America: Barbarian or Chicken

Posted: February 27, 2009 in Kritik sosial
Tags: , ,

Gatra edisi No. 15 Tahun XV, 19-25 Febuari 2009 hal 72, dalam kolom Internasionalnya menampilkan seuah berita berjudul “Cerita Lucu dan Konyol George Bush”. Kolom ini menyampaikan kembali isi wawancara yang dilakukan oleh Matt Taibbi, wartawan majalah Rolling Stone dengan George Walker Bush, beberapa hari sebelum masa jabatannya berakhir.
Memang ada yang menurut saya konyol tapi sebenarnya gak konyol-konyol amat tetapi lebih mengarah kepada sikap kurang berani mengakui kesalaha. Condoleza Rice yang kentut ttetapi tidak mau mengakui “emisi gas buangnya”. Dia malah bertanya, bunyi apa yang baru didengar banyak orang di ruang rapat. Setahun kemudian dia baru berani mengakui telah buang “emisi’. Cerita konyol dan lucu lainnya, adalah copotnya gigi palsu Donald Rumsfeld yang selanjutya diambil dan dibwa lari oleh anjing istana.
Satu cerita yang tidak lucu dan bahkan jauh dari konyol adalah tewasnya seorang anak Laos bernama Manny. Manny dianggap ada pada waktu dan tempat yang tidak tepat. Begini cerita yang saya ambil dari Gatra (edisi lihat di awal kalimat alinea pertama). Ketika wakil presiden Dick Cheney dan Donald Rumsfeld sedang berdiskusi tentang metode interogasi yang legal, Manny muncul di tempat itu untuk mengantar kopi. Manny yang adalah anak asli Laos yang dipungut staf kementrian Luar Negeri setelah ibu dan empat saudarinya tewas menginjak ranjau, dijadikan kelinci percobaan oleh dua oknum pejabat Gedung Putih untuk menguji metode waterboarding.
Manny, si anak malang itu, diperintahkan untuk telentang di atas meja, matanya ditutup dengan sapu tangan. Cheney lalu mengguyur mulut dan hidungnya dengan air dingin. Manny megap-megap. Rumsfeld ingin menambah penderitaan si anak malang itu dengan menungkan kopi panas ke telinga dan mata Manny (kalau Anda melihat hal ini, kesimpulan apa yang akan anda tarik untuk menilai pelakunya—iblis!) Chenny mencegah Rumsfeld untuk hal ini. Namun air tetap diguyurkan ke hidung Manny (sekuat apapun Manny, pasti dia pasti sangat menderita dan kehabisan nafas). Sekali lagi, netter, apa yang akan anda katakan tentang peristiwa ini dan para pelakunya?
Karena merasa kurang yakin atas keberhasilan metode itu, Rumsfeld mengeluarkan korek api dari sakunya. Ia lalu menyulut kedua telinga Manny. Manny kontan mengerang kesakitan dan mati tanpa dikethaui oleh Rumsfeld dan Dick Cheney. Luar biasa, BIADAB!!!!
Cerita konyol dan lucu versi Amerika, dalam Gatra, ditutup dengan ucapan G. W. Bush. Bukan permintaan maaf atas kematian Manny. Dengan sangat enteng Bush mengatakan,”kami harus mencari jongos baru.” Sayang, Gatra tidak menampilkan perkataan asli Bush dalam versi bahasa Inggrisnya sehingga saya atau anda tidak bisa tahu apa kata yang diterjemahkan dengan “jongos” yang sangat berkonotasi negatif dalam bahasa Indonesia masa kini.
Dengan tetap menjunjung tinggi azas praduga takbersalah saya mengajak Anda berpikir dan merefleksikan kembali apa yang terjadi pada Manny dan siapa sebenarnya orang Amerika. Pun begitu, saya tidak menulis artikel ini atas nama dan berdasarkan kebencian terhadap Amerika secara keseluruhan. Di Amerika masih ada sangat banyak orang baik!!
