May Day: Apalah Arti Sebuah Nama ?

Posted: May 5, 2008 in Kasus Bahasa, Kritik sosial
Tags: , ,

Dalam sebuah karyanya, William Sheakepeare, mengajukan sebuah pertanyaan pendek kepada lawan bicaranya,” Apalah arti sebuah nama?” Pertanyaan ini menggema melintasi waktu dan zaman. Bahkan, ada orang-orang yang memakai pertanyaan ini sebagai jawaba ketika ditanya siapa namanya. Setiap orang mempunyai alasannya sendiri-sendiri kenapa memakai pertanyaan ini sebagai jawaban. Paling tidak, saya sendiri pun pernah melakukannya dengan alasan khusus. Namun begitu, apakah benar nama tidak mempunyai arti apapun bagi orang yang memakainya? Apakah “buruh” adalah sebutan yang tepat untuk pekerja ataukah masih ada sebutan atau nama lain yang lebih representative?

Hari buruh (?), atau istilah kerennya May Day yang diperingati setiap 1 Mei selalu diindentikkan dengan sekelompok orang (buruh). Dari tahun ke tahun, peringatan hari buruh selalu diwarnai bahkan identik dengan mobilisasi massa (buruh) yang melakukan unjuk rasa di berbagai tempat untuk menyampaikan aspirasinya. Bahkan, dalam proses penyampaian isi hati tersebut tidak jarang terjadi kegiatan-kegiatan anarkis seperti sweeping ke berbagai perusahaan dengan memaksa karyawan/pekerja di tempat tersebut untuk ikut berdemo sebagai rasa solidaritas sesama buruh. Jelasnya, tindakan semacam ini justru membuat sebagian besar orang tidak simpati terhadap “perjuangan” mereka, bahka antipasti.

May Day bagi saya menyisakan pertanyaan besar. Buruh, ya, kata inilah yang selalu saya pikirkan selama beberapa kali peringatannya dalam beberapa tahun belakangan. Pertanyaan saya adalah, apakah buruh adalah satu-satunya istilah yang paling pas dan cocok untuk menyebut sekelompok pekerja dan apakah implikasi nama/sebutan ini bagi yang menyandangnya?

