Sukses Karbitan Ala Idol

Posted: April 19, 2008 in Kritik sosial
Tags: , , , , ,

Setiap orang tentu mendabakan kesuksesan. Sukses dalam pengertian kaya, banyak uang, dipuja banyak orang, disegani dan dijadikan sebagai trend setter. Singkatnya, semua orang menganggap kemiskinan sebagai “kutuk” yang harus dihindari dan “dinajiskan”. Untuk menghindarinya, orang memakai beragam cara, dari yang konvensional berbau klenik seperti pesugihan sampai yang cara modern yang lebih rasional. Cara terbaru yang paling banyak ditawarkan belakangan ini adalah menjadi idol dadakan.
Acara pencarian bakat dibidang music sebenarnya bukan barang baru. Bintang radio dan televisi sudah ada , bahkan, jauh lebih dulu dari AFI, AFI Junior, Dangdut Mania, Indonesian Idol dan yang lainnya. Memang acara-acara semacam itu dalam kemasan lama (bintang radio dan televisi) relative tidak terdengar dibandingkan dengan program acara idol-idolan masa kini. Salah satu penyebab acara pencarian bakat model lama kurang terdengar adalah konvensional dan minimnya hadiah yang diberikan. Yang saya maksud konvensional adalah, seleksi peserta yang sangat ketat (berdasarkan kualitas) dan minimnya hadiah. Selain itu, factor bisa tidaknya muncul di TV bisa menjadi factor penentu acara semacam ini dalam kemasan masa kini lebih laku.
Pada dasarnya, hampir semua orang butuh publisitas. Tidak percaya? Orang-orang yang ikut dalam audisi acara semacam ini pada umunya memang ingin “adu nasib”. Adu nasib? Ya, sebenarnya banyak dari mereka yang sadar kemampuan vokalnya pas-pasan dan gak bakal masuk nominasi tetapi tetap saja mereka rawe-rawe rantas malu-malu belakangan. Ya, paling tidak sudah mencoba dan siapa tahu muncul di TV (walaupun untuk yang slendro). Buktinya, seringkali stasiun TV yang mengadakan acara ini justru menampilkan bagian-bagian dari audisi yang dipenuhi dengan ke-slendroan¬ para peserta. Ini yang seringkali membuat kita tertwa dan selanjutnya, pelan tapi pasti mulai keranjingan untuk mengikuti acara ini.

Mesin Uang
Acara semacam ini sebenarnya menjalankan dua tujuan. Yang pertama memang sungguh-sungguh mencari bibit-bibit muda yang potensial untuk dibina dan dikembangkan dan diorbitkan sebagai bintang pada masa yang akan datang. Hal ini dibuktikan dengan komentator/juri penilai yang diiplih untuk menyeleksi peserta audisi bukan orang-orang “kemaren sore” dan “ijo” di bidangnya. Mereka semua ciamik dan jempolan. The right man on the right place! Selain itu, klinik-klinik pembinaan juga disediakan untuk membina kontestan yang masuk keperingkat tertentu. Ini bukan upaya main-main dan anggrannya pun gede. Selanjutnya, pola-pola “pembinaan” untuk masa yang panjang pun juga sudah disiapkan untuk para artis baru. Ada sejumlah kontrak yang menunggu ketika mereka sukses menduduki peringkat tetrtentu. Siapa yang diuntungkan?
Selain menjalankan fungsi mencari dan membina bibit-bibit baru, acara semacam ini juga menjalankan fungsi bisnisnya. Mesin uang. Fungsi ini bisa dengan jelas kita lihat dari adanya pemilihan bintang melalui sms. Tarifnya pun tidak murah-2000/sms. Namun celakanya, fungsi inilah yang seringkali lebih menonjol dan kadang-kadang menyakitkan hati. Menyakitkan hati karena sms yang berkuasa menentukan baik tidak dan layak tidaknya seseorang menjadi bintang. Saya tidak akan pernah mangatakan hal ini sebagai vox populi Dei. Saya lebih senang menyebutnya vox populi vok. Carilah arti kata ini, maka saudara tidak akan pernah menemukannya. Saya bermaksud mengatakan bahwa acara sms-an itu menjadi “tuhan” karena sms adalah juri dan yang di studio (para komentator) tidak berhak dan layak menjadikan seseoarang atau beberapa orang sebagai bintang berdasarkan penilaian yang obyektif. Sekali lagi sms kuasa!
Contoh lain dari dominannya fungsi ini saya lihat dalam acara idola cilik. Setelah sampai babak dua belas besar, sepakat dengan suara bulat untuk menampilkan kembali atau menambah kategori menjadi 16 besar. Alasannya, ada anak-anak yang memang berpotensi harus pulang kampong karena dipulangkan oleh sms. Sampai titik itu saya sepakat. Sepakat karena memang mereka yang dipaksa pulang kampong memang berkualitas tapi “kalah nasib”. Ya itu tadi, sms kuasa.
Simpati saya menjadi berubah ketika pada satu titik lagi komentator bersepakat bulat lagi untuk menampilkan peserta yang tereliminasi dengan hak dan yang sama dengan peserta lainnya yang sudah melalui penyaringan tahap pertama (suara bulat yang pertama). Ini yang saya rasa tidak adil. Jelas-jelas fungsi bisnis yang dijalankan. Buktinya, penonton terus dirangsang untuk mengirimkan sms. Bisa dihitung bukan berapa penghasilan dari sms untuk satu kali tayang.
Forum sms-an semacam ini juga tidak salah. Tidak salah karena acara ini, mulai dari seleksi yang kebanyakan dilakukan dengan cara road show sampai tayang butuh biaya. Salah satu sumber biayanya adalah dari sini selain dari iklan dan lisensi atas album yang dibuat. Yang tidak benar adalah ketika komentator/juri (?) tidak mempunyai kewenangan apapapun untuk menentukan siapa bintang yang sebenarnya. Sudah menjadi rahasia umum dan kecenderungan manusia adalah adanya keterikatan emosional dengan orang-orang yang se-daerah. SMS dikirm bukan lagi karena kualitas penyanyi tetapi karena konco dewe. Apalagi kalau para pejabat daerah –bupati, walikota, camat sampai RT ikut-ikutan member pernyataan dukungan yang secara tidak langsung merupakan “instruksi” terselubung bagi mereka yang atinggal di suatu wilayah untuk memilih. Sekali lagi, walaupun tidak semua, factor keterikatan asali/daerahlah yang berbicara.

