Mass Transport, Pemanasan Global dan Hari Bumi

Posted: May 7, 2009 in Kritik sosial
Tags: , ,

Mass Transport atau dalam bahasa dan istilah saya adalah Nabar Runri (Naik bareng-bareng turunnya sendiri-sendiri) diajukan sebagai salah satu solusi untuk mengurangi laju percepatan pemanasan global sebagai akibat dari efek rumah kaya karena tingginya kadar gas buang/emisi yang mengendap dan berakumulasi di atmosfir.
Percaya gak percaya, pemanasan global harus kita akui mulai terasa dampaknya. Suhu yang semakin panas, mencairnya bongkahan-bongkahan es di kutub yang menyebabkan banjir pasang karena meningginya permukaan air laut dari tahun ke tahun. Mau tidak mau, suka atau tidak, walaupun masih ada pihak-pihak yang menyangsikan kebenaran dari isu pemanasan global, solusi harus dicari dan diaplikasikan.
Salah satu sumber yang berkontribusi besar terhadap terjadinya pemanasan global adalah emisi gas buang yang berasal dari rumah tangga, kendaraan dan industri yang menggunakan bahan bakar fosil sebagai energi utama. Revolusi industri adalah katalis yang menyebabkan penggunaan bahan bakar fosil secara masif dan hampir tak terkendali. Pun begitu, kita tidak bisa menuding revousi industri sebagai sesuatu yang salah dan memicu kerusakan bumi. Yang salah bukan revolusi industrinya tetapi sikap manusia-manusia tertentu yang pandai membaca pelauang (baca: serakah) untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya yang mendorong dibukanya lahan-lahan baru untuk lahan industri dan meningkatkan komsumsi bahan bakar untuk menggerakkan mesin industri. Sekali lagi, bukan revolusinya yang salah tetapi keserakahannya yang tidak benar. Memang, selalu ada akibat dari sebuah kemajuan.
Kembali ke mass transport. Cukup beralasan dan masuk akal kalau moda transportasi ini diusulkan sebagai salah satu cara untuk mengurangi laju pemanasan global. Faktanya, pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor sangat tinggi. Akibatnya, komsumsi bahan bakar juga meningkat dan emisi gas buangnya pun melaju cepat. Dengan perhitungan sederhana, kalau satu unit bus transjakarta atau bus umum bisa mengakut minimal 50 orang, akan bisa dikurangi komsumsi bahan bakar dan emisi gas buang yang pada akhirnya menimbulkan efek rumah kaca. Begitu asumsinya. Benarkah?
Mudah kalau yang diperlukan hanya jawaban ya dan tidak. Jawabannya pasti ya dan benar! But, saya pikir dan sesuai dengan pengalaman, orang tidak akan terlalu mudah menggunakan moda transportasi massal karena beberapa alasan. Pertama, ekonomi. Tidak selamanya menggunakan angkutan massal terbukti lebih murah. Dalam hal ini faktor kenyamanan tidak dimasukkan. Tidak selamanya jalur angkutan massal searah dan lebih dekat dengan tempat kerja dan atau sekolah. Tidak selamanya biaya naik angkutan massal untuk jarak pendek dan sedang (kota-kota) lebih murah. Selain ekonomi, waktu tempuh juga menjadi kendala utama. Apalagi kalau moda itu adalah kereta api. Pengalaman, tiga setengah tahun pergi-pulang Lawang-Surabaya, waktu tempuh benar-benar tidak bisa diprediksi walaupun skedul ada. Ini memang rahasia umum menggunakan jasa kereta api. Setelah ekonomi dan waktu tempuh, keamanan juga menjadi penyebab orang “ogah” naik angkutan massal. Semua orang sudah tahu kalau naik kereta api, apalagi ekonomi, keamanan adalah “barang mahal”. Lalu begaimana dengan kenyamanan? Yang ini memang sifatnya relatif. Ada ungkapan Jawa,” Rego Nggowo Roso (harga menentukan rasa/kualitas)”. Maksudnya, kenyamanan angkutan umum, bis ekonomi dan bis non-ekonomi pasti berbeda. Dingain dan sejauknya, bis non-ekonomi yang punya. Tetapi kalau bau keringat dan desak-desakan, bis ekonomi jagonya.
