Hedonism: Perspective of Wayang Narration

Posted: February 12, 2011 in Kritik sosial
Tags: , ,

Alkisah… (kayak OVJ aza) zaman masa kini, di sebuah negeri dongeng nun nyata berdiri sebuah “kerajaan” kecil tak bernama yang dipimpin oleh Prabu Hedon. Sang Prabu adalah seorang yang rupawan dan “dermawan”. Layaknya seorang Raja, sang prabu dikelilingi oleh dayang-dayang. Dayang Sumbi, Dayang Wastu, Dayang Gini, Dayang Gitu. Juga, tak lupa, ada beberapa mahapatih kesayangan, kusir dokar,, dan para cantrik.
Life is so colorful di negri tak bernama. Penuh dengan kesenangan. They can go anywhere anytime they want. Anywhere, anytime dan at other’s cost. Narasi wayangnya, mulai pakai sedikit bahasa Kulonan. Carpe Diem (Catch the Day, tomorrow u may be dead) adalah moto yang diagungkan. Persis ungkapan Romawi kuno. Reguk kesenangan sampai puas dan sampai mabuk. Enjoy till you don’t know yourself anymore and find yourself die in your pleasure. Nikmati sampai tetes terakhir seperti kata iklan di tipi-tipi. Hidup untuk dinikmati, dinikmati, dinikmati dan teruuuussss… terusss….terusss (sampai kau mati tanpa kau sadari). Walah… cerita apa tho ini sebenarnya.
Life is so beautiful (though I have to be a beast for others; homo homini lupus, bahasa Maduranya. Gak ada yang sulit di negeri tak bernama. Mau terbang, tinggal bilang. Mau jajan, tinggal pesan. No hard thing in this unnamed country. Kabeh gampang. Ora ono sing angel. Tinggal bilang, tinggal tunjuk dan tinggal pesan dan semua (?) pasti datang.
In the name of unity (kebersamaan) semuanya dilakukan. Untung satu untung semua (?), hatiku hatimu. All for one and one for all. Sang prabu, dayang, kusir dokar dan cantrik “menyatu” dan menjadi satu (?). Sungguh sangat ideal. Hidup yang diimpikan oleh “SEMUA” orang. Ada masalah, selalu bos kasih solusi. Very generous sang Prabu. Tak ada yang tak selesai. Semua bisa diatur (atur). Mengatasi masalah (dengan) tanpa masalah. Semua pasti beres. Kagak ada yang sulit.
Sementara itu, di negeri tetangga yang bernama simplicity, kehidupan jauh dari itu. Ada banyak masalah. Walaupun gak penuh-penuh amat. Took…toook… eek (keselek. Ngetok palu dalangnya terlalu semangat). Raja di negeri ini seneng tampil sorangan wae dan cenderung kurang peka terhadap kebutuhan dayang, sopir angkot dan cantrik-cantrik bawahannya. Boro-boro carpe diem, bisa diem sehari saja sudah bagus. Ya begitulah hidup dan kehidupan…. toookk…toookkk…tookk. lha memang dunia dua bertentangga ini berbeda. Di simplicity tidak ada akses kepada Parbu untuk leha-leha dan manja-manja. Kesenangan bisa didapat dari sesama dayang, sopir angkot dan cantrik. Curhat-curhatan kata anak muda. Yang ada budaya belajar mendengarkan sesama. Sesama buruh maksudnya. Muncul juga semangat kebersamaan dan tidak ada sikap membeda-bedakan. Yang kepala sopir angkot merasa sama dengan kepala dan anggota cantrik. Tak mau membedakan diri dari tampilan luar. Yang kepala sopir angkot, bajunya sama dengan bosnya cantrik dan cantriknya. Kagak tamak.
Kalau dinegeri tak bernama ada slogan sang Prabu mengatasi masalah (dengan) tanpa masalah (kagak tau apa, kalau dia justru menimbulkan masalah baru!!!), di negeri simplicity, slogannya, kalau ada masalah, coba atasi sendiri, nanti kalau kagak bisa solve baru lapor sang Prabu (bisa-bisa setelah lapor sang Prabu malah tambah banyak masalah. He….he..). nah, kontras kan… beda kan? Lalu apa kesamaan hidup di dua dunia yang sangat berbeda ini? Ada beberapa kesamaan walaupun keduanya sangat berbeda dan bertolak belakang. Yang pertama. Sama-sama sedang dijalani. Yang kedua, sama-sama bisa menilai (mau dinilai gak?). yang ketiga, hanya bisa memendam rasa.
