Sophan Sophiaan, Kebangitan Nasional dan BLT

Posted: May 19, 2008 in Kritik sosial
Tags: , ,

Dalam posting sebelumnya, saya mengemukakan penolakan saya terhadap cara pemerintah untuk meredam gejolak dan menekan angka kemiskinan yang diakibatkan oleh kenaikan harga BBM yang akan segera diberlakukan. Untuk jelasnya Anda bisa baca di sini. Pada posting ini, saya masih akan berbicara tentang hal tersebut dengan mengaitkannya dengan kematian Sophan Sophiaan dan kebangkitan Nasional. Selamat membaca.
Sophan telah berpulang ke rumah sang khalik di tengah perjalanannya untuk mengobarkan semangat nasionalisme dan kebangsaan. Kepergiannya sudah digariskan dan tidak pernah bisa ditolaknya. Sebagai sebuah misteri, cara kepergiannya pun tak pernah diduga sebelumnya. Walaupun memang sudah menjadi garis tangan, ada satu hal yang perlu kita pikirkan berkaitan dengan cara berpulangnya sang pengawal merah putih—meninggal karena lubang jalanan.
Sophan, sang pengawal merah putih diberitakan tewas dalam sebuah kecelakaan motor di wilayah Sragen karena menghindari terperosok lubang mengangga yang ada di tengah jalan. Lubang mengangga ini sudah lama ada dan dibiarkan terus dan tetap ada sampai hidup sang pengawal merah putih harus terenggut paksa. Lubang di tengah jalan itu baru diperbaiki Sabtu malam 18 Mei 2008 paska tewasnya Sophan. Ini sangat ironis. Kenapa?
Kenapa ironis? Seperti diberitakan oleh media massa bahwa lubang ini sudah lama ada dan tetap dibiarkan menganga. Entah apa alasannya. Paska tewasnya sang pengawal merah putih, lubang mengangga di tengah jalan itu segera diperbaiki. Pertanyaannya, kenapa upaya perbaikan baru dilakuakn setelah nyawa Bang Sophan terenggut? Berapa banyak korban yang sudah jatuh “dimakan” lubang jahanam itu. Apa yang dilakukan oleh pihak yang berwenang dan yang bertanggungjawab ketika korban-korban itu jatuh karena penyebab yang sama. Kenapa lubang itu baru ditutup ketika sang pengawal merah putih itu tewas mengenasakan? Apakah nilai kehidupan mereka berbeda? Apakah memang sudah ada pola dan pemikiran diskriminatif untuk melakukan perbaikan? Sekali lagi, parahlah penyakit yang menggerogoti negeri ini.
Tidak seharusnya menunggu korban petinggi atau orang berpengaruh seperti Sophan untuk menutup lubang jahanam itu. Siapapun korbannya, apakah Sophan atau rakyat jelata nilai dan harkat hidupnya tetap sama di mata Tuhan. Saya yakin, Bang Sophan pun memikirkan hal sama—kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Pemikiran inilah yang membuatnya secara sukarela dan sadar meninggalkan senayan dan kenikmatan fasilitas sebagai anggota dewan. Dan, acara yang sedang dilakukannya ini adalah bukti lain dari kepeduliannya terhadap nasib rakyat.
Berkaca dari kasus ini, bukankah kita seharusnya mulai mengubah paradigma dan pola pikir kita, yang disadari atau tidak, cenderung diskriminatif dan kurang berpihak kepada rakyat. Pejabat dan elite politik cenderung berpikir dan mengutamakan kelompoknya dan yang kepentingan-kepentingan yang bisa menghasilkan simbiosis mutualisme—sama-sama menguntungkan dari sisi bisnis dan finansial. Pemimpin jarang atau sudah tidak lagi berparadigma pemimpin adalah pelayan tetapi yang dilayani dan kepadanya semua orang harus bergantung. Masih adakah pemimpin yang berhatii hamba yang mau melayani orang-orang yang dipimpinnya?
Kembali ke lubang jalan. Kasus dan peristiwa orang mati sia-sia sebagai koraban lubang jalan bukan baru pertama kali. Karena yang tewas kali ini adalah Sophan, sang pengawal merah putih, dalam kapasitas dan misi yang sedang diembannya untu menggelorakan kembali semangat kebangsaan dan nasionalisme, sontak semua mata tertuju kepadanya. Semua menjadi rikuh dan sungkan. Tapi entah kapan rasa rikuh dan sungkan ini akan bertahan dan tindakan nyata apa saja yang akan diambil sebagai langkah perbaikan untuk mensejahterakan rakyat paska tewasnya Sophan. Apakah rasa itu hanya bertahan 1 minggu atau paling lama 1000 hari paska kematiannya dan setelah itu semua tinggal kenangan dan kepentingan rakyat yang diperjuangkan Abang turut terkubur bersama jasad Abang tanpa ada perbaikan? Siapa yang tahu?
Kalau saja budaya sugkan artifisial alias pura-pura itu bisa diubah menjadi budaya tulus yang berorientasi kepada kepentingan rakyat tentunya negeri ini akan bangkit kembali. Kebangkitan nasional tidak bisa hanya dihimbau dan digerakkan oleh dan melalui media tanpa keinginan baik untuk mengubah nasib rakyat dalam pengertian yang sesungguhnya. Kebangkitan nasional harus dimulai dari dalam diri setiap insan yang ada di bumi pertiwi ini. Selain itu, keinginan dan itikad baik para penguasa negeri ini adalah katalisator dan motivator utama untuk bisa mewujudkan kebangkitan nasional.
