MOS: Dilupakan Sayang, Kebablasan Jangan

Posted: July 18, 2009 in Kritik sosial
Tags: , , , , ,

Masa orientasi siswa dengan berbagai varian dan variasi nama dan peruntukannya rupanya masih terus dipertahankan sebagai sebuah tradisi di hampir semua lembaga pendidikan. MOS (Masa Orientasi Siswa) yang gambarnya dipublikasikan di kolom beranda wikimu saya ambil dari kegiatan yang sedang berlangsung di SMPN 1 Kalirejo Lawang Jatim. MOS, OPSPEK, ORIENTASI STUDI dsb, dsb adalah varian nama dari sebuah kegiatan pengenalan studi dan atau sekolah, kampus dan lembaga pendidikan. Tujuannya, katanya, selain untuk memperkenalkan dan membekali siswa atau mahasiswa baru dengan pengetahuan tentang lingkungan sekolah dan studi yang akan dijalani oleh seorang siswa juga mendidik kedisiplinan dan ketahanan mental. Benarkah dua hal terakhir ini??
Pengarahan dan pembekalan pengetahuan tentang lingkungan dan studi bisa diterima karena selama kegiatan seperti itu selalu ada sesi-sesi penjelasan dari pihak sekolah, kampus, atau lembaga mengenai apa yang akan dilakukan selama studi, bagaimana aturan mainnya, dan akan menjadi apa setelah siswa atau mahasiswa lulus dari lembaga pendidikan tersebut. Semua unit kegiatan yang ada di kampus (unit Kegiatan Mahasiswa), di sekolah (namanya macam-macam) selalu tampil dan menawarkan “dagangan”nya. Positif dan memang positif.
Kedisiplinan dan ketahanan mental seringkali juga diusung sebagai tujuan (semu) diselenggarakannya MOS atau OPSPEK atau apalah namanya. Sayangnya, untuk mencapai (yang katanya) tujuan itu metode yang digunakan dan selalu terulang dari tahun ke tahun adalah memaksa siswa atau mahasiswa baru untuk mencari dan memakai atribut aneh-aneh. Panitia seringkali memaksa untuk mencari bahan atau benada-benda yang sulit dicari dalam waktu yang sangat singkat. Atau parahnya, pernah saya temukan, panitia sengaja kongkalikong dengan pihak ketiga untuk menjual sesuatu dengan harga tinggi. Yang saya temukan adalah konspirasi menjual air mineral dengan merek dan ukuran tertentu yang tidak umum dijual di tempat lain. Dijualnya hanya di dekat sekolah atau toko yang masuk dalam jaringan konspirasi dengan panitia. Yang jelas, siswa atau mahasiswa baru pasti mau beli walaupun harganya tidak masuk akal karena takut menerima ancaman hukuman yang sudah disertakan pada waktu memerintahkan untuk membawa barang-barang tertentu. Apakah kasus-kasus semacam ini bisa dikatakan sebagai proses pengembangan ketahanan mental? Menurut saya kok tidak ya.
Selain memaksa siswa atau mahasiswa baru untuk mencari dan membawa barang dan atribut “aneh-aneh”, mneniru secara keliru dan memaksa mengaplikasikan pola-pola militer juga sering dilakukan. Kalau hanya baris berbaris itu masih mending dan memang ada gunanya menurut saya. Tetapi scotch jump, push up, makian dan bentakan dan intimidasi psikis jelas bukan alat untuk mencapai tujuan yang dinamakan kedisiplinan dan ketahanan mental. Jauh dari itu dan sangat menyimpang. Kalau terus dipaksakan hasilnya justru kontra produktif.
Untuk mencegah supaya hal-hal negatif semacam itu tidak terjadi, kemarin di tempat kerja, saya menyempatkan diri untuk “mencuci otak” dua orang mahasiswa dimana salah satu dari mereka adalah panitia orientasi. Di kampus tempat saya kerja dinamakan seperti itu. kekerasan fisik dan psikis memang tidak terjadi selama ini dalam setiap kegiatan orientasi. Saya adalah salah satu orang yang sangat vocal menentang hal-hal semacam itu. beberapa tahun yang lalu, masih ada acara pakai-pakai atribut aneh-aneh bagi mahasiswa baru. Saya memberikan masukan dan kritikan pedas kepada panitia dengan mengatakan hal-hal semacam itu tidak ada gunanya dan hanya menyisakan masalah pasca acara orientasi. Akhirnya, karena beberapa orang mengatakan hal serupa, acara-acara konyol semacam ini tidak terjadi lagi.
Dalam proses “cuci otak” kemarin, saya usulkan pendekatan baru dalam orientasi mahasiswa baru. Saya tawarkan konsep kesetaraan. Maksudnya, panitia harus menempatkan dirinya sebagai kakak dan bukan senior. Kakak yang siap mendampingi dan berkomunikasi dengan “adik-adik” barunya. Proses pendampingan dan terbuka dan dibukanya pintu komunikasi (bukan perintah) oleh kakak diharapkan mampu menciptakan alur komunikasi timbal balik dan feedback positif. Tujuannya selain untuk membina komunikasi karena mereka akan terus tinggal bersama di asrama selama 4-5 tahun, juga untuk mengikis semangat dan gaya petentang-petenteng senior terhadap yunior. Yang saya tawarkan kemarin adalajh dihapuskannya konsep senior—yunior. Konsep itu tidak ada dalam pendekatan yang saya usulkan. Diterima boleh, gak diterima ya monggo.
Usulan seperti yang saya sampaikan ini mungkin bisa diaplikasikan dengan lebih mudah (kalau diterima) karena mahasiswa baru di tempat kami tidak banyak. Hanya 25-30 orang per angkatan. Lembaga pendidikan tempat saya bekerja adalah sekolah theologia. Kalau usulan ini bisa diaplikasikan secara konsisten, harapannya adalah potensi konflik bisa diminimalkan dan mendorong prestasi belajar dan kebersamaan. Apakah hal ini bisa diaplikasikan di sekolah atau perguruan tinggi yang mahasiswanya besar jumlahnya? Saya yakin bisa. Tinggal dimodifikasi cara dan strateginya.
MOS, Orientasi studi, OPSPEK atau apapun namanya, bisa manis untuk dikenang bila tidak kebablasan. Soal bumbu-bumbu cinlok itu adalah sisi-sisi lain yang membuat MOS atau apapaun namanya menjadi semakin indah dikenang dan susah untuk dilupakan. Akhirnya, menurut hemat saya, MOS bisa dan boleh tetap dilaksanakan selama kegiatan dan panitianya bisa dipertanggungjawabkan baik dari segi kapabilitas dan kemanfaatannya. Perlu dikembangkan pula pendekatan-pendekatan yang bisa membuat oarang merasa dimanusiakan dan diberdayakan melalui kegiatan-kegiatan seperti ini. MOS yang menyebabkan matinya orang lain adalah MOS yang tidak bertanggungjawab dan panitianya wajib dikenai sanksi hukum. Kalau bisa setara kenapa tidak? Menurut Anda, apakah MOS terus atau hapus saja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s