Archive for October, 2009

Jejak (tudingan) penistaan agama akan semakin panjang. Setelah yang baru lalu di Manado beredar rekaman dikembangkan dan diajarkannya ajaran yang diduga sesat oleh seorang oknum pendeta yang melakukan ritus pemukulan dan ibadah telanjang (menurut saksi korban) entah untuk tujuan apa dan dasarnya pun apa, beberapa hari ini, kita disuguhi lagi kopi pahit iman bertajuk penyesatan yang terjadi di Mojokerto yang diajarkan melalui sebuah “lembaga” Santri Loka.
Kalau kita mundur kembali, setidaknya ada beberapa kasus yang bisa kita jadikan rujukan misalnya sekte pondok nabi dengan keyakinan hari kiamatnya. Setelah itu sekte Kerajaan Tuhan yang diasuh oleh Lia Eden dengan keyakinannya tentang Imam Mahdi dan Jibril, Ahmadiah yang sudah lama dipersoalkan eksistensinya, dsb..dsb. Masih panjang dan sangat panjang jejak keberadaan ajaran-ajaran dan sempalan-sempalan yang meresahkan ini.
Jejak panjang tengara “penyesatan” dengan Santri Loka sebagai “lembaga” pemain baru akan semakin panjang, lebih panjang dan teramat panjang pada masa-masa yang akan datang. Apakah ini sebuah tanda bahwa manusia mulai bingung dan tidak bisa mengenali siapa Tuhan yang sesungguhnya. Atau, apakah jalan-jalan penyesatan itu merupakan sebuah bentuk perlawanan terhadap dominasi agama mainstream? Dan, apakah cercah-cercah “penyesatan” ini adalah bentuk dari keputusasaan manusia dalam mencari, dan menanti untuk bertemu serta berhubungan dengan Sang Khalik pencipta dan penopang semesta raya ini? Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab, bukan dengan satu kata menyakitkan “kafir”. Kafir dan kafirisasi never and never enough.
Apa yang diyakini dan dikembangkan selanjutnya diajarkan oleh pengasuh Santri Loka memang perlu dicermati dan dicarikan solusi dengan cara dialogis egalitarian. Memang, ketika sang pengasuh dan yang mengajarkan keyakinannya tentang Islam “baru” (istilah baru saya tambahkan hanya untuk membedakannya dari Islam mainstream), dalam tele dialog di Metro TV pada 29 Oktober 2009, yang salah satu panelisnya adalah anggota MUI, dengan berapi-api dan lantang dia mengatakan bahwa ajaran yang diyakininya tidak salah dan tetap Islam. Salahkah dia? Tidak! Mempertahankan keyakinan adalah hak pribadi dan asasi setiap orang.
Namun, dalam keberanian berapi-apinya untuk mempertahankan keyakinan dan ajaran yang diajarkannya, adanya latar belakang “tidak baik” yang dijadikan dasar untuk menafsirkan ajaran Islam mainstream. Tidak puas kepada, saya menyebutnya, keadaan yang ada. tidak puas kepada agama mainstream. Hal-hal negatif seperti ini kemudian dikembangkan untuk menafsirkan sebuah ajaran dan dijadikan sebagai dasar pembenaran untuk mengembangkan sebuah ajaran baru sempalan sebagai sebuah alternatif. Ini jelas tidak benar dan menyimpang. Latar belakang inilah yang membuat pengasuh Santri Loka melakukan apa yang dalam bahasa hermeneutika disebut eisegese. Memasukkan makna baru (lebih tepatnya pemerkosaan makna utk kepentingan tertentu) ke dalam teks yang ditafsirkan. Bukan membiarkan teks berbicara dari dirinya sendiri.
