Haram Lagi, Haram lagi…

Posted: September 27, 2008 in Kritik sosial
Tags: ,

Pembagian zakat di rumah Haji Syaichon di Pasuruan layak disebut sebagai sebuh ironi dan tragedy walaupun tidak bisa dipaksakan dengan sebutan sebagai zakat maut atau zakat berdarah. Saya cenderung menyebutnya sebagi sebuah tragedy dan ironi karena justru dari peristiwa ini kita bisa melihat dan mengakui bahwa sebenarnya masih sangat banyak orang miskin di negeri ini yang rela dan mau berdesak-desakan dan berhimpitan “hanya” untuk mendapatkan zakat senilai tidak lebih dari Rp50.000 (Kompas menyebutkan angka Rp20.000 sedangkan Jawa Pos Rp 30.000). Yang penting bukan berapa besarnya, tetapi fakta bahwa jumlah orang miskin di negeri ini pasca kenaikan harga BBM bukan semakin berkurang dengan dibaginya BLT seperti yang dikatakan oleh SBY dalam pidato kenegaraan. Tragis dan ironis, karena justru ketika para Ibu berjuang untuk mendapatkan zakat, malah 21 dari mereka harus terampas hidupnya secara paksa oleh desakan massa.

Dari peristiwa ini yang paling menggelitik hati dan nurani saya adalah fatwa MUI Jawa Timur yang menyatakan pembagian zakat yang menimbulkan jatuhnya korban adalah perbuatan sekali lagi PERBUATAN HARAM. Tidak bermaksud berpihak kepada siapapun dan demi kepentingan apapun saya menyatakan kurang sependapat dengan fatwa MUI untuk meyikapi tragedy zakat Pasuruan. Ada beberapa alasan dibalik sikap dan pendapat saya terhadap fatwa MUI Jawa Timur ini..

Sebelum mengemukakan alasan dibalik ketidaksetujuan terhadap fatwa MUI tersebut, saya kan lebih dulu bertanya. Apakah selama ini, sebelum terhadinya tragedy Pasuruan, MUI Jatim sudah pernah mengeluarkan fatwa yang sama justru sebagai antisipasi bukan sebagai reaksi seperti sekarang ini setelah korban jatuh dalam dan karena pembagian zakat di rumah Pak haji? Apakah selama ini, selama Ramadhan MUI juga sudah gencar melakukan upaya persuasive untuk mendorong orang-orang kaya untuk menyalurkan zakatnya melalui lembaga yang sah dan tidak diragukan akuntabilitasnya oleh public? Paling tidak, dan saya rasa, pertanyaan ini penting untuk dijawab secara jujur sehingga kita tidak semakin memperkeruh suasana.

Saya melihat sikap MUI Jatim dalam bentuk fatwa yang menyatakan sebagai perbuatan haram pembagian zakat yang menimbulkan jatuhya korban dalam konteks peristiwa Pasuruan adalah terlalu dini. Maksudnya, kenapa fatwa ini justru baru keluar setelah peristiwa terjadi. Gampangnya, kenapa MUI justru memposisikan dirinya sebagai “pemadam kebakaran” yang datang setelah api membesar bukan sebagai pemadam kebakaran yang mampu melihat adanya “potensi kebakaran” yang bisa merenggut korban? Apakah MUI tidak mengetahui adanya kecenderungan semacam ini (pembagian zakat secara individu di rumah saudagar-saudagar kayak arena ini adalah peristiwa tahunan walaupun tidak semua orang kaya membagikan zakatnya secara individu).

Pernyataan saya di atas bukan berarti saya secara pribadi menganggap jatuhnya korban karena berdesakan dalam pembagian zakat tersebut sebagai peristiwa biasa dan konsekuensi logis kerumunan massa yang tidak harus dipermasalahkan dan disikapi baik secara individual maupun secara legal. Jatuhnya korban harus diusut tuntas dan diselesaikan dalam mekanisme hukum karena terjadi akibat kelalaian pihak penyelenggara. ITU HARUS!! Dalam kapasitas tertentu saya bisa sepakat dengan fatwa MUI yang menyatakan pembagian zakat yang mendatangkan jatuhnya korban dinyatakan sebagai PERBUATAN haram. Yang saya sepakati adalah kalau hal (fatwa) ini disosialisasikan secara ajeg sebelumnya bukan sebagai reaksi yang justru berpotensi memperkeuh suasana.

