hal pemerintah cenderung kurang tegas dalam upaya untuk menegakkan harga diri kita sebagai sebuah bangsa.
Pertanyaannya sekarang adalah, mengacu kepada pernyataan Permadi, kita harus siap berperang dengan tetangga kalau memang diperlukan, apakah hal itu benar-benar harus dilakukan dan kenapa muncul statement semacam itu? menurut Anda bagaimana? Perlukah kita menggebuk tetangga yang kurang ajar secara frontal? Berikan tanggapan Anda. Apakah statement perang dan siap perang adalah bukti bahwa sebenarnya kita sudah tidak percaya lagi kepada kemampuan pemerintah untuk mengatasi hal-hal semacam ini? Bagaimana pula tanggapan Anda untuk pertanyaan ini.
Layakkah Malaysia yang akhirnya diplesetkan sebagai maling… yang gambar benderanya dijadikan background dalam acara dialog dengan Permadi dengan tambahan gambar lambang bajak laut dikatakan sebagai malxxx? denganbanyaknya bualan mereka mulai dari klaim sepihak dan cenderung bodoh atas Reog Ponorogo, Lagu Rasa Sayange, dan yang terbaru adalah Tari Pendet?
Kalau kita waras, dilecehkan seperti itu, paling tidak kita pasti tersinggung. Akan tetapi, dalam ketersinggungan kita, kita juga harus tetap bisa berpikir proporsional. Perang adalah pilihan terakhir yang paling akhir. But, kita juga harus siap berperang jika kedaulatan dan harga diri kita sebagai bangsa menuntutnya. Jika rakyat sudah siap, pemerintah tidak boleh memble dalam menyikapi hal-hal seperti ini. Tidak cukup rasanya berbagga diri dengan mengatakan,”Kami (pemerintah) sudah mengirimkan surat atau nota protes kepada pemerintah negera tetangga. Dalam ketersinggungan kita, kita tetap harus waspada supaya tidak salah bertindak. Selalu ada kemungkinan untuk adanya pihak ketiga yang sengaja memancing di air keruh!
Tidak ada pilihan lain yang lebih baik dan terbaik untuk menjaga kedaulatan dan harga diri kita sebagai bangsa. Bersatu! Bersatu dengan saling mempercayai satu sama lain. Pemerintah mengayomi rakyatnya dengan mengambil tindakan tegas dan konkret manakala ada ancaman, tantangan atau gangguan terhadap kedaulatan dan harga diri bangsa. Elit politik, para penganut aliran atau mazhab (yang biasanya disebut dengan …is dibelakangnya misalnya Sukarnois, futuris, tetapi dan asal bukan teroris) harus membiasakan dir untuk mengeluarkan pernyataan yang menyejukkan tetapi bukan kebohongan. Kalaupun kita harus berperang untuk menegakkan kedaulatan dan harga diri sebagai bangsa, jangan mengambil keputusan dengan tergesa-gesa dan dalam kondisi panas hati. Toh seandainya perang terpaksa terjadi, yang kita perangi adalah sesama kita—manusia bukan kambing atau ayam. Sesama makhluk Tuhan yang diciptkan mulia dan dilarang keras untuk dirampas kehidupannya dengan alsan apapun. War…? Yes! But….
Posted in kepemimpinan | Tags: perang dengan malaysia
Buntu…? Stop Dulu !
Pengen nulis tapi ide gak muncul. Kalaupun ide ada, rasanya gak nyambung antara otak dan tangan. Ide-ide di kepala terasa hanya muter-muter gak karuan tetapi tangan mogok menari di atas jajaran huruf-huruf keyboard. Gak biasanya seperti ini. Anda pernah mengalaminya? Saya pernah. Dan, saat inipun sedanga mengalaminya. Sebel! Bete, atau entah apalagi sebutan dan ekspresi untuk mengungkapkannya. Read More…
Posted in Kritik sosial | Tags: burnout, kebosanan, mengatasi kejenuhan, penulis dan kepenulisan
Kamikosro Haragenah
Meledaknya dua bom dalam waktu yang hampir bersamaan di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton Mega Kuningan Jakarta pada 17 Juli 2009 yang memecah keheningan suasana breakfast dan mulai berkeriapnya kehidupan di bawah kolong langit Jakarta membuktikan bahwa teror dan terorisme tidak pernah mati di Indonesia. Read More…
Posted in Kritik sosial | Tags: bom bunuh diri, haragenah, Jemaah Islamiyah, kamikosro, Nordin M. Top, teror bom

