Penjual BBM Eceran: Kawan atau Lawan?

Posted: May 6, 2008 in Kritik sosial
Tags: , , ,

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk meyelamatkan APBN (bangsa ?) dari keruntuhan akibat serangan kenaikan harga minyak di pasaran dunia yang mencapai lebih dari 100 US Dolar per barrel. Beberapa upaya telah dilakukan misalnya dengan menikkan harga BBM tak bersubsidi jenis PERTAMAX dan PERTAMAX PLUS, menerbitkan (uji coba) SMART CARD yang dalam prakteknya justru kurang SMART sampai rencana pembatasan pembelian BBM dan yang terbaru, akan diambilnnya kebijakan tak populer—menaikkan harga BBM bersubsidi. Tujuannya, supaya APBN tidak dedel dhuwel yang pada gilirannya bisa menganggu stabilitas kehidupan berbangsa bernegara (apa kondisi saat ini masih bisa dikatakan STABIL?). KEbijakan manapun yang nantinya akan diambil, suka atau tidak, menyakitkan atau menyengsarakan, harus tetap kita dukung (walaupun dengan sangat berat hati dan terpaksa).
Dari beberapa opsi di atas, kalau yang diambil adalah langkah membatasi jumlah pembelian BBM—4 liter untuk mobil pribadi dan satu liter untuk motor per hari, ada hal yang menurut saya sangat menarik untuk dipikirkan. Penjual bensin eceran. Kenapa menarik? Apa mereka kawan atau lawan? Begini pendapat saya.
Keberadaan penjual bensin eceran sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. TEntunya juga ada pro dan kontra mengenai keberadaan mereka. Yang kontra berpendapat mereka seharusnya tidak boleh ada( ?) karena seringkali kualitas BBM yang mereka jual jauh dibawah standar karena sudah dioplos dengan bahan-bahan lain seperti minyak tanah (itu dulu waktu mitan masih murah dan gampang diperoleh, sekarang?) sehingga mempercepat kerusakan mesin kendaraan. Selain itu, kehadiran mereka justru “merusak pasaran” karena harga yang mereka pasang lebih tinggi dari harga di pompa bensin resmi (jelas dong, mereka kan butuh hidup).
Selalu ada alasan untuk dan di balik sebuah tindakan. Kalau pihak-pihak yang kontra terhadap keberadaan mereka (penjual bensin eceran) mempunyai alsannya sendiri untuk menolak keberadaan mereka, yang kontra pun memiliki alasannya sendiri untuk tetap mempertahankan keberadaan mereka. Mereka, para penjual bensin eceran adalah pahlawan. Bagi mereka yang tinggal jauh dari SPBU atau sedang dalam perjalanan sangat diuntungkan dengan keberadaan mereka. Perbedaan harga sebesar 500 rupiah (pada waktu artikel ini saya tulis, harga premium di SPBU 4500 sedangkan di tingkat pengecer 5000) bukanlah kendala jika dibandingkan denga n pemborosan waktu karena harus berkendara ke SPBU dan resiko di jalan. Baiknya lagi, kemungkinan untuk “tahu sama tahu” di tingkat pengecer jauh lebih besar. Maksudnya, kalau kepepet banget, dengan sedikit trik, kita bisa nitip KTP kalau lagi gak ada duit (ha…ha…ha..). Lepas dari itu semua, pasti ada plus minus yang ditimbulkan oleh keberadaan penjual bensin eceran.
Keberadaan penjual bensin eceran bukan bebas dari rasa mengesalkan. Maksudnya, seringkali mereka dengan “main mata” dengan petugas SPBU bisa mendapatkan layanan lebih. Mereka bisa membeli dengan membawa jirigen walaupun jelas-jelas ada larangan untuk melakukan transaksi dengan menggunakan alat ini. Yang lebih mengesalkan lagi, mereka bisa membeli dengan bebas kuota. Yang paling mengesalkan adalah ketika mereka menjadi spekulan dadakan dengan memanfaatkan momen. Ini memang gila. Apakah bisnis harus selalu seperti ini?
Pertanyaannya sekarang adalah, apakah mereka masih bisa melakukan transaksi bebas kuota kalau pemerintah nantinya menetapkan pembatasan pembelian BBM. Ada bermacam-macam jawaban untuk pertanyaan ini. Apa yang tidak bisa dilakukan di Indonesia? Kalau Microsoft saja kebakaran jenggot karena produknya yang diklaim canggih dan anti cracking ternyata bisa di crack dan versi bajakannya beredar di vendor-vendor kali alias pedagang kaki lima, apalagi urusan kuota pembelian. Sesakti apapun SMART CARD yang dipakai, jauh lebih “sakti” para hacker dan cracker.
Kalau opsi ini yang dipilih, tentunya harus disediakan mekanisme pengawasan yang ketat dan perangkat hukum yang bisa memebrikan efek jera dalam pengertian yang sesungguhnya. Sistem dan perangkat itu mutlak harus TIDAK DAPAT DIBELI. Ketersediaan system dan perangkat yang memadai akan mempermudah aplikasi opsi ini. Tidak adanya dua perangkat tersebut hanya akan membuat aplikasi opsi ini tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan dan berpotensi menimbulkan konflik antara pihak-pihak yang merasa haknya dibatasi tetapi pada saat yang sama, ada pihak-pihak yang diuntungkan karena main mata dengan pihak lain. Kalau ini yang terjadi, resistensi terhadap keberadaan pedagang bensin eceran sangat tinggi dan pada titik-titik tertentu berpotensi menimbulkan konflik fisik.
Pertanyaan besar lainnya adalah, apakah pembatasan ini memang pada gilirannya akan mampu dijadikan sebagai alat untuk mencapai target yang telah ditetapkan—pengurangan subsidi BBM. Ataukah justru kebijakan ini menjadi kontrapoduktif. Jawaban yang pasti tidak bisa diperoleh hanya dengan memikirkannya secara konseptual tetapi harus dilakukan secara operasional. Efektivitasnya bisa diukur melalui evaluasi.
Yang terakhir, kalau opsi ini yang dipilih dan diberlakukan, menurut Anda, penjual bensin eceran kawan atau lawan? Pastinya Anda punya alasan. Alasan itu akan sangat baik dan bermanfaat kalau Anda bagikan kepada khalayak.
Memang mau tidak mau kita harus berhemat dan mencari terobosan energy alternative seperti ini. Ada pemikiran cara dan metode berhemat lainnya, sampaikan kepada kami. Metode yang anda sampaikan pasti sangat bermanfaat bagi banyak orang. Last but not least, sekali lagi, menurut anda, penjual bensin eceran kawan atau lawan?

For more information please fill out this form:

Name:
Email Address:

Comments
  1. Hai, Bayu, salam kenal, kunjungan balik nih. Blognya bagus loh, mengangkat masalah-masalah sosial yang dijumpai sehari-hari.

    Maju terus yah!

    Mantap!

  2. jhabreaq says:

    …maju terus…lawan ketidakadilan!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s