Poin selanjutnya yang dipaparkan adalah timbangan benar tidaknya agama adalah Pancasila. Pada titik ini kita harus ekstra hati-hati bersikap dan menyikapi. Pertanyaan yang harus dijawab adalah mana yang lebih tinggi otoritasnya, Kitab Suci atau ideologi—Pancasila dalam menimbang kebenaran sebuah ajaran agama BUKAN pengamalan nilai-nilainya dalam kehidupan praktis sehari-hari. Mungkin hal ini yang tidak atau kurang dipahami betul oleh pengasuh Santri Loka.
Kebenaran sebuah ajaran (baca: agama) tentunya ditimbang dan diukur dari seberapa dekat dia menjalankan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci dan seberapa jauh dia menyimpang dari apa yang tersurat dan tersirat di dalamnya. Otoritas Kitab Suci adalah standar mutlak untuk menimbang benar-tidaknya sebuah ajaran. Nilai-nilai ideologi seperti Pancasila tentunya bisa dan boleh dipakai sebagai salah satu barometer/ukuran baik tidaknya, tepat tidaknya nilai-nilai luhur ajaran sebuah agama diaplikasikan dalam konteks lokal tanpa mengorbankan nilai-nilai dan kebenaran luhur ajaran agama. Sebenarnya, keduanya tidak akan saling-silang dan overlapping kalau dipahami betul porsinya masing-masing secara proporsional.
Dalam kasus-kasus sempalan dan ajaran-ajaran “sesat” semacam ini, di ranah agama apapun, yang sering mengemuka adalah masalah tafsir. Selain tafsir, juga masalah ketidkpuasan terhadap agama mainstream yang dirasa tidak mampu menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan seperti ketidakadilan, kemiskinan, ketimpangan sosial, dsb. Hal inilah yang kemudian menjadi katalis untuk menggabungkan nilai-nilai baik dari semua agama semacam yang dilakukan oleh Lia Eden dan Kerajaan Tuhannya.
Pertanyaannya berikutnya adalah, cukupkah cap dan label “sesat” dan “penyesat” diberikan dan dialamatkan kepada seseorang atau sekelompok orang yang mempunyai keyakinan berbeda dengan mainstream? Seaadainya jawabannya adalah “YA”, pertanyaan baliknya adalah, apakah penganut agama mainstream juga bebas dari kesesatan dan penyesatan. Lalu, label “sesat” dari pihak mana yang bisa sah dipakai untuk umum dan apakah cap yang diberikan oleh mainstream terbukti valid? Apa dasar yang membuatnya menjadi valid?
Solusi yang juga sering diberikan adalah mengharuskan pengembang ajaran baru untuk tidak memakai nama mainstream. Ajaran baru harus mempunyai namanya sendiri yang bebas dari nama mainstream. Pertanyaannya lagi, apakah nama baru menjamin sempalan dan sekte-sekte sesat tidak “diutak-atik” karena walaupun namanya baru, tetap saja ada bagian-bagian bahkan mayoritas ajaran mainstream yang diajarkan dengan berbagai variasi dan versi sang pengembang ajaran? Mampu dan maukah mainstream, dalam arti semua agama besar dan mayoritas, mengendalikan umatnya untuk tidak “usil” dan “jahil” kepada sebuah sempalan dan sekte “baru”
Diperlukan kearifan untuk menyelesaikan masalah seperti ini. Tidak gampang dan perlu kerja keras. Bagaimanapun juga, ajaran dan sempalan “sesat” akan selalu ada. masalahnya adalah bagaimana kita menjaga “gawang” kita supaya tidak kebobolan. Berkaca dan mengaca kepada apa yang telah kita lakukan dalam mengaplikasikan apa yang kita yakini tentunya bisa menolong

