Ekonomi Kerakyatan: Realitis atau Narsis?

Posted: June 8, 2009 in kepemimpinan, Kritik sosial
Tags: , , , ,

Eskalasi euforia politik menjelang pilpres semakin meningkat. Semakin banyak iklan muncul diberabgai media massa baik elektronik maupun cetak. Entah berapa banyak versi iklan yang dibuat dengan biaya besar untuk memikat hati rakyat supaya memilih pasangan capres-cawapres tertentu. Namun satu hal yang bisa kita cermati adalah, walaupun banyak versi, namun ada hal yang bisa kita amati dan temukan—keseragaman. Semua kontestan menampilkan hal-hal yang positif dan baik dengan mengajak tokoh-tokoh masyarakat (tentunya yang sehaluan dengan partai) untuk memberikan “testimoni produk”. Mudahnya, semua kontestan melalui tim suksesnya menjual kecap no.1 (karena belum pernah ada kecap no.2). Salahkah? Tidak! Sah-sah saja. Masalahnya, kitalah, yang diposisikan sebagai potential and prospective customer, yang harus pintar dan jeli memilih supaya tidak salah pilih dan menyesal. Dalam skala makro, saya menganalogikan situasi politik kita hari-hari ini dengan pertandingan sepak bola yang di dalamnya ada kebelasan (parpol), bintang lapangan (pasangan capres-cawapres), bola (visi-misi parpol/kandidat), Panitia pertandingan (KPU), Inspektur pertandingan (komdis dan panwaslu), suporter (massa partai), dan penonton (rakyat)..
Dengan tetap beropini bahwa semua kontestan adalah penjual kecap no.1 namun bukan bermaksud merendahkan, apalagi menyebarkan fitnah dan black campaign (takut dikenai tuntutan UU ITE seperti Prita…he…he..), saya tertarik mengulas dan mengritisi program ekonomi kerakyatan yang diusung oleh pasangan capres-cawapres Mega-Pro. Program ini menarik bukan semata-mata karena selalu disajikan oleh Prabowo Subianto dengan meledak-ledak dan penuh optimisme tetapi lebih karena pertanyaan benarkah konsep adalah jawaban untuk keluar dari krisis ekonomi berkepanjangan yang berimbas terhadap hal-hal yang lain. Atau, apakah konsep ini hanya bagus dipermukaan dan di atas kertas untuk menganjal laju pasangan yang distereotipekan sebagai penganut paham ekonomi neo liberal? Itu dasarnya. Bukan masalah preferensi apalagi berupaya menggiring massa untuk menjatuhkan pilihannya kepada pasangan Mega-Pro karena saya yakin rakyat tidak bodoh lagi!
Kembali ke analog pertandingan bola. Yang ada sekarang adalah bintang lapangan dan bola. Bintang lapangannya jelas Mega dan Prabowo walaupun pada kenyataannya yang sering menjelaskan konsep ekonomi kerakyatan dengan fasih adalah Prabowo (atau karena memang menjalankan deal yang sudah disepakati sebelum koalisi?). Prabowo sedang membawa sebuah bola yang tentunya adalah buatan “pabrik”nya sendiri, berada di lapangan dan di hadapan ribuan penonton. Dia menjelasakan secara panjang lebar bagaimana bola (konsep ekonomi kerakyatan) dimainkan dengan sangat bagus untuk dilesakkan ke gawang kemakmuran Indonesia dan menjadikannya Macan Asia yang bangun dari tidur panjangnya. Tak hanya taktik, keunggulan-keunggulan bola yang dibuat dan dibawanya diungkap secara gamblang dan tuntas sambil sesekali menunjuk dan mengatakan bola kompetitornya kurang bagus dan pas untuk kaki orang Indonesia. Dia punya data (berimbang atau tidak, itu masalahnya) ketika menunjukkan dan mengatakan bola kompetitornya kurang baik. Bukan hanya bola mereka yang kurang baik, mereka (kompetitor) pun dikatakan, walaupun sesekali, kurang menguasai permainan dan membahayakan penonton. Sah. Sekali lagi, sah-sah saja. Ekonomi kerakyatan, ditangan Prabowo terasa lebih hidup walaupun belum hidup dalam arti yang sesungguhnya karena masih sebatas konsep. Konsep ini baru bisa dibuktikan kehandalannya setelah mereka turun ke lapangan, memainkan bola ini bersama rakyat dengan mereka (Mega-Prabowo), bukan hanya Prabowo sebagai kapten kesebelasan. Tidak gampang untuk sampai ke lapangan dan menjadi kaptain. Inilah yang saya katakan diawal bahwa penonton (rakyat) memiliki karakteristik unik-bisa sebagai penonton tetapi sekaligus sebagai pemain. Ini dulu yang harus dimenangkan dan dipikat hatinya dan baru setelah itu diajak bermain dan memainkan bola ekonomi kerakyatan.
