SAUR MANUK POLITIK BABAK 2

Posted: March 23, 2009 in Kritik sosial

Minggu malam, 22 Maret 2009, Metro menanyangkan berita Saur Manuk atau Celometan (istilah saya) politik antara Megawati VS Susilo Bambang Yudhoyono, presiden dan mantan presiden RI. Paling tidak, ini adalah saur manuk dan celometan politik babak 2 antara keduanya. Saya membahas saur manuk babak pertama mereka dalam blog saya. Bu Mega mengotak-atik BLT. Katanya hanya hambur-hamburin duit pada masa susah. Sebaliknya, SBY bertanya kepada peserta kampanye apakah salah membantu orang miskin? Inilah saur manuknya. Yang satu mencela, satunya membela diri...

Apa sebenarnya yang bisa kita pelajari dari saur-saur manuk poitik semacam ini? Yang pertama, ini adalah waktu untuk mencari simpati dan dukungan politik dengan berbagai cara. Yang dilontarkan bu Mega emang bukan fitnah tetapi yang dikatakan Pak SBY juga ada dasarnya. Masing-masing punya versi dan sudut pandangnya sendiri. Apa yang sebenarnya ingin ditampilkan adalah pesona. Pesona dimana sang tokoh, bukan hanya mereka berdua, berusaha menampilkan diri sebagai orang yang peduli kepada rakyat. Tujuannya apa? Ballot, vote atau suara. Suara means kita mencontreng, bukan lagi mencoblos gambar partai, caleg dan akhirnya nanti pasangan capres-cawapres. Yang kedua, menurut saya, adalah kekanak-kanakan politik. Kanak-kanak karena ketika yang satu mengritik lainnya buru-buru menjawab dan membalas sehingga suasana jadi hiruk pikuk. Hiruk pikuk semacam ini bisa berakibat fatal di level akar rumput. Ketiga adalah strategi bypass walaupun belum bisa dianggap murahan untuk mendapatkan dukungan. Mencari dukungan dengan menjelek-jelekkan pihak lain dengan tidak pernah mau berkaca dan mengaca kepada prestasi buruk yang pernah kita buat. Gampang emang menunjukkan satu jari ke muka orang lain untuk mempermalukannya daripada berusaha melihat tengkuk sendiri. Ini adalah cara yang paling gampang untuk dapat dukungan (sementara) karena pada hakikatnya kita lebih senang aib orang lain dibuka. Keempat dan yang terakhir adalah rakyat tidak bodoh. Maksud saya, justru dengan menampilkan saur manuk dan celometan politik semacam ini kita justru bisa menilai berdasarkan fakta yang sudah ada, mana dari keduanya yang lebih berkualitas. Kalaupun mereka saat ini dengan saur manuknya diekspose media, karena emang saat iniadalah jadwal kampanye, kita menonton saja sesaat untuk menghilangkan stress sambil memikirkan calon alternatif di luar keduanya. Nikmati saja, atau kalau udah ogah, ganti channel aja. Lagunya kan emang begitu sejak dulu. Mantan majikan merasa sakit hati karena mantan pembantunya jadi pemimpin.

Satu hal lagi yang perlu kita pikirkan dengan berangkat dari saur manuk politik ini adalah, sudah saatnyakah ada partai oposisi di negeri ini karena sudah ada DPR yang tidak kalah galaknya ketika berhadapan dengan pemerintah? Pertanyaan selanjutnya yang bisa kita pakai sebagai dasar berpikir adalah, kalaupun memang partai oposisi itu memang perlu ada sebagai pengontrol kinerja pemerintah, apakah dasar yang seharusnya mendasari kemunculannya? Apakah kurangnya kursi, sentimen pribadi/parpol atau apa? Dan bagaimana posisi rakyat, rakyat dalam arti yang sebenarnya bukan hanya konstituen dan simpatisan partai, dimata partai oposisi? Ini yang perlu kita pikirkan!

Ya, adanya saur manuk politik ini tidak harus membuat kita mudah larut dalam emosi dukung mendukung. Dukungan yang diberikan hanya karena termakan omongan ketika kampanye bukanlah dukungan yang benar.juga, bukan saatnya lagi kita—rakyat mati ditengah-tengah pertikaian dua gajah politik. Sebaliknya, kita justru harus cerdas menyikapi fenomena sesaat ini. Biarkan mereka berkelahi. Biarkan mereka berseteru. Yang penting, kita tetap bersatu. Lihat saja, nikmati saja, dan cari alternatif tokoh lain yang tidak suka celamitan. Kita yang memilih. Tokoh-tokoh itu butuh kita. posisi tawar kita tinggi. Jangan mau dicekoki hal-hal murahan seperti itu. Kitalah yang sedang diupayakan untuk mereka rebut hatinya. So, kalau posisi tawar kita tinggi, kenapa tidak memilih orang yang sesuai dengan hati kita. saya tidak sedang mengadakan black campaign menentang SBY dan Mega. Yang saya lakukan adalah hanya sekedar mengingatkan supaya kita tidak dieksploitasi dengan mencekokkan isu-isu murahan. Toh, kalau dilihat sejarahnya, dua-duanya juga tidak sempurna. Kedewasaan politik adalah hasil dari upaya dan pendidikan politik yang sehat bukan saur manuk semacam ini. Kesantunan, kedewasaan dan kerendahan hati poliklah yang membuat bangsa ini dewasa secara politik. Kesantunan dan kedewasaan politik bahkan ketika ada perbedaan yang sangat tajam dalam haluan politik. Bagaimana menurut Anda?

Comments
  1. Hai mas Bayu lama ngak mampir, baik ya..?🙂
    Saya setuju ama tulisan anda ini. Hal yg kayak gini yg membuat rakyat ( paling tidak saya sendiri ) muak dengan para tokoh yang mengatas namakan rakyat. Padahal tujuannya hanya menarik simpati untuk dapat dipilih dan setelah itu melupakan rakyatnya.

    Sepak terjang PDI kurang elegan. Seperti orang kebakaran jenggot, makin kelihatan isinya…

    So jangan salahkan jika saya GOLPUT.
    Biarin , mereka ngak peduli, sayapun “bisa” lebih ngak perduli…

    Maaf agak erosi mas bayu, tetep PEACE…
    he he he🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s