Konflik KaJI-KarSa:Lain Padang Sama Masalahnya Lain Calon Pemimpin SamaTidak Legowonya

Posted: December 1, 2008 in Kritik sosial
Tags: , ,

Pilgub Jatim setali tiga uang dengan daerah-daerah lainnya di persada ini—kisruh!! Kisruh dan hapir ricuh ini, dimana-mana, penyebabnya sama—ketidakpuasan dan ketidaksiapan salah satu pasangan calon pemimpin untuk menerima “kekalahan”. Bahasa kerennya mereka tidak atau belum bisa legowo dan dengan besar hati menerima “kekalahan” . Kekalahan dalam pertarungan tetap dirasakan sebagai sesuatu yang menyakitkan dan tidak boleh diterima begitu saja. Pahit! But, apakah ini profil sepasang calon pemimpin ideal? Walahualam; only heaven knows!!
Legowo sering diplesetkan, dalam asosiasi negative, sebagai lego tur dhowo (memuaskan dan panjang; ini terjemahan bebas lho). Yang jelas dan gampang, legowo bisa diterjemahkan sebagai kesiapan dengan lapang dada untuk menerima hal yang kurang baik yang menimpa kita. Anda punya pengertian lain, silahkan tambahkan di space comment ya. Nah, apa hubungannya pasangan cagub Jatim KaJi-KarSa dengan legowo ini??
Konflik antara pasangan KaJi dan Karsa untuk menduduki kursi jabata gubernur dan wakil gubernur, bagi saya secara pribadi, sungguh sangat memilukan. Memilukan bukan karena salah satu pasangan atau keduanya adalah orang-orang yang saya jagokan. Saya adalah nonvoter alias golput dalam pemilihan mereka. Apapun tanggapan anda tentang status saya sebagai nonvoter, adalah tanggapan yang sah dan saya hormati. Saya idak mengunggulkan atau menjagokan salah satu pasangan karena sudah terlalu muak dengan banyak peristiwa menyedihkan di balik pilkada. Janji-janji manis tapi berbisa dan pembodohan terhadap rakyat.
Yang lebih menyedihkan adalah, pasangan KaJi berencana mengumbar aib dan borok ke PBB dengan penuh kepercayaan diri (lebih tepatnya kekerdilan jiwa). Ini bukan berarti saya tidak mendukung uoaya pasangan KaJi untuk mencari “kebenaran” melalui saluran-saluran yang benar. Saya mendukung upaya pasangan ini untuk menyalurkan ketidakpuasannya melalui saluran-saluran yang benar (KPU s/d MK). Saya mendukung hal itu walaupun saya adalah golput dan tidak menjagokan mereka ataupun pasangan KarSa. Namun begitu, yang saya sayangkan adalah dipakainya pola-pola lama seperti memobilisasi massa yang belum tentu mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya untuk mengagalkan/menolak hasil perhitungan suara yang dilakukan oleh KPU. Selain mobilisasi massa yang sangat rentan ditunggangi oleh pihak ketiga dan berpotensi menimbulkan konflik di tingkat akar rumput, niat pasangan KaJi untuk mengadu ke PBB, menurut saya, adalah tindakan naïf dan haya menunjukkan ketidakmampuan untuk mengelola konflik. Berteriak-teriak kepada tetangga untuk memberitahukan keburukan hanya akan membua tetangga tertawa sinis melihat kebodohan kita. Bu, Pak..pikir panjang sebelum membawa borok ke rumah tetangga!!
Memang, tidak mudah untuk menerima kekalahan apalagi kalau sebelumnya dengan berbagai pikiran dan asumsi-banyak teman, banyak dukungan, kita sudah berpikir bahwa kita pasti menang. Kita yang besar dan musuh kita kecil. Paling tidak, kasus pertarungan antara David dan Goliat terulang lagi. Apakah kita, karena asumsi semacam itu, sebenarnya tidak sedang over confidence atau GR (gede rasa)? Lepas dari adanya bukti kecuranagan yang dilakukan oleh pihak lawan, apakah tidak sebaiknya kalau kedua pasangan sama-sama bertanya dan berani menindak kalau ada bagian-bagian dari team suksesnya yang melakukan kecurangan. Isu kecurangan selalu dipakai sebagai senjata.
