Spamming:Batas Semu Etika Bisnis

Posted: April 30, 2008 in etika bisnis online
Tags: , , , ,

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat lihat ada email masuk dari HACK COMMUNITY. Judul subyeknya menantang,” TRIK MENARIK UANG TUNAI DI ATM BCA/MANDIRI TANPA MENGURANGI SALDO ANDA SEDIKITPUN.” Pagi ini, 30 April 2008, saya sempatkan untuk membaca isinya yang cukup panjang. Tidak ada yang special—iklan jualan trik hacking yang dikirimkan dengan email masss sender alias SPAM.
Yang menarik perhatian saya bukan iming-iming bisa menguras ATM BCA/MANDIRI tanpa mengurangi saldo kita (? Punya siapa yang dikuras?). Tawaran melalui SPAM semacam itu sudah barang basi. Yang menarik perhatian saya justru himbauan para hacker tersebut untuk melakukan kebaikan setelah dengan hasil kejahatan. Jujur,saya tidak pernah tertarik untuk membeli produk semacam ini. Dan, meskipun saya belum membeli dan mengetahui secara pasti isi ebook yang mereka tawarkan, justru himbauan mereka untuk beramal dan menyantuni fakir miskin dengan hasil tindakan semacam itu semakin membuat saya tidak simpati, apalgi berkeinginan untuk membeli.
Kembali lagi ke masalah utama—SPAM, HACKING dan menyantuni fakir miskin. Seperti yang kita kethui, SPAM memang seringkali digunakan sebagai taktik pemasaran langsung (yang tidak bertanggungjawab) di bisnis online. Asumsi dasarnya hanya satu. Semakin banyak pesan/promosi yang dikirimkan dan dibaca, akan semakin besar pula rasio terjadinya penjualan (?). Tetapi betulkah seperti itu kenyataannya?
SPAM bisa kita analogkan dengan surat kaleng. Isinya memang jelas. Tujuannya pun juga jelas—marketing. Bahkan, pengirimnya pun (kadang) jelas. Betul tidaknya si pengerim bisa kita track dengan software pemeriksa otentisitas pengirim email. Mungkin kita bertanya, bagaimana mereka tahu alamat email kita? Jawabannya sederhana—software penangkap email. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia yang kemajuan teknologi informasinya sudah sangat maju semacam seperti sekarang ini.
Secara etis, tindakan spamming bisa dikategorikan tidak patut. Tidak patut karena si pengirim pesan mendapatkan alamat email kita secara tidak benar (untuk hal ini pasti ada banyak pendapat) dan mengirimkan pesan tanpa persetujuan orang yang kepadanya pesan ditujukan.
Hal semcam ini tentunya sangat bertentangan dengan etika dunia pemasaran. Apapun jenis pemasaran dan produk yang ditawarkan. Seorang pemasar tentulah menjunjung tinggi etika pemasaran. Citra sebuah produk bisa diangkat atau bahkan hancur karena teknik pemasaran yang dilakukan. Memang, produk-produk trik carding, hacking dan cracking seringkali “menjanjikan” jalan pintas menuju keberhasilan financial. Banyak yang tertarik membeli karena ingin cepat kaya. Namun demikan, justru keinginan semacam itulah yang seringkali menjadi titik balik. Banyak orang, setelah membeli tips dan trik semacam itu merasa tertipu karena informasi yang dibelinya ternyata jauh dari yang diharapkan. Mengecewakan!

