Trik Maut Produk Cina

Posted: April 12, 2008 in Kritik sosial
Tags: , ,

Cina atau yang kini lebih popular disebut sebagai Tiongkok  memang “kreatif”.  Mari kita ingat kembali apa yang ada di sekitar kita dan yang kita pakai yang tidak berasal atau made in China.  Fenomena membanjirnya barang-barang Cina di pasaran dibuktikan dengan maraknya outlet-outlet serbu yang menjamur baik di kota-kota besar bahkan ke pelosok dan sudu-sudut kota.  Tak tertutup kemungkinan (dan faktanya) barang-barang made in China mulai menggempur, membanjiri dan pasaran sehingga membuat produk-produk lain sejenis megap-megap.  Barang-barang produksi Cina muncul sebagai fenomena dan mulai mendominasi. Pemain-pemain lama dalam industry dan manufaktur dibuat jenggah dan gerah atas fenomena ini.

 

Bak gayung bersambut.  Produk Cina yang hadir dan dilemparkan ke pasaran dengan harga miring dibandingkan dengan produk-produk sejenis disambut antusias oleh masayarakat. Harga miring benar-benar menjadi magnet yang mampu menarik dan mengalihkan, atau paling  tidak menggoyahkan loyalitas konsumen kepada merek produk tertentu, perhatian konsumen dari semua lini dan rentang usia.  Harga murah bak lampu benderang yang mampu menarik laron-laron untuk mendekat dan kemudia masuk ke dalam “perangkapnya”.  Harga, bukan kualitas,  memang masih pertimbangan utama.  Apakah pernah ada produsen mainan anak-anak, sebelum booming dan menjamuranya produk Cina, yang mau melepas satu set mobil-mobilan kecil dengan harga 10.000an? Belum ada bukan?

 

Pun begitu, bukan bermaksud black campaign,  secara umum bisa dikatakan bahwa produk-produk (Cina) yang dijual masih rendah secara kualitas dan orientasinya kebanyakan short term use. Maksudnya, umur produk itu tidak lama walaupun desain dan tampilan fisiknya “sama” dengan produk aslinya. However, tidak semua produk Cina berkualitas rendah. Dari segi kualitas memang ada (yang umum) berkualitas rendah, menengah dan tinggi (?).  BErkaitan dengan harga dan kualitas produk Cina dan produk-produk lainnya, saya jadi teringat satu seloroh yang dilontarkan oleh seorang pedagang Durian:”Rego nggowo roso (Harga menentukan rasa/kualitas).” Seloroh inilah yang pastinya akan dipakai oleh produsen Cina untuk menangkis ketika kualitas produknya diserang.

 

 

Apa yang Gak Bisa Dilakukan Cina…?

 Apa yang gak bisa dibuat Cina? Ya, memang gak ada yang tidak bisa mereka buat dengan kemiripan yang sangat dekat (bukan kualitas) dengan barang aslinya. Dari sisi tiru meniru, Cina memang sudah terbukti kelasnya (kabarnya Indonesia pun begitu (?)). Di Cina tiru meniru memang menjadi bagian dari seni dan mata rantai produksi. Semua bisa ditiru-mulai dari sepeda motor, mainan dan barang-barang lain bisa dijiplak plak.  Hebatnya, hal-hal seperti ini bukan tidak diketahui oleh pemerintah.  HAKI bukan lagi menjadi hak orang perorang yang memang secara hokum syah dan pantas mendapatkannya.  HAKI bukan hal yang mutlak.

 

Kepiawaian industry (bahkan umumnya industry skala rumahan) di Cina meniru barang dan produk tidak hanya terbatas pada produk mati (barang-barang) tetapi juga produk yang dihasilkan oleh yang hidup dan yang di dalamnya juga terkandung potensi kehidupan pun bisa ditiru. Tetapi sebelum terlalu jauh, yang saya maksud tiru meniru ini hanya terbatas pada tampilan luar/bungkus bukan substansi. Mopang (Motor Jepang) dan Morep (Mobil Eropa) bisa mereka tiru tampilan luar atau bajunya tapi jeroannya tidak-dari sisi kualitas. Walaupun begitu, yang umum terjadi dalam kehidupan ini adalah penampilan menentukan pandangan.

 

Masih dalam kaitannya dengan tiru meniru, satu rumor yang pernah saya dengar, tetapi kini akhirnya dimuat juga di majalah Gatra edisi 29 November-5 Desember 2007 hal 64-65 adalah masalah “telur aspal”  Orang Cina berhasil membuat tiruan telur yang, sekali lagi, mirip aslinya. Mirip artinya secara penampilan memang tampil “sama”. Tetapi bedanya, telur made in China ini (seharusnya) tidak bisa dimakan karena terbuat dari bahan-bahan berbahaya. Tetapi perkembangan ke depannya kita tidak tahu. Maksudnya adalah apakah nantinya tidak ada pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab yang dengan sengaja memasukkan dan mengedarkannya secara luas di masyarakat kita sebagai “telur alternative” karena faktanya, tidak ada lagi barang dan bahan pokok murah di negeri ini.  Sekali lagi, harga dan tampilan serupa tapi dalamnya tak sama adalah umpan yang menarik bagi banyak orang di negeri ini yang pelan-pelan menjadi miskin.

