Demokrasi, Demoncrazy, dan Demotrasi

Posted: July 2, 2008 in Kritik sosial
Tags: , , , ,

Seperti kita ketahui bersama bahwa inti demokrasi adalah kedaulatan berada di tangan rakyat. Pun begitu, apakah bisa dibenarkan, atau, dapatkah demokrasi itu diartikan sebagai vox populi Dei? Tentunya tidak dan bukan seperti itu demokrasi harus dimaknai bukan?
Pertanyaannya sekarang, apakah demokrasi selalu identik dengan kekuasaan di tangan rakyat? Bagi saya paling tidak jawabannya adalah,”ya”. Pengertiannya, rakyatlah pemilik mutlak kekuasaan yang suaranya disalurkan lewat parlemen. But, tapi apakah memang benar parlemen adalah pengejawantahan dari rakyat? Saya menjawab ya dan tidak. Kok?? Ya, karena sebelum mereka (anggota parlemen) duduk di kursi mereka saat ini yang dikelilingi dengan berbagai fasilitas dan nominal besar mereka adalah bagian dari rakyat. Ada yang wong kutho bahkan ada yang katrox. Dalam masa hidupnya sebagai wong cilik, seringkali mereka berteiak-teriak ttg nasib wong cilik. Pastinya untuk dapat simpati dong! Tapi sekarang, apa yang diteriakkan? Perubahan nasibnya sendiri. Rakyat hanya dipakai sebagai, kata pepatah Jawa, tambel butuh. Kalau dibutuhkan, nasib ndan penderitaan rakyat dijadikan sarana atau tepatnya dieksploitasi untuk menarik simpati. Lalu demokrasinya? Lupakan demokrasi. Tidak ada lagi kedaulatan ada di tangan rakyat. Yang ada adalah “kedaulatan” ada di tangan partai.
Saya memang berniat untuk mengingatkan bahwa sebenarnya sudah ada pergeseran nilai dan arti dari demokrasi itu sendiri dalam pengertian yang hakikat dan paling mendasar. Siapa pemilik kedaulatan yang sesuangguhnya. Bukankah ini telah jauh bergeser bahkan tenggelam bahkan ditenggelamkan dalam euphoria politik dan kepentingan politik parlemen dan inkumben. Bagaimana, Anda sudah menyadari hal ini?Atau, Anda tahu tetapi pura-pura tidak tahu karena (memang) faktanya ngurusi yang satu ini sama sekali tidak produktif dan menguntungkan.
Nah, sekarang saya mengajak Anda untuk merenungkan, hal apa yang identik dengan demokrasi. Jelasnya, kebebasan bersuara dan berpendapat yang konstruktif dan bertanggungjawab. Lalu demonstrasi? Demonstarsi, sejauh itu konstruktif dan memberikan solusi yang rasional dan operasional, menurut saya, sekali lagi menurut saya juga bagian dari sebuah demokrasi. Demonstrasi demokrasitis adalah demo yang mengusung kepentingan rakyat dalam arti yang sesungguhnya karena kepentingan ini tidak bisa (?) diakomodasi lagi oleh wakil-wakil rakyat (?). Tidak bisa atau tidak mau. Itu masalahnya! mAsalah lainnya lagi adalah, siapakah rakyat itu? Bagi sebagian besar (tidak semua) anggota parlemen, rakyat adalah anggota partai yang sama dengannya atau yang pernah membuat deal-deal khusus untuk saling mendudukkan dan berbagi kursi kekuasaan.
Ironisnya, sekarang ini yang terjadi adalah, demonstarsi kehilangan daya demokratisnya. Memang yang banyak diusung adalah kepentingan rakyat seperti penolakan kenaikan harga BBM (sekarang 1 Juli 2008) harga elpiji ikut-ikutan dinaikkan, penyediaan akses pendidikan yang terjangkau dsb, dsb memang terbukti memngusung kepentingan rakyat. Itu demokratis! Yang tidak demokratis adalah ketika ada banyak senjata dan alat-alat kekerasan lainnya yang dibawa selama demonstrasi bahkan diaplikasikan selama demonstarsi. Apakah demokratis namanya kalau yang dibawa selama melakukan perjuangan untuk rakyat adalah batu, bom Molotov (ini gila), pentungan dan melalukan perusakan fasilitas umum. Yang ini bukan demonstrasi demokratis tetapi demoncrazy. Yang ada hanyalah kegilaan dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat yang pada gilirannya membuat rakyat tidak simpati karena merasa terancam dan dirugikan kepentingannya.
Bak benang kusut, demoncrazy harus kita luruskan dan urutkan.Kenapa ada kegilaan demokrasi semacam ini? Ada asap pasti ada api. Demoncrazy semacam ini terjadi karena tertutupnya saluran-saluran yang seharusnya bisa menyalurkan aspirasi/suara rakyat. Atau, kalaupun salauran itu belum buntu semuanya, sasaran akhir dari suara ini (inkumben) tidak mau mendengar aspirasi rakyat yang dipimpin dan dikelolanya.Kondisi seperti ini memicu meledaknya demoncrazy yang pada akhirnya menutup nuansa demokratis sebagai saluran untuk menyampaikan suara hati rakyat. Apakah gedung DPR/MPR RI yang dipasang pagar sedemikian tingginya masih layak disebut sebagai house of common, tempat wakil rakyat berkantor dan dibayari oleh rakyat setiap bulannya? Apakah ketakutan pasca diturunkannya mantan presiden Soeharto dengan menduduki gedung parlemen ini memang perlu dan harus dipelihara? KAlau pagarnya saja sudah setinggi benteng, apakah dibenarkan kalau rakyat yang datang secara bersama-sama (demonstrasi) untuk berdialog dengan wakilnya (?) harus lebih dulu memanjat pagar atau memang pagar itu harus dirobohkan paksa seperti yang dilakukan para demonstran beberapa waktu lalu sehingga mereka bisa leluasa masuk ke house of common? Apakah memang, wakil rakyat sudah sedemikian tidak beraninya menghadapi massa yang dulu (mungkin) memilihnya sehingga panser dan water canon harus disiagakan? Demoncrazy, demoncrazy dan demoncrazy.
Hilangnya orientasi kerakyatan dari demokrasi yang menjadi katalis munculnya demoncrazy pada akhirnya hanya membuat demokrasi menjadi demotrasi. Demokrasi yang bau terasi. Yang tercium bukan keharuman dan semerbak dari bunga demokrasi tetapi bau busuk yang ditimbulkan oleh perilaku sekelompok orang yang selalu menjdikan demokrasi sebagai tempat bersembunyi. Kalau terasi, walaupun kalau dicium baunya kurang sedap tetapi ketika diuleg dan dijadikan sambal, rasanya ruuaarr biasa!! Kalau demokrasi yang bau trasi? Tau sendiri kan! Last but not least, kita semua pasti ahu bahwa tidak ada satupun yang sempurna di dunia ini termasuk sebuah sistim yang dinamakan demokrasi. Akan tetapi, ditengah ketidaksempurnaan itu, tetap harus diperjuangkan tercapainya sesuatu yang ideal dalam demokrasi itu sendiri. Jangan rampas kedaulatan dari tangan rakyat dan mempersempit rakyat hanya sebatas yang sama minat dan kepentingan politiknya dengan kita. Demokrasi harus dikembangakan sebagai komunikasi timbal balik multi arah dengan tidak secara sengaja menciptakan dinding-dinding pembatas yang membuat komunikasi tidak bisa dilakukan. Terakhir, sebuah demonstrasi demokratis adalah demontrasi yang mengusung kepentingan rakyat tanpa membawa pentngan dan bom Molotov ketika menyuarakan isi hati rakyat yang diwakili. Sulit memang sulit tetapi bukan tidak mungkin kalau kita memberdayakan hati kita. Pemimpin memberdayakan hatinya untuk melihat dan merasakan penderitaan rakyat, demonstra memberdayakan hatinya untuk tidak menjadikan demonstrasi sebagai sebuah peperangan dimana harus ada yang kalah dan menang secara fisik. Wakil rakyat/parlemen harus memberdayakan hatinya untuk rela mengoreksi ddiri apakah selama ini mereka sudah berjuang untuk kepentingan rakyat karena kursi yang mereka duduki saat ini umurnya hanya 5 tahun. Kemana mereka setelah itu, itulah yang harus dipikirkan karena pada akhirnya mereka akan kembali ke habitat awalnya-rakyat dan rakyat pulalah yang akan menguburkan mayatnya ketika mereka mati. Setuju? Pendapat dan opini lain silahkan tuliskan dikolom reply di bawah ini.

