Aku Dapat Dua.. Mau?

Posted: July 6, 2009 in Kritik sosial
Tags: , ,

Dalam beberapa artikel mengenai PILPRES yang saya unggah di Wikimu yang membahas tema yang bervariasi mulai isu ekonomi kerakyatan dan lika-likunya (baca disini), Pelangi 3 rasa slogan kampanye Capres-Cawapres serta apa yang bisa kita tarik dari dalamnya. Artikelnya ada di sini. Dan yang terakhir adalah menambahkan cita rasa legit manis kepada Pelangi 3 rasa slogan-slogan itu menjadi semakin mak nyuus serta menjadikan demokrasi bak kue Lapis Legit yang enak dan menggingit di lidah dengan sikap seorang negarawan sejati katika kalah dalam Pemilu nanti. Legit dan mak nyuusnya demokrasi dalam kaitannya dengan jiwa kenegarawanan sejati bisa dibaca di link ini. Ada berbagai tanggapan terhadap apa yang saya tulis. Ada yang datar-datar saja, ada yang minor, ada juga yang pedas, terutama dalam artikel ekonomi kerakyatan. But, semuanya ok dan bisa diterima.
Masih dalam rangkaian artikel PILPRES, dalam posting ini saya hanya akan sharing saja. Sharing apa yang baru saya dapatkan kemarin sore 5 Juli 2009. Semoga bisa bermanfaat dan menjadi bahan perenungan bagi kita semua.
Namun sebelum men-sharing-kan pengalaman saya, perkenankan saya bertanya kepada rekan-rekan sekalian,”Pemilu Presiden sebaiknya ditunda atau tetap dilaksanakan pada 8 Juli 2009? Dan, apakah menurut Anda, daftar pemilih tetap sudah syah dan sesuai? Atau, apakah Pemilu harus ditunda sampai semuanya beres, paling tidak dalam masalah DPT?
Anda bebas memberikan tanggapan, respon, masukan, advis atau apapun juga. Anda bisa menuliskan respon, advis, tanggapan atau protes Anda di kolom komentar atau menjadikan bahan untuk menulis artikel mandiri. Silahkan saja.
Ok, sekarang saya share apa yang saya dapat kemarin. Saya dapat dua, ingat DUA (ini bukan kampanye terselubung supaya Anda memilih kandidat dengan nomor urut dua) undangan untuk datang ke TPS dan mencontreng. Yang pertama, saya dapat dari ketua RW 08 Kelurahan Kalirejo Lawang dimana saya terdaftar sebagai penduduk (karena memang KTP saya beralamat di sana) dan di Daftar Pemilih Tetap nama saya memang terdaftar. Yang kedua, saya dapat undangan dari petugas yang ada di rumah saya di Perum Bumi Mondoroko Raya Singosari Malang. Bukan hanya saya yang dapat dua panggilan, istri saya pun dapat dua juga.
Baiklah, supaya rekan-rekan tidak bingung, begini cerita selengkapnya. 3 tahun yang lalu kami mengambil KPR di Perum Bumi Mondoroko Raya. Kami dapat kavling di blok AH no. 19. Sejak awal sampai saat ini, KTP saya tetap beralamat di Jln. Sumber Waras 3/261 Kalirejo Lawang. Kenapa tidak pindah “kewargenegaraan” saja menjadi “warganegara” Singosari dengan KTP Singosari? Ada beberapa hal dan pertimbangan yang membuat kami belum pindah “kewarganegaraan”. But, keberadaan saya di sana legal karena sudah pernah memberikan data kepada perangkat desa via pengurus RT dan RW di Singosari. Semoga cerita singkat ini bisa memperjelas.
Beberapa minggu yang lalu, seorang pengurus RT di perumahan mendatangi saya ketika saya ada di rumah (saya tidak setiap hari ada di rumah Singosari) dan meminta nomor KTP saya danistri saya untuk data kependudukan. Ya, saya kasih aja wong tujuannya baik. Apakah ini berkaitan pada akhirnya dengan undangan mencontreng yang kami terima atau tidak saya tidak tahu. Yang jelas, ini bukan kesengajaan untuk berbuat curang karena saya tahu pasti perangkat RT bukan simpatisan partai manapun.
Balik lagi ke DPT ganda yang saya dapat dengan dua “kewarganegaraan”. Kemarin sore, menjelang arisan ibu-ibu PKK di rumah saya, seorang ibu pengurus PKK memberikan 2 undangan kepada saya. Beliau mengatakan semua warga didaftarkan termasuk saya dan istri sehingga dapat surat panggilan untuk mencontreng. Niat ini mulia dan menunjukkan kepedulian kepada sesama warga walaupun kami sangat jarang ada di rumah. Saya terima dan tandatangani bukti penerimaan surat panggilan itu tetapi dengan komitmen, saya dan istri, hanya akan menggunakan hak pilih dimana kami terdaftar sebagai “warga negara”—di Lawang. Lha yang satunya? Biarkan saja hangus karena bukan hak kami mencontreng di sana.
Saya tidak ada waktu untuk mengecek ulang apakah saya dan istri terdaftar dalam DPT di wilayah rumah kami. Seandainyapun kami terdaftar, kami tetap pada komitmen kami semula untuk tidak mencontreng di Singosari dan memperkeruh masalah yang sudah ada. Data DPT masih kacau kan? Bahkan Tim JK-Win mengusulkan Pemilu ditunda dulu.
Dari kasus ini saya mempelajari dan sekaligus bertanya-tanya bagaimana mungkin orang yang tidak ber-KTP di sebuah tempat walaupun secara de facto dia adalah penduduk di sebuah tempat bisa mendapatkan surat panggilan untuk memilih (sekali lagi, saya tidak dan belum pernah mengecek langsung apakah nama saya dan istri saya masuk dalam DPT di Singosari). Semudah itukah? Di mana letak kesalahannya kira-kira? Apakah sistemnya yang harus diganti atau pemerintah harus berusaha mempercepat penyelesaian program SIN (Single Identity Number) yang oleh Pak Nuh, Menkominfo, dikatakan akan selesai pada 2012 untuk mempermudah dan menekan sekecil mungkin angka kecurangan (kalau yang disengaja) dalam pemilu dan memudahkan pemilih seperti yang sudah dilakukan di Malaysia. Jadi, lebih sulit untuk memanipulasi data pemilih dan cost Pemilu pun bisa ditekan dengan menaplikasikan SIN dan metode-metode pemilihan berbasis elektronik dan TI. Kami dapat dua…Anda dapat berapa…mau?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s