Sangkar Emas Kebebasan Beragama

Posted: April 23, 2008 in Kritik sosial
Tags: , , , ,

Kebebasan beragama adalah salah satu dari hak dasar yang diberikan dan dikodratkan Tuhan untuk menjadi milik manusia. Hak semacam ini seringkali dimasukkan dalam kategori hak azasi, hak yang paling mendasar. Tuhan memberikan hak kepada setiap orang. Ya, semua orang. Singkatnya, Tuhan memberikan hak kepada semua orang untuk memilih agama atau keyakinan apa yang akan dipilihnya untuk berelasi dengan Sang Khalik. Pertanyaannya sekarang, sungguhkah hak itu benar-benar ada dan apakah Tuhan benar-benar memerintahkan orang atau sekelompok orang untuk menetukan bahwa manusia lain bisa memiliki hak tersebut atau tidak? Inilah pertanyaannya.

Pertanyaan-pertanyaan di atas saya rasa perlu untuk dijawab. Kenapa? Sering, bahkan terlalu sering dan gampang kita mengatakan kebebasan beragama di negeri ini benar-benar ada (?). Apakah Anda sependapat dengan saya bahwa di negeri ini masih ada kebebasan beragama. Akan tetapi, bukankah seringkali kebebasan itu adalah kebebasan yang bersyarat. Bersyarat?

Monggo pinarak rumiyin (silahkan duduk dulu) mas, bude, pakde, mbakyu. Kalau ada kopi, teh, susu atau air putih bisa kita nikmati sambil ngobrol. Ada camilan? Kalau ada pasti tambah gayeng obrolan kita. Kalau sudah siap, mari kita mulai. Saya akan lebih dulu menyampaikan pendapat saya tentang hal ini dengan memakai kasus yang menimpa saudara-saudara kita penganut Ahmadiah. Sengaja saya langsung menyebutnya dengan penganut Ahmadiah BUKAN Islam Ahmadiah karena beberapa waktu yang lalu, saya melihat berita di Metro TV yang menampilkan seorang demonstran (tokoh agama tentunya) menyatakan Ahmadiah BUKAN Islam. Saya hormati pernyataan itu, walaupun tidak secara otomatis pernyataan itu mewakili pendapat saya.

Supaya tidak melebar ke mana-mana, saya hanya akan mengajak Anda untuk bertukar pikiran soal kebebasan beragama dalam konteks hak azasi yang melekat di dalam kehidupan manusia…semua manusia. Saya tidak akan mengajak Anda untuk berdiskusi tentang akidah dan teologi. Saya bukan pakarnya. Ini saja, hak azasi—kebebasan beragama dalam kaitannya dengan pertanyaan apakah kebebsan beragama itu ada tetapi bersyarat.

Arti kebebasan Beragama
Secara sederhana, kebebasan beragama bisa dikatakan sebagai kondisi dimana setiap individu bisa dengan bebas memilih keyakinan yang dianutnya dan yang ajaran-ajarannya dijalankan dan dihidupi selama individu tersebut hidup tanpa merasa terancam, baik secara fisik maupun mental. Sekarang kita kaitkan dengan pertanyaan yang ada, apakah itu (KeBerAg) bersyarat?
Kebebasan beragama sebenarnya tidak bersyarat. Pengertiannya, setiap manusia diberi hak tersebut dan diberi kewenangan untuk menggunakan hak itu dalam kehidupannya sehari-hari untuk ber-relasi dengan Yang Maha Agung. But, kebebasan itu sendiri juga bersyarat. Maksudnya, hak untuk memeluk dan menganut sebuah keyakinan yang dimiliki seseorang tidak boleh dipaksakan kepada mereka yang mempunyai keyakinan lain. Bersyarat dalam dua pengertian ini artinya positif.
Selain berkonotasi positif, kata bersyarat juga berkonotasi atau bisa dikonotasikan negatif karena konteksnya. Konotasi negatif ini bisa kita lihat dari apa yang dialami oleh penganut Ahmadiah. Hak-hak mereka dibatasi oleh sekelompok orang dan kebebasan beragama mereka juga dibuat bersyarat. Kebebasan dalam pengertian positif seperti di atas tidak bisa dicapai. Mereka berada dalam ketakutan dan tekanan. Sekali lagi, saya tidak akan mengutak-utik masalah akidah dan teologi. Saya hanya mengajak Anda untuk berembuk dan merembukkan masalah hak-hak sipil. Mungkinkah kita mengatakan bahwa mereka (penganut Ahmadiah) memiliki kebebasan tak bersyarat setelah hal-hal yang mereka alami? Anda pasti punya jawaban sendiri. Sama seperti saya punya jawaaban sendiri.

