MAIN DI LUAR VS MAIN DI DALAM

Posted: February 14, 2011 in Kritik sosial
Tags: ,

Seperti yang saya janjikan di tulisan saya sebelumnya mengenai obrolan para laki-laki di dunia tanpa sinyal, kali ini saya tampilkan topik kedua dari seri bincang-bincang hangat di dunia tanpa sinyal. MAIN DI LUAR VS MAIN DI DALAM. Sejak awal, dalam tulisan pertama, sudah saya paparkan bahwa topik pembicaraan kali ini adalah fenomena bos yang suka “main di dalam”. Sekali lagi, karena pelaku perbincangan semuanya adalah laki-laki, maka “obyek” pembicaraanya adalah wanita. Pun demikian, sebenarnya, perbincangan ini isinya juga berlaku untuk wanita. Tidak ada maksud merendahkan perempuan. Sama sekali tidak. Ini hanya sebuah tulisan, walaupun reportase, yang mengetengahkan opini-opini pribadi tentang sebuah permasalahan. Itu saja.
Setelah menyelesaikan sesi untuk menjawab pertanyaan,”Hebat mana, aku atau dia?”, sesi ikutannya adalah,”Mana yang lebih terhormat, MAIN DI DALAM atau MAIN DI LUAR. Konteksnya jelas-jelas perselingkuhan dan uang atau materi sebagai tujuan pihak inferior dan hegemoni dari sisi sang superior. Tak selamnya orientasinya seksual. Namun sangat terbuka kemungkinan untuknya. Kata MAIN disini tidak serta merta bisa diasumsikan sebagai hubungan seksual tidak sah antara seseorang dengan lawan jenis yang bukan pasangan resminya.
Nah sekarang, menurut teman-teman, manakah yang lebih terhormat, MAIN DI LUAR ATAU MAIN DI DALAM? Sebenarnya yang lebih tepat adalah, “main” dengan orang di luar atau dengan orang dalam. Seandainya saja, kita “aminkan” dulu opini banyak orang bahwa selingkuh itu indah, dalam konteks ini, mana yang teman-teman pilih, apakah “main” dengan orang luar ataukah dengan orang luar. Yang paling bagus adalah tidak dua-duanya.
Kembali ke pilihan dalam perbincangan. Hanya ada dua pilihan. Kalau kita jadi bos dan dikelilingi “dayang-dayang”, tapi ingat, tidak semua dayang bisa diajak berbuat tidak benar dan tidak semua dayang memiliki keinginan untuk berbuat tidak benar, apakah kita memilih bermain dengan orang dalam dari antara salah satu “dayang” ataukah kita memilih untuk mencari “dayang” diluar dengan pertimbangan kehormatan. Ingat pilihannya hanya dua.
Dalam perbincangan itu muncul perkataan,”Lebih baik main diluar. Itu lebih terhormat. Daripada main di dalam (baca: dengan orang dalam) yang menyolok sehingga menjadi rahasia umum yang menganggu kinerja perusahaan dan jadi bahan tertawaan dan caci maki di belakang lebih baik main sama orang di luar perusahaan. Kagak ada yang tahu dan tidak menganggu kinerja karena terjadinya tumpang tindih antara kepentingan pribadi dengan kepentingan pekerjaan. It’s seems so wise.
Bermain di luar, menurut opini seseorang dalam percakapan di dunia tanpa sinyal, jauh lebih terhormat. Bermain di dalam dengan orang dalam lebih membahayakan karena mudah teridentifikasi dan dari segi prestise sebenarnya membuat seorang juragan lebih kelihatan sebagai orang yang tidak prestisius.Benarkah seperti ini?
Opini yang mengemuka dalam obrolan ini menurut saya kok kurang pas. Bermain di dalam (dengan orang dalam) dan bermain di luar (dengan orang luar) sama-sama tidak prestisius. Mungkin, ketika opini ini dilontarkan, yang satu tampak lebih baik dari yang lain. Untuk konteks yang negatif, mungkin bisa jadi demikian. Kurang pas juga, karena pilihannya negatif semua. Tidak ada yang posistif. Ya, tapi namanya opini dan yang diomongkan juga hal yang negatif (tidak ada selingkuh dan menyelingkuhi yang indah) maka opini ini menjadi sah dalam konteks, konsep dan waktu itu.