 

 

 

Bercermin dari dan kepada Cina

 Kehadiran Cina sebagai fenomena ekonomi baru yang siap menguasai dan melilit ekonomi dunia di bawah dominasinya bukan lagi merupakan hal yang samar. Semuanya sudah jelas dan memang mengarah ke sana. Cina laksana Naga yang siap menelan apa saja yang dihadapinya. Faktanya, Cina memang layak, karena kerja keras (walaupun ada hal-hal tidak etis yang dolakukannya-pembajakan), mendapatkan predikat itu. Mereka mampu mengejar impiannya.

 

Satu hal yang bisa dipelajari dan dijadikan cermin oleh pemerintah dan ppenguasa negeri ini adalah keberanian untuk bertindak keras  terhadap pelanggaran-pelanggaran hokum terutama korupsi dengan tidak pandang bulu walaupun faktanya Cina tidak 100% bebas dari korupsi.  Pun begitu, dibanding dengan negeri ini, kita kalah jauh.  Menyakitkan memang tepai itulah realitasnya.

 

Pesatnya perkembangan industry di Cina yang umunya didominasi oleh industry sector rumahan (home industry) selayaknya kita jadikan cermin untuk bertanya kepada diri sendiri kenapa kita, yang dari sisi SDM dan sumber daya alam tidak kalah dari Cina, tidak bisa maju dan berkembang seperti Cina.  Bangsa kita bukan bangsa bodoh.  Memang, satu keberanian yang tidak perlu kita tiru dari Cina adalah kengawuran mereka dalam mengabaikan HAKI.  Seni yang baik dan bertanggung jawab adalah seni yang menjadikan seni yang lain sebagai alat untuk menciptakan seni baru yang lebih baik. Tidak bertanggung jawablah kalau yang kita asumsikan sebagai seni adalah seni yang merusak-merusak dari sisi estetika dan hakikat.  Pembajakan yang dilakukan di Cina terhadap berbagai produk yang telah mapan jelas-jelas merupakan penelanjangan terhadap hakikat dari seni itu sendiri dan merendahkan hak-hak pihak lain. Singkatnya, kreatif YES pembajakan HARAM!        

  

Memang untuk bisa berkembang kita harus maju bersama-sama.  Rakyat kreatif tetapi pemerintah juga HARUS memberikan fasilitas.  Seringkali kreatifitas anak bangsa harus mentok dan mandek ketika berhadapan dengan capital (modal). Kreatifitas selalu butuh modal. Satu hal yang harus kita junjung tinggi untuk bisa maju bersama adalah saling percaya dan tidak saling menyalahkan.  Berhentilah saling menyalahkan! Ingatlah, satu bangunan besar selalu didirikan dan bertumpu di atas banyak penopang. BAngunan besar itu adalah impian kita untuk menjadi sejahtera.  Penopang-penopang itu adalah satu rasa satu jiwa sebagai satu bangsa yang dijalin, diikat dan disatukan dengan cinta kasih.

 

Comments
  1. agus mk says:

    Kalau kita berbicara ttg cina, bukan bermaksus rasis saya pribadi mengagumi orang cina. Daya tahan / kemampuan bertahan hidup mereka sangat luar biasa ! Sudah banyak bukti di negara kita orang cina banyak sekali yang sukses, mereka sesama orang cina sangat kuat solidaritasnya, kita sebagai orang Indonesia bisanya cuma “SMS” , kata Tukul Senang Melihat Orang Susah. ya ngak maju maju

    Kalo mengomentari produk dari cina, yang aspal dgn harga murah , menurut saya itu menunjukkan kemampuan sebenarnya dari cina, mereka bisa membuat barang yang sama dgn harga yang jauh lebih murah ( tapi kualitasnya ndak seberapa ini wajar ! )
    Jadi kalo mereka mau mereka bisa membuat sesuatu yang sama dengan kualitas yang jauh lebih baik, jadi karena mereka negara yang perkembangannya baru sekarang ini maka wajarlah harga yang mereka gunakan sebagai senjata untuk menggempur pasar !

    Disisi positifnya kita musti banyak belajar pada mereka, kalo kata orang bijak “Kenalilah temanmu dengan baik tapi kenalilah musuhmu jauh lebih baik lagi ”
    Sukses mas !

  2. Jek says:

    Menurut saya,org cina emang kreatif!!tp sayang,kurang inovatif,trus menurut agama islam,,knpa org cina(notabennya ‘kafir’),emang selalu mendapat balasan pahalanya lewat dunia,,jadi kalo org cina beramal,langsg diblaz di dunia,jadi paz di akhirat gak dapet apa2,nah dr situ,kita sebagai orang indonesia,khususnya org muslim,gak perlu iri,,yang pntg kehidupan kekal di akhirat!tp jgn trus gax berusaha,usaha dan doa adalah plg utama!slm sukses bt org muslim di dunia!cayo

  3. gunawanbayu says:

    ya, emang kita gak perlu ngiri. but, belajar dan meniru yang baik dari siapapun dan agama apapun rasanya sah-sah saja. soal kafir gak kafir, itu persepsi anda. sah. but saya gak ikutan. yang jelas bagi saya, belum tentu kita yang menganggap diri bukan orang kafir terbukti tidak lebih kafir dari mereka. akhirat memang harus “dikejar”. salam sukses buat anda, buat umat islam dan buat pemeluk agama lain. thanks commentnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s