Archive for August, 2009

Indonesia Tanah Cairku…:Jangan Buru-Buru

“Indonesia tanah Cairku, tanah tumpah muntahku….”
Kutipan di atas adalah kutipan lirik lagu Indonesia Raya, lagu kebangsaan kita, yang diplesetkan dan mengarah kepada penghinaan terhadap sebuah bangsa (contempt of the nation). Bukan hanya itu, masih ada beberapa kata dan frase menyakitkan seperti negeri miskin, Indon, dsb yang secara emosi berusaha mengacak-acak dan menginjak-injak harga diri kita sebagai sebuah bangsa. Plesetan yang mengarah kepada pelecehan ini untuk sementara ini, tuduhannya diarahkan kepada oknum dari negara tetangga—Malaysia sebagai pelakunya. Entah apa dasarnya? Apakah hanya karena vocabulary yang dipakai memang bernada Melayu tetapi bukan dangdut. Dan, beberapa fakta yang dikemukakan untuk memlesetkan lagu itu adalah fakta yang ada di negeri Jiran—TKI dan nasibnya yang terkatung-katung tidak jelas.
Wajar kalau banyak orang protes dan kesal atas pa yang terjadi. Saya pun protes keras!yang jelas, pelecehan dan penistaan semacam ini tidak boleh dibiarkan—siapapun dan dari kelompok manapun pelakunya. Tindak tegas! Pun begitu, dalam kepanasan hati kita, kepala harus tetap dingin. Harus diusut tuntas, dan itu perlu waktu, siapa pelaku yang sebenarnya mengingat dunia maya—internet yang dijadikan media untuk menyebarkan pelecehan ini adalah dunia mahaluas tanpa batas yang bisa dimasuki oleh semua orang dengan membawa kepentingannya sendiri-sendiri. Ada yang berdagang, ada yang membual, juga ada yang telanjang. Sungguh dunia maya maha luas dan (hampir) tanpa batas. Kita harus ekstra hati-hati.
Salah satu protes yang ditayangkan oleh Metro TV kemarin petang 27 Agustus 2009 adalah dari anggota dewan Permadi. Walaupun sangat keras, beberapa poin dari yang disampaikannya benar, menurut saya. Pemerintah kurang keberanian untuk menghadapi Malaysia. Dengan menyebutkan nama negeri tetangga itu bukan berarti saya secara definitif mengatakan bahwa pelaku pemlesetan lagu kebangsaan kita adalah negeri tetangga itu. Bukan! Yang ingin saya katakan adalah, mengacu kepada beberapa kasus besar seperti penyikasaan TKI dan kasus Ambalat, pemerintah terlalu lunak menghadapi tetangga sebelah rumah kita. intinya, dalam banyak hal pemerintah cenderung kurang tegas dalam upaya untuk menegakkan harga diri kita sebagai sebuah bangsa.
Pertanyaannya sekarang adalah, mengacu kepada pernyataan Permadi, kita harus siap berperang dengan tetangga kalau memang diperlukan, apakah hal itu benar-benar harus dilakukan dan kenapa muncul statement semacam itu? menurut Anda bagaimana? Perlukah kita menggebuk tetangga yang kurang ajar secara frontal? Berikan tanggapan Anda. Apakah statement perang dan siap perang adalah bukti bahwa sebenarnya kita sudah tidak percaya lagi kepada kemampuan pemerintah untuk mengatasi hal-hal semacam ini? Bagaimana pula tanggapan Anda untuk pertanyaan ini.
Layakkah Malaysia yang akhirnya diplesetkan sebagai maling… yang gambar benderanya dijadikan background dalam acara dialog dengan Permadi dengan tambahan gambar lambang bajak laut dikatakan sebagai malxxx? denganbanyaknya bualan mereka mulai dari klaim sepihak dan cenderung bodoh atas Reog Ponorogo, Lagu Rasa Sayange, dan yang terbaru adalah Tari Pendet?
Kalau kita waras, dilecehkan seperti itu, paling tidak kita pasti tersinggung. Akan tetapi, dalam ketersinggungan kita, kita juga harus tetap bisa berpikir proporsional. Perang adalah pilihan terakhir yang paling akhir. But, kita juga harus siap berperang jika kedaulatan dan harga diri kita sebagai bangsa menuntutnya. Jika rakyat sudah siap, pemerintah tidak boleh memble dalam menyikapi hal-hal seperti ini. Tidak cukup rasanya berbagga diri dengan mengatakan,”Kami (pemerintah) sudah mengirimkan surat atau nota protes kepada pemerintah negera tetangga. Dalam ketersinggungan kita, kita tetap harus waspada supaya tidak salah bertindak. Selalu ada kemungkinan untuk adanya pihak ketiga yang sengaja memancing di air keruh!
Tidak ada pilihan lain yang lebih baik dan terbaik untuk menjaga kedaulatan dan harga diri kita sebagai bangsa. Bersatu! Bersatu dengan saling mempercayai satu sama lain. Pemerintah mengayomi rakyatnya dengan mengambil tindakan tegas dan konkret manakala ada ancaman, tantangan atau gangguan terhadap kedaulatan dan harga diri bangsa. Elit politik, para penganut aliran atau mazhab (yang biasanya disebut dengan …is dibelakangnya misalnya Sukarnois, futuris, tetapi dan asal bukan teroris) harus membiasakan dir untuk mengeluarkan pernyataan yang menyejukkan tetapi bukan kebohongan. Kalaupun kita harus berperang untuk menegakkan kedaulatan dan harga diri sebagai bangsa, jangan mengambil keputusan dengan tergesa-gesa dan dalam kondisi panas hati. Toh seandainya perang terpaksa terjadi, yang kita perangi adalah sesama kita—manusia bukan kambing atau ayam. Sesama makhluk Tuhan yang diciptkan mulia dan dilarang keras untuk dirampas kehidupannya dengan alsan apapun. War…? Yes! But….