Dariyono…. Bukan…. Budi: Sepenggal Kisah Sedih Seorang Buta Huruf

Posted: June 3, 2009 in Kasus Bahasa, Kritik sosial

Artikel ini pernah saya posting di wikimu. Saya posting kembali di blog ini karena paling tidak kita bisa merenungkan kembali betapa menyedihkannya ketika kita sudah biasa ngenet dan menjelajahi dunia maya yang hampir tanpa batas, disisi dan di ujung yang lain masih ada generasi 80-an yang tidak bisa membaca. semoga kisah ini menginsiprasi kita untuk melakukan sesuatu yang lebih baik berkaitan dengan pemberantasan buta huruf..

Dari seorang teman saya baru tahu kalau Budi yang selama ini, bukan hanya saya, tetapi semua orang di tempat kerja kami mengenalnya, kami kenal nama sebenarnya adalah Dariyono. Saya agak terbelalak mendengar informasi ini. Bagaimana mungkin Dariyono bisa menjadi Budi,”tanya saya kepada sang pemberi informasi. “Teman-temannya yang memberi nama itu kepadanya,”teman saya berkata. Baru saya ngeh dan klik. Ternyata saya “tertipu” selama ini. Hampir dua tahun saya mengenal dia sebagai seorang Budi yang lugu. Budi..oh..Budi.. ternyata kau sebenarya adalah seorang Dariyono. Kenapa kau diam dan pasrah ketika teman-temanmu memberi nama Budi? Apakah Budi lebih gaul daripada Dariyono? Atau, apakah ini bentuk dari “ketidakberdayaan” dan inferioritasmu karena kau seorang BH (Buta Huruf)?

Kisah Dariyono ini mengusik hati saya. Memang, sudah lama saya mengetahui kalau si Budi buta huruf. Tetapi, saya baru benar-benar merasa trenyuh ketika diberitahu kalau Budi sebenarnya seorang Dariyono. Balada Budi yang Dariyono membuka kembali file dan folder-folder ingatan saya tentang dia. Satu hal yang saya ingat dengan jelas adalah ketika Kami ada acara kumpul bersama rapat staff dan karyawan dan kertas-kertas berisikan beberapa hal penting dibagikan, hampir semua yang ada di ruang rapat tersenyum-senyum ketika melihat Budi mendapatkan selembar kertas yang dibagikan tetapi dengan ekspresi bingung. Saat itu pun saya masih terlalu bodoh untuk mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan Budi yang ternyata adalah Dariyono. Ya, semua berlalu begitu saja seperti tidak ada apa-apa dan sebuah ironi yang mengusik nurani. Semuanya biasa saja, paling tidak sampai 22 April 2009.

Balada Budi ini mengusik nurani saya. Kalau Anda baca postingan saya tentang susu Prestine, sepanjang perjalanan Lawang ke Malang (PP) itulah hati saya bergolak. Bagaimana mungkin di kampus tempat kerja saya masih ada seorang Budi yang tahun kelahirannya berkisar angka 1980an masih buta huruf. Bagaimana mungkin saya yang sibuk mengajak mahasiswa saya untuk berani menulis dan menjadi pewarta warga di Wikimu, ternyata di sudut kecil lainnya ada seorang Dariyono yang tidak bisa membaca. Ironis, walaupun itu bukan salah saya. Sebagai seorang pengajar yang mengajar orang lain untuk berani maju, hati saya berontak. Saya diajak menoleh dan menengok penderitaan maha panjang si Budi (walaupun dia sendiri belum tentu menganggapnya sebagai sebuah penderitaan) yang akan dijalani Dariyono kelau dia terus tidak bisa membaca. Saya merasa berdosa!Mungkin saya terlalu sensitif dalam hal ini. Akan tetapi, perasaan bersalah seperti ini yang sedang saya alami sekarang dan membuat saya menuliskan hal ini.

Saya tahu, tidak gampang untuk mendekati si Dariyono yang kini beken dengan nama Budi. Tentunya tidak akan sangat mudah menganjurkannya untuk belajar membaca karena tanpa bisa membacapun dia bisa dapat bayaran. Tapi pertanyaan saya samapai kapan dia akan bertahan sebagai tukang sapu? Saya tidak pernah menganggap remeh tukang sapu krena tanpa mereka kantor kami tidak akan pernah bersih dan semarak. Tetapi haruskan Dariyono tetap menjadi Budi karena tidak mampu “memberikan perlawanan” karena ketidakmampuannya? Apakah seorang generasi baru yanglahir pada era 1980an harus tetap dalam kegelapan sementara dunia sudah sangat terang dan menjadi semakin terang karena ilmu pengetahuan? Apa danbagaimana cara yang cepat dan manusiawi untuk mendekati Dariyono dan menjadikannya sebagai Dariyono yang bisa dengan percaya diri mengatakan,”AKU BISA MEMBACA”! Anda punya saran?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s