Bukan tanpa alasan opini ini muncul. Yang jelas, sebuah opini muncul atas dasar fakta. Dan, fakta itu ada di sekitar kita. Tinggal sejauh mana kita peka untuk mengendus dan mengidentifikasinya. Fakta ini juga muncul bukan tanpa dasar dan kepentingan sebagai motif yang menggerakkan pelakunya.
Ada berbagai motif yang mendasari “main di dalam” baik dari sisi si inferior dan sang superior. Terlalu naif kalau dikatakan bahwa dari pihak yang inferior ekonomi adalah alasan utama untuk bermain apa dengan atasan. Walaupun faktanya hal seperti itu tidak pernah tertutup kemungkinannya. Kesenangan dan kepuasan yang tak hanya berhenti pada asumsi kepuasan dan kesenangan di tempat tidur. Walaupun faktanya, dalam permainan di dalam maupun di luar, urusan tempat tidur bukan hal yang bisa dilepaskan begitu saja. The power of sex tidak bisa dimungkiri. Dia masih tetap memiliki power. Short cut bisa juga mengilhami seseorang untuk terlibat permainan atas bawah dengan orang di dalam. Ketika orang merasa “tetangganya” yang selevel dengannya di tempat yang sama sehari-harinya lebih jaya dan “bersinar” sementara dia merasa, sekali lagi merasa, lebih “berkeringat” sementara tetangganya yang santai dan leha-leha saja bisa “dapat banyak”, dalam kefrustasiannya karena salah memandang, job performance bukanlagi sebagai patokan utama, apalagi kalau diketahui bahwa sang juragan adalah tipe yang suka “dielus” dan larut dalam buaian dan elusan sehingga tidak bisa melihat dengan benar kinerja anak buahnya, celah inilah yang dimanfaatkan. But, sangat jarang, namun ada dan terjadi hal seperti ini.
Thirst of prestige juga merupakan alasan yang seringkali dijadikan alasan untuk terlibat dan melibatkan diri dalam permainan atas-bawah baik di dalam maupun di luar. Si inferior merasa memiliki kebanggan tersendiri kalau bisa menjadi “tangan kanan” si bos. Walaupun sembunyi-sembunyi. Ni loh gue, bisa dapat bos kan? Mungkin seperti itu yang dipikirkan. Pada fase ini, yang dibutuhkan si inferior bukan sepenuhnya materi melainkan recognition atau pengakuan. Dalam hal yang tidak benar sekalipun. Mungkin ini adalah bentuk dari pemenuhan akan kebutuhan akan aktualisasi diri yang dalam hirarki kebutuhan Maslow menempati urutan tertinggi di puncak piramida kebutuhan dasar manusia.
Jika dipihak si inferior ada kebutuhan akan aktualisasi diri dengan melakukan hal seperti ini, dipihak superior permnainan atas-bawah dijadikan media untuk menunjukkan dominasi dan hegemoninya atas orang lain. Macam-macam caranya. Ibaratnya di sebuah kerajaan antah berantah, si superior memosisikan dirinya sebagai raja yang memiliki otoritas penuh atas orang-orang yang ada di sekitarnya. Company atau lembaga adalah dunia kekuasaannya tempat dia merasa bebas bermain dan berbuat karena dia adalah raja. Dia yang punya uang dan menentukan. Bagus kalau tipikal seperti ini tidak merasa diri menjadi tuhan.
Seperti hal kerajaan pada tempo dulu-dulu sekali, pada zaman kuno, raja selalu diposisikan sebagai the center of everything. Dia yang menentukan. Di dunianya pun hanya ada satu otoritas yang boleh bermain—otoritasnya saja, walaupun sebenarnya sudah ada sistem baku untuk mengatur kehidupan keseharian. Ini adalah tipikal raja dan kerajaan di dunia yang tidak pernah ada. Salah satu kebahagiaan sang raja adalah dan karena dia dikelilingi oleh banyak dayang, selir (?) yang semuanya tidak memiliki keberanian untuk mengutarakan pendapatnya, apalgi menolak keinginan sang raja. Haram hukumnya (walaupun ini salah sebenarnya). Raja yang harus bahagia dan dibahagiakan karena dialah yang menentukan hitam putihnya nasib warga kerajaannya (?)