Alasan kedua keberatan saya terhadap sikap MUI Jatim adalah, dalam dan jika dikaitkan dengan tragedy zakat Pasuruan, tidak ada seorangpun yang ingin dan secara sengaja merancangkan suatu kegiatan untuk menjatuhkan banyak korban. So, apakah fatwa ini dikeluarkan dengan mempertibangkan berbagai aspek ataukah hanya sebagai reaksi impulsive setelah melihat banyaknya korban yang jatuh? Mungkinkah fatwa ini dikeluarkan sebagai syok terapi? (semoga memang begitu)

Tragedi zakat Pasuruan mengingatkan kita akan banyak hal dan tragedy yang masih terus dialami oleh bangsa ini termasuk didalamnya pemakaian kata “HARAM” untuk menyikapi kedaaan. Sebelum kata ini (HARAM) muncul sebagai reaksi atas kasus Pasuruan, di Jakarta MUI memakai kata yang sama untuk “membantu” ditegakkannya perda larangan merokok di tempat umum. Saya setuju Perdanya tetapi kurang sependapat dengan pemakaian kata “HARAM” dalam dua peristiwa ini (tragedy zakat Pasuruan dan Perda larangan merokok di tempat umum di Jakarta).

Kata HARAM secara etimologis dan leksikal memang tidak mengandung arti yang sangat berlebihan. Artinya “DILARANG, TIDAK SAH, TIDAK BOLEH.” Namun begitu, nilai rasa kata ini sangatlah kuat. Yang sejajar dengan kata ini adalah kata “KAFIR.” Sebebal-bebalnya orang pasti merah kupingnya kalau dikatakan kafir—dari kelompok manapun ia! Pertanyaanya sekarang, dalam kaitannya dengan tragedy Pasuruan, apakah MUI tidak mempunyai cukup perbendaharaan kata yang bisa menggantikan kata HARAM ketika mengeluarkan fakta? Atau apakah memang kata ini adalah kata terakhir yang diyakini mempunyai dampak mendalam pada diri seseorang atau sekelompok orang yang diharapkan berubah perilakunya setelah mendengar kata ini, dan apakah memang selamnya kata ini efektif dan tidak menimbulkan dampak negtif lebih besar? Walaahualam!!

Yang baik belum tentu benar, paling tidak itu sikap saya mengenai tragedy zakat di Pasuruan. Baik karena itikad Pak Haji untuk memberikan zakat sangatlah mulia. Yang belum benar adalah Pak Haji tidak mempunyai cukup antisipasi sebelum dia mengundang massa datang ke rumahya melalui radio. Pak Haji tidak memikirkan apa yang mungkin terjadi 5, 10 dan 60 menit undangannya itu disiarkan di radio dan bagaimana gerakan dan penumpukan massa bisa dikendalikan sehingga niat mulianya benar-benar bisa ridha dan membawa kebaikan bagi banyak orang. Ya, mungkin karena Pak Haji bukan anggota DALMAS yang tidak terlatih untuk mengendalikan massa.

Pahit memang peristiwa ini. Semuanya sudah terjadi. Semua proses hukum harus tetap dijalani dan proses pembinaan dan antisipasi untuk mencegah terjadinya peristiwa semacam ini harus intens dilakukan. Salah satu pertanyaan yang masih dan harus terus direnungkan adalah Apakah HARAM adalah kata yang tepat untuk mengedukasi masyarakat? Dan Apakah memang semudah itu sang kata (HARAM) dipakai? Kalau begitu, lagu Dewi Yull “mudahnya bilang cinta harus diganti dengan “Mudahnya bilang Haram.”

Comments
  1. Agus MK says:

    Pertama saya ingin menyampaikan keprihatinan saya atas timbulnya korban pada acara bagi2 zakat kemaren.
    Berita ini juga sempat menjadi perhatian saya selama diliput di berbagai media.

    Terlepas dari fatwa yang dikeluarkan MUI, saya lebih menitik beratkan akan solusi hal ini biar tidak terjadi lagi , seperti yang saya muat dalam blog saya , bahwa niat baik itu musti dilandasi dengan rasa iklas.

    Saya rasa oknum haji yang memberikan zakat , belum bisa belajar untuk iklas atas apa yang diperbuatnya , memberikan secara langsung agar mungkin saja untuk meraih popularitas atau bisa menepuk dada atas perbuatannya.
    Bukankah telah ada lembaga zakat dari pemerintah ?

    Kenapa tidak melalui lembaga itu saja , atau lembaga lainnya yang bergerak / bertugas untuk pembagian zakat ? Mungkin saja program mereka akan jauh lebih baik , karena pembagian zakat bisa berupa peminjaman modal padat karya , fasilitas pendidikan gratis , atau bahkan fasilitas kesehatan untuk kalangan fakir miskin .

    Jika ada alasan tidak percaya kepada lembaganya ,maupun pengurusnya , sekali lagi mari kita belajar iklas atas segala niat dan perbuatan , masalah hasil biarkan yang punya KEHIDUPAN ALIAS ALLAH / TUHAN / BAPA DI SORGA / HYANG WIDHI memberikan kepada kita semua .

    Amin.

  2. bayu says:

    thganks responnya. memang masalah satu ini npelik. gak cukup emang dengan hanya mengeluarkan fatwa haram. gak bisa. ya, yang benar emang solusinya yang haruis diupayakan. trus masalah iklas atau gak, he..he.. saya gak berani mengatakan hal itu. only heaven knows lah. hanya Tuhan yang tahu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s