Makam Tionghoa: Hapus atau Terus?

Posted: May 18, 2009 in Kritik sosial
Tags: , ,

Kamis 14 Mei 2009, saya menghadiri upacara pemakaman Ibu mertua dari seorang teman kerja di pemakaman Tionghoa Sentong Baru di Lawang Kabupaten Malang. Tidak ada yang menarik. Semuanya biasa-biasa saja. Saya mengikuti upacara pemakaman itu sampai selesai.

Dalam perjalanan kembali ke kantor, nurani saya terusik oleh gurauan seorang teman ketika kami ada di pemakaman tersebut. Dia mengatakan,”Yang ini (makam Tionghoa atau biasa disebut Bong) bisa dijadikan kolam renang.” Saya mengamati makam yang ditunjuk oleh rekan saya dan kami memang tepat berada di atasnya..

Namun sebelum saya teruskan menceritakan apa yang saya pikirkan mengenai hal ini, perlu saya sampaikan bahwa apa yang saya sampaikan di media ini (Wikimu) sama sekali tidak ditujukan untuk menghasut, mendeskreditkan salah satu etnis. Sekali lagi, tujuan saya positif—mengajak kita semua untuk berpikir dan memikirkan bagaimana menata dan mengelola “rumah masa depan” yang sering kali kita lupakan ketersediaannya yang semakin langka. Semoga ini bisa dipahami dan diterima serta dipikirkan dengan hati yang tulus, bersih dan murni dengan menjunjung tinggi kesamaan sebagai sesama manusia dengan menghilangkan atribut sukuisme negatif.

Apa yang dikatakan oleh teman saya itu memaksa saya untuk kembali melemparkan pandangan sejauh mungkin menyusuri kompleks makam Sentong Baru. Yang saya temukan adalah, sejauh mata memandang, makam-makam besar dan luas, yang berdiri dengan bangunan kokoh dari beton berukir dan kuat. Tak mungkin roboh dalam waktu 10-20 tahun, kecuali tangan Tuhan menghendaki lain. Mewah, megah, dan kokoh. Pertanyaan yang timbul dalam pikiran saya adalah,”Apakah ini bentuk dari ppenghormatan kepada leluhur ataukah semata-mata sebuah keangkuhan semata. Atau, apakah ini adalah bentuk hegemoni di dunia orang mati? Gak tahu, kenapa pikiran ini melintas di benak saya.

Saya berusaha menjawab pertanyaan itu dengan menepis perasaan galau yang ada di hati saya dengan mengatakan,”Jangan begitu, kamu pasti sedang jealous sekarang. Ingat makam bapakmu di kuburan umum yang luasnya tidak lebih dari 4 meter persegi ya… dst,..dst…

Ingat kuburan Bapak? Enggaklah. Ngapain jauh-jauh? Tuh ..lihat, di depan makam besar ini ada beberapa makam Kristen yang ukurannya gak beda dengan ukuran makam Bapakku di Malang. Ironis bukan? Begitu dan seperti itulah pertarungan dalam batin saya saat itu. Di satu sisi saya melihat ada banyak kuburan dengan ukuran yang, bagi saya, terlalu berlebihan. Sementara disisi yang lain, tepat di kompleks pemakaman itu, ada beberapa makam sederhana yang luasnya tak lebih dari 3 meter persegi.

Memang, kalau kita tidak bijak menyikapi hal ini, potensi benturan bernuansa SARA bukan tidak mungkin terjadi hanya karena masalah “sepele” seperti ini. Potensi konflik yang mudah digerakkan menjadi anarki adalah suku dan ras. Dalam kasus ini, kalau kita tidak dewasa, satu pertanyaan saja akan mengarahkan kepada benturan. Pertanyaan itu adalah,”Siapa dan suku/ras apa yang makamnya seluas itu? Yang pribumi seluas apa kuburannya (apapun agama si pribumi). Ini pertanyaan sepele tapi dampaknya sepolo (besar).

