Republik BBM: Plesetan Menyegarkan

Posted: April 17, 2008 in Kritik sosial
Tags: , , ,

News dot Com

News dot com, klik, ngeh? Saya yakin beberapa dari Anda ngeh dan klik dengan yang dimaksud. Bagi Saudara yang belum ngeh dan klik, simak uarian singkat saya berikut ini. News dot Com adalah acara talk show yang ditayangkan oleh Metro TV. Berbeda dari talk show lainnya, acara ini bisa dikatakan sebagai wadah dan saluran untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah dengan cara menampilkan kritik sosial yang dikemas dalam bentuk parodi.
News dot Com merupakan nama baru dari Republik BBM (Benar-Benar Mabok) yang awalnya ditayangkan di Indosiar. Entah kenapa, akhirnya acara ini berpindah ke Metro TV. Perpindahan ini berakibat pada pergantian sejumlah personnel. Meskipun demikian, pada dasarnya tidak ada perubahan signifikan pada materi acara dan setting. Ciri setting News dot Com adalah ruang rapat Presiden yang di dalamnya terdapat lengkap para menteri, penasehat, tokoh SBY-SBY-an, JK-JK-an, Gus Dur-Gus Dur-an, Mega-Mega-an plus kritikus. Ciri lain acara ini adalah lontaran kritik-kritik social yang dibungkus dan dibumbui dengan plesetan, joke-joke segar walaupun kadang kelewatan dan cenderung cengengesan Apa pun nama dan bentuknya, tetap saja acara ini bisa dijadikan alternatif tontanan serius tapi santai dan mengundang pemikiran bagi yang berminat berpikir untuk memberikan yang terbaik bagi negeri ini.
Acara semacam ini, dalam pandangan saya, bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif pembelajaran bagi para calon pemimpin maupun pemimpin yang sedang menjalankan amanat dan mandat kepemimpinan. Paling tidak, kalau mau mencermati dan memposisikan diri sebagai orang yang diri, kepemimpinan dan hal-hal yang berkaitan dengan kepemimpinannya diparodikan, calon pemimpin maupun pemimpin yang “sedang berkuasa” bisa memetik beberapa manfaat bagi diri dan kepemimpinannya. Manfaat-manfaat tersebut antara lain: merefleksi diri, membuka diri, antisipatif, inovatif dan kreatif, dan santun.

Merefleksi Diri
News dot Com bisa dijadikan salah satu sarana bagi para calon pemimpin untuk merefleksi dan memeriksa dirinya sendiri. Kalau para calon pemimpin atau orang-orang sedang menjalankan peran kepemimpinan berani mengambil posisi sebagai yang diparodikan oleh News dot Com, saya yakin akan banyak hal yang bisa dipelajari untuk memperkaya dan mengembangkan karakter. Tidak banyak orang yang mampu membiarkan dirinya diparodikan, apalagi kalau dalam parodi tersebut dibawa serta “ketidaksempurnaan” dalam kepemimpinan dan kelemahan-kelemahan lain yang biasanya diusahakan untuk dengan sekuat tenaga ditutup-tutupi. Parodi-parodi semacam ini bisa membangkitkan mekanisme pembelaan diri oleh seseorang.
Mekanisme pembelaan diri sangat bergantung kepada dewasa tidaknya seseorang dalam segi karakter dan kepribadian. Seorang calon atau pemimpin yang memiliki kedewasaan karakter dan kepribadian akan melakukan tindakan postif sebagai upaya untuk menjalankan mekanisme pembelaan diri. Dia mungkin akan tertawa tetapi tidak menertawakan diri sendiri, memikirkan sejauh mana kebenaran dari yang disampaikan melalui parodi. Calon pemimpin atau pemimpin dengan tipe seperti ini akan lebih banyak menggunakan pikiran positif untuk merespon parodi tentang diri, kepemimpinan dan kelemahannya. Pemimpin tipe ini berani mengakui dengan jujur dan selanjutnya berusaha melakukan perubahan dalam diri dan kepemimpinannya kalau secara obyektif apa yang disampaikan dalam parodi benar adanya. Hal sebaliknya akan dilakukan oleh calon pemimpin atau pemimpin yang tidak memiliki kedewasaan karakter dan kepribadian. Pandangan dunia pemimpin seperti ini umumnya: I am the Law, you must serve me !