Comments
  1. agus mk says:

    Mas Bayu ! Kapan ada masa dimana wakil rakyat yang duduk di parlemen itu tidak menerima dan menikmati fasilitas materi baik berupa uang maupun barang , pada masa itupun saya baru yakin bahwa mereka memang benar – benar ada untuk membela kepentingan RAKYAT nya.
    Semoga masa itu bisa segera datang ….. Amin

  2. bayu says:

    ya. pastinya masa itu pasti ada. But, entah kapan. Itulah pertanyaannya.

  3. faizalkamal says:

    yup . . .
    Masa yang gak seorangpun tau kapan akan datang KEHIDUPAN LEBIH BAIK untuk INDONESIA, karena Kemarin min ke Gedung DEWAN, toh .. ternyata . . . mereka juga merasa, anggota dewan yang sudah di “atas” gak peduli lagi ma RAKYAT, BAH . . BAH . . .WAKIL APAAN KALO GITU. . .
    Semogaa wakil sprti itu gak ada di pemilu tahun depan.
    terimakasih di izinkan mampir, sir
    keep Posting,karena artikel seperti ini perlu dibaca sama “MEREKA”

  4. bayu says:

    thanks mas Faizal. saya akan nulis hal seperti ini, but artikel seperti ini pastinya “najis” buat para penghisap darah rakyat yang sebenarnya nanti ketika mereka kembali ke rakyat mereka akan malu sendiri. thanks sudah mampir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s