Archive for June, 2009

I’m a Girl: Si Benny Ternyata Laki-Laki…(????)

Kiata pasti sering mendengar orang mengatakan,”Apalah arti sebuah nama.” Kalimat pendek ini pula yang pernah dikatakan oleh Sheakspeare dan kemudian dikutip oleh banyak orang. “What is in the name? Ketika kalimat seperti ini dipakai, umumnya orang berpikiran dan beranggapan tentang kondisi tidak mau meninggikan diri. Merendahkan diri. Tidak mau sombong dan tidak mau orang lain mengetehaui “jasa baik” yang kita lakukan. Walaupun bukan seperti ini konteks asli ungkapan Sheakspeare.
Cerita diatas rupanya tidak berlaku kali ini bagi saya. Saya kena batunya. Bagimana tidak? Saat posting ini saya tulis, di kantor lagi ada seminar yang diikuti oleh gereja-gereja di Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Tugas saya di sekertariat—sebagai sekertaris. Sayalah dan seksi pendaftaran yang menerima data tentang peserta dan segala sesuatunya.
Ketika ada calon peserta yang kirim data via email, dan saya lihat nama-nama yang disertakan kebanyakan perempuan dan ada satu Benny, otomatis (tapi salah) saya masukkan semua ke peserta perempuan kecuali si Benny. Saya input namanya di kolom laki-laki. Dan inilah awal dari cerita menggelikan sekaligus “ironis” bagi saya. Data dari saya menentukan kamar di mana dan dengan siapa Benny harus tinggal. Sekali lagi, cerita inilah yang menggelikan.
Ketika registrasi dilakukan saya tidak berada di sekitar meja pendaftaran karena memang bukan tugas saya di sana. Saya mengurusi yang lain. Ketik asedang berjalan ke area pendaftran ulang, seorang rekan panitia yang adalah bagian akomodasi mengatakan,”Kamu harus tanggungjawab!” “Tanggungjawab?, Tanggung jawab apa?” Tanya saya. “Benny itu perempuan…!” Kata teman saya dengan muka serius. “Ha…ha…!” saya tak kalah terkejut dan seriusnya. Lalu kamarnya bagaimana?,”Tanya saya. “Terpaksa dia dicarikan kamar sendiri dan harus tinggal sendiri,”teman saya menimpali. Sampai situ saya lega karena si Benny ternyata sudah mendapatkan kamarnya walaupun harus sendiri. Urusan kamar sudah selasai tetapi masih ada satu urusan lagi—minta maaf sama si Benny.
Segera saya cari si Benny dan meminta maaf atas kesalahan ini. Untungnya, si Benny tipe orang periang dan bisa memahami kesalahan yang saya lakukan. Akhirnya kami justru bisa bercakap-cakap dengan lebih baik dan lebih bersahat seolah-olah kami sudah kenal lama.
Don’t judge book by the cover begitu orang bule mengatakan. Jangan menilai buku atau apapun dari tampilan luarnya. Tapi masalahnya, kali ini saya bahkan tidak bisa melihat cover itu karena tidak ada ketentuan bagi peserta untuk melampirkan fotonya. Ya, paling tidak dari kekeliruan semacam ini, saya pribadi akan lebih hati-hati dan belajar untuk tidak “menilai” seseorang hanya dari tampilan namanya. Benny.. oh Benny…betapa bodohnya aku.

Advertisements

Eskalasi euforia politik menjelang pilpres semakin meningkat. Semakin banyak iklan muncul diberabgai media massa baik elektronik maupun cetak. Entah berapa banyak versi iklan yang dibuat dengan biaya besar untuk memikat hati rakyat supaya memilih pasangan capres-cawapres tertentu. Namun satu hal yang bisa kita cermati adalah, walaupun banyak versi, namun ada hal yang bisa kita amati dan temukan—keseragaman. Semua kontestan menampilkan hal-hal yang positif dan baik dengan mengajak tokoh-tokoh masyarakat (tentunya yang sehaluan dengan partai) untuk memberikan “testimoni produk”. Mudahnya, semua kontestan melalui tim suksesnya menjual kecap no.1 (karena belum pernah ada kecap no.2). Salahkah? Tidak! Sah-sah saja. Masalahnya, kitalah, yang diposisikan sebagai potential and prospective customer, yang harus pintar dan jeli memilih supaya tidak salah pilih dan menyesal. Dalam skala makro, saya menganalogikan situasi politik kita hari-hari ini dengan pertandingan sepak bola yang di dalamnya ada kebelasan (parpol), bintang lapangan (pasangan capres-cawapres), bola (visi-misi parpol/kandidat), Panitia pertandingan (KPU), Inspektur pertandingan (komdis dan panwaslu), suporter (massa partai), dan penonton (rakyat). (more…)