Bola emas ekonomi keakyatan yang digadang-gadang Prabowo bukanlah sebuah konsep yang buruk. Seperti hal-hal yang lain, konsep ini mempunyai kekuatan dan kekurangan. Kekuatan yang ada saat ini adalah rakyat, bukan bola itu sendiri. Kenapa rakyat? Rakyat adalah asset terbesar yang dimiliki oleh ibu pertiwi selain kekayaan alam. Apalah arti kekayaan yang melimpah ruah kalau pemiliknya bloon dan tidak bisa mengelola. Prabowo bisa melihat hal ini. Program-program yang ditawarkannya melalui partai Gerindra (diatas kertas) mempu menyentuh kebutuhan rakyat. Hampir semua program yang ditawarkannya adalah pemberdayaan rakyat miskin. Pun begitu, ada satu hal yang dilupakan—bidang pertahanan. Tidak pernah disinggung-singgung masalah pertahanan dan kedaulatan nasional. Pertanyaanya adalah, apakah cukup kalau rakyat diberdayakan secara ekonomi dan mental sementara disisi yang sama keamanan rakyat dan kedaulatan bangsa terancam karena uzurnya alutsista yang kita miliki. Gampangnya, apakah orang bisa bisa menikmati hasil kerja dan prestasinya sementara pada saat yang sama ancaman pihak luar semakin intens karena mereka tahu sistim keamanan kita lemah? Ini hanya salah satu lubang jarum daribola Prabowo yang tidak bisa dilihatnya. Rakyat tentu mendukung upaya swasembada energi, swasembada pangan, swasembada ilmuwan, hutang yang semakin kecil. Semua pasti mendukung. Hanya orang “kurang beres” yang senang hidup dalam kemelaratan.
Selain masalah pertahanan, masalah orang kaya juga kurang dipikirkan. Yang diutamakan adalah memberdayakan rakyat dengan memeratakan penghasilan dan pekerjaan. Orang kaya tidak pernah disebut-sebut! Yang selalu disebutkan adalah Prabowo akan melarang mengucurkan kredit untuk pembangunan perumahan atau apalah yang mewah-mewah yang tidak bersentuhan langsung dengan rakyat. Betul. Saya setuju dan sip. Dua jempol saya untuk Prabowo dan bola emasnya. Maksudnya, dimana dan ke mana orang-orang kaya itu akan diposisikan? Memang mudah mengatakan kita terbuka kalau mereka mau berinvestasi di negeri ini. Yang ada dan yang saya lihat waktu Prabowo menyampaikan visinya dalam kaitannya dengan orang kaya dan pemodal, saya melihat Prabowo terlena dalam mimpinya. Kenapa? Dia memposisikan kita sudah swasembada dalam banyak hal. Kenyataannya, mulai berjalan aja belum. Relasi antara yang kaya dan miskin perlu dijembatani dan diatur kembali. Jangan sampai ekonomi kerakyatan dipakai dan dijadikan alasan untuk memerangi orang-orang kaya secara membabi buta karena ada titik potensi konflik yang besar tetapi laten ketika dua istilah kaya dan miskin dipakai. Yang ditakutkan adalah salah tafsir. Ekonomi kerakyatan disalahtafsirkan sebagai landasan yang pas bahkan payung hukum untuk mengganyang orang-orang kaya. Jangan sampai terulang lagi peristiwa kerusuhan Mei 1997 yang menjadikan penfasiran yang salah tentang pribumi dan nonpribumi sebagai dasarnya. Konsep ekonomi kerakyatan harus dijelaskan sebaik mungkin kepada rakyat termasuk filosofinya dan relasinya dengan orang-orang kaya dan pemodal.
