Mudik Asyik dan Nyaman: Jauh Panggang dari Api?

Posted: September 16, 2009 in Kritik sosial
Tags: , , , ,

Mudik sudah menjadi terminologi umum dan public domain. Tidak ada yang tidak mengetahui arti dan maknanya. Suku apapun dia, pasti mengetahuinya. Walaupun mudik dilakukan, umumnya, pada minggu ketiga dan keempat bulan Ramadhan, mudik, saya menyebutnya sebagai event budaya bukan sebagai event keagamaan. Mudik bukan dan tidak lagi menjadi sebuah fenomena melainkan realita dan bahkan kalender tahunan.
Mudik menjelang hari raya Idul Fitri, sekali lagi, menurut saya adalah lebih bernuansa event kultural walaupun motor penggeraknya adalah satu atau sebuah event keagamaan—Idul Fitri. Selama ini belum ada (atau sudah ada di beberapa negara) gerakan massa dalam jumlah yang sangat besar dalam waktu yang hampir serentak dan bersamaan. Gerakan massa tanpa teridentifikasi lagi agama, latar belakang budaya atau kulturnya. Semua tumplek blek (istilah Jawa) menjadi satu dan membentuk barisan panjang mengular menuju ke “desa-desa” di mana handai taulan dan orangtua dan yang dituakan berada.
Gerakan massa dalam jumlah yang fantastis dan fenomenal dalam waktu yang bersamaan pada satu sisi merupakan fenomena positif namun di sisi yang lain selalu menyisakan masalah. Dikatakan sebagai fenomena positif karena ketika orang dengan berbagai latar belakang yang berbeda-beda bisa dan mau untuk sementara menghilangkan sekat-sekat suku, kelompok, agama dan golongan serta kepentingan demi melakukan sebuah perjalanan bersama. Jarang sekali kita jumpai terjadi perdebatan atau percekcokan yang dilatarbelakangi oleh masalah rasial. Hampir tidak ada. semuanya damai dan tenang. Bahkan tidak jarang orang-orang yang berbeda-beda latarbelakangnya “menjadi saudara seperjalanan” untuk sementara. Rasa dan meresa sebagai sesama manusia dan umat Allah juga semakin kental dan menonjol dalam event mudik seperti ini.
Pun begitu, di sela-sela yang positif, tentu ada yang negatif. Celakanya, yang negatif itu sudah menjadi rahasia umum dan terus terulang dan berulang setiap tahun. Masalah ketersediaan armada pengangkut, tingginya harga tiket, proyek-proyek maintenance jalan yang dilakukan secara dadakan terus dan terus berulang dan terulang. Masalah-masalah seperti ini selalu saja terjadi yang pada akhirnya justru membuat perjalanan mudik menjadi tidak asyik dan nyaman. Hanya tekad untuk bersilaturahmi dengan sanak kerabat di kampung yang membuat orang terpaksa mau dan rela berdesakan di dalam gerbong kereta, membayar tiket tanpa tempat duduk. Yang penting sampai, yang penting terangkut. Keberanian (kenekatan?) seperti ini pada satu sisi merupakan kekuatan namun di sisi yang lain justru membuat segala sesuatunya justru tidak akan bertambah baik.
Apapun nama dan lika-likunya, mudik adalah perhelatan maha akbar yang harus diakui sebagai sebuah relaita positif. Ada kesatuan hati di dalamnya. Ada kesamaan rasa yang turut larut di dalamnya. Ada luapan kegembiraan dan senyum ceria bersama. Ada hal-hal positif lainnya yang menyertai dan mengiringinya walaupun tidak kurang hal-hal negatif yang menumpang di dalamnya. Bagaimanapun juga, mudik adalah karunia yang harus kita syukuri. Namun masalahnya, bagaimana mengelola event ini sebagai sebuah event yang membuat orang-orang di dalamnya menjadi manusia dalam arti yang sesungguhnya. Ada kenyamanan dan keasyikan tersendiri selama melakukannya. Mereka bukan hanya dijadikan sebagai komoditas yang darinya segelintir orang mengeruk keuntungan dengan gelap mata. Kapan pula mereka dijadikan manusia dengan menyiapkan armada yang layak dan laik jalan, tiket yang terjangkau dengan mengontrol harga pasar, jalan dan jembatan yang tidak diperbaiki secara dadakan yang nantinya, beberapa waktu setelah mudik berlalu, semuanya akan rusak kembali karena mutu pengerjaan yang kurang baik.
Ah, hanya berandai-andai, kapan mudik bisa menjadi asyik dan nyaman. Kalaupun ini adalah angan-angan ideal belaka, paling tidak sudah ada keinginan untuk mencapainya di masa yang akan datang. Selamat Idul Fitri Saudaraku. Selamat Jalan, Selamat Sampai di tujuan. Sampai jumpa kembali nanti di dunia nyata setelah euforia ini. Semoga persaudaraan kita bukan dan tidak hanya sebatas mudik. Sekali lagi selamat Idul Fitri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s