Advertisements

Heboh undian berhadiah Avanza bodong dengan mendompleng produk makanan kecil (snack) Tango terus berlanjut. Bahkan, penyebarannya pun semakin luas. Hal ini bisa dilihat dari terus masuknya komentar dan laporan di halaman komentar baik di kolom warta wikimu dan blog pribadi.
Hampir seragam. Hampir semua komentar yang diposting berisi, lebih banyak, sumpah serapah dan makian sebagai luapan dan ungkapan amarah karena nyaris tergelincir dan menjadi korban penipuan. Ada satu atau dua komentar bernada ungkapan syukur karena tidak jadi tertipu setelah googling untuk memastikan kebenaran kabar dari dua potong kertas pemberitahuan sebagai pemenang. Namun ironisnya, ada satu atau dua komentar yang menjeneralisasi bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa penipu. Salah besar.
Dari sekian banyak “teriakan”, arah teriakan yang sangat lantang ditujukan kepada produsen dalam hal ini PT ORANGTUA dan pihak berwenang, khususnya kepolisian. Dua instansi ini dirasa tidak ambil tindakan alias diam saja atau gak mau tahu. Padahal, dari pihak Tango sendiri sudah mengeluarkan pernyataan resmi mengenai hal itu. Salah satu pernyataan pihak TANGO bisa dibaca di sini tetapi memang harus pelan-pelan scrollnya. Sedangkan dari pihak kepolisian memang belum terdengar gaung tindakannya. Inipun kita tidak sepenuhnya bisa menyalahkan. Terlalu banyak masalah yang harus ditangani dengan bujet yang minim. Atau, kalaupun tidak seperti itu, masalahnya adalah kurang fokus karena penyebaran kupon-kupon undian yang sejatinya bodong itu sudah sangat meluas. Mungkin, sekali lagi mungkin, bingung harus mulai dari mana melakukan penyidikan. Semoga tidak seperti itu kenyataannya!
Dari kasus ini, pertanyaan yang harus dijawab adalah bagaimana oknum-oknum tidak beratanggungjawab ini memasukkan ratusan bahkan puluhan kupon bodong ke dalam kemasan TANGO dan mengepaknya kembali dengan rapi. Adakah sebuah sindikat jahat di baliknya? Yang jelas, sindikat jahat itu pasti ada. dari tujuannya kita tahu bahwa mereka adalah orang-orang jahat atau bahkan oarng “kreatif” dan oportunis yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dengan berusaha menjerat orang-orang yang sudah lama haus dan mendambakan “durian runtuh”.
Yang jauh lebih penting adalah, sudah sejauh mana masyarakat kita “sakit” sehingga secara tidak sadar terbentuk mind set OKB (orang kaya baru). Bukankah budaya semacam ini jauh lebih berbahaya baik untuk masa kini dan masa yang akan datang. Sayangnya, suara dan teriakan mereka yag tertipu tidak sekeras yang menyumpah-nyumpah. So, kita tidak punya data untuk, paling tidak, mengeluarkan kesimpulan awal sekalipun tentang hal ini. Semoga tidak banyak yang tertipu.
Kembali ke mentalitas. Apakah sudah sedemikian parahnya mentalitas bangsa ini sehingga “orang-orang kreatif” menjadikannya sebagai lahan bisnis baru yang digarap dengan sungguh-sungguh. Kalau kita memakai hukum ekonomi supply and demand, dapat dengan mudah ditarik kesimpulan bahwa memang ada kondisi sakit kronis dan terminal. Itu kan kalau kita ambil gampangnya. Akan tetapi, yang jelas tidak semudah itu, bukan? Tipu-tipu model semacam ini juga bisa dilakukan oleh para petualang dan oportunis sejati yang sebenarnya justru menunjukkan kebodohannya sendiri. But, sebodoh-bodohnya mereka, tetap ada yang lebih bodoh—yang tertipu. Sekali lagi, di mana letak masalahnya sehingga penipuan mendompleng TANGO, salah satunya, masih marak. Adakah hal seperti ini adalah lapangan kerja baru dengan potensi penghasilan maha besar tanpa kerja keras? Walahualam. Only heaven knows.
Akhirnya, semua berpulang kepada kita. mudah tidaknya kita menjadi korban penipuan memang sepenuhnya tergantung pertama-tama kepada sikap kita dalam menyikapi harta dan “durian runtuh”. Mungkin, salah satu yang bisa kita aplikasikan untuk memperkecil jatuhnya korban adalah, yang dikatakan orang bijak, “Tak ada hasil tanpa kerja, tak ada upah tanpa usaha, dan tak ada kemuliaan tanpa kerja keras. Semua perlu kerja keras. Bahkan, bisnis online marketing pun yang katanya bebas dari kerja keras, tetap perlu kerja keras.
Kadang mimpi dan bermimpi memang bisa menjadi pendorong dan motivasi untuk mencapai sesuatu yang kita idamkan. Kan tetapi, mimpi yang bertanggungjawab adalah mimpi untuk sesaat dan banyak waktu lainnya diluangkan untuk melakukan kerja keras dengan konsisten. Undian boleh ada. pemenangnya pun pasti ada. tetapi, ketika kita mempertaruhkan mimpi kita diatas dan dengan undian, mimpi itu tak lebih dari sekedar impian kosong tak bertanggungjawab. Semoga tak jatuh lagi korban undian bodong.

