Icang Jadi Yudi: “Kekeluargaan” di TPS itu (1)

Posted: July 9, 2009 in Kritik sosial
Tags: , ,

Kekeluargaan ternyata memang terbukti ampuh untuk dan dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk menyelesaikan masalah. Birokrasi DPT pun bisa “dijebol” dengan trik yang bernama kekeluargaan. Kekeluargaan sebagai ikatan primordial bahkan bekerja ketika kita tidak memintanya. Buktinya? Saya mendapatkan 2 undangan untuk memilih pada pilpres 2009. Baca di sini selengkapnya. Diakui atau tidak, the power of kekeluargaan kadang lebih kuat dari kekuatan birokrasi yang seringkali dan pada kenyataannya sangat kuat, rumit, dan kompleks.
Kalau pada posting saya sebelumnya saya menceritakan tentang apa yang saya alami dengan the power of kekeluargaan yang mendapat tanggapan beragam, kali ini saya sampaikan bagaimana the power of kekeluargaan itu menembus “sekat” dan “batas” administrasi dalam proses pilpres 8 Juli 2009. Inilah cerita selengkapnya.
Seperti halnya Anda, saya dan keluarga, 8 Juli kemarin pergi ke TPS untuk menggunakan hak politik dengan memilih pasangan capres-cawapres. Tidak banyak orang yang antri di TPS. Orang-orang yang datang sebelum kami mengatakan cepat sekali prosesnya. Ketika kami sampai di TPS, hanya ada kurang dari 10 orang yang antri termasuk saya dan istri. Seperti biasa, kami menyerahkan undangan kepada petugas. Semua berjalan seperti biasa. Tidak ada yang berbeda dengan ketika saya mengikuti PILKADA Gubernur Jatim dan PILEG sebelumnya. Bagi saya, saat itu, tidak ada yang ganjil dan janggal. Kejanggalan baru saya rasakan setelah menjelang sore dan kami sudah berada di rumah. Di sini juga awal dari cerita ttg kekeluargaan yang diaplikasikan secara salah.
Saya ceritakan dulu aplikasi “terlarang” dari sebuah relasi yang disebut kekeluargaan. Dalam antrian bersama saya, ada seorang anak muda. Kami tahu persis identitas anak muda ini. Bukan hanya karena dia tetangga tetapi juga masih ada hubungan kerabat. Petugas mulai memanggil calon pemilih berdasarkan undangan yang dikumpulkan. Semua biasa dan wajar-wajar saja. Setelah bilk (?) kosong, petugas memanggil kembali nama berdasarkan urutan antrian. “Yudi Prasetyo,” teriak petugas tsb. Anak muda yang masih kerabat dengan kami itu berdiri dan berjalan ke arah petugas yang memberikan suara. Ketika anak muda ini berjalan, sang petugas berkata,”Jenengmu ganti ta (Namamu ganti ya).”
Saya bingung melihat kejadian ini. Dalam kebingungan itu, saya tidak sempat menyampaikan kepada petugas PPS bahwa anak itu namanya berbeda dari nama yang dipanggil. Tidak ada kesempatan untuk bertindak lebih jauh karena anak muda ini segera keluar dari TPS setelah melakukan pencontrengan. Cepat dan sangat cepat. Kami segera maju memenuhi panggilan setelah anak muda itu keluar TPS. Tidak jauh jarak waktunya. Kira-kira 0.5 s/d 1 menit. Cepat sekali!
Setelah saya dan istri selesai mencontreng dan keluar dari TPS, kami sempat berdiskusi. Saya tanyakan kepada istri saya,”Siapa nama sebenarnya anak itu? Kami mengenalnya sebagai Ichang. Seperti itu dia bias dipanggil. Apakah itu nama kecil atau namanya yang sebenarnya? Istri saya menjawab, yang jelas, nama Yudi Prasetyo itu adalah nama suami dari kakak sepupu anak muda itu.
Semoga Anda bisa melihat adanya aplikasi menyimpang dari sebuah hubungan yang disebut kekeluargaan di TPS. Dari mana kita bisa tahu? Dari pertanyaan petugas di TPS,”Jenengmu ganti ta (Namamu ganti ya..)”?
Mari kita lihat penyimpangan yang oleh sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan lumrah dengan mengatasnamakan hubungan primordial yang disebut kekeluargaan. Bukankah kisah-kisah seperti ini sering kita jumpai dan alami? Adalah sebuah kesalahan yang sangat besar ketika hal seperti ini dilakukan, dalam konteks ini, dalam proses demokrasi. Bukankah hal seperti ini kalau terus dipelihara dan dibiarkan akan menjadi “racun” bagi demokrasi. Semoga kasus ini bisa menginspirasi kita untuk mengembangkan kejujuran dalam berdemokrasi. Kejujuran demokrasi dan berdemokrasi harus kita mulai dari diri kita sendiri. Saya sangat menyesal tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan hal itu karena termangu dalam ketidakpercayaan saya si Ichang bisa jadi Yudi. Ini tidak boleh terjadi lagi.
Supaya tidak terlalu panjang, cerita tentang aplikasi kekeluargaan di TPS dalam kaitannya dengan prosedur administrasi yang saya lihat kemarin akan saya tuliskan dalam posting tersendiri. Bagimana, “jago” Anda kalah atau menang…?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s