BLT:Semoga Bukan BISA LANGSUNG TEWAS

Posted: May 14, 2008 in Kritik sosial
Tags: , , ,

Masih ingat BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang pernah digulirkan pemerintahan SBY? Saya harap Anda masih ingat. Untuk lebih mudah mengingat kembali, berikut ini “kata kunci” yang bisa Anda pakai:”Kenaikan harga BBM, Keluarga Miskin, Kompensasi, dan 100 ribu/bulan/keluarga.” Masih belum ingat, mungkin dua kata kunci ini bisa membantu:”antrian di kantor pos, BLT (Bisa Langsung Tewas).” Semoga Anda sudah ingat.
Tentunya BLT pernah menjadi kenangan pahit bagi kita sebagai bangsa. BLT atau Bantuan Langsung Tunai yang pada praktiknya berubah maknanya menjadi Bisa Langasung Tewas (BLT) karena antri berlama-lama di kantor pos dalam kerumunan besar yang penuh dengan emosi untuk mendapatkan rapelan 300ribu sebagai “hadiah” kenaikan BBM pada awal masa pemerintahan SBY. Kenangan itu semakin pahit karena banyak pihak yang seharusnya berhak menerima bantuan tersebut malah gigit jari sedangkan yang seharusnya tidak berhak mendapatkan justru menari kegirangan karena dapat “durian jatuh” karena KKN dengan perangkat desa.