Konflik selalu menyisakan masalah. Masalah bagi rakyat kecil. Rakyat yang sudah lelah tetai harus tetap fight untuk mempertahankan kehidupan dan penghidupannya yang masih sangat berat disuguhi drama politik yang naïf dan cenderung dijadikan obyek dengan cara dimobilisasi untuk kepentingan salah satu pasangan calon pemimpin. Selain itu, permintaan pasangan KaJi untuk mengulang proses pilkada juga menjadi hal yang naïf. Mengulang pilkada gampang (kalau ada duwitnya) ketika ada cukup dana, sumber daya, dan emosi untuk melakukannya kembali. Kenapa yang diserukan hanya pemilihan ulang, bukan dan itidak memikirkan keadaan rakyat yang harus berkurang penghasilannya karena waktu kerjanya berkurang?
Memang, selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah perubahan. Tetapi pertanyaannya adalah, apakah benar dan sungguh kalau yang meminta pilkada diulang menjadi pemimpin akan ingat janjinya? Apakah membayar harga selalu diidentikkan dengan melakukan hal yang sia-sia dan membuat rakyat selalu berada pada posisi sebagai yang kalah dan yang harus manut? Tidak begitu buka?
Legowo adalah satu kata yang sangat mudah diucapkan dalam kampanye untuk meraih simpati public tetapi sangat sulit untu diaplikasikan. Ketika jabatan menjadi tujuan, maka legowo hanya tinggal kenangan dan slogan pemanis bibir. Tidak lebih.
Legowo, lapang dada, ikhlas menerima kekalahan mutlak harus dimiliki oleh calon pemimpin. Tanpa memiliki hal-hal ini mustahil pemimpin mampu menjadi pemimpin yang baik untuk orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin tak ubahnya sepeti orangtua bagi orang yang dipimpinnya. Anak akan selalu meneladani orangtuanya. Bagiamana mungkin orangtua menuntut anak untuk menjadi seorang yang mempunyai sifat ksatria kalau dia sendiri bukan dan tidak mau menjadi seorang ksatria yang legowo menerima kekalahan. Apakah itu berarti tidak boleh menuntut kalau kita dicurangi? Legowo dan ikhlas tidak pernah menutup jalan untuk mencari dan memunculkan kebenaran. Yang dihalangi oleh ikhlas dan legowo adalah berteriak-teriak di rumah tetangga tentang keburukan orang lain (karena kita pun tidak seperti yang kita teriakkan). Pertanyaannya sekarang adalah, apakah gubernur (jabatan) adalah tujuan ataukah alat untuk mensejahterakan rakyat. Kalau ujuan, pantaslah anda merasa tersakiti dan berteriak-teriak di rumah tetangga. Kalau alat, anda akan mampu legowo dengan tetap mengupayakan melalui cara yang benar untuk memunculkan kebenaran bukan dengan memobilisasi massa dan hendak mengadunya dengan bangsa dan saudara mereka sendiri untuk kepentingan anda wahai calon pemimpin. Mampukah kita menerjemahkan legowo dalam konteks dan arti yang sebenarnya untuk rakyat yang akan anda pimpin. Ini hanyalah suara seorang golput yang sudah jenuh dengan slogan-slogan muluk tanpa bukti. Apakah kita kan memilih seorang pecundang untuk memimpin kita? Tentu tidak buka!!

Comments
  1. berantaskorupsi says:

    Yah itulah sifat manusia mas..mau menang sendiri.
    Btw kalo mw tukaran link, pasang link saya trus ka$ih koment aja..ntar pasti saya link blik.

  2. Agus MK says:

    Hai mas Bayu…
    Sebelumnya met tahun baru yaa…

    Setuju mas, saya juga ada di jalur golput seperti anda.
    Jangan salahkan saya menjadi golput atau apriori,karena rakyat terutama saya sudah jenuh dengan slogan-slogan muluk tanpa bukti.

    Kita sebenarnya kalaumau bisa meniru apa yang terjadi di Amerika baru ini, bukan sok kebarat baratan sehingga jadi kebarat kebirit.
    Mari yang baik kita tiru , yang buruk tinggalkan saja.

    HIDUP GOLPLUT …. !😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s