Tidak fair kalau kita hanya bisa mengritik apa yang akan dan sedang dilakukan orang lain. Kalau boleh berandai-andai menjadi seorang Parbowo Subiyanto, beberapa hal berikut ini akan saya lakukan untuk mendukung konsep dan program saya tentang ekonomi kerakyatan. Pertama, sadar dan mawas diri. Artinya, saya akan mengkaji dulu siapa saya dan konsep saya dihadapan rakyat yang adalah penonton sekaligus pemain. Karena sudah yakin dengan konsep yang saya miliki, saya akan menggalang kekuatan rakyat dengan cara yang paling sederhana dan konkret (ini sudah dilakukan dengan menjadi ketua HKTI dan Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia) dan menggalang kekutan secara politis (ini sudah dilakukan dengan mendirikan Gerindra dan koalisi dengan PDI-P). Gak perlu banyak omong, rakyat butuh yang praktis-praktis. Selain melakukan tindakan nyata, sebagai seorang kontestan yang berusaha untuk menang tetapi belum tentu menang, saya akan menyiapkan strategi ketika saya nanti kalah atau menang. Kalau kalah, saya akan memimpin partai dan rakyat yang simpati dan pro dengan program saya untuk berkonsolidasi selama lima tahun dan memperkuat basis pemilih. Kalau menang, yang bisa dilakukan segera dilakukan misalnya memperbaiki sistem dan mutu pendidikan dan memulai pengelolaan hutan yang rusak yang luasnya jutaan hektar. Selain itu, merangkul orang-orang kaya dan pemodal dan tidak membuat mereka takut dengan konsep kerakyatan. Rakyat diberdayakan, pemodal dilindungi kepentingannya dalam batas-batas yang wajar karena di tangan pemodal itu ada jutaan rumah tangga dan keluarga digantungkan hidupnya. Lalu bagaimana dengan oposan? Disikapi secara dewasa saja karena adanya oposan justru ada kontrol atas kebijakan-kebijakan yang dibuat. Gampangnya, saya harus siap karena pasangan saya kali ini adalah komandan barisan oposan yang paling vokal mengritik kinerja pemerintah.
Selain dua hal diatas, saya juga akan belajar sejarah. Pengertiannya, tidak degan serta merta sebagai pemimpin baru saya memandang semua yang lama sebagai hal yang tidak baik dan harus dilupakan. Tidak ada prinsip ganti pemimpin ganti kebijakan dalam pengertian warisan yang baik tetap kita pakai dan tingkatkan sambil terus mengupayakan visi misi yang sudah ada demi kepentingan rakyat dalam arti yang sesungguhnya—bukan rakyat partai atau simpatisan. Dalam belajar sejarah ini juga saya akan mengaplikasikan prinsip sadar diri. Menyadari bahwa waktu yang dimiliki tidak panjang. Menyadari bahwa pemimpin nasional bukan Juruselamat yang bisa berbuat apa saja sesuai dengengan kemauannya sendiri, apalagi menjadi tukang dan badut sulap. Saya juga akan mawas diri bahwa kekuasaan presiden dan wakil presiden tidak tak terbatas. Kekuasaan ada di tangan rakyat yang memberi mandat. Ada tangan parlemen yang merupakan representasi dari rakyat. Saya bukan dan tidak takut kepada mereka selam asaya berjalan dalam koridor yang benar. Namun sekali lagi, mentalitas pemimpin adalah penguasa tidak akan ada dalam diri saya (walaupun kalau khilaf ya pasti ada) karena bagi saya pemimpin adalah pelayan bukan penguasa. Rakyat yang harus dilayani bukan sebaliknya. Jabatan yang saya pegang adalah jabatan kepemimpinan bukan jabatan bos. Keduanya sangat berbeda.
Hal terakhir yang terpikirkan ketika menulis artikel ini adalah, seandainya kami menang, saya bukan hanya akan membuat rencana kerja untuk lima tahun kedepan tetapi sepuluh tahun yang akan datang. Rencana ini akan membuat saya lebih matang dan bisa menerima seandainya saya kalah dalam pemilihan kali ini. Toh masih ada rakyat. Pasangan bintang lapangan boleh berganti tetapi rakyat dan masa depan rakyat masih tetap ada dan harus tetap diperjuangkan. Apakah ini berarti saya narsis dan tidak tahu malu? Gak juga! Terserah Anda yang menilainya. Yang jelas, penilaian bisa salah bisa benar. Saya yakin, masih ada rakyat yang mau menerima konsep saya. Pilihlah saya Prabayu Sudi Gunawan, coblos (wah , coblos atau contreng ya..) nomor 19 (nomor rumahku) dan mari kita mainkan sepak bola ekonomi kerakyatan. Hidup rakyat. Rakyat berdaulat…. Merdeka…!!! (pura-puranya Bu Mega muncul dan memberi semangat dengan salam khasnya). Sampai bertemu di Indonesia baru dan jangan sia-siakan hak pilih Anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s