Serupa Tapi Tak Sama
Yang saya maksud serupa tapi tak sama disini adalah, pada bagian akhir sales letter yang dikirimkan kepada kita, semua pemasar apakah di dunia nyata (bisnis konvensional) dan di dunia maya (bisnis online) selalu ditunjukkan kegunaan produk yang dijual bagi hidup kita. Satu hal yang say amati adalah himbauan untuk berbuat baik kepada pihak lain/fakir miskin dengan menyisihkan sedikit dari penghasilan yag kita peroleh. Ini baik, bahkan sangat baik dan mulia!
Himbauan semacam ini akan produktif jika produk yang ditawarkan adalah “produk halal”. Artinya, tidak ada satu pun pihak yang dirugikan melalui produk yang dijual. Himbauan untuk menyisihkan sebagian penghasilan untuk menyatuni kaum dhuafa justru akan menjadi sangat kontraproduktif. Gampangnya, bagaimana mungkin sesuatu yang mulia dilakukan dengan hasil perbuatan yang tidak baik. Apakah carding, hacking, frauding bisa dinyatakan sebagai hal yang baik dan benar? (sekali lagi, opini untuk hal ini pasti sangat variatif). Apakah carding tidak menganggu dan mengusik orang lain? Apakah hacking dengan mengacak-acak hak milik dan privasi orang lain bisa dibenarkan? Mungkin, kita masih dibayang-bayangi oleh cerita ludruk maling cluring dan versi bulenya Robinhood. In the name and for the sake of the needy, tindakan apa saja “halal” (?) dan benar (?). Itulah letak persaamaan sekaligus perbedaan antara produk halal dan produk tidak halal yang dipasarkan secara online.
Semua berpulang kepada kita. Kita bebas menentukan untuk memeilih produk yang mana yang akan kita beli. Kita membeli dengan uang kita sendiri. Akan tetapi, yang tidak bebas adalah ketika kita memilih membeli produk tidak halal untuk mencelakakan pihak lain demi keuntungan kita sendiri. Tidak sulit sebenarnya untuk menilai baik buruknya. Tempatkan posisi kita pada posisi orang yang akan dirugikan. Sederhana bukan?
Satu hal penting yang harus kita ingat adalah, faktanya, tidak semua produk yang diiklankan dengan judul menggiurkan selamanya isinya memang seperti itu. Saya pernah beli produk semacam itu, ternyata hasilnya NOL BESAR. Informasinya tak lebih dari sampah. Bahkan, tidak hanya produk utamanya yang tidak bermanfaat, bonus-bonus softwarenya pun banyak yang expired ataupun kalau disertakan kode cracking/keygennya, tetap saja software tetap tidak bisa dipakai.
Apakah saya termasuk BSH (barisan sakit hati)? Tidak. Justru sebaliknya. Saya sangat berterimakasih kepada mereka yang infonya dulu saya beli. Karena membeli info/ebook mereka saya jadi makin ngerti liku-liku bisnis semacam ini. Selain itu, saya juga berterimakasih kepada HACK COMMUNITY yang mengirimkan email (SPAM) kepada saya untuk menginformasikan produk mereka. At least, email merekalah yang member saya inspirasi untuk menulis artikel ini. Mungkin kita berbeda pandangan soal etika dalam berpromosi. Biarlah kita tetap berbeda dalam satu hal tapi mungkin untuk beberapa hal kita bisa bekerjasama. Anda pemasar dan tanpa bermaksud berpromosi, saya juga adalah pemasar. Satu hal yang pasti, buat saya secara pribadi, menjual tetap harus ber-etika. Yang tidak kalah pentingnya, jangan jadikan kaum dhuafa sebagai pemanis untuk membuat produk kita dibeli. Ini eksploitasi! Prospek dan calon customer tidak bodoh. Mereka bisa membedakan mana himbauan yang sifatnya eksplotatif dan yang tulus. Bagaimana pendapat Anda? Saya tunggu respon pembaca sekalian.

Comments
  1. sahabat88 says:

    berbahaya ya mas kalo dapet email seperti itu
    makasih udah ngingetin

  2. Bayu, apa yang disampaikan diatas benar sekali. Spam yah tetap spam, apapun ujungnya.

    Hacking yah tetap hacking.

    Saya juga mendapatkan email penawaran yang sama ke email saya, entah darimana mereka mendapatkan email saya.

    Mengesalkan memang. Banyak penawaran-penawaran buat duit dengan cepat seperti itu di internet. Padahal kebanyakan yang diuntungkan yah yang punya produk. Kalau produknya bagus sih nggak apa.

    Nggak apa yang saya maksud adalah cara promosinya benar!

    Mantap!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s