Membuka Diri
Belajar dari cara News dot Com melontarkan kritikan yang pada umumnya tajam tetapi santai dan kadang-kadang menjurus kepada cengengesan, seorang calon pemimpin atau pemimpin bisa belajar mendengar, memikirkan apa yang disampaikan tanpa memandang dengan cara bagaimana, oleh siapa dan dari golongan mana kritik disampaikan. Bahkan ketika kritik yang disampaikan itu menembus batas kesabaran seorang pemimpin tetap harus bisa mengendalikan diri. Ini bukan hal yang mudah ! Sekali lagi, ini mudah diucapkan tetapi sulit diaplikasikan ! Kalau begitu, apakah seorang pemimpin tidak boleh marah? Tidak, seorang pemimpin tetap boleh marah tetapi tidak boleh terlalu tipis kuping! Marah adalah hal yang manusiawi. Seorang pemimpin juga manusia jadi pantas, wajar dan manusiawi kalau dia marah. Yang membedakan nilai amarah seorang pemimpin dengan orang yang dipimpinnya adalah kualitas kemarahannya. Artinya, kalau seorang pemimpin marah dengan membabibuta untuk hal-hal yang tanpa lebih dahulu dipikirkannnya secara matang, orang akan menilai rendah kemampuan pemimpin untuk menguasai diri. PEMIMPIN BERBEDA DENGAN BOS !!!

Antisipatif
Ketika seorang calon terlebih pemimpin yang sedang menjalankan fungsi kepemimpinannya di segala bidang menyaksikan tayangan tersebut menemukan kebenaran-kebenaran obyektif yang disampaikan melalui parodi, paling tidak seorang calon pemimpin dan pemimpin bisa belajar untuk lebih memperbaiki etos kerjanya dan orang-orang yang bekerja dalam satu tim dengannya. Hal ini dilakukan sebagai upaya perbaikan kualitas kerja demi memperoleh hasil yang dapat diterima oleh orang-orang yang dipimpinnya walaupun tidak semua dari mereka bisa dipuaskan keinginannya. Konsolidasi bukan dilakukan sebagai antisipasi munculnya kritik yang sama pada kesempatan lain. Bukan samasekali. Tujuannya adalah antisipasi munculnya kesalahan yang sama seperti yang dilontarkan dalam kritik. Antispasi ini harus sepenuhnya didasarkan kepada upaya untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang dipimpin. Naiflah, kalau seorang pemimpin takut bahkan antipati terhadap kritik. Pada dasarnya, sebaik apapun kita berbuat, tetap saja kita tidak akan terhindar dari kritik bahkan caci maki. Antisipatif bisa juga disebut sebagai pengelolaan perbedaan. Bagaimana cara seorang pemimpin untuk mengelola perbedaan supaya tidak meruncing dan menajam serta berpotensi melukai banyak orang. Perbedaa, jika dikelola dengan cara yang benar dan didasari dengan kerendahan hati akan menghasilkan harmoni indah yang bukan hanya enak didengar tetapi juga memberikan cita rasa dan suasana lain yang penuh kedewasaan.

Inovatif dan Kreatif
Dengan menyimak tayangan dan kritik-kritik yang dilontarkan dalam News dot Com, seorang calon pemimpin maupun pemimpin seharusnya bisa belajar bagaimana “memanfaatkan” kesempatan, sumberdaya dan sumber-sumber lain yang ada di sekitarnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dari acara ini paling tidak seorang pemimpin bisa mengetahui cara termudah untuk menyampaikan gagasan-gagasan dan pemikiran-pemikiran sulit dan abstrak menjadi operatif. Jika disimak, dasar pemikiran di balik kritik News dot Com tergolong berat karena bersinggungan dengan kehidupan berbangsa bernegara yang sedang “sakit berat” dan diusahakan penyembuhannya. Konsep-konsep sulit ini bisa dikemas dengan sedemikian rupa sehingga bisa dirasakan, dipikirkan dan dinikmati boleh hampir semua kalangan. Cara-cara seperti ini bisa dijadikan sebagi salah satu alternatif pembelajaran dalam kehidupan berjemaat untuk membina iman tanpa harus mengadopsi gaya cengengesan. Intinya adalah bagaimana kita bisa mengkomunikasikan pesan yang sulit dan abstrak kepada orang-orang yang kita pimpin tanpa mereka merasa sangat berat dan terpaksa dengan menggunakan sumber-sumber daya yang ada. Tidak mudah memang.