Euforia Pileg (pemilihan Legislatif) sudah berakhir. ada yang gembira karena terpilih menjadi anggota dewan tetapi tidak sedikit yang stress dan bikin ulah yang memalukan dan semakin membuktikan bahwa sebenarnya mereka memang tidak seharusnya dipilih. Ada yang meminta kembali uang dan bantuan yang pernah diberikan, ada yang bunuh diri dan banyak yang ke paranormal. Apapun itu, itu adalah sebuah realita dan fenomena dari sebuah sistem yang disebut demokrasi. Pileg sudah berlalu dan akan datang pilpres. Apa yang bisa dipelajari dari yang pertama adalah ke mana dan bagaimana harus mengelola dan mengolah sampahnya. Dan mungkinkah sampah-sampah itu menjadi sumber pendapatan tambahan bagi kas daerah. Itu adalah salah satu dari sekian banyak pertanyaan yang masih tersisa.

Pesta sudah berakhir. Kemeriahan dan keriuhannya pun mulai sirna. Semua undangan sudah pulang ke tempatnya masing-masing dengan membawa perasaan dan penilaiannya sendiri-sendiri tentang pesta yang baru dialaminya untuk sesaat. Para caleg kontestan dalam pesta inipun mulai tahu nasibnya. Ada yang tertwa bahagia, ada yang meratap dalam kesedihan tetapi ada pula yang tetap berpikiran positif walaupun tak mampu menduduki kursi legislatif karena rakyat tak memilihnya dengan memberikan suaranya dengan mencontreng nama dan gambarnya. Ya, selalu ada berjuta rasa dalamdan dibalik sebuah pesta dan tumpukan sampah yang ditinggalkan dan diakibatkannya. (more…)

Warta ini pernah saya posting di wikimu lengkap dengan gambar kartu-kartu “penyesat” yang ada di dalam bungkus Tango. Ada baiknya dibaca dan dicocokkan apakah Anda pernah menemukan yang seperti ini.

Siang kemarin 1 April 2009, seorang petugas kebersihan dan lapangan di tempat kerja saya datang menghampiri saya. Dia minta tolong untuk dicek kebenaran apakah betul temannya dapat undian hadiah 1 unit mobil Avanza dari Tango.

Dia menyodorkan selembar kertas yang panjangnya tidak lebih dari 6 cm dan di dalamnya ada sepotong lembaran kertas berwarna merah maron dengan tulisan kuning. Di atas kertas HVS putih ini tertera ,selain ucapan selamat telah memenangkan 1 unit Avanza, ada 4 stempel dan tanda tangan: 1. General Manager PT Ultra Prima Abadi dan tanda tangan Drs. Ahmad.. (sayang tak terbaca ; tertutup tanda tangan), 2.Polda Metro Jaya yang ditandatangani oleh Jendral Pol Wahyono, 3. Dirjen Pajak yang ditandatangani oleh Haryo Wiyatmoko dan yang 4. Notaris, sayang namanya tidak terbaca lengkap karena tertutup tanda tangan. Selain empat tanda tangan dan stempel, ada juga lima logo: Telkomsel, RCTI, SCTV,INDOSAT, INDOSIAR. Dilembaran in I juga tertera nama HOETOMO WIHODO CEO PT Ultra Prima Abadi sebagai penanggung jawab dan sekaligus contact person. Ramai pokoknya untuk ukuran kertas sekecil itu.

Saya perhatikan potongan plastik bertuliskan pemberitahuan sebagai pemenang , nomor telp bebas pulsa 0800-10-77777, nomor telp PSTN 021-44683597 yang bisa dihubungi untuk konfirmasi. Satu lagi nomor yang saya tidak tahu artinya No. RKP 001749001. Scan gambar saya sertakan, semoga bisa.

Saya coba hubungi nomor bebas pulsa tersebut. Nyambung, tapi gak ada yang menjawab. Saya perhatikan jam di kantor sudah jam 3 lebih 5. Kantor PT Ultra Prima Abadi sudah tutup (sesuai dengan pemberitahuan di lembaran putih itu).

Curiga, itulah yang saya pikirkan waktu itu. But, dengan tetap menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah, saya putuskan untuk posting berita ini di Wikimu. Semoga ada yang merespon dan memberikan informasi lanjutan. Syukur-syukur ada yang memforward ke produsen Tanggo untuk mengecek kebenarannya. Paling tidak, walaupun belum tentu dan terbukti sebagai penipuan, kita perlu berhati-hati karena tipu-tipu

Artikel ini pernah saya posting di wikimu. Saya posting kembali di blog ini karena paling tidak kita bisa merenungkan kembali betapa menyedihkannya ketika kita sudah biasa ngenet dan menjelajahi dunia maya yang hampir tanpa batas, disisi dan di ujung yang lain masih ada generasi 80-an yang tidak bisa membaca. semoga kisah ini menginsiprasi kita untuk melakukan sesuatu yang lebih baik berkaitan dengan pemberantasan buta huruf. (more…)