Natal Tanpa Cemara; So What Gitu Loh

Posted: December 4, 2009 in Kritik sosial
Tags: , ,

Natal tanpa Cemara mungkinkah? Kalau gagasan ini dilontarkan secara terbuka apalagi menjelang Natal saya yakin aka nada beberapa tanggapan dan pastinya diantara taggapan-tanggapan tersebut ada yang positif dan yang negative dengan alasannya sendiri-sendiri. Memang, gagasan dan ide ini sepertinya dilontarkan tanpa dipikirkan lebih dulu secara mendalam “untung ruginya”. Seandainya Saudara sekarang berada di tempat di mana saya berada dan menanyakan pertanyaan ini kepada saya, jawaban saya pasti:”Bisa, kenapa tidak! Natal tanpa cemara, so what gitu loh…
Dalam sebuah buku kepemimpinan, saya menemukan satu kalimat pendek yang mengatakan “selalu ada alasan dibalik sebuah tindakan. Sama seperti yang dikatakan oleh kalimat itu, sayapun memiliki beberapa alasan yang melatarbelakangi sikap dan pernyataan saya itu. Secara umum, saya menggolongkan alasan yang melatarbelakangi sikap saya menjadi dua yaitu alasan yang bersifat pribadi dan alasan yang sifatnya ekologis. Alasan kedua inilah yang menjadi focus dalam tulisan ini.
Secara pribadi, mungkin berbeda dengan kebanyakan orang Kristen, saya tidak merasa terganggu dengan tidak adanya (baca: tidak dipasangnya) pohon Natal terutama pohon Cemara hidup. Alasannya sederhana saja, tanpa adanya pohon cemara ibadah Natal tetap bisa khusuk dilakukan. Mudahnya, Cemara bukanlah sosok sentral yang harus terus kita pandang dan kepadanya kita mengarahkan pandangan hati dan kehidupan kita. Betul? Kehadiran pohon Cemara justru bisa menganggu kekhusukan ibadah kalau kehadirannya di gereja kita timbul dari gontok dan tegang urat pengurus gereja dalam rapat panitia natal. Cemara justru menganggu ketika semakin banyak ruang tersita untuk meletakkannya di tempat yang “layak” dan “memakan” hak jemaat untuk bisa beribadah dengan tenang karena harus longak-longok untuk bisa memusatkan pandangannya ke mimbar tempat hamba Tuhanmemberitakan pesan Natal. Alasan ini memang sangat subyektif, tetapi paling tidak mewakili apa yang saya pikirkan tentang pohon cemara dan arti kehadirannya dalam setiap perayaan Natal.
Secara ekologis, sebaiknya kita pikirkan dalam-dalam, kehadiran pohon Cemara hidup dalam setiap peringatan Natal justru merupakan ironi. Ironi? Ya ironi yang menurut saya sangat ironis. Pohon Cemara dihadirkan dalam setiap perayaan natal di hampir semua gereja di muka bumi selama kurang lebih dua ribu tahun untuk melambangkan kehidupan justru berbuah petaka. Petaka bagi siapa? Bagi pohon cemara itu sendiri, lingkungan/habitatnya, dan semua yang ada di lingkungan itu. “Kok bisa, jangan mengada-ada ah…”
Bisa dan tidak mengada-ada. Logikanya sederhana. Pada setiap perayaan Natal setiap tahunnya dibutuhkan ratusan pohon Cemara hidup dalam berbagai variasi umur dan ketinggian. Dari mana pohon-pohon ini didapat? Memang tidak semua Cemara dihasilkan dari pembalakan liar setiap tahunnya tetapi juga tidak semua cemara yang dijual pada bulan Desember setiap tahunnya diperoleh dari hasil budidaya. Sebuah data “tua” tahun 2003 tentang bisnis cemara menjelang natal yang dimuat di harian KOMPAS menggambarkan bahwa cemara-cemara yang dibutuhkan untuk merayakan Natal tingginya berkisar antara 1.5 s/d 5 meter. Untuk menanam yang tingginya 1.5 meter diperlukan waktu 3 tahun. Kalau untuk menanam yang 1.5 meter saja diperlukan waktu sepanjang itu, berarti untuk yang 5 meter kuranglebih 9 tahunan. MAsih menurut harian yang sama, pada tahun sebelumnya setiap hari seorang pedagang bisa menjual 5-10 pohon dengan kisaran harga antara Rp 200.000 s/d 2 juta/pohon. Masalahnya di sini bukan kisaran harganya tetapi lama penanaman, manfaat yang diperoleh selama Cemara-cemara itu tumbuh, dan potensi kerugian secara makro yang dialami oleh lingkungan bersamaan dengan ditebangnya poho-pohon itu untuk memeriahkan perayaan Natal.
Ketika Cemara-cemara itu ditanam, pastilah peranannya sangat besar bagi alam/habitatnya secara mikro dan makro. Selama masa pertumbuhan pohon Cemara yang berkisar antara 3 s/d 9 tahun untuk mencapai ketinggian 1.5 s/d 5 meter sehingga memiliki nilai ekonomis, Cemara sanggup berkontribusi untuk ikut andil menghasilkan udara bersih, mengurangi panas dan menyimpan air di bawah tanah melalui akar-akarnya. Ini adalah potensi ekologis yang tidak bisa dibeli dengan uang dan materi. Tidakkah semuanya itu sangat berarti bagi lingkungan secara mikro maupun makro. Bagi penghuni habitat lainnya seperti burung-burung, serangga, juga bagi manusia tentunya puluhan jajaran Cemara sangat mendukung kelangsungan hidup mereka termasuk kita. Burung-burung bisa bersarang dan mencari makan di pohon-pohon itu. Kita, bisa menghirup udara segar dan meikmati jernihnya air yang keluar dari tanah yang dikumpulkan oleh jajaran Cemara. Hal paling sederhana yang bisa kita peroleh dari cemara adalah kita akan dibantu untuk “menghayal” dalam buaian desau pucuk-pucuk dan keharumannya. Ya, apaling tidak seperti Ebiet G. Ade yang terinspirasi sehingga lahirlah sebait lirik:”Pucuk-pucuk pinus…” Kalau saja kita mau “berhitung” dengan memakai nurani dan mengesampingkan ego dan selfesteem kita yang seringkali kebablasan pastilah kita bisa melakukan tindakan yang benar untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam.