Santun
Nilai kesantunan yang bisa kita ambil dari acara ini adalah bagaimana cara menyampaikan masukan dan kritik tajam yang lahir karena perbedaan dan berbnagai kesenjangan yang ada dengan cara-cara yang santun persuasive daripada demonstartif destruktif. Paling tidak crew News dot Com bisa menjadi jembatan rasa antara rakyat dengan pemerintah, antara yang memimpin dengan yang dipimpin secara santun dan persuasive. Pelajaran besar tentang nilai kesantunan yang secara pribadi saya dapat dari pihak yang dikritik atau diparodikan adalah mereka tidak lagi segarang orang-orang yang pernah berkuasa dahulu. Penguasa yang sekarang lebih akomodatif terhadap kritik dan lebih santun bertindak untuk menanggapi kritik. Apapun alasannya, secara etis pemimpin-pemimpin sekarang ini secara umum lebih santun dibandingkan dengan yang dulu-dulu. Selain santun menerima kritik, calon pemimpin juga diharapkan untuk santun meresponi kritik dengan menjauhkan pendekatan keamanan dan kekuasaan. Respon terhadap kritik sebaiknya disampaikan melalui saluran-saluran dan cara-cara yang santun tanpa perlu merasa ketakutan dengan penggunaan kesantunan semacam itu “kekuasaannya” akan terancam dan menunjukkan kelemahannya. Jika ini yang dipikirkan pemimpin, celakalah Dia!

Kesimpulan:
Pemimpin handal TIDAK DILAHIRKAN TETAPI DIBUAT. Diperlukan bukan hanya waktu tetapi juga usaha keras yang sungguh-sungguh tanpa batas waktu, pengorbanan bahkan airmata. Seseorang yang ingin menjadi pemimpin handal harus mau membayar harga yang mahal. Pemimpin handal tidak dibuat dengan cepat dengan asas instanism. Melatih diri dan mau belajar dari segala sumber termasuk yang berseberangan dengan dirinya plus kerelaan untuk mendengar secara aktif dilandasi oleh hati sebagai hamba merupakan penempaan diri, karakter dan kepribadian untuk mempersiapkan dan dipersiapkan sebagai pemimpin handal yang rendah hati, cepat tanggap dan mengayomi orang-orang yang dipimpin. Seorang yang ingin menjadi pemimpin handal paling tidak harus berani bermimpi dan berusaha mengejar mimpinya itu. Pemimpin handal tidak hanya BBM (Baru Bisa Mimpi) dan terus berdiam diri menunggu “urapan takdir” yang dengan serta merta membuatnya menjadi seorang pemimpin handal. Kalau ini yang terjadi, celakalah dia, karena dia memang hanya Baru Bisa Mimpi dan seorang pemimpi sejati yang hidup jauh di awang-awang yang diatasnya dia sendiri sama sekali tidak memiliki pijakan untuk meletakkan bahkan sebelah kakinya.

“Pemimpin yang berhasil adalah
mereka yang memberikan porsi lebih besar kepada telinganya untuk mendengarkan
daripada yang cepat menggerakkan mulutnya.”

Comments
  1. Starwrite says:

    Kritik itu membangun tergantung pada penerima kritik.

  2. bayu says:

    betul sekali.tapi kadang-kadang ada pengritik yang tahunya hanya ngritik atas dasar narsisme, itu yang repot. ya sekali lagi, kritik akhirnya pulang kembali kepada yang melontarkan dan yang menerima. thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s