Belajar Menjadi seorang negarawan dari Drummer Cilik

Posted: August 9, 2010 in Kritik sosial
Tags:

The real winner and champion is he,she or they who can master he/him/themselves and recognizing other(s) is better than he/herself. Paling tidak, inilah yang bisa kita teladani dari seorang JP Millenix, seorang peserta Indonesia Mencari Bakat yang notabene adalah dan masih seorang ana kecil dan “hijau”.
Dalam kekecilan dan “kehijauannya” seorang JP Millenix sanggup menguasai dirinya ketika dinyatakan (oleh SMS) tereleminasi dari pentas IMB. Sedih dan menitikkan airmata memang. Namun, ditengah kesedihannya karena “kekalahan” yang dialaminya dia tidak mengumpat, memaki, dan melakukan hal dan tindakan negatif diatas pentas dan di hadapan pendukung dan fansnya. Sebaliknya, yang dilakukan JP, yang seorang bocah dan “hijau” justru sebaliknya. “kekalahan” diterimanya dengan lapang dada dan sebuah tekad untuk menjadi lebih pada masa yang akan datang. Bukan hanya itu, dia dengan tidak canggung-canggung memeluk ‘rival-rival”nya yang dinyatakan lolos ke babak berikutnya. Sebuah ketulusan dari seorang bocah yang masih “hijau” dan “bau kencur”!!
Lain JP Millenix, beda pemilu kada di negeri ini. Mental juara sang JP kecil tidak dimiliki oleh sebagian besar kontestan pemilu kada-pasangan kepala daerah TK I dan TK II. Hampir selalu, setiap pemilihan kepala daerah diwarnai dengan berbagai “kegaduhan”. Macam-macam bentuknya. Mulai dari yang hanya tidak mau menandatangani berita acara, mengerahkan massa pendukung untuk memrotes dan yang lebih parah, mengotaki dan mendalangi massa pendukung untuk melakukan tindakan anarkis. Sebuah tontonan mengerikan yang tak selayaknya dan sepatutnya dipertontonkan oleh orang-orang yang mengklaim diri sebagai calon pemimin yang potensial untuk memimpin dan mengayomi masyarakat.
Jika kita hitung kembali, apapun acara pemilu langsung, bukan hanya kepala daerah, tetapi juga RI-1, bukankah yang sering dipertontonkan adalah sikap yang mencerminkan kekerdilan dalam menyikapi “kekalahan”. Dalam sebuah pertandingan dan permainan, hanya ada satu juara. Juara pertama selalu didambakan dengan berbagai motivasi dibaliknya. Tentunya tidak ada juara bersama. Hanya ada satu juara. Juara kedua dan ketiga bukan orang-orang kalah sebetulnya. Namun sayangnya, yang menjadi yang kedua dan ketiga, tidak semua, sebagian selalu sulit menerima kekalahan. Sayang. Yang lebih disayangkan juga adalah tindakan-tindakan pada masa mendatang yang dilakukan oleh oknum2 yang kedua dan yang ketiga.
Kalau saja, kita semua mau (bukan mampu) belajar dari “anak-anak bau kencur” dalam hal ketulusan dan kebesaran hati, tentunya tidak terlalu banyak kegaduhan dan saur manuk di negeri ini. Kemauan itulah kuncinya. Mau mengakui kemenangan orang atau kelompok lain dalam “pertandingan” pesta demokrasi seperti pilpres, atau pilkada. Mau memberikan selamat dan bekerjasama untuk bersama-sama membangun negeri dan kemakmuran rakyat. Bukankah semua calon maju membaw misi untuk menyejahterakan rakyat (?). kalau memang rakyat lebih memilih yang lain, itu adalah hak rakyat. Pilihan rakyat bukan bencana dan seharusnya tidak ditafsirkan seperti itu oleh pasangan calon pemimpin. Klaim sebagai orang yang mampu membawa rakyat kepada perubahan yang lebih baik seharusnya jadi satu paket dengan kemampuan dan kemauan untuk mengakui pihak lain lebih unggul serta mau bekerjasama mengupayakan kesejahteraan rakyat. Kalau JP Millenix yang “bau kencur” dan “ijo” saja bisa, kenapa yang dewasa tidak menirunya? Bukankah belajar bisa dari dan kepada siapa saja? JP, you are the real winner

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s