Superbody VS Naughty Boy

Posted: May 12, 2008 in Kritik sosial
Tags: , , ,

Wacana pembuburan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang dilontarkan oleh Ahmad Fauzi anggota fraksi Partai Demokrat sangat menggelikan dan cenderung pandir. Bagaimana tidak, wacana pembubaran KPK ini dilandasi oleh alasan (tepatnya tuduhan) lembaga ini adalah lembaga superbody yang berhak memeriksa siapa saja, termasuk anggota DPR yang terhormat (?) Ada apa dengan Fauzi??
Wacana semacam ini dilontarkan Fauzi ditenganh semakin gencarnya KPK mengobrak-abrik kasus korupsi. Bahkan, anggota dewan yang dulunya merasa sebagai the untouchable , mulai gerah ketika ruang kerja teman-teman mereka diobok-obok KPK. Sekali lagi, ada apa dengan mereka?
Penolakan penggeledahan ruang kerja Al Amin Nasution sempat ditolak oleh ketua DPR RI Agung Laksono dengan alasan etika. Etika? Etika yang mana? Kalau ketua DPR RI awalnya menolak penggeledaan ruang kerja salah dua anak buahnya dengan memakai alasan etika dan tindakan mendadak KPK (tanpa melalui birokrasi yang rumit), sebenarnya bisa kit abaca bahwa ini adalah akal-akalan mereka yang merasa “privasinya” terganggu karena kedatangan “polisi” yang mendapatkan laporan adanya indikasi tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh anggota dewan yang tidak terhormat. Gangguan “privasi” ini mereka rasakan karena sebelumnya mereka merasa sebagai kelompok atau anggota kelompok untouchable. Mereka merasa selama ini mereka aman-aman saja. Parahnya, mereka selalu berpikir tidak ada yang bisa dan berani mengusik mereka plus perilaku menyimpangnya (baca: korupsi)
KESESATAN BERPIKIR
Apa yang diwacanakan Fauzi—membubarkan KPK sebenarnya, secara langsung atau tidak merupakan cermin ketakutan. Fauzi dan oknum-oknum anggota dewan yang merasa terancam kenyamanan dan privasi yang mereka miliki selama ini mulai kelabakan, jangan-jangan nanti giliranku yang diobok-obok. Saya tidak menuduh Fauzi melakukan tindak pidana korupsi. Tidak. Akan tetapi, ketakutannya justru mengindikasikan bahwa sebenarnya ada yang tidak beres di lembaga wakil rakyat yang katanya terhormat.
Tuduhan bahwa KPK adalah lembaga superbody rasanya kurang dan tidak beralasan. Apalagi, kalau alsan dibalik tuduhan itu adalah keberatan karena KPK bisa memeriksa siapa saja termasuk anggota dewan justru memperparah indikasi ketidakberesan yang ada dan sedang terjadi di lembaga wakil rakyat itu. Kenapa takut diperiksa? Kenapa merasa diri sebagai yang superior sehingga tidak ada satupun lembaga yang boleh memeriksa dirinya (anggota dewan)? Kalau KPK dituduh sebagai lembaga superbody, apa yang salah. Gampangnya saja, kita selalu diajri oleh orangtua untuk tidak takut selama kita benar. Ajaran ini bisa diaplikasikan dalam hubunga dewan dan KPK. Kalau KPK ditenggari sebagai lembaga superbody, anggota dewan bisa disebut sebagai naughty boy (anak nakal). Ya, anak nakal yang takutnya hanya kepada sosok besar yang membawa tongkat pemukul. Ini yang sebenarnya diraskan Fauzi sehingga terlontar wacana pembubuaran KPK.
Kalau selalu etika yang dimainkan dan dijadikan tempat bersembunyi untuk menolak penggeledahan ruang kerja para naughty boys yang notabene adalah anggota dewan, alasan yang sama bisa dipakai oleh KPK. Penggeledahan mendadak dilakukan untuk mencegah dihilangkanya barang bukti. Mudah kan? Etika lawan etika. Etika memang seringkali adalah hal yang rawan untuk dipolitisasi untuk menutupi borok dan kebobrokan sambil pelakunya menyusun strategi untuk menyelamatkan diri.
Wacana sesat Fauzi ini tidak perlu kita dukung. SLANKLAH yang harus kita dukung. Kalau melawan SLANK saja mereka (anggota dewan) terpaksa menjilat ludah (tidak jadi memperkarakan SLANK), pertanyaannya, apakah yang dikatakan SLANK benar? Kenapa mesti menjilat ludah kalau merasa benar? Ataukah terpaksa menjilat ludah karena sudah mengetahui kebobrokan di dalam kelompoknya sehingga anggota dewan kehormatan balik kucing untuk melawan SLANK. Berapa sih besarnya SLANK? Mungkin, mereka berhitung, kalau mereka memerangi SLANK, pertarungannya akan mirip dengan DAUD melawan Goliat. Hasilnya, Goliat yang besar justru kalah. Kenapa? Karena Daud, walaupun kecil mempunyai dukungan kebenaran. Kalkulasi politis tentunya sudah mereka buat. Mereka tidak mau mengulangi kekalahan yang sama dan memalukan yang dialami oleh Goliat. Rasa frustasi seperti inilah yang sekarang diusung oleh Fauzi. Bedanya, kalau dulu yang dimusuhi SLANK yang hanya terdiri dari tidak lebih dari 6 orang (Jangan salah, yang dibelakang mereka—rakyat jauh lebih besar), kini lawannya adalah KPK, sebuah lembaga bentukan Negara yang dilindungi oleh undang-undang yang ditugaskan untuk menertibkan oknum kucing-kucing garong nakal.
Sekali lagi, kesesatan berpikir Fauzi ini biarlah tetap menjadi miliknya sendiri. Paling tidak, dipenghujung masa kerjanya, dia berusaha cari sensasi dengan memelintir kebenaran. Dia takut superbody karena dia adalah naughty boy yang terancam kena gebuk. Mari kita lihat, apakah sosok semacam ini nantinya bisa diterima masyarakat setelah baju kehormatannya harus ditanggalkan karena habis masa kontraknya. Mari kita dukung KPK dan sosok seperti SLANK. Maju terus KPK. SLANK terus bernyanyilah bersama kami, rakyat yang muak dengan perilaku korupsi. Anda mau menyanyi bersama saya dan SLANK??

_uacct = “UA-4128011-1”;
urchinTracker();

Comments
  1. agus mk says:

    Mas Bayu !
    Hua ha ha ha ha ….

    rakyat itu dah tahu sebenar nya para anggota dewan itu kinerjanya sebatas apa, saya bilang ngak semua ya ( sorry ntar ada yang marah )😀.

    Kalo slank nyanyi gini-gitu dan kalu juga itu tidak benar tentu yang seharusnya marah adalah kita para rakyat dimana wakilnya dibilang gini-gitu . Ya khan ?
    Ini yang marah-marah kok para anggota dewan, ya kalo ngak bener buktikan dengan tindakan nyata dong bung !

    Apa lagi ada oknum anggota dewan yang kegerahan pingin KPK dibubarin ! Apa ngak tambah konyol …!
    Keliatan sekali khan kualitas dan situasi apa yang terjadi di “atas” sana.

    Pada dasarnya saya juga termasuk orang yang menaruh rasa ngak percaya sama mereka semua , kalo mas Bayu ngajak nyanyi saya siap ikut … yuuuk …. 1 , 2 , 3 mulai !🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s