Susu Maut Ala Cina

Posted: September 27, 2008 in Kritik sosial
Tags: , ,

Heboh kasus susu formula bayi yang mengandung melamin di Cina baru-baru yang merenggut satu korban jiwa dan puluhan (50) bayi menderita batu ginjal (GATRA No.45 Tahun XIV; 24 September 2008 hal. 40-41) mengingatkan saya kepada kasus yang hampir sama yang terjadi di negeri ini. Bedanya, kalau yang di Cina yang sengaja dimasukkan adalah zat melamin, yang pernah menghebohkan di negeri ini adalah bakteri sakazaki yang mengontaminasi puluhan merk susu formula bayi. Bedanya lagi, ksus sakazaki “menghilang” dengan sendirinya bagai sebuah misteri berselimut kabut pekat konflik kepentingan (yang jelas bukan kepentingan rakyat!).

Satu hal yang menarik, menurut saya, dari kasus susu bermalamin di Cina adalah objeknya. Objek? Saya mengatakannya sebagai objek karena pihak-pihak yang dirugikan karena tindakan sembrono dan tidak manusiawi oknum pemasok nakal untuk mengejar tingkat kekentalan dengan mencampurkan air ke dalam susu dan selanjutnya menambahkan zat maut—melamin (lihat GATRA edisi spt di atas) adalah orang-orang miskin di Cina yang, sama seperti nasib semua orang miskin di seluruh penjuru dunia, tidak mempunyai kekuatan secara apapun. Harga murah seringkali bisa menjadi katalis dan pilihan untuk memakai sebuah produk karena sebenarnya mereka tidak mempunyai kekuatan untuk menolak karena kemiskinannya.

Susu produk Sanlu di Cina yang teridentifikasi mengandung melamin adalah susu yang khusus diperuntukkan bagi orang, eh bayi-bayi anak orang miskin. Harganya pasti miring, semiring segelintir orang yang nekad memasukkan melamin ke dalam produk susu formula bayi. Hebatnya lagi, susu formula produk Sanlu bukan hanya dijual dalam kemasan gram (susu formula yang umum dipasarkan beratnya 250 s/d 1500 gram) tetapi kilo. Bukannya kilo adalah akumulasi dari gram, gram and gram? Betul! But, hal ini menjadi tidak umum dan mengundang pertanyaan besar manakala yang dijual dalam kemasan 25 kg adalah susu formula bukan semen. Kalau semen udah biasa ada kemasan 45kiloan. Masalahnya bukan dan tidak berhenti pada ukuran berat tetapi tingkat higinitas dan kelaikan komsumsi. Apakah produk susu sebesar itu bisa dijamin tingkat higinitasnya (katakanlah di pabrik memang) mengingat berat sebesar itu idak mungkin dihabiskan dalam waktu 1 bulan. Berapa lama produk susu bisa bertahan setelah terkena udara? Ataukah memang, hal ini disengaja, yak arena itu tadi, konsumennya kan orang miskin, so, lupakan saja higinitas yang penting banyak dan kenyang! (?) Samalah seperti kasus-kasus orang miskin di negeri ini. Sempat lihat tayangan TRANS TV ttg makanan samapah dan orang-orang miskin yang mengais sampah buangan supermarket hanya untuk bisa makan buah impor?? Gak jauh beda sebenarnya!!!!

Kasus-kasus yang menimpa orang-orang miskin (yang miskin secara ekonomi bukan yang miskin moral dan mental) sebenarnya sama di mana-mana. Perlakuannya pun tidak jauh berbeda di seantero mayapada ini. Apakah ini karena memang kaum miskin memang sudah ditakdirkan hanya sebagai objek penderita yang tugasnya hanya menerima “takdirnya” karena kemiskinannya secara ekonomi.

Pertanyaan besarnya sekarang adalah, apakah memang kaum miskin memang pantas diperlakukan seperti itu? Apakah kaum miskin selalu dan selamanya akan menjadi komoditas yang laris manis untuk dijual menjelang masa pemilihan baik itu kepala daerah atau kepala Negara. Kemiskinan dan angka kemiskinan memang selalu dan tidak pernah kadaluarsa untuk dijadikan sebagai alat penarik simpati demi perolehan suara walaupun yang seringkali disajikan adalah informasi hasil manipulasi yang jauh bak langit dan bumi dengan kondisi di lapangan.

Ya, paling tidak kasus susu yang kembali terjadi, walaupun di Cina, bisa kita jadikan bahan perenungan ternyata di mana saja dan kapan saja si miskin harus selalu berurai airmata demi menyambung hidupnya dan anak-anaknya. Tak perlu acung dan tunjukkan jari ke pihak manapun, karena masalah-masalah seperti ini adalah tanggung jawab kita bersama. Yang jelas, kemiskinan adalah musuh bersama. Musuh bersama pula orang-orang dan pihak-pihak yang tidak peduli dengan kaum miskin. Musuh bersama juga mereka yang miskin mental dan moral yang membuat banyak orang menjadi miskin secara ekonomi dan structural, yang membuat banyak bayi tidak bisa minum susu bahkan susu ibunya sendiri karena susu sang ibu sudah menjadi kering karena tidak cukup gizi yang merena memikirkan masa depan anak-anaknya. Adakah rasa ini ada dalam banak dan kalbu Anda? Apakah kita merasakan hal yang sama? Atau, apakah rasa ini sudah sirna dari sanubari kita? Dan, apakah selamanya kita akan membiarkan susu lebih perkasa dari si miskin?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s