Buntu…? Stop Dulu !

Posted: July 24, 2009 in Kritik sosial
Tags: , , ,

gambar anakkuPengen nulis tapi ide gak muncul. Kalaupun ide ada, rasanya gak nyambung antara otak dan tangan. Ide-ide di kepala terasa hanya muter-muter gak karuan tetapi tangan mogok menari di atas jajaran huruf-huruf keyboard. Gak biasanya seperti ini. Anda pernah mengalaminya? Saya pernah. Dan, saat inipun sedanga mengalaminya. Sebel! Bete, atau entah apalagi sebutan dan ekspresi untuk mengungkapkannya..
Pengalaman seperti itu seringkali membuat kita jengkel. But, jangan ngambek dulu. Nikmati saja! Nikmati? Ya, nikmati! Itu tandanya, kita masih tergolong penulis yang normal. Maksudnya? Kita masih tetap tergolong sebagai seorang penulis yang masuk dalam kategori normal karena masih memiliki kepekaan terhadap batas ambang toleransi kegiatan mental (baca: berpikir dan menulis).
Kalau kita menemui dan mengalami yang seperti ini, hal pertama yang harus kita lakukan adalah bersyukur. Bersyukur karena sistem otomatis pendeteksi kejenuhan yang diberikan Tuhan dalam diri kita masih berfungsi dengan baik. Syukuri itu. setelah bersyukur, yang harus kita lakukan adalah mengambil break, pause atau jeda sejenak. Ini kelihatan sepele tetapi sangat penting. Jangan dipaksakan untuk terus menulis karena hasilnya tidak akan sebaik tulisan Anda sebelumnya. Selain itu, pemaksaan semacam ini hanya akan membuat orang-orang yang selama ini mengagumi tulisan Anda dan selalu menunggu kemunculannya akan kehilangan Anda karena hasil tulisan Anda kehilangan soul/rohnya. Sayang khan..?
Then what should be done while we are taking a break? “Bermain”! bermain bersama kerabat, anak, pasangan atau teman-teman kita. dalam aktifitas “bermain” itu kita juga perlu untuk kembali ke “dunia nyata”. Mungkin selama ini dunia kita yang terbanyak adalah di dunia maya. Kita ngubek di situ. Bergulingan di sana. Bermain-main bersama banyak orang di sana bahkan tersesat di dalamnya. Berhentilah sejenak.
Selain bermain dan kembali ke dunia nyata, satu kegiatan ringan yang bisa kita lakukan adalah merenung. Kita merenungkan kembali sudah sejauh mana kita menulis. Melihat kembali apakah tulisan-tulisan yang kita buat nilai manfaatnya bagi banyak orang lebih banyak daripada nilai senang-senang dan hura-hura semata. Dari sini kita bisa mengetahui dan menyusun rencana baru. Kita bisa menyiapkan materi dan segmen baru untuk tulisan kita. Kalau materi dan segmen baru bisa lebih “menguntungkan” kenapa tidak dicoba? Dengan merenungkan apa yang telah kita tulis, seberapa banyak komentar, baik yang positif maupun negatif, yang kita terima akan membuat kita semakin dewasa dan mental kita diberdayakan. Singkatnya, merenung akan memberdayakan hati dan mental kita.
Jangan terlalu lama! Ya, jangan terlalu lama jedanya. Pastikan Anda segera mulai mencari ide baru dan menulis lagi. Jeda yang terlalu lama justru hanya akan membuat kita berhenti. Ini yang berbahaya. Pun begitu, sebaiknya kita mulai melakukan kembali aktifitas tulis menulis kita tidak dengan intensitas yang terlalu tinggi. Ibaratnya, seperti mesin yang baru didinginkan dan menjalani perawatan, jangan langsung dipacu kencang. Mulailah dari pemanasan dan akselerasi ringan sampai “mesin” mental kita benar-benar siap melaju di jalur cepat.
Memulai untuk menemukan ide-ide segar yang baru bisa kita lakukan dengan mulai menjelajahi dunia nyata dan atau kembali memasuki dunia maya. Tentunya hal itu dilakukan setelah kita merasa yakin kita sudah mendapatkan tenaga baru. Dengan mengunjungi rumah-rumah ide (Blog dan Situs) kita bisa menemukan hal-hal baru dan segmen baru yang bisa kita masuki.
Beberapa hal diatas mungkin bisa membantu Anda yang sedang mengalami burnout (kebosanan) setelah secara kontuni malang melintang di dunia kepenulisan (walaupun Anda belum mendapatkan uang darinya. Untuk sementara ini, baru kepuasan karena bisa sharing ide). Kebuntuan yang kita rasakan tidak seharusnya membuat kita mandeg. Jangan! Sebaliknya, kebuntuan yang kita rasakan adalah awal dari sebuah perubahan besar. Ketika kita mengalami kebuntuan, seolah-olah tidak ada ide lagi untuk dijadikan bahan tulisan. Anggapan seperti itu salah besar! Sebaliknya, kebuntuan itu sesungguhnya adalah akumulasi dari banyaknya ide yang saling-silang dan tumpang- tindih di folder mental kita. Kalau lalulintas macet dan merayap bukankah kita tidak bisa menyimpulkan tidak ada kendaraan. Faktanya, kendaraannya ada, bahkan sangat banyak. Yang diperlukan adalah pengaturan supaya kendaraan-kendaraan itu bisa berjalan normal kembali. Harus ada strategi memang. Gak perlu canggih-canggih.
Tidak ada ide bukan hal yang tepat untuk dikatakan oleh penulis. Ide ada di mana-mana dan siap diambil kapan saja. Tergantung kepekaan kita. pernahkan anda berpikir bahwa kebuntuan pikiran yang anda alami adalah sebuah ide yang layak untuk dikembangkan menjadi tulisan? Tulisan yang sedang Anda baca inipun sebetulnya adalah ide yang saya peroleh dari kebuntuan itu.
“Buntu” tidak sama dengan dunia berakhir. Yang benar adalah dunia belum berakhir walaupun saat ini untuk sementara kita mengalami dan merasakan kebuntuan ide. Mari beristirahat sejenak. Stop sebentar. Yang lebih penting, dalam kebuntuan ide yang sedang kita hadapi kita harus senantiasa bersyukur dan mensyukuri kebuntuan itu. Kita masih normal ternyata. Penulis juga manusia, punya capek punya kesel. So, tidak bermaksud menggurui, Cuma sharing, mari terus menulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s