QUICK COUNT: DIPEGANG ATAU DITENDANG?

Posted: July 11, 2009 in Kritik sosial
Tags: , , ,

QUICK COUNT: DIPEGANG ATAU DITENDANG?

Quick count atau hitung cepat mulai lazim digunakan di Indonesia. Event besar seperti PEMILU baik pemilihan kepala daerah maupun presiden mengaplikasikan hal ini untuk memberikan informasi kepada khalayak mengenai posisi suara pasangan yang bersaing di pentas pemilihan kandidat. Mengingat manfaatnya, walaupun tidak semua orang dan pihak mengakui manfaanya, metode hitung ini bisa diterima sebagai penyaji informasi awal atau global overview mengani posisi perolehan suara kandidat yang sedang bersaing di panggung pemilihan. Karena manfaatnya itulah, maka beberapa lembaga survei melakukannya pada PILPRES kali ini.
Selain merasa mendapatkan manfaat, ada pihak-pihak yang merasa “gerah” dengan hasil penghitungan yang disajiikan oleh lembaga survei tertentu. Alasan yang umum dilontarkan adalah hasil hitung cepat belum bisa dijadikan patokan untuk menyimpulkan kemengan dan atau kekalahan pasangan kandidat dari pasangan lainnya, mengarahkan dan menggiring opini publik kepada calon tertentu dan yang lebih parah adalah (tuduhan) penyesatan informasi.
Pro dan kontra mengenai sesuatu selalu ada. setuju tidak setujupun selalu menjadi bagian dalam kehidupan karena adanya kepentingan-kepentingan tertentu. Lau, salahkah mereka yang keberatan dengan hasil quick count dengan alasan-alasan seperti diatas. Tidak! Sama sekali tidak karena keberatan atau ketidaksetujuan terhadap sesuatu adalah bagian dari hak azasi manusia. Pun begitu, kurang etis dan wajarlah kalau kita menyatakan ketidaksetujuan hanya karena ketakutan dan fobia yang melekat di dalam diri dan kepentingan kita. Mungkin kita bertanya, lalu sebaiknya bagaimana, quick count dipegang atau ditendang saja?
Menjawab pertanyaan diatas, opini saya adalah dua-duanya. Dua-duanya? Ya, dipegang dan ditendang. Yang dipegang (dalam batas dan kapasitas sebagai general data dan informasi umum) adalah kalau quick count dilakukan dengan menggunakan metode-metode penelitian yang benar, sahih, beretika, bisa dan terbuka untuk diperiksa akuntabilitasnya, netral—dalam pengertian mengedepankan kebenaran nilai-nilai ilmiah. Siapa yang melakukan juga masuk dalam pertibangan apakah hasilnya bisa dipegang atau tidak. Sekali lagi, informasi yang disampaikan sebagai hasil dari pengambilan sample yang dilakukan dalam prosesnya adalah informasi yang sifatnya umum dan global dan bukan sebagai sebuah kesimpulan. Hipotesa mungkin tepatnya. Benarkah hipotesa?
Informasi umum yang diberikan oleh quick count yang harus kita tendang adalah kalau proses, siapa yang melakukan dan bagiamana penghitungan itu dilakukan berlwanan dengan hal-hal seperti diatas. Saya yakin, lembaga-lembaga survei yang melakukan quick count dalam even pilpres kali ini adalah lembaga yang netral dan bukan bekerja menurut pesanan. Kalaupun ada satu atau dua lembaga yang bekerja menurut pesanan, ya, itu adalah hak mereka. Orang atau kelompok berhak dan boleh melakukan pekerjaan. Undang-undang pun menjamin kesetaraan untuk mendapatkan dan melakukan pekerjaan.
Lalu bagaimana dengan tudingan quick count menggiring opini, dan yang lebih parah adalah menyesatkan? Dalam perspektif saya, pengarahan opini publik pasca PILPRES kurang atau bahkan tidak efektif. Alasannya? Rakyat sudah memilih dan suara sudah diperoleh oleh pasangan kandidat. Yang lebih tepat dikatakan sebagai penggiringan opini adalah upaya untuk menampilkan informasi-informasi mengenai pasangan kandidat prapemilu. Bukankah itu sudah dilakukan? Coba diingat lagi, bukankah sebelum pemilu atau tepatnya pada masa kampanye bahkan beberapa bulan sebelumnya selalu ada tayangan tentang elektibilitas pasangan A lebih baik dari yang B danC. Ada kan? Selain itu, iklan kampanye yang menampilkan kebaikan satu sisi kandidat dengan “menjelekkan” pasangan kandidat lainnya. Ini, menurut saya, yang lebih efektif untuk dijadikan mesin penggiring opini. Pada tahap ini yang bekerja lebih banyak adalah tim sukses. Kalaupun ada lembaga survei yang menampilkan informasi tentang elektibilitas, kepopuleran tokoh, itu hak mereka. Apakah mereka dibayar atau tidak oleh pasangan kandidat tertentu, saya tidak akan ngomong sejauh itu. ungkapan Barat mengatakan No Free Lunch.
Yang perlu dipersiapkan oleh pasangan kandidat yang berlomba untuk meraup suara dan mandat rakyat saat ini bukan bersitegang dengan mengangkat isu penyesatan dan penggiringan opini melalui quick count. Bukan! Itu tidak ada gunanya. Mempersiapkan untuk menerima kekalahan dan kemudian menentukan strategi untuk menempatkan orang-orang yang tepat di parlemen untuk kepentingan bangsa dan negara dalam arti yang sesungguhnya jauh lebih penting. Kalau kalah, kenapa tidak menerima kekalahan dengan legowo dan menyipakan diri untuk menjadi seorang negarawan yang baik dan mengabdi kepada bangsa dan negara. Eker-ekeran mengenai hasil quick count bagaikan rebut balung tanpa isi dalam pepatah Jawa.
Sekali lagi, quick count hanya menampilkan informasi umum karena “kesimpulan” yang ditarik dilandasi oleh data yang dikumpulkan dari cluster-cluster sample dari populasi yang ada. so, menurut saya terlalu berlebihan kalau kita menjadikan hasil quick count sebagai kesimpulan terakhir walaupun dari sana kita bisa melihat posisi sesuatu secara umum. Kasus quick count pilkada Jatim yang melansir kemangan pasangan Kofifah-Muji tetapi hasil real count KPU menyatakan sebaliknya, pasangan Pakde Karwo—Saifullah Yusuf sebagai pemenangnya bisa kita jadikan pelajaran. Akan tetapi, kita tetap bisa menjadikan ahasil quick count sebagai referensi awal sementara kesimpulan akhirnya adalah data dari tabulasi nasional yang dikeluarkan KPU atau real count.
Yang jelas, quick count tidak dilakukan secara serampangan dan sembarangan. Biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Tempat-tempat dari mana sample diambil sangat menentukan hasil quick count. Kalau mayoritas sample yang diambil adalah didominasi populasi merah, kemungkinan besarnya hasilnya juga dominan merah. Cara sample ditarik pun juga menentukan hasilnya. Yang penting bagi kita adalah, kita lihat saja dan bandingkan hasil quick count dengan hasil real count. Hasil real count itulah yang bisa dijadikan patokan akhir untuk bersikap. Yang saya maksud bersikap adalah, kalau kalah ya, harus legowo menerima kekalahan dengan tidak mencari-cari dalih dan pembenaran sepihak untuk tidak menerimanya. So, menurut Anda bagaimana, pegang atau tendang saja hasil quick count

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s