SUSUKU, SUSUMU, SUSUNYA

Posted: February 11, 2009 in Kritik sosial
Tags: , , ,

Masih ingat heboh kasus puluhan merek susu formula bayi yang ditengarai mengandung/terkontaminasi bakteri sazaki menurut hasil riset tim (2 orang) IPB? Masih ingat geger kasus susu yang mengandung melamin di Tiongkok yang menewaskan sedikitnya 5 bayi dan ratusan lainnya mengalami gangguan disaluran kecing akibat mengonsumsi produk susu bermalamin itu? Kalau masih ingat, coba pikir lagi, apa perbedaan dan persamaan tindakan yang dilakukan pemerintah untuk menangani 2 kasus yang hampir sama (susu terkontaminasi) 2 dua tempat yang berbeda (di Tiongkok dan di Indonesia). Tepat! Di Tiongkok, pemerintah berani menindak tegas dan membuka secara luas kasus ini sedangkan di persada ini gemanya nyaris tak terdengar dan hilang bersama desau sang angin lalu. Gak jelas gitu loh...
Gatra edisi No. 12 Thn XV, 29-4 Febuari 2009 hal 12 melaporkan, pemerintah Tiongkok menjatuhkan hukuman mati kepada Zhang Yujun dan Geng Jinping yang secara sengaja mencampurkan melamin ke dalam susu untuk membuat seolah-olah produk susu ini kandungan proteinnya tinggi. Tak hanya mereka, General Manajer Sanlu Grup, produsen susu, diganjar seumur hidup mendekam di terali besi. Sementara pelaku-pelaku lainnya dijatuhi hukuman antara 5-15 tahun dibui. Good, that’s good.
Bukan bermaksud mendiskreditkan bangsa dan pemerintah kita, saya cenderung mengatakan pemerintah negeri ini lamban dan kurang memiliki keberanian. Buktinya? Adakah penanganan yang serius dalam hal produk susu yang terkontaminasi bakteri zakasaki? Ada sih, tapi hanya sebatas diteliti dan tidak dipublikasikan secara luas merek-merek produk susu bermaslah tersebut. Parahnya lagi, pemerintah sepertinya tidak mempunyai kekuasaan untuk “memaksa” peneliti atau institusi yang menaungi dan tempat menyimpan data-data hasil penelitian yang temuannya mengindikasikan adanya kontaminasi bakteri untuk mempublikasikan temuan itu. Memang, kita tidak bisa grusa-grusu dalam hal-hal seperti ini karena ini menyangkut “hajat hidup orang banyak.” Hajat hidup yang saya maksud adalah kepentingan-kepentingan ekonomis seperti kelangsungan hidup tenaga kerja/buruh yang bekerja di pabrik susu dan ketenangan masyarakat luas. Apakah tidak grusa-grusu itu berarti menutup-nutupi yang sebanarnya terjadi. Tentunya tidak, bukan?
Dengan tetap menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah dan kehormatan bangsa, saya ingin mengatakan bahwa dalam hal ketegasan dan kepedulian terhadap bangsa dan rakyat, mohon maaf, pemerintah Tiongkok, dalam kasus-kasus semacam ini nilainya A sementara pemerintah kita B-. saya tidak sedang mengatakan bahwa pemerintah Tiongkok lebih ciamik dalam segala hal. Tidak. But, mereka terbukti lebih ciamik dan serius menangani masalah yang bersinggungan dengan pangan dan masa depan bangsanya. Ya, ya, saya juga tahu pemerintah kita juga sangat care dan concern terhadap kehidupan rakyat dan masa depan generasi mudanya tetapi dalam menangani kasus yang hampir sama seperti ini, pemerintah kita kurang berani.
Memang, tak selamanya kita bisa dan harus meniru Tiongkok. Indonesia berbeda dari Tiongkok begitu juga sebaliknya. Namun begitu, soal keberanian bersikap dan bertindak untuk menyikapi orang-orang atau kelompok yang membahayakan manusia lain dan bangsa, Tiongkok lebih berani. Dimana-mana, yang namanya meracuni pihak lain (kasus susu bermelamin) secara universal pasti dianggap sebagai tindakan biadab dan membahayakan sehingga pelakunya harus ditindak tegas bahkan sangat tegas. Keras kalau perlu supaya ada efek jera bagi yang lain. Kontaminasi bakteri zakazaki memang berbeda kasusnya dengan masuknya melamin ke dalam susu formula bayi di Tiongkok. Beda, memang. Tetapi satu hal yang sama adalah, seharusnya diteliti kembali apakah bakteri itu masuk secara tak sengaja atau ada tangan-tangan setan yang membuatnya ada. Kalau kebetulan, kok yang terkontaminasi puluhan merek. Kalau disengaja, kok bisa masuk ke puluhan merek produk susu formula untuk bayi. Ini sebenarnya yang harus dicarikan jawabannya, bukan? Pasti akan ada win-win solution kalau hal ini dilakukan. Pengusaha untung (kalau terbukti tidak melakukan konspirasi jahat), rakyat juga tidak ketakutan dan mengembangkan syu’udhon di dalam hatinya.
Tapi, gak tahulah, apakah memang kita ini diprogram untuk terus hidup dalam ketakutan dan kecemasan terus-menerus yang pada gilirannya nanti akan menjadi bumerang yang bisa merusak kehidupan bersama di bumi pancasila. Orang mudah curiga. Orang akan mudah melampiasakan kecurigaannya dalam berbagai tindakan negatif. Orang akan mudah mencari-cari pembenaran untuk perilakunya yang tidak benar dengan beralasan tidak pernah mendapat informasi yang jelas dan sehat.
Sekali lagi, berkaca ke cermin tetangga sesekali perlu kita lakukan. Percuma studi banding sana-sini dengan menghamburkan miliaran rupiah uang rakyat tetapi hasilnya tak lebih dari sebuah jalan-jalan rekreasi. Ya, mungkin ada beberapa bagian di cermin tetangga yang kita lihat buruk. Tetapi seburuk-buruknya cermin tetangga, pasti ada hal baik di dalamnya. Tidak ada ruginya bercermin ke cermin tetangga sesekali. Yang celaka adalah kalau kita bercermin ke cermin tetangga dan kita ingin menjadi seperti tetangga kita secara total. Ini yang tidak benar. Semoga kasus susu ini bisa membuat kita merefleksi kembali apa yang sebenarnya sedang kita lakukan dengan dan kepada bangsa kita. kiranya susuku, susumu dan susunya akan menjadi susu kita yang sehat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s