Telat Lagi, Anarkis Lagi

Posted: May 28, 2008 in Kritik sosial
Tags: , ,

Berita tentang mengamuknya para sopir angkutan kota seperti yang terjadi di Surabaya, Ambon dan tempat-tempat lain di penjuru negeri ini bukan hal yang baru. Setiap kali pemerintah memutuskan (dengan) untuk menaiikkan harga BBM pemandangan seperti ini selalu dan terus terjadi sampai saat ini. Saya pun mulai bertanya-tanya, kenapa hal ini selalu dan terus terulang? Kenapa selalu terjadi “anarkisme” kepada penumpang angkot oleh sekelompok sopir angkot? Anarkisme sopir terhadap penumpang angkot seperti yang terjadi di Surabaya dan beberapa kota lain memang “baru” berupa pemaksaan. Penumpang dipaksa turun dan berganti ke moda transportasi lain. Memang “baru” seperti ini, tetapi tindakan seperti inipun sudah merugikan dan menimbulkan trauma bagi orang-orang tertentu. Lalu siapa yag salah dalam hal ini?
Mencari siapa yang salah dalam hal ini bagi saya bukan hal yang urgen. Yang urgen adalah solusi untuk masalah ini. Kenapa solusi? Karena hal ini (“anarkisme”) semcam ini selalu dan terus terjadi. Sebuah pepaptah tua berbunyi:”Ada asap ada api.” Tindakan “anarkis” sekelompok sopir angkot menurut saya adalah asap. Hanya akibat, bukan penyebab. Lalu apa dan di mana apinya? Apinya adalah sikap tidak tegas, tidak adil dan cenderung lambat pihak paemerintah!
Sikap tidak tegas pemerintah dalam kaitannya dengan kenaikan BBM dan tariff angkutan umum bisa kita lihat dari tidak adanya kebijakan pra-kenaikan BBM yang berhubungan dengan penetapan tarif angkutan. Sikap ini bahkan menjelma menjadi sikap tidak adil terhadap pengusaha angkutan dan sopir angkot. Dimana ketidakadilannya? Mereka-pengusaha angkutan dan sopir angkot dilarang menaikkan tariff sampai ada keputusan resmi. Kebijakan seperti ini adalah kebijakan yang tidak manusiawi. Bagaimana mungkin sopir dan pengusaha angkutan bisa menarik tariff lama kepada penumpang sementara cost operasional mereka bertambah? Jujur saja, sebenarnya saya pun tidak ingin tariff angkutan naik karena gaji belum tentu naik. Tetapi, apakah keinginan semacam itu wajar dan manusiawi bagi manusia lain?
Memang, kalau dihitung-hitung, BBM kontribusinya tidak lebih dari 40% dari cost operasional kendaraan. Akan tetapi, kenaikan BBM memicu lonjakan harga bukan hanya harga spare part tetapi juga bahan pangan. Gampangnya, sopir angkot bekerja untuk menafkahi keluarganya. Kenaikan harga bahan pangan dan yang lainnya juga tidak bisa mereka tolak. Intinya, pendapat paling tidak harus bisa menutup setoran dan bertahan hidup seadanya setiap harinya. Perhitungan ini mudah tetapi logis dibandingkan matematika tingkat tinggi tetapi tanpa didasari nurani.

BAGAIMANA SEHARUSNYA?
Dear netter, salah satu solusi yang saya tawarkan adalah pemerintah wajib sudah memiliki rancangan tindakan dan policy tariff yang jelas dan berpihak kepada semua pihak. Ketika BBM diumumkan naik, keputusan tentang tariff yang berpihak itu juga harus “sudah turun” dan bisa dioerasionalkan dalam waktu yang tidak lama. 1 minggu bahkan 1 bulan bukanlah waktu yang singkat utuk sebuah ketidakjelasan. Pemerintah pastinya sudah memiliki rumus dan hitungan tersendiri dalam hal pricing. Maka aneh, menurut saya, kalau para pengemudi angkot dan pengusaha angkutan dipaksa untuk menunggu rapat penentuan tariff baru. Nunggu sih nunggu, tapi BBM dan perut kan perlu diisi tiap hari. Apa akibat kelambanan ini? Pengemudi angkot menaikkan tariff secara sewenang-wenang untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Selain menetapkan tariff secara sepihak, kasus ribut-ribut yang berpotensi merugikan pihak lain dan memicu terjadinya konflik antar pengemudi sendiri selalu saja terjadi dan akan terus terulang.
Apakah itu berarti saya membenarkan dan mendukung tindakan para sopir angkot? Tidak. Apapun alasan dan dalihnya, tindakan “anarkis” mereka seperti memaksa penumpang turun dari angkutan bukan cara yang sopan dan manusiawi untuk manusia lain. Menurunkan secara paksa penumpang di tengah jalan hanya akan menimbulkan rasa tidak senang dan trauma psikologis di pihak penumpang. Selain itu, sangat banyak kerugian nonmateri yang ditimbulka oleh demo dan mogok anarkis semacam ini. Anak-anak kehilangan kesempatan belajar, mandegnya roda kegiatan ekonomi. Apakah ini satu-satunya cara untuk menekan pemerintah? BUKAN!! Lalu apa?
Resah dan hampir rusuh semacam ini bisa diperkecil jika ada kemauan yang jelas dari penguasa untuk paling tidak berpihak kepada rakyat. Yang jelas, pola-pola kenaikan BBM yang selama ini kita rasakan adalah kebijakan yang sifatnya gradakan-mendadak dan tanpa diimbangi oleh pengelolaan yang baik dalam arti sosialisasi yang cukup dan memadai. Ciri khas setiap kenaikan BBM adalah “kampanye” bahwa BBM akan dinaiikan, persentasenya masih dihitung, waktunya belum ditetapkan,ada kompensasi untuk rakyat miskin dan yang paling jelas adalah aplikasinya yang tiba-tiba. Alasanya pun sama—menyelamatkan APBN bukan menyelamatkan rakyat. Dampak dan akibatnya pun sama. Demo penolakan di mana-mana, mulai munculnya kekerasan dan anarkisme dari masyarakat kepada masyarakat seperti memblokir jalan, bakar-bakar ban bekas dan menurunkan paksa penumpang di tengah jalan juga aparat (kembali) menyerbu kampus. Kekerasan lama dalam wajah baru. Salahkah aparat yang masuk dan melabrak warga kampus? Jawabannya bisa Anda simak pada posting selanjutnya. BAgaimana tanggapan Anda tentang anarkisme ini? Silahkan berkomentar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s