BURUH DAN LABOUR FORCE
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan buruh sebagai orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah. Sementara Random House Dictionary mendefinisikan Labor Force (angkatan kerja) salah satunya adalah a group of workers who are employed by particular company, corporation (sekelompok pekerja yang dipekerjakan oleh perusahaan atau korporasi tertentu). Dari dua definisi ini bisa kita simpulkan bahwa buruh adalah sebutan yang “pas/cocok” untuk menyebut orang-orang yang dibayar untuk melakukan sebuah pekerjaan. Lingkupnya tidak terbatas. Maksudnya, setiap orang yang dibayar untuk melakukan suatu pekerjaan adalah BURUH. Tetapi, kenapa dewasa ini, istilah buruh seolah-olah hanya berlaku untuk sekelompok orang—pekerja sector informal dan pekerja kasar?
Istilah buruh, jelas mengalami penyempitan makna. Bagaimana penyempitan ini terjadi dan apa yang menyebabkannya? Kultur! Kultur?Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa kita untuk waktu yang sangat lama hidup di bawah bayang-bayang penjajah dan penjajahan. 350 tahun adalah waktu yang lebih dari cukup untuk menaklukkan bukan hanya secara fisik tetapi juga secara kultur bangsa yang dijajah. Belanda berhasil mengubah kultur kita menjadi kultur yang inferior. Kita dikondisikan sebagai yang tidak berdaya, bahkan secara cultural. Belanda mendominasi dan membuat kita menjadi inferior secara budaya dengan memberikan sebutan-sebutan yang bernilai rasa rendah. Babu, kacung, jonggos adalah istilah yang mereka pakai untuk menyebut pembantu. Mereka (Belanda) ada di posisi superior dan kita diposisikan sebagai inferior. Inilah yang disebut hegemoni cultural.
Kembali ke BURUH. Sebenarnya, secara essensial, buruh tidak berbeda dari dan denga pekerja lainnya. Jika kita kembali melihat definisi di atas, maka sebenarnya tidak ada perbedaan apapun. Itu kan definisi, faktanya? Memang, seringkali antara teori dan praktek ada gap yang maha luas. Namun begitu, apakah selamanya gap ini tak terseberangi? Tentunya tidak.
Entah siapa yang memulai, BURUH dijadikan sebagai komoditi. Setiap tahun, mereka selalu diekploitasi untuk berbagai kepentingan. Kepentingan-kepentingan inilah yang membuat kata BURUH mengalami penyempitan makna dan nilai rasa. BURUH diposisikan sebagai kelompok orang yang papa. Faktanya, banyak pekerja/buruh yang menjadi alat produksi dalam pengertian yang sangat lugas. Mereka dijadikan sebagai alat untuk mecapai target-terget financial kaum kapitalis dengan perlindungan dan jaminan yang sangat minim. Pun begitu, tidak semua industry hanya menjadikan buruh sebagai alat produksi semata.
Memang, ketika berbicara tentang nasib buruh dan keluarganya, yang umum Nampak adalah kepapaan dan “ketidakberkelasan”. Saya bisa merasakan hal ini karena istri saya adalah seorang buruh pabrik. Seringkali, buruh yang sebenarnya berkontribusi sangat besar dalam dinamika dan kantong pengusaha justru hanya diabaikan. Upah yang diberikan seringkali jauh dibawah kelayakan hidup minimum. Bagaimana tidak menyakitkan,kalau buruh (pekerja produksi) hanya diperlakukan sekena dan seadanya sementara buruh yang lain (staff) justru mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa pada semua lini. Diakui atau tidak, ini adalah sebuah kesenjangan yang harus dipecahkan. Tidak perlu menganut azas sama rasa sama rata untuk memecahkan masalah ini. Yang harus dianut adalah upah diberikan sesuai dengan kontribusi dengan menjauhkan sikap menang-menangan. Pengusaha yang menang, buruh tetap dan selamanya yang kalah karena tidak punya bargaining position.

ADA RASA DIBALIK SEBUAH NAMA
Terlepas dari yang selama ini dialami oleh para buruh, salah satu pemecahan yang saya usulkan adalah mengganti nama. BURUH diganti mejadi PEKERJA. Mungkin Anda tertawa. Boleh, silahkan ketawa sepuasnya karena ketawa tidak dilarang dan tidak kena PPHK (Pajak Pertambahan Nilai Ketawa). Bagi saya, nama selalu mempunyai arti dan nilai rasa. Orangtua selalu memberikan nama yang baik untuk anak-anaknya. Harapannya, si anak akan bangga dengan nama tersebut dan yang lebih penting, nama itu bisa membawa HOKI.
BURUH harus kita ganti dengan pekerja karena kata ini berkonotasi negative dan bernilai ras rendah. Buruh selalu identik dengan kesulitan, kepapaan, dan keterbatasan maha besar dan maha luas. BURUH hanya membuat diri kita merasa sebagai yang ditindas dan pada akhirnya menciptakan inferioritas di dalam diri kita. Memang, digantinya nama dari BURUH menjadi pekerja tidak secara otomatis menaiikan gaji dan kesejahteraan kita. Tetapi paling tidak, mentalitas kita berangsur-angsur terdongkrak naik karena kita tidak memakai produk bernilai rasa rendah. Ibaratnya, kalau zaman sekarang kita menamai anak kita cikrak (tempat sampah), kebo ijo, kebo abang, wedus lanang dan nama-nama lain yang miring, tentunya si anak akan merasa inferior. Atau, kita akan tetap memakai nama ini (BURUH) karena kesulitan dan ketidakadilan yang sedang dan yang akan kita hadapi justru semakin sulit. Jika Anda berpendapat begitu, itu hak Anda. Tetapi bagi saya, nama BURUH tidak layak dipertahankan lagi. Kalau ada nama yang lebih baik dan manusiawi, kenapa kita tidak memakainya? Bukankah nama itu adalah sebuah doa? Ya, sekali lagi, bagi saya, selalu ada arti dibalik sebuah nama. Bagaimana pendapat Anda? HiDUP PEKERJA INDONESIA!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s