Icang Jadi Yudi: “Kekeluargaan” di TPS itu (2)

Posted: July 9, 2009 in Kritik sosial
Tags: , ,

Dalam posting saya sebelumnya yang adalah bagian 1 dari 2 mengenai “penyimpangan” aplikasi hubungan kekeluargaan dalam konteks dan peristiwa pemilu presiden 8 Juli 2009, saya sampaikan kisah nyata tentang bagaimana si Ichang bisa mencontreng dengan menjadi Yudi Prasetyo dan atas sepengetahuan salah satu oknum PPS serta “kebodohan” saya karena tidak sempat berbuat sesuatu terus termangu dan larut dalam ketidak percayaan kenapa Ichang bisa jadi Yudi.
Dalam posting ini, saya akan menyampaikan apa yang saya anggap, sekali lagi, yang menurut saya sebagai malpraktik administrasi dalam penyelenggaraan Pemilu.
Pemilu Presiden kali ini TPS yang dialokasikan untuk warga RT kami dan beberapa RT lainnya berbeda dari TPS yang dulu pada waktu kami diundang untuk mencontreng dalam PILKADA Gubernur Jatim dan PILEG. TPS kami sekarang berbeda. Petugasnyapun berbeda. Dari perbedaan TPS dan petugas inilah saya bisa menganalisa adanya “ketimpangan” di TPS tempat kami mengikuti dan menyalurkan hak politik kami untuk memilih presiden.
Pada PILPRES kali ini, kami mendapatkan pelayanan yang cukup cepat. Baca lagi posting ini. Pelayanan yang cepat tentunya sangat memuaskan banyak pihak termasuk saya waktu itu. akan tetapi, justru pelayanan yang cepat iniah yang kemudian membuat saya berpikir dan menemukan apa yang menurur saya sebagai sebuah tindakan “malpraktik”.
Untuk menyamakan persepsi tentang pelayanan standar di TPS, saya mengajak Anda untuk mengingat kembali bagaimana petugas TPS melayani Anda kemarin. Kalau ada satu atau 2 hal dari pengalaman kita yang berbeda, mari kita saling sharing dan berbagi informasi supaya persepsinya bisa sama dan Anda bisa mengoreksi kalau menurut pengalaman dan peraturan yang ada apa yang saya katakan sebagai “malpraktik” tidak benar. Saya sangat terbuka untuk hal itu.
Baik, saya mulai cerita saya. Saya menggunakan 2 pemilu (pilkada gubernur Jatim dan Pileg) sebelumnya sebagai acauan pertama dan selanjutnya membandingkan acuan proses dan prosedur yang dilalui di TPS kemudian membandingkannya dengan proses dan prosedur dalam Pilpres 8 Juli 2009. Anda bisa melakukan hal yang sama.
Pada 2 pemilu sebelumnya, ketika masuk areal TPS, yang pertama saya lakukan adalah datang ke meja pendaftaran dengan menyerahkan kartu/surat undangan kepada petugas PPS. Petugas meneliti undangan yang saya berikan dan mencocokkan apakah nama saya sesui atau tercatat di dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap). Sampai sini, apakah Anda dan petugas PPS melakukan hal ini juga? Selanjutnya, petugas meminta saya untuk duduk menunggu sampai bilik (?) kosong. Setelah kosong, baru petugas yang lain memanggil dan saya mendatangi meja (grup) KPPS untuk mengambik surat suara yang sudah ditandatangani oleh anggota KPPS. Baru setelah itu dipersilahkan untuk melaksanakan pencontrengan sesuai dengan pilihan. Yang terakhir adalah, saya memasukkan surat suara ke kotak yang telah tersedia dan kemudian keluar dengan lebih dulu mencelupkan jari ke tinta sebagai tanda sudah menggunakan hak pilih. Ringkasan prosedurnya adalah DAFTAR—PENGECEKAN OLEH ANGGOTA KPPS—DIPANGGIL–MENGAMBIL SURAT SUARA–PILIH—SELESAI. Begitu? Atau masih ada yang terlewatkan oleh saya?
Kalau di TPS sebelumnya pada 2 kali pemilu (Pilkada gubernur Jatim dan Pileg) prosedur yang saya lalui seperti itu, tetapi kemarin, prosedurnya lebih pendek. Satu urutan “dihilangkan”. Urutannya seperti ini. DAFTAR (tepatnya mengumpulkan undangan)—DIPANGGIL (tanpa dicek lebih dulu)—DIBERI SURAT SUARA—PILIH—SELESAI.
Sekarang, coba Anda ingat lagi, prosedur mana yang Anda lakukan—pertama atau kedua? Kalau sudah, mari kita lihat, apakah ada titik dan celah untuk melakukan penyimpangan dalam kedua prosedur itu sehingga si Icang dalam posting ini bisa mencontreng dengan memakai nama Yudi. Menurut saya, pada prosedur yang pertama, akan sangat sulit bagi si Ical untuk menyusup. Tapi pada prosedur kedua, dia sangat mudah melakukannya. Apalagi sudah ada “hubugan kekeluargaan” dengan oknum petugas PPS.
Selain karena faktor “hubungan kekeluargaan” dengan oknum petugas PPS yang jelas-jelas tahu bahwa Ical bukan Yudi, yang memudahkan penyalahgunaan undangan untuk mencontreng ini adalah dihapuskannya (entah karena alasan apa; kecepatan mungkin) prosedur pemeriksaan dan pencocokan data DPT lah yang menyebabkan hal ini terjadi. Saya berpikir, petugas PPS di TPS IX hanya berorientasi kepada satu sisi—kepuasan calon pemilih saja (bisa dilayani dengan baik) tanpa memperhatikan faktor lainnya—kebenaran dan kesesuaian data dengan DPT. Kalau pemeriksaan dan pencocokan DPT dengan undangan dilakukan belakangan, sangat terbuka kemungkinan untuk terjadinya manipulasi baik yang berupa penggelembungan atau pengurangan suara bila data DPT tidak sesuai dengan jumlah undangan.
Inilah yang saya sebut sebagai malpraktik prosedur. Memang lebih cepat waktu yang dibutuhkan bagi seseorang untuk melakukan hak pilihnya. Tapi, akurasi data dan personnel sangat diragukan. Apalagi dalam kasus ini sudah ada indikasi aplikasi rasa kekeluargaan secara salah oleh oknum petugas PPS yang jelas-jelas tahu bahwa orang yang mencontreng dengan undangan yang dibawanya namanya berbeda.
Ini hanya sebuah kasus. Bagi saya ini bukan kasus yang bisa dianggap kecil dan main-main. Pengurangan prosedur memang berakibat pada efisiensi di satu titik tetapi membahayakan di titik dan kepentingan yang lain.
Kasus inilah (penghilangan satu urutan prosedur yang sebenarnya justru sangat penting) yang saya anggap sebagai malpraktik dalam proses demokrasi. Hal seperti ini mungkin tidak terjadi di TPS dan wilayah lain. Akan tetapi, bukan tidak mungkin juga hal seperti ini tetap terjadi. Malpraktik seperti ini berbahaya bagi proses demokrasi dan demokratisasi.
Setelah membaca pengalaman yang saya sampaikan, apakah dalam perspektif Anda, hal ini wajar-wajar saja dan dibiarkan saja? Atau, apakah Anda menganggapnya sebagai masalah yang serius dan urgen untuk dipecahkan? Bagaimana juga hal seperti ini harus ditangani kalau dianggap sebagai masalah yang membahayakan? Silahkan beropini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s