Amal yang Membangkrutkan (?)

Posted: July 26, 2010 in Kritik sosial

“Kata teman kantor saya, saya kebanyakan amal mas. Itulah yang menyebabkan kondisi saya seperti sekarang ini”. Percakapan ini sunggh terjadi antara kakak dan adik yang sudah berusia paruh baya dan sedang menikmati masa pensiun. Mendengar yang dikatakan oleh si adik, sang kakak singkat menjawab,”Kalau orang banyak beramal, pasti banyak rejekinya dik.” Sungguh, ini adalah sebuah cerita nyata dan bukan rekaan. Saya juga kaget ketika mendengar cerita ini dari istri saya. “Amal bikin orang bangkrut?” saya bertanya pada diri sendiri. “Sejak kapan amal bisa bikin orang bangkrut dan sengsara hidup pada masa tuanya?”
Amal bikin orang bangkrut? Saya tidak percaya. Bagaimana pendapat Anda? Apakah memang amal yang dulu diajarkan kepada saya, tidak pernah dan tidak akan pernah membuat orang bangkrut apalgi jatuh miskin, sekarang berubah menjadi sebaliknya? Seandaninya memang benar begitu, berarti perlu ada revisi ajaran dan pengajaran atau teologi tentang amal (yang menurut saya tidak perlu dan memang tidak perlu). Apapun kepercayaan yang kita anut, tentunya kita masih tetap yakin bahwa amal tidak pernah membuat orang jatuh miskin atau sengsara bukan. Apakah memang ada ajaran yang membatasi kita beramal dan menyantuni orang-orang miskin supaya kita tidak ikutan jadi miskin. Bukankah yang diajarkan agama dan kepercayaan kita melalui pendeta, ustad, kiai, bedande dsb adalah, semakin kita beramal, semakin sejahtera lahir batin kita. Bukankah semakin banyak menabur kita akan semakin banyak menuai? Atau “hokum” ini sudah berubah dan dipaksa berubah oleh zaman?
Kembali ke “amal” yang membangkrutkan. Pertanyaan sederhana yang muncul dalam pikiran saya mendengar cerita ini adalah,”benarkah yang dilakukan oleh paman saya ini adalah amal? Ataukah yang dilakukannya adalah “amil”? Masih segar dalam benak saya adalah sebuah hokum yang diajarkan:”Kalau tangan kananmu memberi, yang kiri jangan sampai tahu.” Hukumnya adalah selalu,”Lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah.” Keyakinan terdalam saya adalah hokum ini tentu ada “ikutannya”. Tak pernah Tuhan membuat orang yang dermawan menjadi miskin karena member dan beramal (beramal dalam arti yang sesungguhnya).
Dalam kasus ini, menurut saya yang terjadi adalah amil. Dan orang yang memberti nasihat dan mengatakan bahwa amal yang terlalu banyak membuat orang menjadi miskin (miskin lahir atau miskin batin?). Teman seperti ini, menurut saya, perlu dipertanyakan kebijaksanaan dan pemahamannya tentang hukum Tuhan terutaa yang berkaitan dengan amal dan member. Bukan penasihat dan teman yang baik menurut saya. Pelu diwaspadai misinya dibalik statementnya.
Bagi saya, cerita ini sebenarnya, kalau mau jujur sejujur-jujurnya, sangat lucu. Ungkapan aneh dan nyleneh. Amil bukan amal itulah yang membuat sesorang menjadi bangkrut. Saya benar-benar tahu bagaimana orang ini mempergunakan uangnya ketika masih bekerja. Seperti apa gaya hidupnya ketika masih Berjaya. Saya akui, banyak yang diberikan kepada oranng-orang tertentu sebagai santunan. But, terlalu banyak juga yang diberikan kepada bandar arisan Rabu-an (Togel) setiap ada penarikan. Ketika uang 300 s/d 500 ribu dengan enteng “dibelanjakan” untuk membeli kupon putih setiap minggunya, apakah ini amal? Amil bukan?
Amal selamanya, menurut saya, tidak akan pernah membuat orang bangkrut. Amillah yang membuat orang bangkrut. Gesak-gesek kartu kredit secara serampangan. Bela-beli barang yang tak dibutuhkan secara tak terkendali tentunya bukan amal. Kalau diukur dan ditimbang, berat mana kira-kira, amal atau amilnya? Apakah bijak ketika sudah hidup dalam kesulitan keuangan masih saja tetap larut dalam impian muluk meraih uang dengan cara sangat mudah dengan mengotak-atik angka-angka (baca: meramal Togel)? Yang ini mah.. amil bukan amal. Amal selalu produktif. Amil yang kontraproduktif.
Amal sebagai sesuatu yang sangat mulia tidak seharusnya dan selayaknya dijadikan sebagai tameng untuk menutupi kekonyolan kita. Amal tak seharusnya dikambinghitamkan sebagai penyebab kesulitan yang kita alami. Perlu keberanian untuk bisa mengatakan dengan jujur bahwa yang menyebabkan kita mengalami kesulitan adalah amil yang kita lakukan. Bukan amal yangkita berikan kepada orang lain.
Amal dan amil memang dua hal yang berbeda. Bahkan jauh berbeda. Ada garis batas pembatas tebal antara keduanya. Sebatas opini, saya cenderung mengatakan bahwa orang tidak akan menjadi miskin karena beramal. Mungkin, opini ini salah. Menurut Anda, amal atau amil yang membuat orang sengsara?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s