“Penyesat” Baru itu

Posted: October 30, 2009 in Kritik sosial
Tags: , ,

Jejak (tudingan) penistaan agama akan semakin panjang. Setelah yang baru lalu di Manado beredar rekaman dikembangkan dan diajarkannya ajaran yang diduga sesat oleh seorang oknum pendeta yang melakukan ritus pemukulan dan ibadah telanjang (menurut saksi korban) entah untuk tujuan apa dan dasarnya pun apa, beberapa hari ini, kita disuguhi lagi kopi pahit iman bertajuk penyesatan yang terjadi di Mojokerto yang diajarkan melalui sebuah “lembaga” Santri Loka.
Kalau kita mundur kembali, setidaknya ada beberapa kasus yang bisa kita jadikan rujukan misalnya sekte pondok nabi dengan keyakinan hari kiamatnya. Setelah itu sekte Kerajaan Tuhan yang diasuh oleh Lia Eden dengan keyakinannya tentang Imam Mahdi dan Jibril, Ahmadiah yang sudah lama dipersoalkan eksistensinya, dsb..dsb. Masih panjang dan sangat panjang jejak keberadaan ajaran-ajaran dan sempalan-sempalan yang meresahkan ini.
Jejak panjang tengara “penyesatan” dengan Santri Loka sebagai “lembaga” pemain baru akan semakin panjang, lebih panjang dan teramat panjang pada masa-masa yang akan datang. Apakah ini sebuah tanda bahwa manusia mulai bingung dan tidak bisa mengenali siapa Tuhan yang sesungguhnya. Atau, apakah jalan-jalan penyesatan itu merupakan sebuah bentuk perlawanan terhadap dominasi agama mainstream? Dan, apakah cercah-cercah “penyesatan” ini adalah bentuk dari keputusasaan manusia dalam mencari, dan menanti untuk bertemu serta berhubungan dengan Sang Khalik pencipta dan penopang semesta raya ini? Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab, bukan dengan satu kata menyakitkan “kafir”. Kafir dan kafirisasi never and never enough.
Apa yang diyakini dan dikembangkan selanjutnya diajarkan oleh pengasuh Santri Loka memang perlu dicermati dan dicarikan solusi dengan cara dialogis egalitarian. Memang, ketika sang pengasuh dan yang mengajarkan keyakinannya tentang Islam “baru” (istilah baru saya tambahkan hanya untuk membedakannya dari Islam mainstream), dalam tele dialog di Metro TV pada 29 Oktober 2009, yang salah satu panelisnya adalah anggota MUI, dengan berapi-api dan lantang dia mengatakan bahwa ajaran yang diyakininya tidak salah dan tetap Islam. Salahkah dia? Tidak! Mempertahankan keyakinan adalah hak pribadi dan asasi setiap orang.
Namun, dalam keberanian berapi-apinya untuk mempertahankan keyakinan dan ajaran yang diajarkannya, adanya latar belakang “tidak baik” yang dijadikan dasar untuk menafsirkan ajaran Islam mainstream. Tidak puas kepada, saya menyebutnya, keadaan yang ada. tidak puas kepada agama mainstream. Hal-hal negatif seperti ini kemudian dikembangkan untuk menafsirkan sebuah ajaran dan dijadikan sebagai dasar pembenaran untuk mengembangkan sebuah ajaran baru sempalan sebagai sebuah alternatif. Ini jelas tidak benar dan menyimpang. Latar belakang inilah yang membuat pengasuh Santri Loka melakukan apa yang dalam bahasa hermeneutika disebut eisegese. Memasukkan makna baru (lebih tepatnya pemerkosaan makna utk kepentingan tertentu) ke dalam teks yang ditafsirkan. Bukan membiarkan teks berbicara dari dirinya sendiri.
Poin selanjutnya yang dipaparkan adalah timbangan benar tidaknya agama adalah Pancasila. Pada titik ini kita harus ekstra hati-hati bersikap dan menyikapi. Pertanyaan yang harus dijawab adalah mana yang lebih tinggi otoritasnya, Kitab Suci atau ideologi—Pancasila dalam menimbang kebenaran sebuah ajaran agama BUKAN pengamalan nilai-nilainya dalam kehidupan praktis sehari-hari. Mungkin hal ini yang tidak atau kurang dipahami betul oleh pengasuh Santri Loka.
Kebenaran sebuah ajaran (baca: agama) tentunya ditimbang dan diukur dari seberapa dekat dia menjalankan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci dan seberapa jauh dia menyimpang dari apa yang tersurat dan tersirat di dalamnya. Otoritas Kitab Suci adalah standar mutlak untuk menimbang benar-tidaknya sebuah ajaran. Nilai-nilai ideologi seperti Pancasila tentunya bisa dan boleh dipakai sebagai salah satu barometer/ukuran baik tidaknya, tepat tidaknya nilai-nilai luhur ajaran sebuah agama diaplikasikan dalam konteks lokal tanpa mengorbankan nilai-nilai dan kebenaran luhur ajaran agama. Sebenarnya, keduanya tidak akan saling-silang dan overlapping kalau dipahami betul porsinya masing-masing secara proporsional.
Dalam kasus-kasus sempalan dan ajaran-ajaran “sesat” semacam ini, di ranah agama apapun, yang sering mengemuka adalah masalah tafsir. Selain tafsir, juga masalah ketidkpuasan terhadap agama mainstream yang dirasa tidak mampu menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan seperti ketidakadilan, kemiskinan, ketimpangan sosial, dsb. Hal inilah yang kemudian menjadi katalis untuk menggabungkan nilai-nilai baik dari semua agama semacam yang dilakukan oleh Lia Eden dan Kerajaan Tuhannya.
Pertanyaannya berikutnya adalah, cukupkah cap dan label “sesat” dan “penyesat” diberikan dan dialamatkan kepada seseorang atau sekelompok orang yang mempunyai keyakinan berbeda dengan mainstream? Seaadainya jawabannya adalah “YA”, pertanyaan baliknya adalah, apakah penganut agama mainstream juga bebas dari kesesatan dan penyesatan. Lalu, label “sesat” dari pihak mana yang bisa sah dipakai untuk umum dan apakah cap yang diberikan oleh mainstream terbukti valid? Apa dasar yang membuatnya menjadi valid?
Solusi yang juga sering diberikan adalah mengharuskan pengembang ajaran baru untuk tidak memakai nama mainstream. Ajaran baru harus mempunyai namanya sendiri yang bebas dari nama mainstream. Pertanyaannya lagi, apakah nama baru menjamin sempalan dan sekte-sekte sesat tidak “diutak-atik” karena walaupun namanya baru, tetap saja ada bagian-bagian bahkan mayoritas ajaran mainstream yang diajarkan dengan berbagai variasi dan versi sang pengembang ajaran? Mampu dan maukah mainstream, dalam arti semua agama besar dan mayoritas, mengendalikan umatnya untuk tidak “usil” dan “jahil” kepada sebuah sempalan dan sekte “baru”
Diperlukan kearifan untuk menyelesaikan masalah seperti ini. Tidak gampang dan perlu kerja keras. Bagaimanapun juga, ajaran dan sempalan “sesat” akan selalu ada. masalahnya adalah bagaimana kita menjaga “gawang” kita supaya tidak kebobolan. Berkaca dan mengaca kepada apa yang telah kita lakukan dalam mengaplikasikan apa yang kita yakini tentunya bisa menolong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s