Bank Titil: Baru Aku Tahu

Posted: October 5, 2009 in Kritik sosial

Bank titil,paling tidak, istilah ini sudah saya dengar dan ketahui sejak kanak-kanak. Belakangan ini, ingatan masa lalu tentang istilah ini terusik ketika membaca beberapa berita di media massa bahwa pemerintah mengucurkan dana miliaran rupiah untuk memerangi bank titil dan praktiknya yang diklaim merugikan masyarakat.
Bank titil “musuh” masyarakat?? Sampai sini saya belum ngeh dan dong betul tentang malang melintangnya bank titil di jagad hutang-piutang yang segmennya adalah masyarakat kecil. Sepanjang yang saya ketahui, bank titil (kalau di tempat Anda apa nama dan sebutannya?) adalah orang-orang yang kerjanya keliling kampung-kampung dan membidik para pedagang kecil untuk ditawari dan diberi pinjaman uang sebagai modal. Syarat untuk dapat pinjaman pun sangat mudah—cukup serahkan KTP dan isi form aplikasi. Beres. Dana bisa segera cair.
Sehari-hari, lagi, sepanjang pengetahuan saya, pembayaran cicilan ditarik setiap hari. Pegawai “bank” akan memberikan sobekan atau carikan kertas bertuliskan nomor. Kalau nomornya 16, misalnya, berarti debitur sudah membayar sebanyak 16 kali. Simple bin sederhana dan gak neko-neko.
Memutar kembali ingatan masa kecil dan sudut-sudut ingatan masa kini tentang bank titil tetap membuat saya belum klik betul tentang apa, siapa dan bagaimana pelaku bisnis keuangan ini. Anggapan saya, bank titil sama seperti lembaga keuangan microfinance. Bukankah itu sebuah alternatif bagi para pedagang kecil yang tidak pernah mendapatkan akses kepada kredit dari perbankan? Tanya saya dalam hati.
“Alternatif yo opo se Pak, bank titil iku jeneng liyo teko rentenir (alternatif bagaimana sih Pak, bank titil itu nama lain dari rentenir)!, seorang teman menimpali pertanyaan saya. Rentenir!!?? Kata ini menusuk begitu dalam dalam batas kesadaran saya dan membuat saya tersentak menyadari kalau selama ini saya telah salah berpikir. Pantas saja, kalau ibu-ibu membicarakan si anu dan si itu yang harus negumpet dari pegawai bank titil.
Salah berpikir. Ya, ternyata sudah sangat lama saya salah berpikir tentang bank titil dan orang-orangyang masuk dalam perangkapnya. Banyak cerita pilu tentang pedagang kecil yang harus gulung tikar karena terjebak rayuan bank titil. Ternyata bank titil bukan dan tidak memberdayakan masyarakat kecil tetapi malah memerdaya mereka. Pantaslah kalau pemerintah “gerah” dan berani mengucurkan anggaran miliaran rupiah untuk menanggulangi jerat gurita jahat bank titil.
Apa yang bisa kita pelajari dari kasus bank titil dan korelasinya dengan kehancuran rakyat dan masyarakat kecil dan bagaimana harus menyikapi eksistensi bank titil yang lihai bermain di bidang kebutuhan masyarakat kecil?
Yang pertama harus kita lihat adalah hukum ekonomi. Supply and demand. Hukum ekonominya seperti itu. But, urutan itu bisa kita balik. Demand dan supply. Mudahnya begini, bank titil (entah apa namanya di tempat Anda) ada karena ada permintaan. Mungkin kita bertanya,”Adakah orang yang dengan waras dan sadar menjeratkan dirinya ke dalam perangkap rentenir? Ada! Ada karena kebutuhan. Dalam kasus pedagang kecil, bukankah kita selalu melihat, mengetahui bahkan merasakan, betapa sulitnya pedagang kecil untuk mendapatkan kredit dari bank. Bahkan bank yang dari namanya, dan secara historis memang seperti itu, notabene adalah milik rakyat. Kucuran kredit dari bank, entah ityu yang plat merah, plat hijau, plat kuning atau bahkan yang berplat hitam sekalipun, bagi pedagang sayur, pedagang rokok di pinggir jalan, dan pelaku industri skala sangat kecil adalah bagai pungguk merindukan bulan. Hampir mustahil! Mengisi ceruk inilah bank titil bermain. Pembebas sesaat dengan seribu jerat.logika supply dan demand bisa dibolak-balik dalam kasus-kasus seperti ini.
