Ponari dan Batas Kewarasan Sosial Kita

Posted: February 16, 2009 in Kritik sosial
Tags: , ,

PONARI AND LIMIT OF OUR SOCIAL SANITY

Kemunculan Ponari sebagai (katanya) dukun cilik yang sanggup mengobati segala jenis penyakit (?) sungguh fenomenal. Tidak hanya untuk masayarakat di desanya, tetapi juga masayarakat di seluruh negeri ini. Heboh kesembuhan dari tangan dukun cilik Ponari dengan hanya mencelupkan batu yang diyakini dibawa oleh petir sontak menjadi buah bibir. Media massa ramai meng-expose kesaktian sang dukun cilik dan tuah batu petirnya. Expose media massa memancing minat orang untuk datang meminta pertolongan dan kesembuhan kepada sang dukun dan batu ajaibnya. Bukan hanya puluhan atau ratusan orang yang mau dan rela antre untuk mendapatkan kesembuhan setelah meminum air putih yang ke dalamnya batu petir dan tangan Ponari dicelupkan. Banyak yang “sembuh” tetapi tidak sedikit yang kecewa. Biasa!!
Ponari bak magnet raksasa yang mampu menarik puluhan ribu orang untuk tumplek blek di sebuah dusun kecil. Bahkan, kerumunan massa dengan kepentingan yang sama—sembuh dari berbagai penyakit menimbulkan jatuhnya empat korban meninggal. Bahkan, sampai-sampai aparat kemanan tak kuasa membendung arus massa. Tak hanya itu, Bupati pun sampai menutup praktek Ponari untuk menghindarkan semakin besarnya ekses sebagai akibat sampingan dari fenomena sang dukun cilik Ponari.
Ada banyak hal yang bisa dicermati dari fenomena dukun Tiban yang ternyata tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri ketika jatuh sakit karena kelelahan. Dia masih buth dokter! Yang menarik bagi saya behind this Ponari phenomenon adalah (tampak) hilangnya batas kewarasan sosial kita. Benarkah?
Hilangnya batas kewarasan sosial kita bisa dilihat dari berjubel dan berjibunnya orang yang berbondong-bondong mendatangi kediaman (katanya) titisan sang dewa petir-Gundala? Puluhan ribu orang bergerak dan digerakkan oleh satu keinginan yang sama—menemukan jalan kesembuhan baik untuk dirinya sendiri dan orang-orang yang dikasihi. Keinginan itu berubah menjadi keinginan dan hasrat kolektif. Namun sayangnya, keinginan dan hasrat yang sama tersebut dinodai oleh jatuhnya korban jiwa karena keegoisan. Kolektivitas yang tak lagi sepenuhnya kolektifitas yang murni. Kolektivitas dan ego saling tumpang tindih dan tidak jelas batasnya. Berebut, itulah yang terjadi. Berebut untuk mendapatkan tuah sang batu gundala.
Hilangnya batas kewarasan sosial kita juga bisa dilihat dari betapa orang mudah digerakkan untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya oleh sebagain besar orang dianggap tidak layak dilakukan. Meminum air comberan yang mengalir dari rumah dan saluran air buangan di rumah sang bocah ajaib. Sugesti ternyata lebih memimpin dan menjadi pengendali yang sepenuhnya memegang kendali dan mengarahkan massa untuk melakukan hal yang tidak masuk akal. Kalau kita pernah menyaksikan acara FEAR FACTOR di TV, berapa banyak dari kita, seandainya diminta untuk melakukan/meniru adegan yang sama dengan yang ditayangkan secara sukarela mengikutinya. Di-audisi sekalipun sebagai calon peserta berapa banyak orang yang mau? Tapi lihatlah, berapa banyak orang yang mau dan secara sukarela meminum air comberan karena sebuah sugesti. Ada apa dengan kewarasan kita?
