“Ditonjok” Tukang Krupuk

Posted: July 15, 2009 in Kritik sosial
Tags: , , , ,

Seloroh dan guyonan tukang krupuk dengan seorang anak langganannya menohok dan “menyakitkan”. Menohok dan “menyakitkan” dalam pengertian perlu dipikirkan secara sungguh-sungguh alternatif untuk meminimalisir munculnya guyonan-guyonan seperti itu pada masa-masa yang akan datang..
Tukang krupuk yang darinya saya sering membeli adalah figur yang ramah dan humoris. Karakter inilah yang membuat orang lebih cepat akrab dengan dia dan pada gilirannya meledakkan penjualan krupuknya. Walaupun gak enak-enak banget rasa krupuk yang dijualnya, kebebsan yang diberikan kepada customernya untuk mencicipi adalah poin lebih lain selain keramahan dan sikap humorisnya.
Kembali ke guyonan yangmembuat saya tertohok. Kepada seorang anak kecil yang diantar ibunya ke sekolah untuk pertama kalinya tetapi lebih dulu ibunya mampir untuk beli krupuk, sang penjual mengatakan dengan berseloroh,”Gak usah sekolah le, percuma engko golek penggawean angel. Koyok aku iki, mek dodolan krupuk ngene iki. Rugi, mbayare larang. Gak usah sekolah wis,”katanya sambil berseloroh. Dan memang itu Cuma seloroh dan gurauan. Kalau diterjemahkan, begini kira-kira bunyinya,”Gak perlu sekolah nak (le adalah sebutan untuk anak kecil laki-laki di Jawa), percuma saja, toh nanti cari kerjaan juga sulit. Saya ini lho contohnya, Cuma jadi penjual krupuk. Rugi, sekolah mbayarnya mahal.”
Pernahkan Anda memikirkan guyonan dan seloroh semacam ini secara serius? Saya yakin, guyonan semacam ini ada di hampir semua tempat dan strata sosial dalam masyarakat. Pernah mendengar yang semacam ini? Lalu apa yang Anda pikirkan tentangnya? Apakah Anda menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah, lazim, jamak dan gak perlu dipikir karena hanya buang-buang energi. Atau apakah Anda memikirkan seloroh seperti ini sebagai sesuatu yang serius dan mengindikasikan adanya sesuatu yang tidak sehat di dalam masayarakat kita? Saya memikirkan yang kedua!
Bagi saya, guyonan semacam ini memang bukan barang baru. Setidaknya intensitasnya semakin meningkat dari hari ke hari? Apa yang saya tangkap? Keputusaasaan! Ya, masyarakat kita mulai putus asa karena jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia justru berbanding terbalik dengan ketersediaan tenaga kerja potensial serta tingginya biaya pendidikan. Apakah Anda berpikiran seperti saya?
Keputusaasaan semacam ini timbul dari tidak terpenuhinya ekspekstasi yang terlalu besar. Rakyat mengharapkan pemerintah mampu menyediakan lapangan kerja yang bisa menyerap, kalau bisa, seluruh angkatan kerja. Mustahil! Pada satu sisi harapan atau lebih tepatnya tumpuan “nasib” semacam itu tidak salah karena memang pemerintah bertugas untuk menyediakan lapangan kerja (tolong tidak selalu diartikan sebagai pekerjaan sebagai PNS) yang akan menyerap angkatan-angkatan kerja produktif sehingga mereka tidak menjadi pengangguran yang hanya “membebani” keluarga dan masyarakatnya. Tetapi pada sisi yang lain, penumpuan nasib semacam itu adalah mustahil, Semua ada batasnya! Kalau begitu, siapa yang salah dan layak dipersalahkan? Tidak ada. Bukan waktunya lagi mencari-cari kambing hitam untuk dipersalahkan karena harga “kambing hitam” mahal (he… he..). yang harus dicari adalah solusi dengan menjadikan guyonan-guyanoan semacam yang dilontarkan penjual krupuk itu sebagai cermin sekaligus koreksi bagi kita.
