TElur-Teluran, Siapa Salah Siapa Jadi Korban

Posted: November 3, 2008 in Kritik sosial
Tags: , , ,

Maut di dalam Telur-Teluran

Telur palsu…? Di posting saya sebelumnya saya pernah menulis tentang hal ini. Bedanya, dalam posting sebelumnya, yang saya ungkapkan adalah informasi dan kekuatiran tentang adanya telur palsu tetapi sekarang kekuatiran itu menjadi sebuah kenyataan—telur palsu sudah beredar di pasaran Jawa Timur (sementara ini baru di Surabaya [?]). Metro TV beberapa waktu yang lalu menayangkan berita tentang telur palsu yang sudah beredar di pasar tradisonal di wilayah Surabaya lengkap dengan profil penjual dan pembelinya serta alasan mengomsusmsi produk ini..

Mungkin, sekali lagi mungkin kita bertanya kenapa telur-teluran ini laku di pasaran dan kenapa pasarnya ada—ada yang mau membeli. Apakah hal ini terjadi karena ketidaktahuan baik penjual dan atau pembelinya (mustahil) ataukah ada factor x atau bahkan xxx yang melandasi tindakan ini.

Yang menarik adalah, ketika diwawancarai, seorang ibu pembeli telur-teluran ini mengaku membeli karena harganya yang murah. Rp500/biji dan matang pula. Jelas harga ini jauh lebih murah kalau dibandingkan dengan harga telur beneran yang harganya bisa mencapai Rp1000 atau Rp1.250/biji tetapi mentah. Mungkin, seandainya sang ibu pembeli ini tidak tahu kalau yang dibelinya adalah telur-teluran, pertimbangan harga yang jauh lebih murah plus tidak usah mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli gas/kayu bakar/minyak tanah untuk merebus adalah pertimbangan utamanya. Pertanyaannya di sini adalah apakah dia tidak curiga dengan selisih harga yang begitu jauh? Ya, gak tahulah!

Pasar tentunya tidak bisa dilepaskan dari hukum supply and demand. Mana yang lebih dulu, supply atau demand? Tentunya dua-duanya berpotensi untuk menjadi factor awal. Keduanya saling kait mengait. Demand tidak akan pernah ada tanpa adanya supply. Artinya, produk telur-teluran ini ada karena memang awalnya dibuat dan semakin dibuat dalam skala lebih besar karena adanya respon baik dari pasar yang menuntut adanya supply dalam jumlah yang lebih besar. Itulah hukum pasar dan supply and demand dalam pengerian saya. Lalu siapa yag diuntungkan dalam hal ini? ORANG GILA!! Ya, mereka, siapapun dan dari golongan manapun, adalah orag yang gila. Gila karena tega mengorbankan pihak lain demi mendapatkan keuntungan.

Is Poverty the key factor that people have to consume poison?
Kemiskinan selama ini selalu dijadikan sebagai factor kunci yang membuat orang berani melakukan harakiri (membeli telur palsu yang jelas-jelas berbahaya bagi kesehatan) bukan harakanan. Selalu diasumsikan bahwa kemiskinan membuat orang gelap mata. Orang bisa melakukan apa saja untuk mempertahankan hidup. Memang ada benarnya. Namun begitu, tidak semua orang miskin melakukannya. By the way, saya sering bingung dengan criteria kemiskinan di negeri ini. Banyak criteria yang dipakai untuk menjelaskan bahwa seseorang termasuk dalam kategori miskin. Pertanyaan terbesar berkaitan dengan kemiskinan adalah kapan kemiskinan bisa diakhiri (kalau tidak mungkin,dikurangi secara drastic). Itu saja!

Siapa yang Salah??
Pertanyaan ini adalah jurus maut pamungkas yang seringkali, tanpa kita sadari sering kita pakai dan mainkan. Jurus jari sesat. Kita selalu berusaha mengambinghitamkan pihak-pihak tertentu. Jangan salahkan siapa-siapa. Yang perlu kita tanyakan adalah bagaimana cara untuk mencegah hal-hal dan peracunan-peracunan melalui berbagai produk beracun tidak terus terulang di negeri ini serta bagaimana cara yang tepat untuk menanamkan kesadaran untuk tidak mengomsumsi produk murah tetapi berbahaya. Mau tidak mau, kesejahteraan sosiallah senjata yang paling ampuh. Ini tidak gampang. Perlu kerja keras dan kesungguhan serta kemauan dan keberanian untuk bertindak dan menindak pihak-pihak yang terbukti meracuni bangsa ini.

Sekali lagi, ini tidak gampang. Rakyat tidak akan dengan sangat terpaksa makan makanan beracun kalau dia cukup memiliki daya beli. Tidak perlu kaya! Orang tidak akan cupet nalar kalau dia mempunyai kemampuan berpikir yang baik. Caranya? Sekolah dan pendidikan! Mungkin saat ini belum bisa gratis tetapi harus diuapayakan pendidkan yang affordable. Artinya, rakyat bisa mendapatkan pengajaran dengan biaya yang memadai. Mentalitas panang kompromi hanya bisa dicapai kalau orang tidak lapar, bisa berpikir baik dan sehat jasmani dan rohaninya. So, what to do? Berikan pelayanan kesehatan murah. Hal-hal ini tampaknya memang sudah diupayakan tetapi masih belum maksimal. Ya, butuh kerja keras untuk mewujudkannya.

Dari kasus telur palsu ini ada beberap hal yang bisa kita peroleh. Pertama, ternyata produk-produk liar semcam itu bisa bebas berkeliaran di masyarakat. Ini perlu solusi. Kalau sekarang telur yang dipalsukan, apakah nanti bukan ayam atau sapi yang dipalsukan. Kedua, ternyata masih banyak orang yang terpaksa harus hara-kiri untuk mempertahankan hidup karena desakan ekonomi walaupun ini bukan satu-satunya factor kunci. Terakhir, kita masih perlu bersatu untuk bersama-sama mewujudkan kesejahteraan social bukan melalui gerakan radikal atau revolusi tetapi sebuah upaya bersama atas dasar kebersamaan untuk membangun bangsa dan Negara. Struggle and labor for the future of our nation and generation. Mampukah dan mampukah kita mewujudkannya supaya serangan produk palsu yang entah apa tujuan jangka panjang dan pendeknya tidak terus mendekati kita. Kita bukan bangsa lemah. Kita kuat kalau kita mau.

Comments
  1. forlan says:

    saya pernah makan telur palsu. harganya murah saya tidak tahu. kalo sekarang grats juga gak mau

  2. Agus MK says:

    HA HA HA HA HA HA HA HA ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s