Robinhood Bisnis Online

Posted: May 10, 2008 in etika bisnis online
Tags: , ,

Setelah beberapa waktu yang lalu saya menerima penawaran trick hacking ATM, baru-baru ini, satu email nongol lagi di mailbox saya. Isinya sama. Penawaran produk! Bedanya dengan email yang pertama saya terima dan yang menginspirasi saya untuk menulis artikel ini adalah, judulnya tidak panjang dan menantang tetapi singkat dan kesannya sangat cerdas. Ya, bagi saya judul yang tidak panjang dan bombastis jauh lebih menantang untuk ditelusuri. Terbukti, saya tidak perlu menunggu lama untuk segera klik/open pesan yang disampaikan.
Pelan-pelan saya baca suratyang tidak panjang seperti email yang pertama. Nada suratnya sebenarnya sama—penawaran produk. Ketika saya klik linknya (anda boleh klik link ini; tapi ingat saya tidak sedang mempromosikan URL ini; hanya untuk kepentingan cover both side dari sisi etika penulisan) isinya begitu fantastis dan membuat saya TIDAK PERCAYA.
Pemilik dan pengelola situs dengan tanpa tedeng aling-aling menyatakan bahwa produk yang dijualnya adalah tools untuk nge-hack egold. Dari segi “kejujuran”, saya angkat topi atas keberanian pemilik situs ini menyatakan dirinya sebagai maling dan mengajak orang untuk menjadi maling. Ini luar biasa. Luar biasa karena dia tidak munafik. Sekali lagi, baru pertama kali saya mendapatkan situs yang secara terang-terangan menyatakan diri secara tersirat sebagai situs maling yang menjual peralatan (tools) maling.
ETIKA ROBINHOOD
Setelah mempelajari semua content situsnya, bagi seorang pemasar, paling tidak tindakan yang saya lakukan sudah menjadi poin tersendiri. Dia berhasil menggiring saya untuk mengaduk-aduk jeroan situsnya. But, pada sisi yang lain, saya tidak tertarik untuk membeli produknya bukan semata-mata karena harganya yang mahal tetapi juga ada sisi-sisi lain yang membuat saya tidak tertarik dengan produknya. Paling tidak, dari segi pemasaran, sang pemasar gagal untuk mendapatkan saya sebagai calon prospek tetapi di sisi lain banyak orang yang memutuskan untuk membeli produknya. Bahkan, sudah ada beberapa orang yang mengirimkan testimony keberhasilan dan kesuksesannya memakai produk ini.
Secara anatomis, pesan penawaran (sales letter) yang dicantumkan di situs ini tidak berbeda alias sama dengan sales letter produk lainnya. Himbauannya pun sama. Jika sudah berhasil (menjadi Robinhood) jangan lupa dengan fakir miskin, korban bencana alam dan mereka yang papa. Saya yakin, selain slogan untuk mengangkat citra produk menjadi lebih halus dan terhormat (Robinhood lebih baik daripada maling (?), hal ini juga lahir dari kepekaan “terhadap” derita orang lain yang selama ini tidak terurus dan diurusi oleh yang seharusnya mengurusi nasib mereka—negera terutama. Eit, jangan salah, ini bukan berarti saya setuju dengan yang mereka lakukan.
Dari sekian banyak ”kemuliaan hati” ada satu hal yang mengganjal bagi saya. Di halaman paling depan mereka menampilkan pesan “Kalau Anda MUSLIM, tutup/close halaman ini. Pertanyaan saya waktu itu, “Apakah produk ini sengaja dirancang khusus untuk mereka yang bukan MUSLIM? Lalu apa dasar penyataan itu? Kalau diasumsikan bahwa yang non muslim relative berkecenderungan untuk menjadi maling, saya kira hal ini salah besar. Saya sangat yakin bahwa untuk mengetahui bahwa mencuri adalah tindakan yang tidak benar tidak perlu dan harus seorang manusia menjadi MUSLIM. Orang tidak beragamapun tahu hal itu. Menurut saya, kata MUSLIM harus dihilangkan dari halaman itu supaya tidak menimbulkan salah penafsiran. Tidak sepantasnya agama dan pemeluknya diikutsertakan (baca dieksploitasi) untuk kepentingan yang jelas-jelas tidak benar semacam ini. Sekali lagi, MUSLIM adalah umat Allah yang lainpun juga demikian. Di sinilah saya melihat adanya eksploitasi agama untuk kepentingan bisnis.
Saya menemukan masalah etis kedua dalam himbauan,”Hack account egold orang laur negeri saja (jangan yang sebangsa; yang dalam kurung saya tambahkan). Himbauan ini kalau dilihat dari planet Mars kelihatan (seolah-olah) menunjukkan rasa nasionalisme yang sangat tinggi. Seandainyapun, sekali lagi seandainya hal semacam ini dianggap sebagai nasionalisme, pertanyaannya,”Apakah nasionalisme nilainya lebih tinggi dari kemanusiaan? Maksudnya, apakah ukuran nasionalisme kita hanya sebatas sebangsa dalam pengertian sangat sempit yaitu persamaan geografi tempat kita hidup. Kenapa bukan humanism? Atinya, kita lebih memandang manusia sebagai satu kesatuan (umat Tuhan) yang sama-sama tidak rela hasil kerja kerasnya dicuri oleh orang lain dan yang merasa sakit hati ketika hak-hak yang diupayakannya dengan kerja keras diambil begitu saja. Tuhan memerintahkan kepada umatNya untuk mempunyai nasionalisme tetapi juga lebih mengedepankan kemanusiaan.