Pertanyaan kedua, apakah memang ada manusia atau sekelompok manusia yang mendapatkan mandat khusus dari Tuhan untuk membatasi hak kelompok lain? Yang ini susah-susah gampang untuk dijawab. Susah, karena nantinya pasti ada banyak elemen dan argumen (akidah, teologi, syariat, norma dan pranata sosial) yang bisa disampaikan sebagai alasan atau dasar pengambilan sebuah tindakan dan keputusan—membatasi hak orang atau kelompok lain. Jelasnya, yang ini butuh banyak orang dan banyak pemikiran yang dewasa dan jernih untuk bisa menjawabnya secara proporsional. Dan, orang dengan pemikiran dewasa dan jernih itu adalah Anda, pembaca sekalian! Gampang, kalau kita mau melapangkan hati untuk menerima perbedaan dan tidak selalu menjadikan diri dan kelompok kita sebagai standar bagi umum. Kalau kita A, apakah orang lain juga harus A dan dilarang keras untuk menjadi A+. Mungkin ini yang sulit dari yang gampang. Kalau Anda ditanya,”Gajah naik becak kelihatan apanya?” Mungkin Anda menjawab,” Kelihatan itunya (bohongnya, jangang ngeres… ah). Jawaban saya mungkin,”Kelihatan gajahnya.” Kok? Ya, kelihatan gajahnya, wong becaknya penyok didudukin gajah…he…he…Jawaban kita berbeda, karena kita melihat obyek yang ada dengan mata dan sudut pandang yang berbeda!
Pertanyaan selanjutnya, apakah Tuhan memerintahkan orang-orang tertentu untuk atas namaNya membatasi hak orang lain. Ini sulit. Ini juga sensitif. Seringkali kita sebagai manusia justru menjadi homo homoni lupus. Kita lebih sibuk mengurusi oranglain daripada mengurusi keluarga kita sendiri. Celakanya, baru belakangan ini kita ngurusi kelakuan tetangga yang kita pandang tidak benar padahal sang tetangga sudajh hidup berdampingan dengan kita sejak lama. Ada apa dengan tetangga dan ada apa dengan kita? Beberapa waktu yang lalu, pernah memang lewat Pak RT kita memperingatkan tetangga kita yang kita anggap “mbalelo.” Omong sana, omong sini, akhirnya Pak RT berkesimpulan bahwa tetangga kita baik-baik saja tetapi perlu sedikit diluruskan. Untuk mendidik tetangga nakal (?) itu, Pak RT juga memberikan bebarapa syarat, do this, do that (but what you do?) you must bla…bla…bla. Tetangga kita manut. Kita menganggapnya sebagai saudara karena sudah mau manut.
Saya jadi bertanya-tanya, apakah tetangga yang selanjutnya kita (atau Pak RT) anggap sebagai Saudara dulu manutnya karena iklas atau takut. Pernah sih, majalah yang saya baca memuat tulisan tentang “ancaman” Pak RT kepada tetangga nakal itu. Apakah sekarang terbukti “ancaman” itu dilanggar dan tetangga itu kumat “nakal”nya atau piye, kok ujug-ujug (tiba-tiba) banyak orang yang mau nyerbu ketika tetangga kita sedang kumpul-kumpul “arisan”. Walah, ternyata (katanya) si tetangga nakal itu kumat nakalnya.
Selalu ada hukuman untuk sebuah pelanggaran dan penghargaan untuk tindakan yang baik/benar. Reward and punishment kata wong bule. Saya sepakat tentang hal itu. Tapi masalahnya, dasarnya apa dan apakah dasar itu sudah tepat ukuran. Lalu, siapakah kita ini sebenarnya, apakah kita berbeda dari tetangga yang (dianggap) nakal?Ya, per/satuan (kayak benda aja) kita lebih baik dari mereka, ataukah kita tampil sebagai orang baik karena dikelilingi oleh orang-orang baik?
Yo uwis lah…., saya sudah selesai ngomong. Ganti Anda yang ngomong. Tapi ingat, konteksnya tetap kebebasan beragama dilihat dari kacamata kebebasan sipil. Saudaraku, saya menulis ini bukan untuk kompor-kompor. Percuma dikompori karena kondisinya sudah panas. Bagaimana tidak, semua serba mahal dan menyulitkan. Beras mahal, minyak antri kayak sepur langsir, elpiji ilang, hutan gundul, maling (koruptor) merajalela….susah deh. Sekali lagi, ini hanya opni saya pribadi tentang hal ini. Akhirul kalam, siapapun Anda, apapun kepercayaan yang Anda yakini,saya ingin berteman dan bersaudara dengan Anda semua, pembaca yang budiman. Diskusi yang hidup dan sehat adalah diskusi multi arah dengan kebebasan penuh di dalamnya. Hal ini bisa tercapai kalau Anda sekalian, pembaca yang budiman, berwawasan dan berhati luas sudi meluangkan waktu untuk menyampaikan opini lain tentang hal ini. Sekali lagi, saya percaya, Andalah orang yang berwawasan dan berhati lapang itu. Saudaraku penganut Ahmadiah, diskusi ini akan berimbang kalau Anda turut bersuara. Suarakan kebenaran yang Anda miliki supaya paling tidak, saya tahu, mereka tahu, dunia tahu dan kita semua tahu siapa Anda dan apa yang Anda yakini. Adil bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s