Satu hal menarik dalam acara sidang paripurna MPR dengan agenda tunggal pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih hasil Pemilu 2009 adalah “slip of the tongue” Mr. TK (Taufik Kiemas). Selip atau tergelincir lidah ini jauh lebih “menarik” dibandingkan dengan ketidakhadiran mantan Presiden Megawati Soekarno Putri yang memang sudah (entah) ditradisikan(nya) setelah beliau tidak mlagi menjadi orang nomor satu di negeri ini. Apalgi setelah SBY, sang mantan anak buah menggantikannya menduduki kursi RI-1 pada 2004-2009 dan mengalahkannya dengan telak pada Pemilu 2009. Banyak versi memang tentang sikap Ibu ini. But, yang ganjil adalah kenapa Ibu tidak pernah datang dalam acara kenegaraan semacam ini dan 17 Agustus. Ibu, apakah Ibu tidak diundang sehingga memilih stay dan mengamati jalannya acara dari rumah saja?

Kembali ke Mr. TK. Entah karena gugup, entah kurang persiapan, atau karena sebab yang lain, pagi ini, Mr. TK yang politisi kawakan dan sudah lama “ngendon” di Senayan bolak-balik harus meminta maaf karena salah baca atau lupa membaca urutan teks. However, mungkin ini adalah kali pertama dalam sejarahpolitik modern Indonesia, ketua MPR tampak tidak menguasai materi dan menguasai medan sehingga mantan Presiden Habibie pun tertawa ngakak. Ngakak inipun tertangkap kamera dan disiarkan live.

Slip of the tongue, bisa dikatakan seperti itu, kalau terjadi hanya sekali atau dua kali. Tetapi ini, lebih dari itu. apakah ini indikasi kurang siap, kurang menguasai medan atau “demam panggung Mr. TK? Emang, tidak ada satupun substansi yang berubah dari isi acara dan jalannya acarapun tidak terganggu. Hanya “aneh” saja. Terlalu dini juga kalau kita menerjamahkan slip, slip, slip of the tongue Pak TK ini sebagai reaksi sontak karena menerima kedudukan yang saat ini diembannya. Tak pantas pula kalau keseleo lidah ini dihubung-hubungkan dengan sidrom kaget mantan oposan menjadi bagian dari pemerintahan walaupun ybs tidak duduk di bangku kabinet.

Memang, tak bisa dimungkiri bahwa duduknya Pak Tk ini adalah salah satu/sebagian adalah hasil samping dari koalisi panjang dan melelahkan dengan incumbent. Yang jelas, barisan koalisi dan bargaining-bargaining politik antar partai, paling tidak, sudah kelihatan hasilnya. Hasil selanjutnya akan lebih jelas dalam susunan kabinet Indonesia Bersatu jilid 2 yang akan segera diumumkan.

Apapun yang terjadi hari ini dengan Mr. TK dan slip of the tonguenya tidak menghilangkan apresisasi saya secara pribadi kepada beliau dan partai yang sudah dibesarkan bersama Ibu Mega. Pak TK adalah politisi senior dan kenyang makan asam garam (nano-nano kali ya rasanya?) kehidupan dunia politik. Bukan bermaksud merendahkan, menghina atau hal-hal negatif lainnya, tulisan ini saya buat sebagai intermeso reflektif ringan. Ternyata, politisi senior pun bisa slip of the tongue. Singkatnya, politisi, sesenior apapun tetap manusia. Semoga Pak TK tidak kepleset-pleset nanti ketika harus mengritisi pemerintah. Selamat bertugas Pak TK. Kami menunggu gebrakan dan kekritisan Anda untuk mengusung aspirasi rakyat.