Penjelasannya begini. Yang pertama. Hidup di dua dunia yang berbeda—hedon VS sederhana, sedang dijalani. Baik oleh anggota kerajaan hedon maupun kerajaan sederhana. Mau tidak mau, suka tidak suka, semua (faktanya) harus dan sedang dijalani. Bukan tak mungkin penduduk negri hedon sedang kawin mawin dengan penduduk negeri simplicity. Toh. Itu harus tetap dijalani walaupun sangat berbeda. Dan, kadang-kadang menyakitkan. Yang kedua. Bisa menilai atau berkaca diri. Kalau di sana sperti itu, haruskah di sini juga sperti itu? Bisakah disini menjadi seperti di sana dan sebaliknya? Kalau di sana orang dengan semangat carpe diem bersenang-senang sampai kelewat batas dan sedang menuju batas akhir kemampuan untuk menikmati kesenangan yang nantinya baru disadari ketika tidak ada lagi orang yang mau ikut apalagi menolong ketika mereka mati dalam kesenangannya harus dilakukan juga disini?
Yang ketiga, dan mungkin ini sangat penting. Memendam rasa. Ternyata ketika belum masuk lingkaran hedon dengan segala kesenangan dan kemunafikannya orang rajin mengritik dan mencela lingkaran hedon, ternyata setelah masuk di dalamnya, ya podo wae (dengan berbagai alasan dan dalih). Rasa ini harus dipendam dalam-dalam dan lebih dalam bahkan ke titik terdalam yang tak terselami oleh siapapun. Ketika perasaan sudah diungkapkan tapi bersambut sebelah tangan (apa daya tangannya hanya satu?) ya sebaiknya dipendam lebih dalam dan semakin dalam jauh direlung hati dan hanya dikatakan kepada Dia yang Mahamengerti. Tokh, ketika dipendam jauh sudah dikatakan kepada yang Mahamengerti. Ekspresi sederhana khas wayang plesetannya mungkin begini,”Duh Gusti Pangeran, kawulo sampun ngupoyo ning mboten pikantuk asil. Kawulo mboten saget nindakaken punapa-napa. Namung Panjenengan ingkang ngertos napa ingkang wonten manah kawula. Kawula nyuwun pitulungan Paduka sang Pangeran (“O.. my dear God, I have done all I Can but no good thing resulted from what I did. I can not do anything anymore. But, my dear God who knows the deepest of my heart, I do beg you to offer your mighty hand to help me”)
At least, dari dua kondisi kehidupan yang berbeda tetapi nyata dalam narasi wayang plesetan ini, kita bisa merenungkan beberapa hal. Yang pertama adalah hidup, di manapun Allah menempatkan kita, selayaknya kita syukuri. Bukan tanpa maksud dan rencana Allah meletakkan kita di dua bidang kehidupan yang berbeda. Apalagi, kalau diizinkan, kita yang dari dua “negeri” yang berbeda untuk menyatu sebagai pasangan dan keluarga, pastilah hikmah di dalamnya. Walaupun, dalam proses perjalanan untuk menyatukan keduanya kadang sangat menyakitkan dan kadang ada rasa tidak dihargai dan dilecehkan. Harus kita sadari, dunia hedon dan simplicity sangat bertolak belakang. Lingkungan membentuk perilaku orang-orang yang ada di dalamnya. Bahkan, kadang-kadang, lingkungan yang dibina berdua dan bersama di luar lingkungan hedon pun seringkali ingin diubah menjadi hedon juga. Hedon kadang lebih narsis.
Kedua, menguji diri dalam hal konsistensi sikap dan tindakan. Mungkin ketika kita belum meraskan enak dan kenikmatan yang didapat oleh orang lain, mungkin, sekali lagi mungkin, kita dengan mudah menunjuk-nunjuk kenikmatan, kesenangan dan budaya orang lain tidak baik dan tidak benar. Tapi setelah kita JUGA ada dio dalamnya, masihkah kita mampu mengatakan dan berani bersikap bahwa hal itu tidak benar. Or, gampangnya, kita berusaha mencari aman dengan menjadi bunglon dengan mengajukan berbagai dalih dan alasan. Ini bukan hal gampang. Kenikmatan, pesta pora dan hura-hura selalu bisa membutakan mata batin kita. Ketika kita belum menjadi Gayus yang koruptor, kita mudah berteriak-teriak di jalanan,”Ganyang koruptor, dst…dst..!” tapi ketika kita “kecipratan” hasilnya, atau ada di dalamnya, masihkah kita berani dengan lantang dan heroik berteriak,”Aku ini koruptor”!!!