Mari kita mulai. Saya cenderung mengatakan bahwa apa yang terjadi (bukan kebetulan) terhadap Manny si anak Laos yang malang itu karena tindakan oknum-oknum petinggi Amerika sebenarnya menunjukkan bahwa orang-orang Amerika (tertentu) merasa diri superior. Merasa lebih tinggi dari orang lain dan bangsa lain. Buktinya? Tidak ada satupun permintaan maaf atas kematian Manny yang jelas-jelas terjadi karena kesengajaan pelakunya. Bahkan, dengan entengnya, Bush mengatakan harus mencari “jongos” baru. Sekali lagi, sayang Gatra tidak menampilkan kata yang diterjemahkan jongos.
Jongos, dalam bahasa Indonesia berkonotasi sangat negatif dan merendahkan. Kata ini lazim digunakan pada masa penjajahan Belanda untuk menyebut pembantu. Kata ini selevel dengan “babu” bukan babi! Begitu rendahkah nilai seorang manusia di mata mereka? Inilah salah satu bukti rasa suprior bangsa Amerika terhadap bangsa lain. Ini yang harus dilawan dengan cara-cara yang benar—pendidikan dan kesejahteraan rakyat, bukan bom bunuh diri dan terorisme. Bom bunuh diri dan terorisme hanya menunjukkan kalau kita sebenarnya lebih barbar dari mereka.
Dari sisi hukum, kematian Manny yang diakibatkan oleh kesengajaan justru tidak berdampak legal terhadap pelakunya. Ironis bukan? Amerika yang selalu teriak-teriak tentang HAM, persamaan hak, persamaan jender, ternyata…omong kosong, nol besar!!! Hukum Amerika ternyata tidal kurang diskriminatifnya dengan hukum-hukum yang lain. Masih ada orang-orang yang menjadi the untouchable. Tangan hukum tak mampu menjangkau mereka.
Ya, itu bahan diskusi yang saya lontarkan kepada anda, rekan-rekan netter. Saya tidak bermaksud memperbesar semangat anti Amerika yang memang sudah ada dan besar di negeri ini. Diakui atau tidak, negeri ini masih bergantung kepada Amerika. Dari kasus ini, saya pribadi belajar bahwa kita harus mandiri dalam segala sisi dan tidak selalu menadahkan tangan kepada negara-negara besar. Hukum dan kemanusiaan hanya bisa tegak dan ditegakkan kalau kita punya power. Kita bukan bangsa ayam sayur! Mari bergandeng tangan, bahu membahu, tanpa memandang agama, suku, dan budaya. Kita harus berdiri sebagai sebuah bangsa yang bermartabat. Agma, suku, dan budaya adalah kekayaan kita yang tidak seharusnya kita pertentangkan. Jalani sesuai dengan iman kita. pandanglah bangsa ini dan bangsa-bangsa lain dengan mata cinta kasih. Setinggi-tingginya langit, masih ada langit yang lebih tinggi.Sepintar-pintarnya kita, masih ada yang lebih pintar. Dan, selihai-lihainya Amerika, suatu saat akan jatuh juga.
Bukan bom, bukan kekerasan yang kita butuhkan untuk menghancurkan hegemoni Amerika. Persatuan dan cinta kasih, itulah yang dibutuhkan untuk meruntuhkan hegemoni sang tiran. Anda setuju dengan penilaian saya tentang orang-orang Amerika, walaupun, yang saya maksud di sini bukan orang Amerika secara keseluruhan? Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi barbarisme mereka dan rasa merasa lebih tinggi (superior) dari bangsa lain terutama Asia, dalam kaitannya dengan kasus kematian Manny? Sepakatkah Anda, bahwa sebenarnya kita adalah bangsa yangkuat kalau kita mau bergandengan dan merapatkan barisan untuk menentang hegemoni Amerika? Mari kita berdiskusi. Say No to America(n) hegemony!!!!

Comments
  1. Mas Bayu , saya rasa seharusnya persingan itu tidak didasari oleh perasaan Kebencian.
    Saya sangat cinta negeri ini, saya juga tidak menutup mata bahwa kita tidak dapat hidup sendiri, kita perlu teman dan bahkan partner.

    Saya dukung usaha kita untuk Mandiri, paling tidak untuk menjadi tidak dilecehkan.
    Tapi jika melihat yang terjadi pada bangsa kita dewasa ini ,….. Apa Kita Mampu ? Musti Mulai dari mana ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s