Pada dan dalam kondisi seperti ini, sang raja menunjukkan dominasi dan hegemoninya dengan menjadikan dayang-dayang sebagai selir (bukan permaisuri; karena sebenarnya sudah ada permaisuri). Muncul kebangaan (walaupun bagi yang bermazhab bermain di luar lebih terhormat menganggapnya sebagai kebodohan) ketika raja berhasil menjadikan salah satu, salah dua atau salah semua dari dayangnya menjadi parttime sparring partner. Gak pusing apa kata orang. Kebahagiaan diperoleh ketika dia bisa mendominasi dan menghegemoni orang-orang yang ada di sekitarnya yang ada di dunianya untuk sementara waktu (karena orang-orang yang ada di sekitarnya juga memiliki habitatnya sendiri—rumah dan keluarga).
Orang seperti ini cenderung berpikir dirinya adalah problem solver yang mengatasi masalah (dengan) tanpa masalah. Ketika dia merasa bahwa permasalahan yang ada di habitat dayang-dayangnya sudah diatasinya (?) saat itulah hegemoni dan dominasi dijalankannya. “Gak ada alasan. Masalahnya kan sudah selesai. Gue gak mau tahu!” dominasi dan hegemoni inilah yang tidak berani dilawan oleh dayang-dayangnya karena ewuh pekewuh. Rasa pekewuh itu mengalahkan perasaan jujur yang ada jauh di lubuk batinnya yang paling dalam. Bahkan penolakan dari habitat asalnya pun kalah oleh rasa pekewuh ini. Dominasi dan hegemoni adalah puncak kebutuhan sang juragan. I have power and money that can control my world.
Pertanyaan yang mungkin muncul adalah, apakah dalam permainan atas-bawah semacam ini urusan bed enjoyment tidak mengemuka dan menjadi alasan. Pastinya ya. Tempat tidur juga menjadi salah satu bentuk dari pencapaian dan hegemoni tertinggi bagi tipikal seperti ini. Bergesernya medan permainan atas-bawah ke bilik dan tempat tidur juga menjadi salah satu bentuk dari hegemoni dan dominasi “penguasa yang sakit” karena dalam kultur kerajaan tak berbentuk dan bernama tempat dan suasana ini bisa dijadikan sebagai senjata pamungkas dengan menggunakan ajian “aku senang kau ku pegang, ku tak senang kau ku tendang”.
Yang jelas, sebenarnya, ada ketidakpercayaan diri baik dari pihak si inferior maupun si superior. Tak percaya bahwa segala sesuatunya bisa diraih dengan cara-cara yang benar karena kultur bobrok yang ada di sekelilingnya sedangkan dari sisi si superior tidak merasa percaya diri kalau dia bisa “mengendalikan” pihak lain tidak dengan hegemoni, dominasi dan kekuasaannya.
Ah, ini hanya opini pribadi untuk menanggapi opini yang dilontarkan dalam percakapan di dunia tanpa sinyal. Pasti ada yang kurang dan layak dikritisi. Kesalahan yang paling fatal dan mengerikan adalah, ketika pembaca mengamini semua opini ini dan menelannya bulat-bulat. Tak pernah ada selingkuh yang indah. Dan tak lebih terhormat bermain di luar daripada bermain di dalam. Yang jauh lebih terhormat adalah ketika bermain dan melakukan permaian dengan orang yang memang adalah pasangan sah kita. Tak masalah mainnya di luar atau di dalam. Pertanyaan saya adalah, apakah kerajaan, kultur dan perilaku ini memang sungguh-sungguh ada sehingga opini ini muncul ataukah ini hanya gagasan yang muncul secara spontan ketika manusia-manusia yang sudah terbiasa hidup di dunia penuh sinyal tiba-tiba mengalami culture shock karena harus ada di dunia tanpa sinyal? Menurut Anda, manakah yang lebih terhormat, MAIN DI DALAM atau MAIN DI LUAR ketika Anda berkesempatan menjadi raja? Atau, adakah opsi ketiga yang ingin Anda lontarkan. Mari… lontarkan saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s