Kredit Pemilikan Panel Surya Untuk Rakyat Miskin

Posted: April 5, 2008 in Kritik sosial
Tags: , , ,

Kredit kepemilikan rumah sudah sangat sering kita dengar.  Hampir semua bank memiliki program ini. Yang jelas, program ini tentunya sangat menguntungkan. Kalau tidak, tidak mungkin  bank-bank yang ada  berlomba-lomba untuk menggarapnya.  Namun tahukah Anda, kalau saat ini ada KPPS (Kredit Kepemilikan Panel Surya)?

Kalau Anda bertanya lebih  jauh, lembaga atau bank mana yang memberikan kredit ini? Jawaban saya, “Belum ada.”  Kalau belum ada, kenapa dipublish!  Kredit Panel Surya Untuk Rakyat  sebenarnya adalah  ide yang dilontarkan oleh istri saya dalam sebuah pembicaraan dalam forum diskusi keluarga.  Ide ini dilontarkan sebagai salah satu alternative untuk mengatasi krisis energy listrik yang saat ini sedang kita hadapi.  Konsep dasarnya sederhana, back to nature.

Konsep dan gagasan kembali ke alam untuk mengatasi krisis energy listrik sebenarnya bukan hal baru.  Sudah ada upaya yang dilakukan untuk merealisasikan hal ini mulai dari PLTA, PLTG, dan PLTU. Bahkan, terobosan untuk mengaktifkan reactor nuklir pun sudah diwacanakan.  Konsep dasar dari ide ini adalah memanfaatkan yang tersedia di alam—sinar matahari yang melimpah ruah di negeri ini.

Upaya pemanfaatan energy surya juga sudah diujicobakan di beberapa tempat. Ini adalah langkah maju sekaligus (sebenarnya) murah untuk mengurangi beban subsidi untuk menghasilkan energy listrik.  Walaupun murah, faktanya tidak semua rakyat terutama mereka yang bermukim di wilayah-wilayah yang belum terjangkau jaringan listrik PLN  bisa memiliki fasilitas ini. Alasanya sederhana—tidak ada biaya(walaupun dikatakan harga panel surya tak lagi mahal; tetapi belum mencapi taraf ekonomis/masih mahal).  Seperti  ungkapan Jawa AKABOCU  (Ati Karep Bondho Cupet).  Terjemahannya, minat ada tapi tidak ada biaya.  Inilah yang mendasari ide kredit kepemilikan panel surya untuk rakyat.

 

BUKAN TAK ADA MASALAH

            Ide tersebut memang sederhana.  Namun begitu, ada berbagai kelemahan yang sepenuhnya disadari oleh si empunya ide.  Kelemahan-kelemahan yang ada bisa diuji dengan mengajukan pertanyaan who, what, when, where  dan why. Who  dalam pengertian siapa yang mau memberikan kredit ini.  Faktanya, memberikan kredit semacam ini jauh tidak menguntungkan dan “kontra produktif” dibandingkan dengan memberikan kredit rumah.  Harga rumah semakin meningkat dari hari ke hari sementara penel surya semakin merosot.  What  dalam pengertian mekanisme apa yang bisa dipakai untuk menjamin bahwa kredit ini tidak macet karena resiko sangat besar harus ditanggung oleh pemberi kredit—nilai ekonomis alat ini semakin menurun.  

Selanjutnya, when dan   where, kapan dan di mana saja kredit ini layak diberikan  dalam skema win-win. Artinya, kreditur terjamin keamanan investasinya sedangkan debitur  bisa merasa puas dan dijamin kemudahannya manakala “terjadi klaim” selama masa kredit.  Yang saya maksud klaim adalah adanya pihak-pihak  yang memang ditunjuk kreditur untuk mengerjakan perbaikan-perbaikan (maintenance) manakala peralatan yang dikredit rusak dengan standar mutu yang tinggi.  Fakta umumnya adalah, perlakuan terhadap debitur seringkali tidak memuaskan. Yang terakhir adalah why,  apa alasan yang membuat kredit diberikan? Ini yang seringkali sulit. Pihak kreditur hanya mau memberi  kredit kepada pihak-pihak yang dirasa mampu memenuhi kewajibannya—membayar angsuran kredit dan bunganya. Ini wajar. Akan tetapi, kalau dasarnya hanya seperti itu, maka selamanya penduduk yang  bermukim  di wilayah-wilayah terpencil namun emiliki sumber daya alam yang  mencukupi tidak akan pernah menikmati terangnya listrik dan manfaat  lain yang bisa diperoleh.

 

BAGAIMANA SEHARUSNYA?