Shalom Tak Merampas Shalom
Kita tentunya percaya kalau Natal adalah momen shalom. Pengertiannya, Yesus datang ke dalam dunia ini untuk menjangkau kita yang terancam kehilangan shalom secara kekal karena dosa-dosa kita. Benar? Tetapi percayakah Saudara akan adanya satu hukum kekal bahwa shalom tak merampas shalom? Untuk mudahnya, kalau Yesus lahir/dating ke dalam dunia pastilah Dia dating membawa shalom dan menciptakan shalom dan tidak sekali-kali merampas shalom-shalom lain (yang benar) yang sudah ada. Yesus dating membawa shalom untuk manusia-manusia berdosa seperti saya dan Saudara supaya kita juga menyalurkan shalom yang kita peroleh kepada semua yang ada di sekeliling kita.
Dalam kasus shalom merampas shalom bukan Yesus yang salah tetapi kita karena ajaran Yesus dan Alkitab sangat jelas-shalom untuk semesta alam. Dalam kasus shalom merampas shalom kita, manusia yang telah mendapatkan shalom dari sang Raja Shalom justru merampas shalom pihak lain (baca: alam/lingkungan). Dengan mengatasnamakan kemeriahan, kekhusukan dan ke-afdolan perayaan Natal kita justru menjadikan dunia dan lingkungan di sekeliling kita hanya sebagai obyek yang shalomnya bisa kita rampas. Berapa banyak shalom (burung, serangga, dan kehidupan hayati lainnya) yang sudah mereka miliki bertahun-tahun kita renggut dengan paksa hanya untuk kemeriahan sesaat pesta kelahiran sang Raja Shalom sementara sang Raja tidak pernah mengajakan apalgi memerintahkannya. Berapa banyak potensi kerusakan ekologi yang menanti dibalik penebangan-penebangan ini.
Hukum shalom tak merampas shalom tidak dimaksudkan untuk merampas shalom orang-orang yang memang berhak mendapatkan penghasilan karena sudah berjerih lelah menanam dan merawat Cemara-cemara selama bertahun-tahun. Mereka tetap berhak mendapatkan shalomnya. Masalahnya di sini adalah ketika mereka, terdorong untuk mendapatkan keuntungan dan atas stimulasi kita (baca: gereja/orang Kristen) melalukan penebangan-penebangan tak terkendali sehingga menganggu kehidupan makhluk hidup lainnya untuk waktu yang lama. Intinya adalah sejauh mana pihak-pihak yang berkepentingan dengan hal ini –pedagang cemara dan orang-orang Kristen saling memberikan stimulasi untuk melakukan hal terbaik dengan memperhatikan keseimbangan ekologi. Tidak mudah memang, apalagi ketika berhadapan dengan kapitalisme yang telah merasuki pikiran banyak manusia masa kini.

