SERDADU: JERUK JANGAN MINUM JERUK

Posted: May 25, 2009 in Kritik sosial
Tags:

Tawa renyah anak-anak dan teriakan girang jemaat GPIB Pelangi Kasih Lawang yang sedang melaksanakan berbagai lomba untuk memeringati hari Paskah serta bersih, aasri dan teduhnya suasana, membuat saya lupa kalau saya sedang berada di markas militer—Mako Kostrad di Singosari, kabupaten Malang. Bukan baru sekali memang saya berkunjung ke markas serdadu ini. Kesan yang saya rasakan tetap sama—nyaman dan jauh dari kesan angker markas militer.

Ketika memerhatikan gerakan anak-anak yang sedang berlarian, pandangan saya terhenti. Satu papan semen berukuran besar menarik perhatian saya. Yang membuat saya tertarik adalah satu tulisan besar plus sebuah rambu larangan “STOP PELANGGARAN”.

Ada tujuh pelanggaran yang diterakan di atas papan semen besar ini. Tapi, yang paling menarik perhatian saya adalah larangan ke-6 “Jeruk dilarang minum jeruk”. Tidak, tidak seperti itu. Itu hanya bisa-bisa saya saja. Larangan keenam adalah, (dilarang berbuat) asusila terutama dengan PERSIT/KBT. Jelas sekali bukan?

Jujur saja, baru kali ini saya melihat sebuah aturan untuk mencegah coba-coba “makan sesama” ditulis besar-besar dan dengan sangat jelas. Pertanyaan yang melintas di benak saya ketika membaca larangan keenam adalah apakah larangan ini sifatnya preventif atau (sudah) kuratif. Belum banyak yang berbuat asusila dengan sesamanya ataukah justru sebaliknya? Sayang, waktu itu tidak ada sumber terpercaya yang bisa dikonfirmasi dan dimintai penjelasan untuk hal ini.

Tidak ingin berspekulasi macam-macam tentang hal itu, saya justru kagum dan bangga dengan keberanian tentara untuk mendidik dan “mengamankan” anggotanya. Kagum karena hal seperti itu tidak hanya ada tetapi tidak dituliskan secara jelas. Bangga karena tentara menghargai sesamanya dan yang dimiliki sesamanya—termasuk istri atau suami anggotanya. “Jeruk Jangan Minum Jeruk”.

Hukum tetaplah hukum yang harus tetap dijunjung tinggi dan dilaksanakan tentunya. Kalaupun ada kasus-kasus pelanggaran, itu khan hanya kasus. Kalaupun ada jeruk minum jeruk itu juga kasus. Tidak semua jeruk minum jeruk. Tidak hanya tentara yang melakukan pelanggaran semacam ini. Semua berpotensi melakukannya. Peraturan diciptakan untuk kebaikan. Peraturan yang baik adalah peraturan yang memanusiakan manusia. Dan, satu yang pasti, peraturan ada bukan untuk dilanggar. Lha, kalau yang buat peraturan yang melanggar? Tanyakan pada rumput yang bergoyang. Terimakasih Pak Tentara……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s