Pertanyaannya sekarang, apakah kebangkitan nasional yang diidamkan itu bisa dicapai dengan menaikkan harga BBM yang semakin menyengsarakan rakyat demi menyelamatkan APBN? Apakah pembagian BLT dengan memakai data lama bisa membangkitkan semangat bangsa ini sementara BLT itu sendiri tidak akan pernah berarti apa-apa selain senyum setengah hari dan sore atau malamnya mereka yang menerima akan menangis lagi? Apakah jumlah orang miskin tidak bertambah karena kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, sehingga sekali lagi, pembagian BLT yang akan dilakukan dipaksakan dengan data lama? Disinilah letak ketidakadilannya. Belum lagi kalau kita membaca 12 syarat untuk bisa menerima BLT. Lebih anaeh lagi.
Kebangkitan nasional memang tidak berkorelasi langsung dengan BLT. Ada atau tidak BLT, selama rakyat bisa mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga wajar, lapangan pekerjaan yang memadai, pelayanan publik yang manusiawi dan berpihak kepada kaum papa, pendidikan yang bisa diakses oleh semua orang, rakyat akan dengan sendirinya berpikir untuk membangkitkan negeri ini. Apalah arti sebuah BLT sebesar 100 ribu yang harus diterima dengan melalui antrian sangat panjang dan melelahkan dan dipenuhi dengan ledakan-ledakan emosi untuk kesejahteraan rakyat miskin. Ibaratnya, BLT itu permen atau gula-gula yang diberikan untuk sesaat melupakan kepedihan panjang yang sedang dan akan terus mereka alami. Tanyakan kepada mereka, mana yang mereka pilih,apakah BLT yang mereka inginkan ataukah pelayanan kesehatan gratis dengan kualitas pelayanan yang manusiawi, pelayanan publik yang berpihak kepada mereka, lapangan pekerjaan yang tersedia dan pendidikan yang bisa diakses dan dibeli dengan kantong mereka? Tanyakan itu!
Apakah perbaikan infrastruktur seperti jalan yang mengangga dan sarana air bersih yang memadai tidak lebih dipilih daripada BLT 100 ribu/bulan yang entah bisa diterima sampai kapan. Membangkitkan semangat bangsa dengan menaikkan harga BBM dan memberikan gula-gula yang sebenarnya adalah racun bukanlah sarana yang tepat. Kami, rakyat Indonesia tidak akan pernah menolak kenaikan harga BBM kalau kami mempunyai daya beli yang memadai dan tidak kesulitan untuk mendapatkan kebutuhan dasar mereka seperti harga yang wajar, akses dunia pendidikan, akses lapangan pekerjaan, akses sarana dan pelayanan publik seluas-luasnya tanpa diskriminasi. Saya sepakat kalau bangsa ini harus didik untuk tidak hidup dengan subsidi. Sekali lagi saya sepekat dan setuju. Namun begitu, cara-cara yang diterapkan juga harus cara yang mendidik dan berdampak positif untuk waktu yang lama dan berkesinambungan.
Cara-cara pemerintah yang selama ini dilakukan untuk menanggulangi ancaman terhadap runtuhnya negara ini karena jebolnya APBN selalu dengan menaikkan harga BBM, menaikkan pajak dan membuka pos-pos pajak baru. Pajak bisa dan boleh dinaikkan untuk golongan yang memang mampu membayar dengan harga tinggi. Pos-pos pajak baru sah-sah saja untuk dibuka selama memang terbukti secara obyektif ada titik baru yang potensial dan selama ini belum tergarap dengan tidak mengabaikan kepentingan rakyat banyak. Setahu saya, cuma orang mati saja yang belum dikenai PPN (Pajak Penyusutan Nilai).
Kebangkitan nasional sungguh adalah cita-cita mulia. Tetapi, bangkit tidaknya bangsa ini tidak hanya tergantung pada slogan sesaat. Bangsa ini akan bangkit kalau lubang-lubang jalan yang berpotensi menebar maut dan menyuburkan pungli dan ekonomi biaya tinggi semakin kecil keberadaannya. Bangsa ini akan bangkita kalau menjadi bangsa yang sehat dan cerdas. Bangsa ini tidak perlu BLT untuk bangkit dari keterpurukan. Niat, semangat dan teladan tulus para petinggi negeri inilah yang kan memotivasi kami untuk bangkit bersama. Pemukulan dan kekerasan terhadap para demonstran yang mengkritisi kebijakan pemerintah bukan alat untuk membangkitkan nasionalisme mereka tetapi membangkitkan rasa antipati terhadap pemerintah. Alasan-alasan ini pulalah yang membuat saya menolak pembagian BLT. Bagi saya, kebangkitan nasional artinya berdiri bersama-sama dari keterpurukan. Bersama-sama dalam pengertian rakyat dan pemerintah bahu membahu mewujudkan kesejahteraan rakyat. Kebangkitan nasional baru bisa terjadi kalau kesejahteraan rakyat menjadi hukum hukum tertinggi; salus populi suprema lex. Relakan Sophan pergi dan mari kita kawal negeri ini menuju Indonesia jaya. Bagaimana pendapat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s