Natal yang Benar-Benar Membawa Shalom
Kunci menciptakan Natal yang benar-benar membawa shalom bagi semesta terutama dalam kaitannya dengan kelestarian ekologi berada di tangan kita. Kita sendiri yang mampu menciptakannya. Kuncinya tidak lagi berada di tangan Yesus. Dia sudah memberikan teladan tertinggi tentang bagaimana berdamai dengan semesta dan manusia sehingga shalom yang nyata benar-benar terwujud.
Kita-orang Kristen dan gereja sebagai institusi yang memang “ditakdirkan” untuk menghadirkan shalom bagi sesame dalam pengertian bukan hanya terbatas pada manusia tetapi dalam kontek makro seluruh ciptaan harus benar-benar menerima, mengerti dan melakukan mandate ini. Terlau naïf dan cenderung mengada-ada kalau kita yang telah ditakdirkan seperti itu (baca:the agent of shalom) dengan begitu mudah, karena mempunyai cukup dana dan alasan keafdolan , merangsang pihak lain untuk melakukan hal-hal yang merugikan kelestarian alam dan yang pada gilirannya akan menganggu manusia juga sebagai penghuni bersama kosmos.
Mandat sebagai the agent of shalom dalam kaitannya dengan kelestarian alam terutama dengan kelestarian hayati-cemara bisa kita wujudkan dengan tidak selalu membeli pohon-pohon cemara hidup untuk merayakan Natal setiap tahunnya. Jauh lebih baik kalau kita setelah perayaan Natal usai menanam kembali pohon Cemara tersebut untuk perayaan tahun yang akan datang. Dengan menanam kembali bukan hanya kita yang memperoleh manfataat tetapi penghuni habitat/lingkungan juga memperolehnya. Seandainya kita tidak mempunyai cukup lahan, kita harus mulai mulai belajar untuk memakai pohon natal tiruan yang hanya sekali dibeli untuk peringatan beberapa tahun. Dengan cara seperti ini paling tidak bisa mengurangi banyaknya polutan akibat sampah plastic yang tidak bisa didaur ulang oleh alam. Sisi terpenting dari agent of shalom adalah dimilikinya pemahaman manusia sebagai pengelola (manager) alam bukan pemilik apalagi penguasa atasnya seperti yang diamanatkan dalam Kejadian 2:15. Tanpa memahamio mandate yang diberikan kepadanya, manusia sangat berpotensi sebagai agent of destruction yang tidak hanya memperlakukan alam sebagai obyek yang bisa diperlakukan sekehendak hatinya dan didominasi. Bukti yang ada adalah selamanya manusia tidak bisa mendominasi alam.
Konsumerisme dan Kapitalisme di Balik Perayaan Natal
Natal, seperti hari-hari raya lainnya saat ini sudah menjadi public domain (milik umum) dalam pengertian semua orang turut “merayakan”. Hal ini dibuktikan dengan dipajangnya ornament-ornamen bernuansa Natal di tempat-tempat umum (Mall, perkantoran, Bandara, dsb). Sebagai public domain Natal dalam arti holiday bukan ibadahnya rentan dan rawan diserang oleh kapitalisme dan menyusup sebagai bahaya laten konsumerisme.
Kapitalisme dan konsumerisme memanipulasi hari libur natal untuk menggeruk keuntungan yang dirancang dengan sedemikian rupa oleh sekelompok orang untuk memperkaya diri. Cemara pun tak lepas dari eksploitasi mereka. Semangat kapitalisme merasuk ke dalam gereja dengan mengangung-agungkan perayaan gegap gempita untuk memperingati kelahiran Yesus. Natal tanpa cemara hidup bukan Natal dan kurang “wangi”. Natal tanpa cemara tak mampu menghadirkan kehidupan yang adalah inti dari Natal (baca: kelahiran Yesus). Diakui atau tidak, kuku konsumerisme telah menancap dalam dan kuat dalam kehidupan gereja khususnya pada bulan Desember. Konsumerisme hanya menjadikan Natal dan khususnya cemara hanya sebagai obyek dan alat untuk mendapatkan keuntungan. Eksistensi konsumerisme dan kapitalisme yang memanipulasi perayaan Natal dan cemara harus kita waspadai.

Kesimpulan
Kita-orang Kristen dan gereja yang telah “ditakdirkan” sebagai agent of shalom karena telah menerima sahalom dari Kristus sendiri dan sebagai pengelola alam dituntut untuk mampu menghadirkan shalom di tempat-tempat yang di dalamnya shalom belum terwujud. Ini bukan tugas mudah. Dalam kaitannya dengan shalom ekologis, kita-gereja sebagai institusi dan pribadi hendaklah tidak mudah diperdaya oleh bujuk rayu konsumerisme dan kapitalisme yang dengan memperalat perayaan Natal demi mendapatkan keuntungan sehingga mendorong, secara tidak disadari, pihak lain untuk merusak alam.
Hukum kekal shalom adalah shalom dihadirkan untuk seluruh ciptaan dan tidak pernah merampas shalom yang dimiliki oleh siapapun. Shalom yang dibawa Kristus ke dalam dunia adalah shalom yang berpihak kepada semua (baca: lingkungan hidup) walaupun mereka bukan bagian dari penebusan Kristus. Pun begitu, shalom dan penebusan Kristus yang telah kita terima harus kita teruskan kepada alam dan lingkungan di sekitar kita karena tanpa berdamai dengan mereka kita pun tidak akan pernah bisa merasakan shalom sebagai sesame ciptaan. Tidak mudah memang untuk mewjudkan hal ini, tetapi kita harus mulai merenungkan, memahami dan melakukan sebuah tindakan nyata untuk melestarikan alam ini. Kalau Yesus saja peduli kenapa kita harus tidak peduli dengan alam ini.
Inti dari tulisan ini bukan mengajak Anda untuk menghapuskan dan menyingkirkan jauh-jauh cemara dari setiap perayaan Natal melainkan sebuah ajakan untuk merenungkan bagaimana kita tetap bisa menjaga kelestarian alam dari momen Natal yang pada hakikatnya membawa shalom bagi seluruh ciptaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s