KITA SENDIRI YANG MENENTUKAN
“You are what you think”. Ungkapan ini sangat benar. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Hitam putihnya kita, kita sendiri yang menentukan. Mau jadi apa dan seperti apa kita pada masa sekarang dan masa yang akan datang kita sendiri yang mengukirnya. Memang, berbicara tentang etika bukan hal yang mudah. Etika mudah untuk dibicarakan sebagai sebuah konsep tetapi seringkali secara realita harus “dipikirkan” kembali. Pun begitu, bukan berarti etika tidak perlu dan bersifat abu-abu. Abu-abunya etika tergantung kita dan kitalah yang menentukan. Kita mau jadi baik ya tergantung kita. Jadi buruk juga ada ditangan kita. Ya..ya..selalu ada alasan dibalik sebuah tindakan. Pastinya, standar benar dan salah itu tetap ada. Semuanya kembali kepada kita. Satu pertanyaan mendasar yang harus kita pakai untuk mengukur sesuatu itu baik atau tidak, kita bisa mengajukan pertanyaan, Apakah yang tidak baik menghasilkan yang baik?” Sekali lagi, ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini. Jawaban Anda dan saya mungki berbeda karena banyak hal yang menjadi dasarnya.
Mungkin kita memandang mengaku diri maling jauh lebih bagus daripada bersembunyi dibalik jubah putih kemunafikan. Mungkin kita memandang Robinhood, Bambang Sutedjo, Maling Cluring (2 yang terakhir adalah tokoh ludruk-pencuri yang “terpaksa” mencuri karena banyak dari bangsanya melarat sementara ada pihak-pihak yang terus dibiarkan memperkaya diri dengan cara yang tidak benar). Apakah kita (para pemasar dan cendekiawan TI) sedang memposisikan diri kita sebagai orang-orang yang terus berusaha memperkaya diri dengan cara yang tidak benar ataukah kita memposisikan diri sebagai Robinhood, Bambang Sutedjo dan Maling Cluring? Yang jelas, semua ada etikanya. Mengukurnya sebenarnya mudah. Kemabalikan kepada diri sendiri. Kalau kita merasa sakit ketika dicubit, orang lain pun merasakan hal yang sama. Last but not least, apalah arti sebuah kekayaan kalau kita memperolehnya dengan cara dan alat yang tidak benar?
Sebagai seorang manusia, saya mengucapkan terimaksih kepad Anda yang mengirimkan email penawaran produk Anda kepada saya. Ada beberapa hal yang saya dapatkan.:(1) Masih ada pihak-pihak yang “gentle” mengaku diri sebagai maling dan menjual peralatan maling. Bagi saya keberanian anda untuk mengungkapkan diri “sungguh luar biasa” walaupun apa yang anda lakukan bagi saya “kelewat luar biasa”. Paling tidak, anda tidak munafik. (2) Ternyata pemasaran/on line bisnis tanpa etika seperti kuda yang lepas kendali—nubruk kanan kiri dengan pembenarannya sendiri dengan mengatasnamakan nasionalisme tetapi melupakan nilai kemanusiaan. (3) Ternyata eksploitasi agama tidak hanya terjadi di dunia politik tetapi juga di dunia bisnis on line. Terimakasih telah membukakan wawasan piker saya. Untuk pembaca sekalian, bagaimana pendapat anda tentang hal ini?

_uacct = “UA-4128011-1”;
urchinTracker();

Comments
  1. Nice Tought!

    Saya menikmati apa yang saya baca diatas. Memang Di Internet kita dapat menemukan berbagai metode yang digunakan untuk memasarkan produk mereka yang kadang menggunakan cara yang tidak etis dan lempar batu sembunyi tangan.

    Namun saya percaya kita juga dapat menjumpai, pemasar-pemasar yang penuh integritas dan memberikan lebih dari apa yang Ia janjikan.

    Ketelitian dan pengamatan mendalam diperlukan supaya kita tidak salah memilih produk yang kita beli. Namun demikian, kesalahan yang kita buat akan semakin membuat kita matang dan terdidik sehingga bisa membedakan dengan cepat, mana yang bullshit dan mana yang benar!

    Nice Posting! Maju Terus Bayu!

    Kusuma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s