Tidak elok dan kurang etis kalau kita menyalahkan pemerintah dalam hal ini. Pemerintah sudah berupaya untuk melakukan berbagai tindakan untuk meningkatkan mutu pendidikan mulai dengan memberikan dana BOS sampai meningkatkan anggaran pendidikan sampai 20% dari APBN (walaupun baru bisa direalisasikan pada pemerintahan yang baru nanti). Paling tidak pemerintah sudah berupaya dan itu harus kita hargai. Selain dana, pemerintah juga meningkatkan baku mutu kelulusan yang pada praktiknya membuat siswa “berdarah-darah” dan terjadinya kasus-kasus pembocoran soal dan jawaban untuk mengakali supaya angka kelulusan murid bisa tinggi. Memang, babak belur murid dan guru dibuatnya.
Selain langkah penigkatan anggaran dan penetapan pagu nilai kelulusan, pemerintah juga gencar mengampanyekan program sekolah vokasional atau kejuruan. Tujuannya positif—supaya anak didik bisa mandiri dan tidak terlalu tergantung kepada pemerintah dalam hal pekerjaan. Mereka diharapkan bisa menciptakan lapangan kerja bagi setidak-tidaknya dirinya sendiri (apakah yang semacam ini tidak akan membuat kita terpeleset ke dalam jurang menciptakan tukang-tukang bukan teknorat?). semua diupayakan walaupun semua belum sempurna dan tidak akan ada yang sempurna. But, bukan berarti angka 95 dari angka sempurna 100 (yang katanya untuk Tuhan) tidak bisa dicapai dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan penyediaan lapangan kerja, bukan?
Selain karena kekecewaan, seloroh tukang krupuk itu dan yang lain yang sejenis, timbul karena belum lepasnya budaya amtenaar yang diwariskan penjajah Belanda. Pada budaya ini, orang hanya berlomba-lomba untuk menjadi pegawai negeri. Enak, gak kerja keras dan dapat pensiun lagi. Pertanyaan saya adalah, sampai kapan kita bisa berpura-pura bahwa negara mempunyai cukup persediaan dana untuk membayar pensiun para PNS yang sudah purna karya? Sampai kapan dan apakah dana itu benar-benar ada? budaya ini yang paling parah menyerang pikiran banyak orang. Intinya, kita sendirilah yang salah dalam hal ini.
Memang, pendidikan dan lapangan pekerjaan bak dua mata rantai yang tidak bisa dipisahkan. Akhir dari sebuah proses persekolahan (atau pendidikan; mana yang tepat?) adalah aharapan untuk memperoleh pekerjaan yang layak dengan gaji memadai. Harapan itu tidak salah! Akan tetapi, bila yang dikejar sebagai tujuan akhir dari proses persekolahan adalah mencari pekerjaan, mungkin masih ada yang salah yang harus kita pikirkan jalan keluarnya. Pendidikan dan lapangan kerja di satu sisi memang tanggungjawab pemerintah tetapi tidak serta merta melepaskan tanggungjawab kita. semua saling terkait dan (seharusnya) sinergis. Yang perlu dibenahi adalah sikap mental yang selalu ingin mencari pekerjaan. Memang, mengubah arah pikir dan pemikran dari pencari kerja ke pengusaha mandiri seberapapun besarnya bukan pekerjaan mudah dan bisa dilakukan hanya dalam sekali duduk. Semua harus diupayakan bersama sehingga nantinya seloroh menyakitkan semacam itu menjadi barang langka karena kita bisa berdikari. Sekali lagi, butuh proses, kerja keras, dan kebersamaan untuk mewujudkannya. Disini tidak diperlukan orang atau kelompok yang kerjanya hanya teriak-teriak tetapi tidak mau bekerja. Yang diperlukan untuk mengubah paradigma adalah kerja dan KERJA KERAS!
Saya adalah pekerja kantoran walaupun bukan seorang PNS. Keinginan terbesar saya saat ini adalah mencari dan melakukan terobosan untuk “keluar” dari sistem dan budaya kantoran dan menjadi pengusaha mandiri. Itu butuh waktu dan itu yang sedang diperjuangkan. Bagaimana dengan Anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s