Pun begitu, menggunakan moda transportasi massal bukan tidak ada untungnya. Moda yang paling ekonomi sekalipun. Paling tidak, menurut pengalaman saya menggunakan moda kereta api selama tiga setengah tahun pergi-pulang kuliah dari Lawang ke Surabaya (Unair), ada dua hal penting yang saya peroleh. Pertama, lebih bisa memahami orang lain dan bergaul dengan beragam manusia dari kalangan dan latar belakang yang berbeda. Proses dialog dan sosialisasi lebih jalan. Kita lebih merasa bebas dan enak ngobrol dan sharing tentang banyak hal sepanjang perjalanan. Dampaknya, relasi semakin luas.
Selian faktor sosial seperti diatas, kita bisa belajar mengelola emosi. Kok? Ya, seringkali ketika kita pulang dengan kereta api badan sudah capek. Bukan hanya satu atau dua kali ada pihak-pihak yang rese. Mau marah? Gak segampang itu. Ngempet, kata orang Jawa. Menahan untuk marah walaupun badan udah sangat capek. Selain orang rese, di kereta ekonomi ada banyak pedagang asongan, gelandangan, pengemis dsb, yang kalau kita terlalu menggunakan ukuran etis yang kaku, kita akan mcenderung mengatakan mereka tidak soapn, menganggu, trouble maker dsb. Disini seninya. Kita harus bisa menerapkan standar-standar penilaian etis secara fleksibel. Eit, jangan salah, bukan berarti kalau kita tahu baerteriak-teraik ketika orang tidur dalam perjalanan adalah hal yang “tidak manusiawi”, karena alasan penyesuaian dengan lingkungan kita ikut-ikutan seperti itu.
Sisi menarik lainnya dari menggunakan moda transportasi massal khususnya kereta api, membuat kita belajar untuk mengambil keputusan dalam waktu yang sangat singkat. Gambarannya, seringkali petugas stasiun tidak mengumumkan keterlambatan keberangkatan kereta ketika jadwal seharusnya mengharuskan kereta untuk berangkat. Yang saya pelajari, daripada menunggu selisih waktu yangtidak jelas, saya harus memutuskan untuk berganti angkutan. Kereta diganti bis. Selisih 10 menit berpengaruh kepada jarak tempuh. Bis pagi seringkali bisa menempuh 10KM lebih jauh dibandingkan dengan jarak tempuh kereta. Ini yang saya sebut berpikir taktis. Memang, dengan memutuskan naik bis, ongkos jadi dua kali lipat. Pun begitu, waktu tiba ditempat tujuan lebih cepat dan tidak terlambat masuk kampus. Terlambat masuk ruang kuliah sama dengan kehilangan satu mata kuliah. Ini yang rugi menurut saya. Inilah sisi manajerial menggunakan moda transportasi massal.
Sebenarnya masih banyak keuntungan relatif subyektif menggunakan angkutan massal. Relatif subyektif artinya apa yang saya rasa sebagai keuntungan belum tentu bisa diterima oleh pihak lain terutama yang pernah mengalami pengalaman buruk menggunakan moda angkutan massal.
Mass transport, mau tidak mau dan suka tidak suka harus dikembangkan dan diaplikasikan sebagai solusi. Hal ini terjadi karena laju perbandingan pertumbuhan penjualan dan penggunaan kendaraan pribadi terutama motor dengan luas jalan sangat tidak sebanding. Kendaraan bertumbuh dengan sangat pesat tetapi ketersediaan jalan relatif tetap. Untuk membangun jalan-jalan baru pun bukan hal yang mudah bukan hanya dari sisi ketersediaan anggaran. Pertumbuhan kendaraan otomatis meningkatkan komsumsi bahan bakar (untuk sementara ini bahan bakar fosil) yang berimbas pada meningkatnya jumlah polutan karbon yang turut andil dalam global warming.