Bank Titil: Baru Aku Tahu

Posted: October 5, 2009 in Kritik sosial

Bank titil,paling tidak, istilah ini sudah saya dengar dan ketahui sejak kanak-kanak. Belakangan ini, ingatan masa lalu tentang istilah ini terusik ketika membaca beberapa berita di media massa bahwa pemerintah mengucurkan dana miliaran rupiah untuk memerangi bank titil dan praktiknya yang diklaim merugikan masyarakat.
Bank titil “musuh” masyarakat? (more…)

Jumat dan batik. Jadi ingat zaman almarhum mantan Presiden Soeharto berkuasa. Yang saya ingat, dulu, ada hari yang dinamakan hari swadesi. Semua PNS wajib memakai baju batik pada setiap Jumat. Gerakan ini dicanangkan almarhum Bapak Soeharto sebagai wujud kecintaan kepada produksi dalam negeri. Budaya dan warisan leluhur juga, katanya. Benarkah? Tidak sedikit orang yang sinis dengan mengatakan bahwa gerakan ini sebenarnya adalah gerekan uniformisasi sebagai upaya penguasa/rezim waktu itu untuk menguasai/hegemoni rakyat, khususnya PNS. Macam-macam opini orang tentang hal ini.
Batik, setelah lengsernya mendiang Jenderal Besar Soeharto,perlahan tapi pasti mulai “hilang” dari peredaran. Kalaupun muncul, hanya sesekali pada kesempatan-kesempatan khusus yang menuntut “keresmian” dan penghormatan lebih seperti pada acara resepsi pernikahan, rapat-rapat resmi. Rapat resmi? Benarkah? Anggota dewan di senayan dan di berbagai daerah lebih senang dan merasa berwibawa memakai setelan jas dan dasi yang nota bene adalah produk impor dari peradaban Barat. Lengser menjelang longsor, begitu mungkin ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kondisi batik pasca wafatnya sang Jendral Besar. Kita pun tak semuanya tahu bahwa, ternyata, ada jalan panjang untuk mendapatkan pengakuan dari UNESCO bahwa batik adalah “produk asli” Indonesia. Terlalu!
Hari ini, Jumat 2 Oktober 2009, batik muncul kembali ke permukaan seteah “menyelam” atau bahkan “tenggelam” entah untuk berapa lama di perairan konflik perebutan paten. Batik berjaya kembali (?) hampir semua orang memakai pakaian batik. Kantor-kantor pelayanan publik, karyawannya memakai baju batik semua. Guru-guru pun memakainya. Tidak ketinggalan, di tempat kerja penulis (Institut Theologia Aletheia Lawang Jawa Timur), batik mendominasi dan membungkus tubuh dosen, beberapa staff. Mahasiswa mendominasi.
Entah sebagai ungakapan syukur atau hanya ikut-ikutan dan “mengamini” himbauan “yang di atas sana (bukan Tuhan)”, batik mania turun ke jalan. Paling tidak, colorful begitu, karena ada banyak motif batik. Banyak eui! Semoga colorfulnya suasana pagi ini dengan nuansa batik dalam jangka panjang akan membuat kita I Love you Full kepada batik dan budaya-budaya serta produk-produk budaya termasuk obat-obatan tradisional, makanan tradisional, kearifan lokal (local genius) yang memang terbukti banyak diaku dan diklaim sebagai milik tetangga. Celakanya, bukan dan tidak hanya berhenti pada klaim tetapi masuk ke tingkat paten dan pematenan.
Ini adalah momentum. Momentum untuk tidak berpuas diri. Kita harus tetap dan terus mencari, mengidentifikasi, mengiventarisasi, mematenkan dan membudayakan aset budaya kita kembali. Kemenangan batik harus kita jadikan tonggak untuk membuat kita menyadari bahwa sebenarnya seringkali kita tidak peduli kepada budaya dan aset-aset budaya kita yang bertebaran. Kita baru ribut ketika ada tetangga nakal yang merampas dan mematenkannya.
Kali ini kita menang. Tetapi, pernahkah kita menyadari bahwa sebenarnya sudah terlalu banyak kekalahan dan paenjarahan terjadi terhadap budaya kita. semoga, kemenangan batik akan membatik semangat dan kecintaan kita kepada budaya bangsa sendiri. Perlu politik kebudayaan dan apresiasi kultural yang terinternalisasi dalam diri setiap kita. hari ini batik, besok apa lagi???