Raibnya batas kewarasan kita juga bisa dilihat dalam hilangnya faktor Tuhan dalam fenomena Ponari. Berbicara tentang Tuhan dalam kondisi seperti ini tidaklah mudah. Banyak orang yang meyakini fenomena jombang adalah bagian dari skenario faktor Tuhan. Tuhan memakai Ponari dan batunya untuk menolong banyak orang. Benarkah begitu? Sulit, sekali lagi sulit berbicara dan membicarakan faktor Tuhan dalam kondisi seperti ini. Tidak jelas lagi mana yang syirik dan mana yang musrik. Hampir tidak ada bedanya antara yang dianjurkan dan yang dilarang agama. Kalau kita bersikukuh Ponari adalah bagian dari skenario Tuhan, pertanyaan saya adalah, mari kita lihat dan baca kitab suci kita masing-masing, pernahkan Tuhan memerintahkan umatNya untuk meminum air comberan untuk mendapat kesembuhan? Apalagi subjeknya (Ponari) bukanlah Tuhan. Adakah yang menemukan ajaran di dalam kitab suci kita Tuhan menganjurkan indakan yang seperti itu?
Saya tidak sedang mengatakan bahwa fenomena Ponari dan batu halilintarnya sebagai bagian dari skenario penyesatan yang dilakukan oleh setan. Tidak dan bukan sama sekali. Saya hanya ingin mengatakan bahwa dalam kondisi-kondisi tertentu, kita, manusia, tetapi tidak semua, mudah larut dalam tindakan dan budaya kolektif walaupun hanya sesaat.
Bukti terakhir dari hilangnya batas kewarasan sosial kita bisa dilihat dalam tindakan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang menganiaya ayah Ponari karena merasa dihalangi untuk mendapatkan kesembuhan (lihat Jawa Pos Edisi Minggu 15 Febuari 2009). Ayah Ponari menyadari kalau anakna sedang dieksploitasi sehingga dia berusaha mengembalikan sang anak ke kehidupannya sebagai seorang kanak-kanak dalam arti yang sebenarnya tanpa terbebani oleh “tugas” yang tidak seharusnya dia pikul. Disini yang terjadi adalah bumerang mulai memakan tuannya. Massa tidak rela kehilangan kesaktian ponari dan batu petirnya. Mungkin ini adalah kesempatan mendapatkan pengobatan instan dan gratis walaupun hasilnya masih perlu dipertanyakan. Kekecewaan dan ketakutan massa kehilangan momen tersebutlah yang mendorong sekelompok orang untuk melakukan penganiayaan. Hati nurani tak lagi di dengar ketika berbicara. Yang penting sembuh, persetan orang lain mau sakit atau lelah. Inilah bukti dari ketidakwarasan sesaat kita sebagai manusia. Dalam kondisi seperti ini manusia menjadi srigala bagi manusia lain (homo homoni lupus).
Itulah yang saya cermati dari fenomena Ponari. Sekali lagi, saya tidak bermaksud merendahkan atau menghina siapapun. Saya menghormati berbagai versi analalisis-spiritual, sosial, klinis, dsb tentang fenomena ini. Namun yang ingin saya katakan adalah, berdasarkan bukti yang ada, kita sebagai manusia tetap adalah makhluk yang terbatas dan seringkali tunduk kepada kolektivitas dan melakukan sebuah tindakan bersama walaupun tindakan tersebut sebenarnya tidak masuk akal dan hanya didasari oleh sugesti belaka. Ya, inilah yang terjadi. Paling tidak, kita bisa bercermin dari kasus ini untuk melihat apakah dalam kondisi dan titik-titik tertentu kita masih tetap tidak keihalangan batas kewarasan sosial kita, atau apakah justru sebaliknya. Bagaimana pendapat anda?

Comments
  1. akangckp says:

    Ponari=Sebuah ironi ditengah Ilmu pengetahuan kedokteran yang sudah sangat modern, maju namu TIDAK BERPRI KEMANUSIAAN…

    Lihat saja, dokter2 yang ada di indonesia… berapa % (0,0000000000001%?) yang menggunakan akal sehat dalam membantu kemanusiaan dengan tarif/harga yang wajar????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s