Pemilu:Haruskah kita ikut memilih?

Posted: February 11, 2009 in Kritik sosial
Tags: , , ,

Pemilu datang lagi. April mendatang. Cepat sekali rasanya. Entah sudah berapa kali saya memilih. Tapi, kali ini saya benar-benar tidak ingin ikutan lagi. Eit, sorry, saya tidak sedang mengajari dan mengajak anda untuk menjadi golput. Emangnya siapa saya kok berani-beraninya ngajak orang golput.
Menjelang pemilu, peristiwa yang paling saya kenang adalah kampanye dan “pernak-pernik” yang mengikutinya. Tidak ada hal baru setiap kali menjelang pemilu.itu-itu saja. Gayanya tetap lama walaupun tahun pemilunya baru. Hal-hal lama yang selalu dimunculkan adalah:pertama, sikap narsis-merasa diri lebih baik dan yang paling baik. Partai A merasa lebih baik dari partai B. Capres A merasa lebih pintar dan baik dari Capres C. Parpol D merasa lebih berjasa dari parpol f. simpatisan parpol g merasa paling baik dan peduli kepada kepentingan rakyat. Pertanyaannya, rakyat yang mana?
Narsisime capres, parpol dan para simpatisannya juga tidak berhenti sampai disitu. Janji-janji manis bersalut madu tetapi berisi racun juga makin gencar disuarakan. Janji perubahan. Perubahan apa dan menjadi seperti apa? Janji mengetaskan rakyat miskin dan janji-janji beracun lainnya makin sering didengungkan. Semua calon pemimpin tampil bak dewa yang suci dan juru selamat bagi rakyatnya. Namun sayangnya dewa suci itu adalah dewa mabuk. Mabuk kekuasaan dan harta. Tidak semua memang yang seperti itu tapi kebanyakan.
Dalam euphoria atau tepatnya kegilaan seperti ini, kerap kali yang dipromosikan melalui janji-janji palsu itu sebenarnya adalah upaya pembodohan. Tak semua memang yang seperti itu. Namun sayangnya, entah sadar atau tidak, upaya-upaya pembodohan semacam itu sudah dketahui secara luas oleh rakyat. Rakyat tahu kalau hanya dijadikan sebagai lumbung suara untuk mendudukkan pasangan calon ke kursi yang didambakannya dan kelompoknya. Saying sekali, (trik) anda ketahuan. Rakyat tahu trik anda.
Narsisme calon-calo pemimpin kelihatan dan diperlihatkan kepada public dengan cara yang kekanak-kanakan. Seperti anak TK, kata Gus Dur. Bagaimana tidak, tidak segan-segan capres melontarkan sindiran keras kepada lawan politiknya dengan berbagai ungkapan (satir parodik) seperti poco-poco, yo-yo, do nothing dan nothing to do dan entah apalagi. Parahnya lagi, si narsis berani mengatakan orang-orang yang golput tidak layak tinggal di Indonesia. Emang ada republic untuk para golput? Golput ada bukan tanpa alasan bung!
Selain narsisme, “ayu-ayuan” dan “merakyat-merakyatan” juga diekspos besar-besaran. Capres tidak segan-segan turun ke pasar untuk melihat-lihat dan membeli souvenir sekeranjang cabe. Inikah sikap prorakyat? No way! Kadang ada capres yang berani menggendong anak-anak kumal dan tidak terurus dengan ekspresi prihatin dan kebapakan/keibuan. Namun sayangnya ini adalah ekspresi “kebapak-bapakan/keibu-ibuan”. Bohong, lipservice, atau abang-abange lambe dalam bahasa jawa kalau tidak sopan dikatakan sebagai munafik.
Apa tujuan dari semuanya itu. Kursi! Ya, kursi. Entah kursi RI1, RI2…. Kursi is power. Power is duwit. Tapi seandainya kagak ada duwitnya, kursi is prestise. Bodohkah kita? semoga tidak. Sulit memang membedakan mana malaikat sejati dan penjahat sejati dalam situasi seperti ini. Sulit memang membedakan antara negarawan sejati yang benar-benar berjuang untuk rakyat dengan negarawan-negarawanan yang munafik yang hanya mengejar harta dan kedudukan dan kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Berapa banyak pasangan calon pemimpin yang marah-marah, mengadu ke MK ketika kalah bersaing dengan rivalnya. Berapa banyak yang berani secara terbuka mengatakan selamat kepada rivalnya yang memenangi pemilihan walaupun hanya beda sedikit suara. Berapa banyak? Berapa banyak pasangan calon pemimpin yang berani mengatakan tidak mau meminta pemilihan ulang dengan berbagai alasan karena bisa legowo menerima kekalahan? Bukankah yang sering ditampilkan adalah yang sebaliknya? Inikah calon pemimpin sejati yang pro rakyat itu. No way!!!
