Lebaran, Mudik, dan Mulai dari Nol

Posted: October 9, 2008 in Kritik sosial
Tags: , , ,

Anda pasti sudah pernah mendengar ungkapan ini,“Dimulai dari angka nol ya….” Ya, ungkapan itu adalah bagian dari iklan layanan masyarakat yang dibuat oleh PT PERTAMINA untuk mengampanyekan program PAS di pompa-pompa bensin. PAS, setidaknya dan diharapkan, bisa menjamin kepuasan konsumen karena mendapakan takaran yang pas untuk bahan bakar yang dibeli di SPBU-SPBU yang bertanda PAS. Lalu bagaimana yang tidak memasang tanda ini….?.
Ungkapan di atas membuat saya tergelitik manakala, di sebuah harian pagi di JAwa Timur, ditampilkan kartun memakai slogan ini dalam dialog antara dua tokohnya. Bedanya, dalam kartun ini konsepnya adalah lebaran. Mulai dari nol (duitnya) setelah dihabiskan untuk berlebaran. Inilah yang menarik bagi saya dan memaksa saya untuk merenungkan kebenaran yang disampaikan sang kartunis dibalik sosok tokoh-tokoh kartunnya.
Puasa, lebaran, mudik, mobilisasi massa, dan silaturahmi tidak bisa, menurut saya, hanya dipandang sebagai sebuah fenomena tahunan. Yang benar adalah agenda tahunan. Namun sayangnya, meskipun sudah menjadi agenda dan kalender, walaupun belum dijadikan festival tahunan, dari tahun ke tahun mudik belum bisa dimanage dengan baik. Pertanyaannya adalah, apakah pengelola yang tidak mempunyai cukup kemampuan untuk me-manage ataukah orang-orang maupun sarana yang dipakai untuk mudik memang tumbuh dan berkembang jauh melampaui kemampuan pengelola untuk mengelola.

LEBARAN DAN “MULAI DARI NOL”
Lebaran sebagai agenda tahunan nasional mempunyai kekuatan yang sangat besar. Ia mampu menggerakkan jutaan orang dalam waktu yang sangat singkat untuk melakukan mobilisasi dengan “melumatkan” sekat-sekat yang ada dan mungin yang selama ini mengungkung banyak manusia. Sekat agama, sekat budaya, sekat pendidikan, dan sekat derajad social runtuh dan diruntuhnkan oleh lebaran. Maksud saya, lebaran atau Idul Fitri mampu membuat jutaan manusia Indonesia yang berbeda agama, suku, pendidikan, dan derajad social melakukan pergerakan dari satu tempat ke tempat lainnya dengan satu (kebanyakan) tujuan, silaturahmi. Luar biasa.
Selain meruntuhkan banyak sekat, Idul Fitri, juga mampu memunculkan kegiatan ekonomi singkat baru yang membuat beberapa (?) menuai riziki dengan dan melalui pasar tumpah dan pasar kaget. Kegiatan ekonomi inilah yang seringkali memancing dan menjerumuskan banyak orang ke dalam jebakan konsumerisme.
Benarkah Idul Fitri membuat banyak orang masuk dalam perangkap konsumerisme yang pada akhirnya memaksa mereka untuk “MULAI DARI NOL (LAGI).” Dalam kasus ini, yang salah bukan Idul Fitrinya. Bukan sama sekali! Yang salah adalah kita sendiri yang karena mentalitas ingin dikatakan sukses oleh orang-orang di kampung dan tampil sebagai selebriti dadakan mengambil jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan itu—hutang! Sekali lagi, Idul Fitri tidak pernah salah dalam hal ini. Justru sebaliknya, Idul Fitri memberikan inspirasi bagi orang-orang yang kreatif dan bisa membaca peluang untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Tak bijak rasanya kalau kita hanya mengatakan dan menyebut orang-orang seperti itu sebagai oportunis. Yang tidak dan kurang bijak adalah mereka yang karena gengsinya harus terjebak dan menjebakkan diri dalam jerat konsumerisme. Again and again, Idul Fitri sebenarnya adalah kekuatan maha besar untuk melakukan perubahan besar. Perubahan yang positif tentunya.

DARI NOL LAGI
Kembali ke nol bukan kembali ke fitrah, sebenarnya bukan cerita baru. Sudah lama dan seharusnya sudah tidak dipakai lagi. Banyak orang yang setelah mudik dan berlebaran di kampong justru harus melepasakan harta bendanya untuk membayar hutang. Tidak sedikit yang setelah bergelak tawa di kampong halaman harus berurai air mata karena tak tahu lagi apakah esok di rumah yang di kota dapur masih bisa tetap ngebul? Masih ada, mereka yang harus dengan tertunduk lesu melepskan semua yang dipakainya (perhiasan dan kemewahan) karena ternyata semua hanya imitasi. Dari dan mulai dari nol sungguh-sungguh merupakan kengerian dan ketaukan yang harus dihadapi. Ngeri karena harus merangkan mulai dari nol untuk mengumpulkan potongan dan titik-titik reziki (untuk dihabiskan tahun depan). Mulai dari nol bukan ungkapan yang melegakan karena sebagai manusia yang sudah menang dan dimuliakan Allah kembali ke fitrahnya semula.
Mulai dari nol tidak akan dan seharunya menjadi ketakutan pasca-lebaran jika kita mampu mengendalikan diri dan gengsi. Tidak mudah memang. Mana ada manusia yang mau dengan mudah menunjukkan dirinya sebagai orang yang gagal. Saya pun tidak. Tapi masalahnya adalah, ketika gengsi kita terlampau tinggi berada di atas kondisi nyata yang kita miliki, ini yang membahayakan. Ya, memang, tidak gampang untuk bisa mulai dari nol dalam pengertian kembali ke fitrah dan menjalani kehidupan dengan fitrah itu dan mulai dari nol dalam arti harus menghadapi ketakutan karena memang setelah berlebaran kita tidak mempunyai apa-apa untuksekedar menyambung hidup. Tentunya bukan ini hakikat dari IDul Fitri yang di dalamnya hanya menuntut silaturahmi. Ini pendapat saya, bagaimana pendapat Anda?

Comments
  1. Syawal adalah akhir. Ia juga permulaan. Akhir dari rital suci Ramadan. Akhir dari keterburu-buruan spiritual yang begitu bersemangat agar tak tertinggal parsel ampunan dan tiket penukar kavling surga. Karena itu, Syawal menjadi awal dari sebuah kefanaan yang kembali pulang. Fana yang terusir sejenak oleh Ramadan.

    Jika Goenawan Mohamad terang-terangan menyebut bahwa yang dirayakan Ramadan adalah kekosongan (Tatal 59), izinkan saya melengkapinya: Syawal diciptakan untuk mengisi kekosongan itu.

    Awal Syawal adalah lebaran. Di Indonesia, yang justru indah dari lebaran ialah bahwa ia tak identik dengan kesucian. Lebaran adalah pesta, perayaan, kegembiraan, bahkan di sana-sini “kemewahan”.

    Hari ini, pesta itu telah usai. Topeng-topeng dengan karakter penuh maaf telah teronggok di pojok kursi cadangan. Ia baru akan berguna lagi pada satu tahun mendatang. Wajah-wajah pun kembali sibuk dengan topeng-topeng yang lain: Topeng yang selama awal Syawal teronggok di kursi cadangan. Topeng serakah, topeng juru culas, topeng pendusta, topeng ahli keji, bla…bla..bla.

    http://kalipaksi.com/2009/09/28/topeng-bulan-syawal/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s