Balada Tikus Priok

Posted: June 3, 2008 in Kritik sosial
Tags: , ,

“O..o..kamu ketahuan, korupsi lagi.” Mungkin petikan syair lagu ini bisa kita jadikan cermin untuk menilai apa yang dialami oleh kantor (tentu saja bukan gedungnya tetapi orang-orang yang ada di dalamnya) bea cukai pada Jumat 30 Mei 2008. Mereka tertangkap tangan oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) secara berjemaah dan kolektif menerima suap. Intinya, sinyalemen yang berkembang luas di masyarakat bahwa lembaga ini-bea cukai adalah salah satu sarang koruptor.. Memang, keptusan pengadilan belum lagi dijatuhkan, tetapi paling tidak ini adalah indikasi umum pertama yang menguatkan sinyalemen itu—bea cukai sebagai salah satu sarang koruptor dan merajalelanya pungli!
Manuver berani dan tidak setengah hati yang dilakukan oleh KPK berhasil menguak jaringan suap dan korupsi yang bahkan sudah melembaga paling tidak di kantor bea cukai Tanjung Priok. Bagaimana di kantor-kantor bea cukai lainnya? Walahualam, only heaven knows. Indikasi kuat melembaganya suap, pungli dan korupsi di kantor bea cukai Tanjung Priok dibuktikan dengan adanya hirarki dan pembagian tugas atau saya cenderung menyebutnya sebagai black side description. Bagaimana tidak, ternyata dari dua lantai yang berhasil diobrak-abrik KPK diketahui ada struktur jaringan “mafia.” Ada dua orang pemimpin atau diistilahkan dengan kolektor yang bertugas mengumpulkan dan membagi-bagikan uang suap dari yang berkepentingan dengan instansi ini kepada semua “yang berhak menerima”nya. Luar biasa!

BUKAN MODUS BARU
Menilik peristiwa ini, saya jadi teringat kembali akan tugas akhir yang pernah saya buat ketika kuliah di Universitas Airlangga Surabaya pada prodi Ilmu Perspustakaan. Tugas akhir yang saya buat tentang korupsi yang terjadi di Indonesia mengungkapkan fakta bahwa kantor pemerintahan dan pelayanan publik adalah tempat yang sangat ideal bagi tumbuh berkembangnya korupsi melalui berbagai variasi dan kombinasi modus operandi. Modus semacam yang dilakukan di kantor Bea Cukai Tanjung Priok sebenarnya bukan barang baru tetapi terbukti efektifitasnya.
Efektifitas modus ini sangat tinggi karena bargaining position oknum-oknum nakal di instansi semacam ini relatif lebih tinggi. Kenapa? Karena mereka yang pegang stempel dan pulpen untuk tanda tangan. Jurus sakti birokrasi dengan slogan “Buat apa dipermudah kalau bisa dipersulit” adalah ajian pamungkas. Dimana ada perusahaan yang mau berlama-lama menunggu surat atau tandatangan dari oknum nakal bea cukai sementara barang yang harus diekspor/impor tidak bisa menunggu lama karena ada deadline dari pihak pembeli. Trik main duit untuk melancarkan proses pengiriman barang (ekspor/impor) secara teori salah dan tidak bisa dibenarkan tetapi secara praktik merupakan satu keharusan. Atau kalau meminjam istilah manajemen konflik, trik ini bisa dikatakan solusi win-win. “Tikus” di bea cukai senang, barangpun tetap bisa dikirim sesuai jadwal. Mana yang salah? Dua-duanya salah secara teori tetapi faktanya di lapangan memang seperti itu. Memang, jauh teori dari praktik. Ya, inilah yang disebut bargaining position menentukan hasil.

APAKAH KPK SUPERBODY?
Kalau ditanyakan apakah KPK superbody? Jawaban saya, ya dan tidak. Ya, karena memang secara hukum lembaga ini ditugaskan untuk memeriksa siapa saja yang terindaikasi dan terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Tidak, karena anggota KPK adalah manusia biasa bukan superman (he..he..bercanda). Ya, mereka bukan superman karena salah satu, dua atau tiga dari mereka juga berpotensi untuk melakukan tindak pidana korupsi dengan menggunakan modus sendiri-sendiri (ada yang ditangkap kan). Sebutan superbody sebenarnya tidak perlu dilebih-lebihkan, dipolitisir apalagi dipelintir. Tidak perlu takut kepada KPK kalau memang tidak melakukan tindak pidana korupsi atau melakukan pungli. Maka salah besar kalau ada oknum yang mengusulkan KPK dibubarkan karena dinilai kewenangannya terlalu jauh. Untuk pembahasan ttg hal ini linknya ada disini. KPK dan anggotanya sebenarnya bukan superbody. Buktinya? Mereka tidak mempunyai dan diberikan imunitas khusus yang bisa melindungi mereka dari pemeriksaan bahkan pemenjaraan kalau terindikasi dan terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi. Yang selalu menggembar-gemborkan KPK sebagai lembaga superbody sebenarnya lembaga itu (yang menyatakan seperti itu) adalah seorang naughty boy. Anak nakal yang takut ketahuan belangnya dan diumbar belangnya di muka umum.

MAJU TERUS KPK!
Seperti halnya Slank dan bangsa ini (yang hati dan nuraninya bersih) mendukung dibersihkannya tikus-tikus got dan tikus-tikus pelabuhan dari lembaga pelayanan publik karena sangat berpotensi merugikan pihak lain dan instansi yang di dalamnya dia bernaung sekaligus melakukan penggerogotan dari dalam, saya pun akan terus memberikan dukungan terhadap setiap langkah yang dilakukan KPK dan anggotanya untuk mulai mengurangi ruang gerak dan “penghsilan” koruptor. Apa yang ditemukan di kantor bea cukai Tanjung Priok merupakan salah satiu indikator bahwa “tikus pelabuhan” memang umumnya “gemuk-gemuk”. Pak Antasari, maju terus pantang mundur. Di depan Anda banyak tantangan bahkan nyawa Anda dan keluarga bisa terancam. But, rakyat mendukung Anda dan lembaga yang Anda pimpin. Datanglah ke kantor walikota, kantor bupati, Samsat sampai ke kelurahan dan dari sanalah Bapak akan tahu bahwa tikus-tikus liar sudah membentuk koloninya sendiri. Maju terus KPK!! Anda setuju??

Comments
  1. Mas masalahnya bangsa ini yang “rusak” adalah mentalnya. Metal korupsi yang “dipupuk” selama 30 tahun lebih dan tidak tersentuh hukum. Dalam kurun waktu selama itu bisa jadi sebagian besar penikmat hasil korupsi sudah bukan hanya dilakukan oleh 1 generasi tapi kemungkinan besar sudah juga menurun ke lapisan kegenerasi ke 2. Anak2 yang sudah merasakan “nikmatnya” uang hasil korupsi orang tua mereka apakah mau untuk meninggalkan kenikmatan itu? Yang menjadi masalah paling berat bangsa ini adalah “mengobati” mental yang sudah terlanjur bukan hanya sakit tapi sudah menjadi parah dan kronis.

  2. bayu says:

    ok, saya spendapat dgn Bpk. Inilah musuh kita bersama. but at least, yang bisa dilakukan adalah menekan sampai sekecil mungkin ruang gerak “tikus-tikus” itu kalau menghilangkan sama sekali, saya rasa imposible. Pasalnya, selama manusia masih ada akan tetap ada kejahatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s