Selain hukum supply dan demand yang dibolak-balik dengan menggunakan etika situasi dan berbagai alasan situasional yang sering kali ada benarnya, langgenglah usaha bank gelap bernama bank titil yang pada gilirannya membuat pemerintah menjadi gerah dan mengambil tindakan mengucurkan dana miliaran rupiah sebagai modal pemberdayaan masyarakat kecil. Good. Bagus. Mak nyuus, barangkali.
Siapa yang salah dalam hal ini? Menurut saya, tidak bijak kalau kita selalu mencari-cari pihak lain untuk disalahkan dan dikambinghitamkan. Ini adalah kebodohan jilid 2. Yang jelas, pemerintah harus mengupayakan bank-bank bisa diakses oleh rakyat kecil dalam arti bank mau memberikan kredit. Memang, ketika kita berbicara soal kredit dan utang di perbankan, yang ada hanya satu pertanyaan,”Jaminan (agunan) apa yang kita miliki? Kredit is agunan. Tak ada kredit tanpa jaminan! Ada tuh. Apa? KTA (Kredit Tanpa Agunan)! KTA bukan tanpa agunan. But, kita tidak perlu membahasnya di sini. Ada, ada jaminannya walaupun tidak kelihatan!ya, kepekaan pemerintah sangat diperlukan dalam hal ini. Pertanyaannya, mampukah pemerintah menekuk bank-bank yang memang tegar tengkuk dan bisa dikatakan anti rakyat kecil? Dibutuhkan bukan hanya political will tetapi juga consciense.
Kesadaran dan kecerdasan pribadi sangat diperlukan untuk menghindari jebakan gurita rakus bernama bank titil. Pedagang kecil bisa memilih kredit-kredit union atau koperasi kredit sebagai alternatif pembiayaan dan memperbesar kapital modal. Tanpa bermaksud berpromosi dan dititipi “pesan sponsor”, di Malang ada koperasi kredit bernama Sawiran yang concern terhadap masyarakat kecil dan pedagang kecil. Di Yogyakarta ada Kopdit Mulia, di Temanggung ada CU Pelita Usaha. Lembaga-lembaga pembiayaan mikro seperti ini bisa diandalkan sebagai mitra dalam arti yang sebenarnya.
Bank titil bukan lagi fenomena melainkan realita. Hukum memang harus ditegakkan. Bank gelap harus diberantas sesuai amanat undang-undang. Pun begitu, kecerdasan kita memiih partner untuk membiayai usaha kita dengan syarat-syarat yang masuk akal adalah solusi untuk ancaman jerat bank titil. Mungkin kopdit semacam Sawiran, Mulia dan Pelita Usaha dll harus lebih banyak “turun ke jalan” untuk mensosialisikan keberadaannya. Keberadaannya sebagai lembaga keuangan profesional yang tetap concern kepada pelaku usaha kecil.
Akhirnya, memilah dan memilih merupakan keharusan bagi semua pihak. Pemerintah memilih mengucurkan dana milirian rupiah untuk pemberdayaan masyarakat kecil (kapan pemberantasan bank titil-nya?), bank titil sebagai “pelaku usaha” memilih bermain di ceruk dan lingkaran bisnisnya sendiri dengan motifnya sendiri, kitalah yang harus memilih—pilih gurita haus darah atau memilih hidup yang terus berkelanjutan dengan cara-cara sederhana, masuk akal dan bertanggung jawab. Yang jelas, hidup, rejeki, jodoh dan mati ada di tangan Tuhan. But, itu tidak menghilangkan tanggungjawab kita untuk memberdayakan hidup kita dan hidup orang-orang yang kita kasihi bukan?

Comments
  1. ironis memang, bank titil banyak sekali mencari korban2 orang2 desa. tetapi bank titil di kota lebih banyak bahkan dengan kedok bank2 besar. yang pasti kita jangan cepat tergiur oleh pinjaman2 bunga rendah kalau memang tidak perlu tidak usah pinjam.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s