Kondisinya memang sedang sulit. Semua berusaha tampil baik dengan berbagai cara. Semua berusaha mencitrakan dirinya sebagai pemimpin yang adil, baik dan bijaksana. Semua pada pamer kekuatan dengan jor-joran beriklan diberbagai media dengan dana miliaran. Apakah tidak boleh? Boleh, siapa yang nglarang. Gak ada yang nglarang selama itu duitnya sendiri dan bukan sebagai semacam investasi yang akan dipanen nanti ketika terpilih dengan cara menekan rakyat. Mungkinkah orang atau sekelompok orang rela keluar duit puluhan miliar untuk kerja social. Tidak ada makan siang gratis bung!
Ya, ya, semuanya kembali kepada kita. kitalah yang menentukan. Kita harus jeli memilih. Kalau memang hati kecil anda mengatakan anda harus memilih, pilihlah calon yang bisa diandalkan. Tapi ingatlah, calon itu bukan Tuhan. Dia manusia juga seperti saya dan anda yang memiliki banyak kekurangan. Salah satu kekurangannya, mungkin, sekali lagi mungkin, dia bisa melupakan janji-janjinya (ini sudah biasa) dan lebih buas dari harimau lapar dan raja tega. Tega menindas rakyat untuk menarik kembali investasnya plus bunganya. Ya, berhati-hatilah. Nurani anda adalah pemandau yang bisa diandalkan. Jangan percaya media, jangan percaya tokoh A, B, atau C. jangan percaya apapun selain hati anda. Silahkan memilih atau tidak memilih.
Sesulit apapun kondisinya dan segemerlap apapun berusaha ditampilkan sosok capres-cawpres, kita harus tetap jeli memilih. Tak selamanya yang berkilauan itu emas. Tetapi tak selamanya juga yang yang kelihatan diam memang gak bermutu. Pertanyaannya, adakah yang hanya tinggal diam. Yang kita saksikan saat ini sebenarnya hanyalah gelegar dan gemerlap semu pentas politik. Gelegar dan gemerlap yang terbatas danakan segera sirna. Akan ada saatnya topeng-topeng dan senyum manis capres dan cawapres akan terbuka. Bahkan kadang-kadang nanti mereka bisa “telanjang bulat dan bugil”. Ya, pandai-pandailah kita memilih. Pilihlah yang memang layak dipilih. Gak perlu silau dengan besar dan lamanya kampanye di media. Gak perlu terbujuk oleh klaim dan pengakuan-pengakuan sepihak yang mengatakan akan membawa perubahan. Ingatlah, sekali lagi mari kita ingat,”TIDAK ADA MAKAN SIANG GRATIS.” Semua sudah dihitung dan diperhitungkan. Biarkan yang berkepentingan saling mengolok dan mengejek tetapi kita, rakyat harus tetap melihat dan mengamati siapa dan bagaimana kualitas yang sedang bertikai. Jangan tergoda iming-iming dan kita dimobilisasi untuk saling berbenturan dengan bangsa sendiri. Parpol bukan Negara. Parpol bukan bangsa. Mereka punya agenda sendiri. Mari kita bersatu. Memilih atau tidak memilih adalah hak kita. kalau kita memutuskan untuk tidak memilih, jangan ngajak-ajak orang lain dan kompor-kompor supaya orang lain ikut-ikutan tidak memilih dan anarkis. Golput boleh, anarkis haram. Bagaiamana pendapat anda?

Comments
  1. Agus MK says:

    Saya sekali lagi setuju dengan anda masalah golput .
    Itu juga hak kita sebagai warga negara kan ?

    Terutama pemilihan legislatif yang akan datang ini, saya dah bulat tekad ngak ikut nyontreng, abis males tiba – tiba aja di daerah saya itu muncul orang – orang yang ngak kita kenal dan mengaku ingin mewakili daerah tertentu ??
    Seperti jamur di musim hujan…
    Ngak jelas asal usulnya dan integritasnya.

    Tapi kalo pemilihan presiden … ehmm
    saya rasa suara saya layak untuk di dengar.
    Jadi saya akan ikuuuuuut ….

    Hidup GOLPLUT….

  2. gunawanbayu says:

    Thanks. ya, ikutlah yang memang menurut hati nurani anda harus ikut. karena bagaimanapun juga, anda adalah warga negara yang memiliki hak yang sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s