            Pertanyaan di atas gampang-gampang susah untuk dijawab.  Yang paling mudah adalah menuntut pemerintah untuk intervensi.  Maksudnya, pemerintah harus berinisiatif menggandeng pengembang-pengembang perumahan sederhana untuk sekaligus memasukkan paket panel surya dalam  komponen biaya pengadaan rumah-rumah yang dibangun. Atau, yang lebih lunak adalah pemerintah menujuk atau mendirikan bank atau konsorsium tertentu untuk menyaurkan kredit ini sekaligus  yang menangganinya.

            Seandainya, kebijakan seperti di atas yang dilakukan, akan muncul pertanyaan-pertanyaan besar lainnya yang justru akan membuat program ini kontra produktif. Yang pertama, sasaran untuk memerdekakan  kaum duafa  listrik tidak akan pernah tercapai. Why, karena (belum) tidak pernah ada pengembang yang mau membangun perumahan di kawasan yang terisolir. So, lagi-lagi tujuan untuk membuat daerah-daerah terpencil menjadi terang karena listrik tidak akan pernah tercapai. Yang kedua, adakah konsorsium atau bank yang mau dengan senang hati masuk sebagai pemain dalam bisnis ini dengan alasan seperti di atas, kecuali pemerintah menyediakan dana 100% sedangkan pihak lain hanya berfungsi sebagi “tukang”. Ini juga tidak mungkin.

            Lalu bagaimana sebaiknya, saudara-saudara kita yang duafa listrik (ini hanya contoh) tetap berdiam diri menunggu nasib yang nantinya akan berubah ataukah berusaha mengadakannya secara swadana? Di daerah yang memiliki sungai-sungai yang cukup untuk dikembangkan sebagai mikrohidro, ada tidaknya kredit ini bukan masalah. Mereka bisa (dengan bimbingan dan sudah banyak yang menikmati hasilnya) menikmati listrik (walaupun untuk skala kecil)  yang dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga mikro hidro. At least, mereka masih bisa tersenyum karena bisa nonton TV, Anak-anak bisa belajar dengan nyaman, biaya pembelian MITAN untuk lampu terkurangi, dan tidak ada jelaga hitam lagi yang menempel di dinding dan langit-langit.

            Apakah berdiam diri menunggu perubahan karena pemerintah sudah mempunyai cukup dana untuk membangun sarana-sarana pemasok listrik ke tempat-tempat terpencil  memang merupakan takdir kekal yang tidak bisa dibenahi lagi oleh kaum duafa listrik. Lalu, akankah untuk selamanya anak-anak mereka tetap tidak bisa belajar dengan sebaik teman-teman mereka yang memiliki kelimpahan energy listrik dan memboroskannya sehingga terjadi krisis listrik yang menyebabkan PLN diplesetkan menjadi Perusahaan Lilin Negera?

 

Akhir Yang Mengambang

            Ide ini-Kredit Kepemilikan Panel Surya Untuk Rakyat, memang saat ini hanya sebuah wacana. Namun begitu, saya tetap optimis, dengan bantuan pemikiran Anda sekalian pembaca artikel ini, hal ini bisa diwujudnyatakan. Akhirnya, sebagai refleksi, bertanggungjawabkah kita kalau energy listrik yang kita miliki kita boroskan sehingga terjadi krisis seperti ini. Saya menunggu respon pembaca Sekalian>

 

 

 

Comments
  1. tet5u says:

    saya mendukung bgt nih kredit kepemilikan panel surya ini
    cuma sih klo bisa jgn di desa2 tertinggal aja
    saya juga berharap bisa di aplikasikan di kota2 besar
    sehingga ketergantungan dengan bahan bakar fosil dapat berkurang

    lets make this world more green

    saya harap pemerintah juga ikut andil dalam hal ini sehingga dapat lebih cepat dinikmati oleh orang banyak.

  2. Ass Wr Wb,

    Kredit pemilikan sistim PLTS sudah tersedia. Bank Syariah Mandiri dapat menyalurkan kredit kepemilikan PLTS dengan “bunga” yang rendah, yaitu efektif +/- 10% per tahun dengan memanfaatkan program Debt for Nature Swap. Penyaluran kredit ini juga dilakukan melalui kerja sama dengan ABSINDO atau Asosiasi Baitul Mal wat Tamwil se Indonesia

    Program pemerintah untuk hibah PLTS hanya mencakup tidak lebih dari 40.000 unit pertahun sedangkan masih lebih dari 80juta rumah tangga belum menikmati listrik.

    Sebenarnya ada program CSR [Corporate Social Responsibility] dari BUMN maupun perusahaan multi nasional yang dananya bisa disalurkan sebagai hibah untuk pembayaran 40% nilai beli PLTS sedangkan sisanya 60% dapat dibiayai dengan kredit Bank Syariah Mandiri tersebut di atas.

    Detail bisa dilihat di situs aviotech-network.8m.com/plts.htm

  3. bayu says:

    trim infonya. pasti berguna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s