Solusi yang baik adalah solusi yang tidak dipaksakan tetapi disosialisasikan dan dibudayakan. Masyarakat tidak perlu diberi janji muluk-muluk atau yang lebih celaka “ancaman-ancaman” yang tidak realistis untuk menggunakan moda mass transport. Yang perlu dilakukan pemerintah adalah tunjukkan dan berikan kemudahan, kenyamanan, keamanan, dan economic value kepada masyarakat sebagai pengguna angkutan massal. Hukum alam pasti terjadi. Kalau moda angkutan massalnya nyaman (tidak selalu diterjemahkan dengan adanya fasilitas AC, musik, dll tetapi lebih kepada ketepan dan kecepatan waktu tempuh), aman (sangat minim-kalau bisa tidak ada sama sekali tindak kejahatan selama di dalam angkutan massal), dan nilai ekonomis (lebih hemat dari sisi harga dan keamanan), tentunya dengan sendirinya masyarakat akan berebut menggunakan angkutan massal. Pertanyaan besar untuk penyelenggara angkutan massal saat ini adalah sudahkan sarana trasnportasi yang ada saat ini dipelihara dengan baik? Mari lihat armada-armada bis kota di Surabaya, Jakarta, Yogyakarta dan di tempat lain. Bagiamana kondisinya? Tengoklah kereta api komuter dan kereta api ekonomi, bagaimana keadaannya?
Tanggung jawab bukan hanya terletak dipundak penyelenggara angkutan massal tetapi juga penggunanya. Mari kit apikir kembali, seberapa sering kita berulah yang membuat moda angkuatan massal menjadi tidak nyaman ditumpangi. Berapa sering kita corat-coret di dinding kereta, bis, angkot. Seberapa sering juga kita jahil merusak jok bis kota dan antar kota. Atau, sudah berapa banyak puntung dan asap rokok yang kita buang dan kepulkan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman. Satu lagi, sudah berapa banyak orang yang teler karena bau keringat dan “catty) kita (gak ini hanya bercanda)?
Terciptanya moda transportasi massal yang nyaman adalah tanggungjawab bersama. Kalau banyak yang sadar (sebab tidak mungkin semua bisa dan mau sadar) kita akan dengan senang hati naik angkutan massal. Toh gak ada ruginya. Makin banyak relasi pula. Selain itu juga belajar manajemen qolbu. Butuh waktu untuk semuanya ini. Tapi yakinlah semua pasti bisa dicapai kalau kita bersama-sama melakukannya sehingga kita bisa NaBar Runri (Naik Bareng dan Bayar tetapi Turunnya Sendiri-sendiri). Kapan bisa begini?

Comments
  1. aimyaya says:

    Saya dan keluarga sering naik kereta api. Jujur. Kereta Api lebih “nyaman” daripada Bus.
    Tapi untuk urusan penuh atau terlambat, jangan ditanya lagi. itu sudah biasa. Kalau teknologi internet tidak bisa dimanfaatkan, seharusnya PT KAI memberdayakan telepon selular. Kan bisa koordinasi dengan jalur CDMA yang nota bene lebih murah. Atau mungkin sengaja tidak dipikirkan atau menjadi alternatif penyelesaian oleh PT KAI agar lebih banyak “BOCOR”nya..hehehe

  2. bayu says:

    ya, emang, yang perlu dicermati ketika kita naik KA adalah keterlambatan yang seringkali panjang. katanya, sekali lagi katanya, moda transportasi KA tidak banyak perubahan signifikan karena gak ada cukup dana. bagaimana mau ada cukup dana kalau sebagaian besar kondektur, apalagi kondektur kelas ekonomi pada “narik karcis sendiri” itu rahasia umum bro.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s