Keberadaan kompleks pemakaman Tionghoa dengan segala “kemewahannya” harus diakui memberikan dampak positif bagi warga di sekitarnya dalam hal ini warga Sentong. Ada lapangan pekerjaan yang terbuka—sebagai pembersih kubur, penggali kubur, dan penjaga parkir dadakan. Selain yang positif, sisi negatifnya adalah, karena asosiasi dan pengidentikkan, harga lahan pemakaman di tempat itu menjadi melambung.

Ini yang tidak sehat. Kondisi ini menjadi tidak sehat karena terjadinya “persaingan” yang tidak sehat antara sesama calon penghuni kubur. Contoh yang nyata, PGL (Persekutuan Gereja-Gereja Di Lawang) mempunyai lahan yang sangat terbatas di kompleks Sentong. Sedangkan umat Kristen yang akan mendiami komples itu banyak. Jika ditarik dari sisi calon penghuni dan ketersediaan tempat, warga kristiani yang nota bene adalah warga Lawang tidak memiliki kesempatan seluas “warga pendatang” (yang banyak dimakamkan di Sentong adalah warga luar daerah bahkan luar kota). Ini yang perlu ditata dan dikelola sehingga prinsip keadilan bisa terpenuhi dengan menjadikan uang bukan sebagai parameter utama. Mana yang lebih layak diutamakan untuk bisa dikuburkan di sebuah wilayah, penduduk aslikah atau penduduk pendatang (walaupun terpaksa menjadi penduduk karena mati) yang punya uang?

Hal kedua yang perlu dicermati adalah, apakah mendirikan bangunan makam seluas itu yang menurut saya berlebihan bukan merupakan tindakan pemborosan yang lambat laut (karena desakan kebutuhan) berpotensi menimbulkan konflik. Semua tentu ingin kenangan mengenai sanak kerabatnya bisa diabadikan. Tetapi apakah membuat bangunan kubur yang sangat megah seperti ini tidak hanya menyia-nyiakan sumber daya yang ada. Atau, mungkinkah diusulkan bahwa makam seseorang disertifikatkan SHMK (Sertifikat Hak Milik Kubur)? Apakah kubur-kubur yang sangat luas bukan hanya melambangkan ketamakan, kecongakakan, prestise yang salah, atau penghormatan kepada leluhur yang tidak tepat dan memakai kacamata kuda sehingga tidak mau tahu kondisi di sekitarnya?

Memang, diperlukan atiran main yang jelas dalam hal seperti ini. Bisnis boleh dijalankan. Faktanya, pemakaman Tionghoa sekarang menjadi ajang bisnis. Banyak yang terkait dan ikut main di dalamnya. Pun begitu, bisnis yang arif adalah bisnis yang mengedepankan nurani dan perhitungan. Nurani yang bisa merasakan bagaimana sulitnya mencari lahan pemakaman dan perhitungan yang mampu tidak hanya mem-forecast seberapa banyak daya tampung kubur. Apakah ketersediaannya berbanding lurus atau terbalik dengan orang-orang yang akan mati? Atau, apakah nanti, ketika tidak ada lagi lahan kubur, semua orang yang mati harus dikremasi?

Ya, ini hanya sebuah pandangan tentang ketimpangan dalam masalah alokasi tanah pemakaman. Sekali lagi, ini bukan agitasi atau ajakan menyudutkan saudara-saudara kita suku Tionghoa karena faktanya tidak semua suku Tionghoa kuburnya luas dan besar. Namun karena yang menonjol adalah kubur Tionghoa, ya ini yang saya jadikan batu ujian untuk kita pikirkan bersama pemecahannya. Seandainya kita bisa memikirkan azas manfaat dan bukan kesombongan, apakah tidak akan jauh lebih berbahagia kalau kubur kita cukup 3 meter persegi. Seluas apapun, toh kalau kita mati tidak akan bisa main bola lagi di dalam kubur dan kompleks kuburan. So, kenapa tidak berbagi.. saya yakin tidak semua setuju dengan opini ini. Yang jelas, dialog dan interaksi sangat diharapkan. Mari bersatu sebelum mati dan mari bersatu ketika kita mati. Jangan lagi ada yang kuburnya kelewat luas sementara ada yang kesulitan untuk mencari lahan kubur bagi sanak kerabatnya. Berbagi … berbagi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s