Baik atau Buruk?
Pertanyaan di atas siafatnya etis. Kalau anda menanyakan hal itu kepada saya, saya akan menjawab dua-duanya. Dua-duanya? Ya. Baik dalam pengertian memang acara semacam ini bisa dijadikan sebagai sarana untuk mencari bibit-bibit baru yang berkualitas dalam dunia tarik suara bukan tarik urat leher. Ikut saja audisinya. Tidak baik dalam pengertian ada mekanisme-mekanisme yang harus diubah. SMS bukan ‘tuhan”. Kualitas seseoarang bukan ditentukan oleh sms. Fungsi komentator harus diganti menjadi fungsi juri. Juri yang mempunyai kekuasaan dan keleluasaan untuk memberikan penilaian layak tidaknya seseorang dinobatkan menjadi bintang. Ini memang sulit dan mungkin kontraproduktif dari sisi pendapatan. Kalau fungsi ini dijalankan, bukan tidak mungkin, aliran sms akan menjadi lebih seret. Namun begitu, masyarakat harus didik untuk menilai berdasarkan kualitas bukan sentiment kedaerahan. Bintang sejati adalah bintang yang timbul dan muncul karena penilaian bintang bukan penilaian pasar. Bergantung kepada pasar memang menguntungkan dari sisi bisnis tetapi tidak akan pernah menciptakan bintang yang sejati. Menjadikan pasar sebagai acauan untuk memilih bintang hanya akan melahirkan bintang karbitan.
Keberanian untuk mengalih fungsikan komenatator menjadi juri pada awalnya memang sulit. Akan tetapi, setelah masayarakat tahu bagaimana penilaian proporsional yang menghasilkan bintang-bintang yang berkualitas akan membuat masyarakat menghargai seseoarang dari kualitasnya bukan asal daerahnya. Yang sekarag terjadi adalah banyak sekali artis-artis penyanyi dadakan dan karbitan. Yang berhasil di duia sinetron dengan rakusnya banting setir ke dunia tarik suara walaupun kemampuan yang dimiliknya adalah kemampuan berbunyi bukan bernyanyi. Ini kan yang sekarang terjadi?

Apakah Idol(a) Jalan untuk Lepas dari Kemiskinan?
Idol dan menjadi idola memang bisa dijadikan sebagai alternative untuk lepas dari kutuk kemiskinan. Akan tetapi, seoarang idola sejati yang bisa melepaskan diri dari kutuk kemiskinan adalah idola yang besar karena proses yang benar dan teruji oleh waktu di bwah asuhan dan pembinaan dari pihak-pihak yang benar. Apalah artinya benyak uang untuk sesaat tetapi mental dan kualitas sebagai idola sejati tidak pernah dimiliki.
Lepas dari kutuk kemiskinan memang harus kita upayakan dengan berbagai cara. Cara-cara yang baik dan benar di mata Tuhan dan sesama. Ada banyak cara yang baik dan benar. Rekan-rekan netter tentunya bisa menemukan sangat banyak tawaran di dunia maya. Namun begitu, berhati-hatilah dalam memilih. Seperi Anda, saya pun ingin lepas dari kutuk kemiskinan. Kaya dan miskin adalah cara bagaimana kita bersikap dan memandang materi dan fungsinya di dalam hidup kita. Apakah kita mengukur kekayaan sebagai satu-satunya ukuran kesuksesan kita ataukah nilai yang bisa kita berikan kepada orang lainlah adalah ukuran utamanya. Last but not least, menjadi seoarang kaya yang kaya hati jauh lebih baik daripada menjadi seoarang miskin yang miskin hati. Bagaimana pendapat anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s