BLT Jilid 2

Era baru BLT ternyata akan segera tiba seiring dengan rencana pemerintah menaikkan harga BBM hingga maksimal 30% akhir Mei 2008 (Kompas 14 Mei memuat statement Hatta Radjasa, Sekneg yang menyatakan BBM baru dinaikkan setelah BLT siap) karena sudah kehabisan cara untuk membendung hantaman arus liar kenaikan harga minyak dunia. Suka atau tidak, kita dipaksa untuk menelan pil pahit yang dimasukkan ke mulut kita dengan belati paksaan. Untuk mengurangi rasa pahit dengan menawarkan “hadiah kecil” berupa BLT dan program ketahanan pangan (?) untuk PNS, POLRI, Pekerja Swasta dan Buruh. Ini mungkin terobosan/iming-iming baru dengan memasukkan buruh sebagai kandidat penerima “kesejahteraan”. “Kesejahteraan” yang diberikan kepada yang dimiskinkan oleh kenaikan harga BBM yang akan segera diberlakukan. Dalamke raguan saya bertanya:”Benarkah buruh akan dapat bagian, sedangkan nasib mereka yang terlunta-lunta setiap harinya tidak pernah diperhatikan bahkan ketika mereka berteriak samapai urat lehernya putus sekalipun. Ya, semoga memang begitu adanya (Buruh “disejahterakan”).
Kembali ke BLT. Rencana pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan sebagai dampak dari kenaikan harga BBM yang akan segera diberlakukan adalah kembali membagikan BLT kepada keluarga miskin. Aneh dan ironisnya, data yang dipakai tetap data tahun 2005. Kok bisa? Bisa, karena data dari 6300 kecamatan yang selesai diupdate baru 1000 kecamatan. So, pertanyaannya,”Apakah data yang dipaksakan ini bisa representative? Pemaksaan semacam ini akan membuka konflik baru (yang sebenarnya lama) di tingkat akar rumput. Mereka yang dulu seharusnya berhak menerima BLT tetapi terpaksa tidak mendapatkan akan menuntut. Yang dulu sudah kebagian enak tetntunya tidak akan mau melepaskan begitu saja nikamat yang pernah mereka terima walaupun sebenarnya mereka tahu mereka tidak layak untuk itu.
Kebijakan pemerintah sebagaian besar memang kontraproduktif. Diakuai atau tidak, tetapi kalau kita jujur, kita pasti mengakuainya. Kita tinggal dulu BLT. Sekarang lihat dan rasakan kebijakan tentang penghematan energy terutama listrik yang di-Keppreskan. Siapa yang paling banyak melanggar? Bukankah instansi pemerintahan. Contoh kedua, tilik kembali keputusan konversi mitan ke elpiji. Tujuan konversi ini mulia dan saya secara pribadi mendukung. Tetapi yang terjadi di lapangan adalah, ketika belum semua kompor dan tabung 3 kilo terdistribusi, mitan sudah dikurangi dan langka di pasaran. Yang terbaru adalah, elpiji juga ikut-ikutan hilang dan harganya selangit. Bukankah ini sebuah contoh ketimpangan dan ketidakberesan operasional yang mengoperasionalkan sebuah kebijakan public.
Sekali lagi, balik ke BLT. Kalau kenaikan harga BBM menunggu beresnya BLT seperti yang dikatakan Hatta Radjasa, pertanyaannya adalah, “KApan BLT itu beres?” Wong yang ada sekarang ini data lama yang akan dipaksakan. Lalu apakah saya setuju dengan kenaikan harga BBM? Jujur, jauh dilubuk hati yang paling dalam saya katakan:” TIDAK.” Penolakan ini bukan tanpa alasan. Alasan yang pertama, pendapatan tidak meningkat sementara harga pangan pastinya akan semakin menggila. Kedua, sekaligus sebuah pertanyaan:”Kenapa selalu PNS yang dijadikan ukuran untuk mensejahterakan rakyat? Apakah negeri ini negeri PNS? Kalau jawabannya “Ya” maka tidak heran kalau semua orang berlomba menjadi PNS yang selalu dijadikan standar untuk membuat kebijakan sejahtera tidaknya rakyat. Akibatnya kita tahu, kinerja PNS tidak pernah baik. Kenapa buruh dan pekerja swasta tidak pernah dijadikan sebagai tolak ukur untuk membuat kebijakan yang pro rakyat?
JANGAN BLT
Kalaupun pil pahit kenaikan BBM harus ditelan, obat penawar pahitnya jangan BLT. Ini tidak adil. Apalagi kalau data lama yang dipakai dan dipaksakan untuk membagikan trilyunan uang rakyat. Lalu apa? Menurut saya, hapuskan saja BLT tetapi berikan kemudahan dalam pelayanan kesehatan, sekolah dan pelayanan public. Memang program JPS/GAKIN sudah ada dan BOS juga sudah digulirkan. Maksimalkan itu. Tambah dananya tapi bukan ditambah untuk menaikkan gaji gurunya. Celakanya, setiap kali anggaran pendidikan dianaikkan, porsi besar justru dicaplok oleh pos gaji guru dengan macam-macam alasan. Selain itu, pelayanan public seperti pengurusan KTP dan akta kelahiran harus benar-benar gratis bukan hanya slogan seperti sekarang ini. Gratis dislogan bayar di praktek. Contooh gampangnya, mengurus KTP saja ditawari jalur biasa apa tol. Ini kan tidak benar.Kenapa di SAMSAT bisa lebih baik walaupun praktek semacam ini ketika mengurus SIM juga ada. Dengan jalur “tol” SIM jadi dalam beberapa jam sedangkan di kelurahan atau kecamatan jalur tol baru bisa memunculkan KTP 3 hari samapi 1 Minggu. Ini kan “tolah-toleh.”
Sebaiknya kesalahan BLT pada masa lalu tidak perlu kita ulangi. Berikan semua yang harus diterima rakyat. Rakyat dalam arti yang sebenarnya. BLT memnag bagi sebagian orang dibutuhkan tetapi dalam jangka panjang justru tidak mendidik. Akan jauh lebih baik, kalau uang-uang itu nantinya bisa dinikmati rakyat tanpa harus bersitegang dengan sesamanya. Semoga BLT kali ini artinya tidak BISA LANGSUNG TEWAS karena harus kembali berdesakan dan bersitegag dengan sesama. Ini pendapat saya, bagaimana pendapat Anda?

_uacct = “UA-4128011-1”;
urchinTracker();

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s