Ketiga, berani bersikap. Narasi ttg negeri hedon mengisahkan bahwa sang Prabu, dalam kebaikan hatinya, gemar mengatasi masalah dayang dan cantrik2nya (dengan) tanpa masalah. Ukuran mengatasi masalah tanpa masalah adalah ketika solusi yang ditawarkan tidak kemudian dijadikan jerat untuk mengatur-atur “dapur” orang lain. Justru merupakan penyebab masalah kalau solusi yang diberikan justru menimbulkan ketegangan dan masalah baru yang sebenarnya dampak ikutannya lebih membahayakan “dapur” dayang dan cantrik. Ketika yang solusi serampangan macam ini tidak disikapi dengan tegas, it means, we risk our own “kitchen” yang dengan segala susah payah dibangun bertahun bahkan berpuluh tahun. “Dapur” yang tidak hanya memberi kenikmatan dan kekenyangan tapi kehangatan. Penganut budaya hedon, apalagi kalau dia berada di posisi puncak, cenderung bersikap semau guwe, kalau belum bersikap menjadi tuhan. Guwe yang atur. You are not more than my robots.
Ya, apapun namanya, menurut saya, inilah hidup dan kehidupan. Ada hitam dan putih. Ada suka tidak suka. Ada airmata. Ada sukacita dan kebahagiaan. Ada kemunafikan. Selalu dua sisi. Baik dan tidak baik. Yang baik belum tentu benar. Kalau yang benar, apakah sudah tentu dan pasti baik? Segala sesuatu ada masa dan musimnya. Kesenangan dan kemampuan menikmati kesenangan ada batasnya. Kalaupun memang hidup seperti putaran roda pedati yang bisa diatas dan dibawah, itu artinya tidak ada yang mutlak. Kalau hari ini bisa jadi tuhan, lain kali pasti ada peluang untuk jadi setan. Kalau sekarang tertawa-tawa bahagia dalam kesenangan, bukan berarti besok tak ada hari yang membuat kita tak bisa menikmati kesenangan karena kita sudah benar2 mati di dalamnya baik secara jasmani dan rasa kita. Kalau sekarang kita bisa menjadi orang yang melupakan orang lain dan orang2 di dekat kita, pintu untuk menjadi orang yang dilupakan dan ditinggalkan dalam kesunyian dan nista selalu terbuka lebar. Masalahnya, kita hanya sedang tidak (mau) tahu bahwa jalan itu mengarahkan ke pintu itu. Kalau sekarang banyak orang mengumpat-umpat karena haknya dilanggar untuk membayar kesenangan kita, jangan yakin kalau detik ini atau detik-detik berikutnya mereka menjadi yang bersorak karena kejatuhan kita. Itupun kalau memang hidup memang seperti roda pedati dan karma memang terjemahannya lurus dan “kasar” seperti ini.
Ah, ini kan hanya perenungan pribadi menyikapi narasi tentang dua gaya kehidupan di dua kehidupan yang memang nyata. Ya, semua mengalami dan menjalaninya. Mungkin Anda sedang mengalami kedongkolan karena, mungkin, Anda merasa masalah yang ada di narasi ini sedang Anda alami, percayalah bahwa Anda tidak sendiri. Saya pun mengalaminya juga. Teman-teman yang lain pun sama. Masalahnya sekarang adalah, bagaimana kita menyikapinya. Menjadi manusia yang eling (ingat) dan ngelingi (mengingat) bukan nglinglingi (mengalangi) orang lain jauh lebih baik daripada kita tidak eling. Bagaimana menurut Anda? Ada baiknya kita saling berbagi. BEAT HEDONISM AND SAFE OUR “KITCHEN”. Saya tunggu responnya.

Comments
  1. nobody says:

    Kekuatan FreeMason Yahudi bermain di balik masalah Gayus dll.?
    Semua orang sepertinya berusaha untuk saling menutupi agar kedok anggota mafia FreeMason utamanya tidak sampai terbongkar.
    Jika memang benar demikian, maka tidak akan ada yang bisa menangkap dan mengadili Gembong tersebut -di dunia ini- selain Mahkamah Khilafah!
    Mari Bersatu, tegakkan Khilafah!
    Mari hancurkan Sistem Jahiliyah dan terapkan Sistem Islam, mulai dari keluarga kita sendiri!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s